EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-24 Menantu kesayangan.


__ADS_3

Takut ada lagi, Gisel, Gisel diluar sana yang kembali menemuinya.


Adhira. merasakan nafasnya sesak. Gila. Gila. Ia takut. Sangat-sangat takut.


***


Zeo yang saat itu sudah bersiap-siap akan menjemput Adhira karena perempuan itu yang belum juga pulang setelah pergi belanja dan ia mendapat kabar kalau orang tuanya sudah dalam perjalanan ke apartemen itu dibuat terkejut saat Adhira sudah membuka pintu dan melewatinya begitu saja.


Brak


Zeo mengerjapkan matanya, agak ngeri saat melihat pintu apartemennya yang didorong kuat.


"Adhira!" Zeo langsung mengejar Adhira saat menyadari perempuan itu menangis dan sesenggukan.


Adhira masuk kekamarnya, membuka semua laci kamar untuk mencari obat penggugur kandungan yang sempat ia beli secara online melalui situs ilegal ketika berita tentang kehamilannya menyebar disekolah dulu. Ia ngin menghabisi bayi yang ada dalam kandungannya itu sekarang juga. Ia ingin melanjutkan rencananya dan papanya dulu. Jika menghabisinya nyawanya tak juga mrmbuatnya mati, kenapa tidak dengan membunuh sibiang masalahnya saja.


Membuka tutupnya dengan brutal, Adhira menumpahkan semua pil ketangannya seperti kesetanan. Adhira sudah menelan pil itu ketika Zeo datang menarik tangannya.


"Buka Adhira!" bentak Pemuda itu mencengkram pipi Adhira dengan marah.


"Buka gue bilang!" Amuk Zeo mencongkel secara paksa pil-pil itu dari mulut Adhira.


"Bangsat lo" Amuk Zeo begitu ia berhasil mengeluarkan semua pil itu dari mulut Adhira.


Adhira memberontak. ia terbatuk-batuk karena rasa pahit pil dimulutnya."Balikin obat gue bastard. Gue mau gugurin ini anak, g-gue muak, gara-gara ini anak gue kehilangan semuanya gara-gara dia gue- "


Plak


Zeo menampar sekuat tenaga nya kepipi Adhira.


Perempuan itu langsung tersungkur kelantai, ada darah disudut bibirnya, menandakan tamparan Zeo bukanlah main-main. Pemuda itu benar-benar marah.


"HEH, LO INGET APA YANG GUE BILANG KE ELO KALAU SAMPEK LO BERANI NYAKITIN ANAK GUE ADHIRA. MATI LO DITANGAN GUE." Teriak Zeo


"LO MAU BUNUH GUE HAH, BUNUH GUE KALAU LO BERANI, LO GAK TAU BETAPA BERHARAPNYA GUE MERENGGANG NYAWA KAN, " Teriak balik Adhira. ,"Lo nggak tau Zeo, lo gak tau gimana gue berdoa tiap saat buat berhenti bernapas, buat ngeakhiri hidup ini, lo nggak ngerti. lo nggak ngerti KARENA LO BUKAN GUE, KARENA LO BUKAN GUE ZEO HIKS" Tangis Adhira meyayat hati.


"LO-


"GUE APA!Lo gak tau apa yang gue rasain Zeo, lo cuma peduli anak ini dan anak ini. Lo gak pernah ngerasain ada diposisi gue. Lo gak pernah ada di posisi gue baj*ngan. Lo gak tau rasanya dibenci, dijauhi, dikucikan l-lo gak tau. LO GAK TAU BETAPA GUE BENCI LO DAN ANAK INI. GUE BENCI KALIAN, GUE MAU BUNUH DIA ZEO GUE MAU BUNUH DIA." Tangis Adhira memukul-mukul perutnya.


"Adhira, berhenti. BERHENTI GUE BILANG." Cegah Zeo menghalangi pukulan membabi buta Adhira keperutnya.


"LO MAU BUNUH ANAK GUE!"


"IYA GUE MAU BUNUH DIA GUE MAU-AKH" Adhira meringis kesakitan saat perutnya terasa sangat sakit.


"Dhir" Zeo panik ketika Adhira meringis memegangi perutnya.

__ADS_1


"Dhira, l-lo kenapa?"


"S-sakit."


"Dhir, Adhira!"


****


Adhira melenguh ketika ia merasakan perutnya terasa kram, perempuan itu secara otomatis mengelus perutnya untuk mengurangi rasa nyerinya.


"Masih sakit sayang?"


Pertanyaan itu membuat Adhira terkejut, ia menatap perempuan cantik berwajah kalem dengan tatapan lembut disebelahnya. Itu mama zeo.


Adhira terpaku, ia tak sanggup mengeluarkan suaranya. Terlalu terkejut.


"Doki-doki ne?" Kata mama Zeo yang Adhira bahkan tak tau siapa namanya.


"Em?" Adhira kebingungan karena tak mengerti.


"Kaget ya?"


"I-iya tan" Adhira langsung berdehem saat menyadari suaranya parau.


Mama Zeo tersenyum, "Kok tan sih? Mama dong, panggil Mama Nana." kata Mama Zeo itu mengelus rambut Adhira.


