
"Gue bakal tetap sama lo, gak ada Alina atau Panji dihidup kita right?" Kata Zeo menarik Adhira kepelukannya.
Mereka butuh tidur sekarang, untuk mengembalikan tenaga yang terkuras.
****
Seminggu terakhir terasa berat untuk Adhira, setelah penjelasan Zeo tentang Alina minggu lalu, Zeo sekarang lebih terang-terangan posesif pada kandungannya. Katanya, ia tak mau menyia-nyiakan kehadiran calon anaknya setelah ia melepas kekasihnya. Apalagi sabtu semalam mereka kedokter kandungan. Kondisi kehamilan Adhira membaik, berat badannya mulai normal walau tetap harus ditambah karena di trimester ketiga ini Kondisi fisik Adhira harus terus stabil.
Jika kandungannya kian membaik, maka tidak untuk mental Adhira, sekarang perempuan itu bahkan mulai menyadari kalau ia penderita panic attack, tidak parah, namun disaat-saat tertentu. Seperti Zeo yang tiba-tiba mendekat, atau Zeo yang tiba-tiba datang membawa nampan sarapan. Adhira mulai gemeteran. Adhira juga menyadari ia mulai melihat Zeo bukan lagi sebagai musuh, tapi sebagai trauma, sebagai ancaman yang menakutkan.
Adhira mulai kesulitan mengatur suasana hatinya.
"Adhira?"
Adhira menggigit pipi bagian dalam nya saat suara panggilan Zeo itu bagai nyanyian seram ditelinganya.
"Adhira-"
Adhira menggigit kuku tangannya, Perempuan itu gemetaran, ia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Zeo pasti akan menyuruhnya makan malam kali ini.
Dan benar saja, Adhira merasakan tangan Zeo hinggap diperutnya, mengelusnya lembut dan sesekali memberi sentuhan acak. Usapan dan elusan itu mulai menjadi rutinitas Zeo sekarang.
"Dhir, jangan tidur duluan, minum susunya dulu." kata Pemuda itu menggoyangkn tubuh Adhira. Adhira pura-pura mengerang, ia membuka matanya dan meminum segelas susu itu dengan sekali tegukan, tak berani melawan jika urusan seperti ini, kejadian beberapa hari yang lalu menjadi momok yang menjijikkan untuk Adhira, perempuan itu bahkan sudah sangat membenci bubur dari apapun karena terus mengingatkannya.
Benar-benar menjijikkan.
Memang, semenjak Zeo sering mengancamnya. Adhira sekarang pun mulai terbiasa dngan semua hal itu. Seperti sarapan pagi dan makan malam yang disuapi pemuda itu atau bahkan seperti sekarang ini meminum susu dan mengusap perutnya yang seolah sudah ketergantungan dengan tangan Zeo.
"Lepas" kata Adhira ketika Zeo sudah berhenti menggerakkan tangannya.
__ADS_1
Zeo menaikkan alisnya, "Yakin nih, ntar lo gak bisa tidur" kata Zeo cengengesan. "Iya kan sayang papa. Mama kalian gengsi kayaknya." kata Zeo terkekeh.
Adhira berdecak, tentu saja ia tak mau mengakui nya. Senyaman-nyamannya tangan Zeo sudah pasti Adhira tetap jual mahal. Baginya lebih baik tidak bisa tidur karena ulah anak-anak Zeo yang terus mendang itu dibanding harus mengemis usapan Zeo untuk perutnya.
"Gak usah G-R deh lo, udah sana pergi, gue gak mau sekamar sama bajingan kayak lo." bentak Adhira.
Zeo terkekeh, "Gue mau tidur disini Dhir, disofa gak nyaman. Percaya deh sama gue. Lagian gue juga masih kangen anak-anak gue besok uda gak jumpa, kalian kan mau pergi." kata Zeo menaiki ranjang dan tidur dibelakang Adhira. Seperti posisi biasanya, Zeo mengusap perut Adhira dari belakang punggung Adhira. Oya, Senin pagi besok, Adhira akan menginap seminggu dirumah orang tuanya. Tentunya tanpa Zeo.
"Dhira, gue sebenernya penasaran. Berarti mama Mira itu bukan mama kandung lo ya" Kata Zeo tiba-tiba.
