EGO- Adhira

EGO- Adhira
70 - Kembar Takahashi yang merasa terasingkan


__ADS_3

Ketika tau kalau Adhira hamil sebulan yang lalu, Zeo memang sempat mengatakan pada istri galaknya itu kalau ia akan melakukan apa saja agar masa kehamilan anak ketiga mereka ini terasa jauh lebih mudah daripada kehamilan kedua anaknya dulu.


Maksud dari kata-kata melakukan apa saja versi Zeo itu berarti dalam hal memanjakan istrinya, menemani istrinya melakukan kegiatan ini itu, lebih bertanggung jawab, lebih waspada, lebih protect, lebih hati-hati, pokoknya semua tentang kehamilan, Zeo akan mencoba melakukannya, ntah itu menuruti ngidam atau apapun itu. Zeo benar-benar akan berusaha agar Adhira menghilang trauma kehamilan si kembar agar istrinya itu tak mengalami baby blues atau semacamnya seperti dulu dan lebih enjoy dikehamilan kali ini.


Pokok dari segala pokok ucapannya kala itu adalah memanjakan istrinya dengan semua hal yang ia maksud tadi, bukan berarti ia harus menjadi babu rumah tangga seperti sekarang. Pulang kerja bukannya istirahat tapi justru berada di dapur karena kedua anak kembarnya tampak lesu sebab belum makan sepulang sekolah.


"Kalian uda pulang les dari tadi ya?" Tanya Zeo mencoba bersikap sabar dan tak menampakkan kekesalnnya pada sang istri.


"Hm" Sahut lesu Zela, menempelkan pipinya kemeja makan. Sangat-sangat lesu.


"Pulang bareng Yaka atau Ken jemput tadi?" Tanya Zeo lagi.


"Ken" Sahut Zela masih tak semangat, sedangkan Ken, si kembaran beda usia Zeo itu hanya duduk diam disamping kursi kakaknya. Tampak sekali kalau dua anak Takahashi ini sedang dalam mood yang tak baik.


Tadi saat Zeo pulang dari kantor karena lembur, kedua anak kembar nya itu sedang duduk termangu dimeja makan dengan lampu rumah yang mati dan hanya mendapat cahaya remang-remang dari lampu hias diruang keluarga, dan walaupun samar tapi Zeo sempat mendengar kalau Zela sempat manangis karena kesal dan lapar. Mood keduanya sangat anjlok sekarang.


Yah, lagian bagaimana bisa bersuasana hati baik dan ceria ketika telah seharian sibuk sekolah dan mengikuti kelas tambahan sampai sore dan dilanjut bimbel sampai jam 9 malam tapi ketika pulang tak ada sambutan, makanan atau apapun yang bisa dimakan cepat. Rumah juga tampak kotor dengan banyak bungkus snack disekitar ruang keluarga ataupun ruang tamu. Tanda kalau sang mama kesayangan mereka tak membersihkan rumah ataupun memasak makan malam untuk mereka.


Kedua remaja tujuh belas tahun yang semuanya biasa serba dilayani dan serba disambut dengan ceria oleh orang tuanya itu pun kini merasa berkecil hati ketika pulang dan hanya disambut kesunyian semata.


Mama sudah tidur, Papa masih kerja lembur, rumah kotor dan makanan tidak ada, bahkan snack yang biasa di stok untuk menemani mereka belajar pun sudah habis karena dimakan sang mama.


Ini bukan satu atau dua hari terjadi, tapi sudah sebulan lebih semenjak mereka tau kalau mama mereka sedang hamil adik mereka. Awalnya si kembar Takahashi itu memaklumi mamanya, berfikir kalau mungkin mamanya mual jika sering-sering didapur, ataupun mungkin mamanya lelah untuk berberes rumah karena sedang hamil, atau mungkin mamanya sudah cukup mengantuk dan letih untuk menunggui mereka pulang bimbel yang kadang bisa sampai tengah malam.


Tapi ntah kenapa sekarang kedua anak kembar itu merasa sangat kecewa, merasa kalau mama mereka mulai mengabaikan mereka. Tak ada lagi sambutan, tak ada lagi sarapan atau sajian makan malam. Padahal disaat-saat musim ujian kelulusan dan persiapan masuk universitas yang penuh tekanan seperti saat ini. dukungan mama dan perhatian kedua orang tuanya lah yang mereka harapkan.


"Pelajarannya makin susah ya?" Kata Zeo sambil tetap sibuk merajang bawang bombai untuk bumbu tumisan kangkung nya. Walaupun ia juga lelah, tapi ia harus tetap membuat kedua anaknya melupakan kesedihannya.


"Kakak?" Panggil Zeo saat Zela tak menyahut.


"Kakak capek ya?" Kata Zeo lesu, menatap kedua anaknya dengan tatapan bersalah dari pantri tempat ia memasak.


Zela masih tak menayahut, masih berada dalam euforia sedihnya saat pulang sekolah. Padahal jarang sekali sulung Takahashi itu bersikap kekanakan seperti itu.


Menghela nafas pelan, Zeo kembali menatap Ken, "Kalau Ken? Gimana pelajarannya makin susah nggak? atau sama aja kayak kak Zela?" Tanya Zeo pada anak keduanya itu dengan senyuman lelah.

__ADS_1


"Pelajarannya gak susah banget kok pa, tapi namanya juga tekanan mau lulus jadi makin capek dan cepet down" Kata Ken dengan nada letih, Saat mendengar jawaban Ken itu, Sepasang ayah dan anak itu saling bertatapan. Tersenyum karena tau kalau mereka sama-sama merasa lelah.


"Mama uda tidur ya?" Kata Zeo mulai kembali memotong kangkung agar tak terlalu panjang.


