
Hal itu berlanjut sampai keduanya terlelap bersama malam itu. Benar-benar tertidur nyaman tanpa harus saling melempar makian terlebih dahulu.
***
"Hp lo uda?" tanya Zeo sambil memakai jaketnya.
Adhira mengangguk, tak berani menatap Zeo karena ulahnya tadi malam. Kenapa sih ia harus merengek seperti manusia menjijikkan kepada Zeo?
Adhira berdecak ia menatap perutnya yang sudah sangat besar. Pasti ulah si bayi kembar Zeo ini. Ck, Rasanya ia tidak mempercayai kalau didalam perutnya ada dua bayi milik Zeo yang kian tumbuh tiap harinya.
"Uda kan, ayuk, gue siang mau kerja terus kuliah." kata Zeo mengajak Adhira.
Hari ini Zeo akan mengantar Adhira kerumah mertuanya, dan tak perlu berharap untuk ikut diundang karena mertuanya hanya menginginkan Adhira yang pergi.
Jadi selama seminggu lebih Zeo tidak akan bertemu dengan Adhira dan calon anak-anaknya.
"Bisa nggak?" tanya Zeo ketika Adhira berjalan pelan sambil memegangi pinggangnya. Kehamilan kembar yang sudah memasuki usia 25 minggu itu mulai membatasi gerak Adhira. Perempuan itu bahkan sudah tak bisa melihat kakinya sendiri karena terhalang perutnya.
"Sini tas lo" Kata Zeo mengambil tas kecil Adhira dari bahu perempuan itu.
"Mau gue gendong?"
"Gak" bentak Adhira enggan ditolong, perempuan itu berjalan sendiri, sebenarnya kandungan Adhira belum diwaktunya menyusahkan. Namun karena Adhira memiliki tubuh yang kurus dan ringkih kehamilan itu sungguh menyiksanya.
Zeo berdecak, "Terserah, gue nunggu dimobil" kata Zeo meninggalkan Adhira sendiri.
"Mobil siapa!" teriak Adhira karena ia tau Zeo tak punya mobil, yang Adhira tau Zeo hanya mempunyai motor matic pemberian papa Zeo sebagai fasilitas nya untuk berangkat kerja.
Zeo hanya mengangkat kunci ditangannya tak berniat menjawab membuat Adhira kian kesal.
"Liat itu bapak kalian, bukannya nungguin gue, malah jalan aja, dasar memang, sebajing-bajingannya manusia aw." Adhira memukul pelan perutnya karena mendapat tendangan protes dari anak-anak Zeo itu.
"Gak usah bela dia bisa nggak sih, Gue kasih soda juga ntar kalian. Awss.. Anak-anak Zeo sialan" Maki Adhira sambil tetap berjalan pelan. Ya ampun, pinggangnya pegal sekali.
***
"Dhira?" bisik Zeo pelan. Mereka sudah sampai didepan rumah Adhira. Namun Zeo ragu untuk turun karena hujan deras dan juga rasa enggannya untuk bertemu mertuanya.
"Adhira bangun," bisik Zeo lagi kepada Adhira yang tertidur lelap.
"Dhir," Panggil Zeo untuk kesekian kalinya yang baru direspon perempuan itu dengan kerjapkan matanya.
"Uda nyampek?" tanyanya parau.
Zeo mengangguk, "Tapi hujan deres, masuk nya males" kata Zeo.
Adhira menoleh, ia menatap gerbang rumahnya yang masih tertutup rapat karena hujan.
"Hujannya dari kapan?" Bingung Adhira karena saat ia masuk mobil tadi perasaan masih cerah.
"Dari tadi kali Dhir, lo tidur mana tau" Dengus Zeo.
" Oya. Coba lo telpon Devan, suruh buka gerbang" kata Zeo lagi.
__ADS_1
"Gak mau, kalau lo mau buka pagar ya buka sendiri lah. Itu juga gak dikunci jangan nyuruh-nyuruh orang. Kasian Devan tau" kata Adhira bersedekap dada.
Zeo berdecak kesal, pemuda itu lalu mengambil payung dikursi belakang dan keluar untuk membuka gerbang.
Lalu kembali lagi kedalam mobil. "Pake," kata Zeo memberikan jaketnya yang ia kenakan.
Adhira menaikkan alisnya, "Dih, males bau iblis."
"Dhira"
"Apasih?"
"Pakai aja kenapa sih atau gue yang pakaikan?" Tawar Zeo culas.
Adhira memberengut, ia langsung menyambar jaket Zeo dan memeluknya didepan dada masih tetap tak mau memakainya. Zeo memutar bola matanya, pemuda itu memasukkan mobil sehingga tepat dihalaman Adhira.
Zeo mengelakson mobilnya untuk memberi tau keluarga Adhira dengan kedatangannya.
"Lo turun duluan, pake payungnya." kata Zeo memberi perintah.
Adhira melengos tak mau menurut. "Ayolah Dhir, gue gak mau berdebat. Gue mau ambil tas lo dulu dibelakang." kata Zeo keluar mobil. Yang mau tak mau diikuti Adhira dengan menggunakan payung bekas Zeo.
Begitu Adhira keluar ia langsung disambut orang tua dan adiknya. "Ya ampun kakak sayang, mama kangen." peluk Mira semangat.
Zeo hanya meliriknya sekilas, ia sibuk mengambil tas dan keperluan Adhira dibawah guyuran hujan. tubuh pemuda itu basah karena payung dan jaketnya ia berikan ke Adhira.
