
Seharusnya Zeo membujuknya agar tetap mempertahankan bayinya seperti biasanya.
Tapi-
Tapi kenapa jadi bertengkar?
Adhira menatap Zeo dengan pandangan yang sulit diartikan.
*****
"Kenapa lo diem hah! Takut?" Sentak Zeo ketika Adhira hanya menatap pecahan remot dan asbak kaca yang tadi terkena amukannya.
"Ze-"
"Gue capek Adhira, gue capek, Apa lo tau beban apa yang gue tanggung sejak gue ninggali lo hah? Apa lo tau gimana usaha gue buat bisa ada didepan lo ini sekarang hah?"
"Gue uda usahain belain lo didepan keluarga gue, Dari dulu gue uda pernah bilang kan, gue milih lo Dhira, Gak ada Alina ataupun Panji dihidup kita!! Kenapa yang lo bahas selalu Alina. Alina, Alina, dan Alina"
Zeo menatap Adhira dalam, banyak pikiran dikepala pemuda itu, jujur saja harga dirinya tersentil karena Adhira terus menuduhnya berselingkuh. Jika tadi pagi ia masih bisa mengalihkn pembahasan ini, Maka sekarang tampaknya Adhira benar-benar tak bisa ditoleransi.
"Apa lo sebenci itu sama gue Dhir? " Zeo terkekeh pelan, Kekehan miris dan putus asa.
"Apa karena lo benci gue lo juga bakal benci anak-anak lo juga Dhir? Apa lo se nggak punya hati itu?" tanya Zeo terdengar putus asa.
"Gu-gue" Adhira tergagap, sebelum ia menatap mata berkaca-kaca Zeo dengan nyalang. "Iya, Gue sebenci itu sama kalian, dan gue gak ada hubungannya sama anak-anak ini. Gue cuma tempat dia singgah." kata Adhira kosong.
Zeo menghapus air matanya yang tiba-tiba jatuh, sial, hatinya nyeri sekali karena Adhira menolak anak-anaknya. Rasanya seperti ia krmbali merasakan bagaimana rasa ditolak orang tuanya dulu.
Zeo mengangguk, "Ok, kalau itu yang lo mau, gue yang bakal rawat mereka dan gue pastiin mereka gak bakal cari lo dikemudian hari" kata Zeo yang membuat Adhira terdiam. Tubuhnya bahkan terasa kaku karena terkejut akan respon Zeo.
Apa itu artinya Zeo melepaskannya begitu saja? Apa Zeo tak berusaha menahannya lebih lama lagi? Apa Zeo sudah menyerah dengannya? Apa Zeo sudah tak sanggunp dengannya? Lalu bagaimana anak-anak mereka nanti?
"Apa lo bakal bawa mereka kepacar lo?"
__ADS_1
Zeo melirik Adhira, "Mungkin, bukannya lo gak mau jadi ibu buat mereka? Setidaknya pacar gue nantinya gak akan nolak anak-anak gue kayak lo yang nolak mereka"
"Nggak!" Teriak Adhira saat mengingat ucapan mamanya semalam, apa itu artinya anak-anak ini akan lupa dengannya.
Zeo menaikkan alisnya menantang. "Apa maksud kata nggak itu buat lo Dhira?"
"Gue gak bakal kasih mereka buat pacar lo,karena gue yang ngandung mereka Zeo!!" teriak Adhira tiba-tiba. perempuan itu emosi sendiri jika suatu saat apa yang dikatakan mamanya menjadi kenyataan.
Zeo mengerutkan keningnya, "bukannya itu ya yang lo mau? Gue pergi bawa anak-anak gue. Kenapa sekarang lo gak terima."
Adhira terdiam agak lama, "Dari pada gue ngasih mereka kekalian, kayaknya lebih baik gue buang mereka kepanti asuhan. Lebih baik diantara kita gak ada yang dapet mereka"
Zeo mengepalkan tangannya, apa tadi katanya, Panti asuhan? Cih, Apa Adhira berusaha membuat anak-anaknya merasakan apa yang ia rasakan. Yah, walaupun dulu Zeo tak dapat mengerti apa yang ia rasakan saat bayi. tapi, mendengar cerita tentang penolakan orang tuanya saja hatinya sakit luar biasa.