"Hm, tadi kami liat mama uda tidur, kayaknya kecapekan"


Zeo mengangguk, tak menanggapi lagi. Lalu mereka kembali hening. Dengan si kembar yang sedang mengumpulkam moodnya juga sang papa yang mulai tenggelam dengan fikirannya sambil memasak makan malam.


"Kakak mu tidur?" Tanya Zeo setelah selesai memasak, meletakkan sepiring tumis kangkung dan sepiring kecil sosis goreng dengan saus tomat dimeja makan.


Ken yang ditanyai pun segera mengguncang pelan bahu kakaknya, menyuruhnya bangun.


"Kakak gak mau cuci muka dulu?" Tanya Zeo lembut.


Zela menggeleng, lalu mulai mengambil piring untuk makan yang diikuti Ken dan Zeo setelahnya.


"Snack untuk temen kalian lembur belajar pun uda habis kayaknya ya? Besok sepulang papa kerja papa belikan ya, mama juga kayaknya uda mulai suka ngemil" Kata Zeo memecah keheningan.


Kedua anak kembar itu mengangguk patuh, tak banyak protes .


Lagi, kedua anak kembar itu mengangguk patuh.


"Yaudah sekarang makan ya, nanti setelah itu mandi air hangat dan tidur, seragamnya jangan ditumpuk sama baju biasanya, taruh dikeranjang sendiri" Zeo menatap kedua anaknya lembut setelah mengingatkan pesan yang biasa Adhira ucapkan untuk mereka.


Zela mengangguk yang segera diikuti oleh adiknya, kedua menyuapkan sesumpit nasi dengan cepat dan mengambil secumit kangkung, dan ketika sayuran dan nasi itu sudah masuk kedalam mulut, keduanya terdiam sejenak.


Zeo yang memang belum makan pun menaikkan alisnya bingung. "Kenapa Ken?" Tanya Zeo pada anak keduanya itu penasaran.


Ken tersenyum kecil, "Gak papa" Sahutnya sebelum kembali menyumpit nasinya cepat.


Berbeda dengan Ken yang lanjut makan, Zela justru menggigit sumpit nya dengan mata merah berkaca-kaca.


"Kakak? Kenapa?" Tanya Zeo khawatir.


"Kakak laper papa hiks" Tangis si gadis Zeo itu terisak tapi tetap berusaha memasukkan sayuran kangkung itu kemulutnya,

__ADS_1


"Yaudah kalau lapar makan yang banyak dong biar-


"Tapi ini Asin banget hiks, Zela laper papa, apa mama beneran gak bisa masakin kami? Zela bosen makan diluar, Zela gak puas hiks, makanan diluar karai (Pedas), banyak santan, Zela gak suka" Tangis si sulung membanting Sumpitnya kemeja.


"Zela gak mau makan lagi!" Katanya disela tangis.


"Gak mau makan dirumah lagi, mending makan dirumah Yaka atau Angel sekalian, gak usah pulang" Kata si sulung itu menghapus air matanya sebelum berlari kekamarnya.


Zeo terdiam, agak kaget karena ini kali pertama anak sulungnya menyuarakan keluhannya bahkan sampai mengancam untuk tak pulang kerumah, ia lalu menatap Ken yang juga hanya makan nasi dan sosisnya dengan cepat, terlalu cepat malah. "Ken juga uda selesai, makasih pa" Ujar anak laki-laki itu meletakkan sumpitnya, menyusul sang kakak kembar yang dari dapur saja masih bisa mendengar suara tangisnya.


Melihat kedua anaknya beranjak pergi, Zeo menunduk kecewa, Sebenarnya, seberapa tak pedulinya Adhira kepada kedua anaknya sampai kedua anak remaja itu merasa sangat diasingkan bahkan ketika dirumah sendiri?


Zeo juga menyadari kalau Selama ini ia yang selalu menerapkan anak-anaknya untuk makan dirumah, membawa bekal dan selalu membiasakan keduanya dengan selera negara asalnya, tidak pedas, tidak asin, tidak bersantan,


Pasti sulit sekali makan-makanan diluar selain junkfood setiap hari, makan makanan Jepang diluar rumah pun pasti mahal, Zeo tau sekali kalau kedua anaknya itu semenjak kelas tiga SMA terlalu menghemat, katanya mau banyak menyimpan uang simpanan agar saat kuliah bisa menggunkannya disaat-saat tak terduga.


Zeo kembali menghela nafas berat, ia juga lapar dan-


"Cih, Asin!" Zeo mengernyit saat merasakan sayurnya.


Ah, tampaknya kali ini ia harus benar-benar berbicara dengan Adhira.


Perempuan itu- Walaupun Zeo sudah berjanji untuk selalu membantunya dimasa kehamilan. Tapi- tak dapat Zeo pungkiri, Adhiranya masih egois sekali. Bahkan kepada anak-anaknya.


...****************...


Note:


Heyyo guys, Gimana harinya?


Ada yang pernah mengalami apa yang dialami Zela Ken nggak? Hehe, dulu pas SD aku pernah, pas mama hamil adik bungsu, kami (Mas sama adik) jadi kayak gak terurus karena mama yang morning sickness parah sampai harus bolak balik kebidan.


Jadi sedih banget karena uda biasa makan masakan mama terus dirubah kebiasaannya jadi makan-makanan asin buatan mamas huhu, Sedih. Merasa terasingkan padahal mama beneran sakit wkwkwk.


Oya, sebenarnya kan novel ini uda tamat bahkan waktu dibab 67.

__ADS_1


Tapi kayaknya aku uda ngasih banyak ekstra part ya wkwk. Bosen tidak?


__ADS_2