Adhira tersenyum canggung karena ini adalah interaksi pertama mereka. Apalagi saat mengingat kegilaan yang ia lakukan tadi, tapi kenapa Mama Zeo ini tak bereaksi apa-apa tentang percobaan menggugurkan kandungannya.


"Em, i-iya mah."


"Kok ngelamun? Ada yang kamu pikirkan?"


Adhira menggeleng, ia berusaha duduk dari posisi tidurnya.


"Eits, jangan bangun sayang. Infus kamu lepas nanti duh, kamu ini." cegah mama Zeo itu menahan bahu Adhira agar tak bangun.


Adhira melirik tangannya ketika baru menyadari bahwa ia menggunakan infus.


"Em, Adhira kok pakai infus?" tanyanya bingung.


Mama Zeo itu menatapnya dalam, "Kamu pingsan tadi, terus mama sama papa milih meriksa kamu dirumah aja, kalau ke RS jauh. Apa masih ada yang sakit?" tanyanya lagi


Adhira menggeleng, rasa kram diperutnya pun mulai tak terasa.


"Maafin Zeo ya sayang,"


Adhira langsung mengatupkan bibirkan kuat menahan kebencian saat nama Zeo tersebut.

__ADS_1


"Gak papa kok ma." kata Adhira berusaha terlihat seperti ia benar-benar perempuan baik yang dihancurkan Zeo.


Mama Zeo itu menatap Adhira dengan raut wajah bersalah, " Mama gak percaya Zeo senakal itu. Apalagi sampek nyakitin anak dan istrinya sendiri. Pasti sakit ya." kata nya menyentuh sudut bibir Adhira yang luka karena tamparan Zeo.


Adhira menyentuh bibirnya, ia masih bingung kenapa mertuanya justru menyalahkan Zeo, bukannya seharusnya mertuanya marah padanya? Zeo menamparnya kan karena Adhira yang bersikap gila. Karena ia yang ingin menggugurkan kandungannya. Tapi kenapa mertuanya ini seolah bersikap Zeo yang sangat salah disini.


Bagus sih sebenarnya, tapi Adhira merasa sedikit aneh. Masih bingung dengan skenario dadakan ini.


"Kamu harus kuat ya sayang, Mama juga bingung kenapa Zeo sampai berusaha gugurin anak kalian. Padahal Zeo suka banget sama anak-anak loh, "


Deg


Adhira membulatkan matanya saat satu keimpulan berhasil ia dapat. Apa Zeo membalikkan faktanya. Apa Zeo mengatakan pada orang tuanya bahwa kegilaan yang ia alami tadi karena pemuda itu? Apa Zeo mencoba melindunginya didepan orang tuanya? Apa Zeo mencoba menutupi kejahatannya?


Tapi kenapa Zeo melakukan itu? Kenapa ia tak jujur saja bahwa Adhira yang tak waras disini.


"Maaf sayang, Tapi tenang aja, setelah ini Zeo gak akan berani nyakitin kamu dan cucu mama lagi kok. Kamu mau kan kasih kesempatan buat Zeo?" kata Mama Nana lembut. Ciri khas keibuan sekali, hal itu mengingatkan Adhira pada Mira. Mamanya.


Adhira mengangguk ragu. " Ya ampun, mama bener-bener ngerasa bersalah sama kamu, sekali lagi maafin mama yang gak bis ngedidik Zeo dengan baik ya. Kamu baik banget sayang, em Yaudah kamu tidur ya sekarang. Tsukareta ne? (Pasti lelah ya) " kata Wanita itu mengusap wajah Adhira yang pucat.


"Oiya, ini sudah hampir jam makan siang, kalau gitu mama masak dulu ya."


"Em, mah "Adhira menggeleng,  ia tak mungkin tidur dan membiarkan mertuanya melakukan semuanya sendiri kan? Bisa hancur repotasinya nanti.


"Adhira bosan dikamar ma," kata Adhira beralibi. Ia harus terlihat seperti menantu yang sangat berbakti dan istri yang sangat disakiti saat ini. Biar mampus sekalian Zeo. Batin Adhira merasa dengan manarik simpatik orang tua pemuda itu, ia akan semakin berkuasa nantinya.


Mertuanya itu tampak berpikir agak lama, "Em, yaudah, tapi jangan ikut bantu masak ya, duduk aja. Kalau nyeri atau kram langsung bilang ya" kata nya akhirnya.


"Ha'i"Sahut Adhira sok semangat, ia harus membuat mertuanya simpatik dengannya.


Mama Zeo tersenyum hangat, perempuan setengah Jepang itu mengacak rambut Adhira penuh kasih sayanga.


"Wah, pintar nihongo ne?"


Adhira terkekeh, ia berusaha bangun dari tidur dibantu mertuanya yang memegangkan infusnya Ah, tampaknya peran menantu kesayangan akan ia dapat sebentar lagi.


***


Note:


Doki-doki ne? :Degdegan ya? (Dalam hal ini, kayak sebuah pertanyaan. Kamu kaget ya?


Ha'i : Iya


Nihongo : ???


Apa hayooo ada yang bisa tebak arti nihongo?

__ADS_1


Btw, Happy new year ya guysssss😍😍😍😍


Dan maaf juga buat 2 hari semalam gak up, aku sakit huhuhuhu. Tahun baru mala ngurung dikamar😂


__ADS_2