"Mau lo itu sebenarnya apa sih Dhir? Lo bilang lo gak mau ngurus mereka, lo bilang lo gak mau hidup sama gue. Dan waktu gue yang sepenuhnya bakal ambil hak asuh mereka lo gak terima. Mau lo apa sebenernya? Egois banget sih lo."
"Iya, emang kenapa kalau gue egois, gue gak mau anak ini bahagia kelak. Gue mau mereka menderita kayak mereka yang uda buat gue menderita selama ada mereka." Teriak Adhira gemetaran,
Zeo terkekeh, pemuda itu memegang sudut bibirnya yang kembali berdarah karena ia berteriak tadi. "Lo tau Dhir, seandainya gue yang bisa gantiin posisi lo buat jaga anak-anak itu, gue gak bakal memohon sama lo buat pertahanin mereka sampai sekarang." kata Zeo gamang.
"Lo tau Dhir, binatang aja mau rela mati demi anaknya. Tapi lo? Malah berharap anak-anak lo menderita ? lo berharap anak-anak lo- "
"GUE BUKAN BINATANG BANGSAT"
"IYA LO BUKAN BINATANG, TAPI MANUSIA HINA YANG BAHKAN DERAJATNYA LEBIH RENDAH DARIPADA BINATANG. LO TAU ITU."Marah Zeo menunjuk wajah Adhira.
Adhira tercekat perempuan itu menangis.
"Kalau perceraian yang bikin lo bahagia, kalau penderitaan anak-anak gue yang lo harapkan. Kalau gitu gue juga bakal ngasih hal yang sama buat lo Dhir. "
Adhira menatap Zeo penuh tanya.
"Gue gak bakal cerai-in lo sampai kapan pun. Gue bakal buat lo terikat sampai mati sama gue dan anak-anak gue. Lo tau itu artinya Dhir? " Zeo mendekati Adhira yang menangis.
__ADS_1
"Itu artinya, kehidupan lo ada ditangan gue."
"BRENGSEK LO, BAJINGAN LO ZEO" amuk Adhira tak terima. Perempuan itu memukuli dada Zeo dengan membabi buta.
"Lo jahat Zeo, lo jahat hhuhu" Adhira terisak didada Zeo.
"Lo yang lebih jahat Dhira, lo yang paling jahat disini" Bisik Zeo sadis, namun tangannya tetap menepuk punggung Adhira menenangkan.
"Ze, uhk"
Zeo melepaskan pelukannya.
"Akh sakit Ze-" Adhira memegangi perutnya yang tiba-tiba kram.
Zeo yang awalnya tak bereaksi apapun menjadi panik ketika Adhira tampak kesakitan.
"Dhir, kenapa?"
"Akh sa-sakit" Adhira memeluk perutnya yang melilit, perempuan itu bahkan hampir jatuh oyong jika Zeo tak memeluknya.
"Dhira-" Zeo bergumam ketika ia melihat darah kental menelusuri paha Adhira.
"Dhira lo-,
"Sakit Zeo, hiks, sakiit, Hiks"
Dhir, lo-lo tahan g-gue bakal bawa lo kerumah sakit." kata Zeo bergetar.
"Dhir- sadar Dhir jangan bikin gue takut." Zeo benar-benar panik ketika melihat Adhira semakin mengeluh sakit dan hampir pingsan dipelukannya.
"Dhira, tatap gue Dhira!!! Brengsek!! Tatap gue Adhira! Jangan tutup mata lo, Adhira!!" Zeo mengguncang tubuh Adhira ketakutan.
Disisa kesadarannya, Adhira bisa merasakan tubuhnya melayang, mungkin Zeo menggendongnya, ia juga bisa mendengar pemuda itu terus memohon kepadanya untuk membuka mata.
__ADS_1
"Bajingan lo ze" bisik Adhira sebelum menutup matanya karena rasa sakit luar biasa diperutnya.
-