"Sini bang biar Devan bantu," kata Devan saat Zeo sudah berada didepam pintu. Mengambil tas pakaian kakaknya kedalam rumah.
Zeo mengangguk, "Pagi om, tan,"
"Biar Zeo masuk dulu mas, kasian dia basah gitu. kamu itu." romet Mira pada Deni.
"Dia kan mau kerja buat apa mampir-mampir kalau uda keburu waktu. lagian jarak rumah ke apartemen jauh loh" kata Deni lagi.
Zeo mengangguk, ia yang mengerti kalau ayah mertuanya enggan dengan kedatangannya pun memilih mengalah. "Iya tan, Zeo juga mau kerja nanti. Yaudah Zeo pamit pulang dulu ya Tan, om"
"Tapi kamu basah, ini juga masih hujan Ze."
"Nggak papa Tan," kata Zeo, ia lalu mendekati Adhira yang diam saja.
"Aku pulang dulu ya, kamunya have fun" kata Zeo mengusap rambut Adhira, "Makan yang banyak hm, naikin berat badannya. Jangn lupa susu hamil nya diminum waktu sarapan sama pas mau tidur."
Adhira mengerjap, tak menyangka Zeo akan mengusap rambutnya begitu. Dan apa-apaan tingkah manis itu.
"Anak-anak papa juga jangan rewel ya. Kasian mamanya, makan yang banyak pokoknya. Papa pulang dulu." katanya mencium perut Adhira sayang.
Dan perlakuan Zeo itu dilihat oleh kedua mertua dan adik iparnya. Mereka tak memberi komentar apapun. Masih tak menyangka yang ada didepan mereka adalah anak menantunya. Begitupun Adhira yang membeku, tak tau harus bersikap seperti apa.
"Saya pamit dulu Om, Tan, " kata Zeo berbalik badan dan kembali kemobilnya menerpa guyuran hujan yang lebat.
***
Adhira menatap mobil Zeo sampai mobil yang dikendarai pemuda itu tak terlihat lagi. Adhira tak tau kenapa, tapi matanya memerah. perih sekali. Ia ingin menangis.
__ADS_1
"Kak, masuk yuk, dingin banget ini." Kata Mira menarik Adhira masuk.
Adhira mengangguk, ntah mengapa ada rasa tak rela Zeo pergi begitu saja meninggalkannya.
"Adhira?"
"I-iya yah?"
"Jangan pikirin Zeo, dia uda dewasa bisa mikirin dirinya sendiri. Lagian kamu kan sama dia dikurung terus di apartemen. sesekali kamu pisah sama dia" kata Deni kalem.
Adhira diam saja, ia tak merespon apapun ucapan ayahnya.
"Yaudah yuk makan siang, mama uda masakin kari ayam kesukaan kamu tau."
"Iya ma," kata Adhira mengikuti mamanya. Berusaha membuang semua pikirannya tentang Zeo.
***
Begitupun Zeo, pemuda Jepang itu sesekali melirik kaca spionnya. Berharap Adhira melambaikan tangan minta dijemput kembali padanya.
Ah, hampir tujuh bulan mereka bersama, Zeo mulai merasa keberatan jauh dari Adhira.Ntah karena memang ia peduli pada Adhira dan anaknya, atau memang sekadar terbiasa. Ntahlah. Yang pasti Zeo berat sekali menyetir mobilnya menjauh.
"Hah, Mikir apa sih gue?" Desis Zeo pelan. Lalu pemikirannya buyar saat mendengar suara dering ponselnya.
Zeo yang masih menyetir mobil itu terpaksa memarkirkan mobil milik perusahaan teman papanya yang ia pinjam itu untuk minggir ketepi jalan saat nomor papa dan mamanya bergantian menghubunginya.
"Moshi-moshi ma?"
"Halo Ze? Kamu dimana sih kok telponya tidak diangkat-angkat Okaasan, Otousan telpon." marah mamanya dari seberang.
Zeo mengusap wajahnya, jika mamanya sudah berteriak dengan bahasa Jepang begini, biasanya ada masalah besar.
"Zeo baru-" Zeo mengernyit saat suara dengung terdengar dari sambungan telepon mereka. Tampaknya mamanya sedang memberi ponselnya keorang lain.
"Halo Zeo, cepat pulang ke Osaka sekarang, obaachan masuk rumah sakit Otousan sama Okaasan tunggu kamu disana. Tiket pesawat suruh Om Ryan yang cari." Sambung papa Zeo merebut ponsel mamanya.
Zeo terpaku. "O-obaachan masuk rumah sakit? T-tapi kenapa ?"
" Yak Alzeo Immanuel Takahashi, Saya bilang cepat kebandara! Jangan bertele-tele kamu, obaachan kritis!"
"Ze-zeo pergi," kata Zeo kembali menjalankan mobilnya gila-gilaan. Pemuda itu bahkan tak memperdulikan hujan deras yang menerpa.
Yang ada dipikiran pemuda itu hanya wajah pucat orang yang sudah membesarkannya, ia tak memikirkan hal lainnya selain hal itu.
****
Note:
Okaasan : Mama
Otousan : Papa
Obaachan : Nenek.
__ADS_1
Zeo kan biasanya manggil orang tuanya, mama-papa. Nah, kalau tiba-tiba berubah jadi Okaasan-Otousan, anggap merela kumunikasinya bahasa Jepang yup.