"Gue baru tau waktu Ayah lo bilang waktu itu, Memeperingati kematian bunda lo. "
"Dhir, jawab dong"
"Bukan urusan lo"
Adhira memejamkan matanya, "Bisa jangan panggil nama gue pakai nada marah lo itu nggak hah!? Lo bikin gue enek tau gak Ze. Lagian mau Mama bukan mama kandung gue atau nggak sekalipun itu bukan urusan lo kan" Desis Adhira menahan tangisnya diam-diam.
Sungguh, panggilan Zeo itu memberi trauma tersendiri untuknya. Adhira takut.
"Gue cuma berusaha menjalin komunikasi kali Dhir" sahut Zeo pelan, Lalu hening. Zeo masih betah mengusap perut Adhira dengan konstan.
Sedangkan Adhira diam saja, semenjak kejadian seminggu yang lalu. Adhira semakin enggan berkomunikasi dengan Zeo. Perempuan itu lebih banyak diam dan melawan secara pasif. Penjelasan Zeo tentang Alina waktu itu tak memberi efek kebagiaan untuk Adhira. Cih, Bagaimana bisa mau bahagia kalau dari cerita pemuda itu. Ia memperlakukan Alina bagai berlian sedangkan memperlakukannya bagai manusia tak punya hati.
Disesekali kesempatan, Zeo bahkan tanpa sadar membandingkan nya dengan Alina. Seperti dua hari yang lalu, ketika Adhira memakai celana jins pendek karena ia kehabisan celana longgar akibat pakaian laundri belum diambil Zeo. Zeo yang saat itu melihat Adhira langsung marah, mengatakan kalau betapa bodohnya Adhira yang tak tau kesehatan akan kandungannya. Mengatakan kalau sebebal dan sekeras kepalanya Alina saja ia masih bisa berpikir secara logika. Tidak seperti Adhira. Bodoh dan pemalas.
Adhira melawan saat itu, memaki kalau ia memang bodoh dan pemalas. Ia bodoh karena masih mau saja hidup dengan Zeo yang kasar seperti itu.
Jangan pikir Adhira akan diam saja harga dirinya di injak-injak. Tak akan pernah. Ia akan terus melawan sebisanya.
__ADS_1
Tapi memang, untuk masalah tidur dengan posisi Zeo megusap perutnya ini Adhira tak bisa melawan karena Zeo mengancam akan bertindak kasar jika Adhira berusaha menjauhkan nya dari anak-anaknya.
"Jangan nempel!" kata Adhira membalikan badannya, ia mendorong dada Zeo yang tadi menempel dipunggungnya. Posisi back hug ini adalah posisi favorit Zeo.
Zeo bedecak, "Jadi kalau gak nempel kayak mana gue ngelus perut lo."
"Gak usah," kata Adhira ketus.
Zeo memutar bola matanya, ia lalu berbalik badan dan memunggungi Adhira. Enggan berdebat, lebih baik ia tidur agar besok bisa bertemu kedua mertuanya dengan tenang ketika mengantar Adhira.
Adhira ikut berdecak, perempun itu juga berbalik badan. Mereka saling memunggungi karena berada pada ego masing-masing.
Zeo yang tak mau ditindas, dan Adhira yang gengsi.
Tak peduli bagaimana tidak nyamannya perutnya karena diusia kehamilan 25 minggu atau enam bulan jalan ketujuh bulan ini mengganggu tidurnya. Tapi akhirnya Adhira menyerah saat sudah jam Dua belas malam namun tak juga tertidur.
Zeo sudah hampir terlelap ketika Adhira menarik-narik kaosnya, "Hm" kata Zeo setengah sadar.
Adhira yang sudah sangat mengantuk pun berdecak, "Perut aku gak enak, elusin." katanya merengek. Zeo menggerutu, pemuda itu lalu berbalik badan dan mengusap-usap perut Adhira dengan pelan.
Ntah sadar atau tidak, Tapi mereka mulai memposisikan tubuh mereka keposisi yang ternyaman.
Dan ketika Zeo hampir terlelap dan tak sanggup mengelus. Adhira kembali merengek minta diusap. Ia bahkan menggenggam tangan Zeo agar tetap bergerak diatas perutnya.
Hal itu berlanjut sampai keduanya terlelap bersama malam itu. Benar-benar tertidur nyaman tanpa harus saling melempar makian terlebih dahulu.
****
Hhuh, Bitter sweet ya.
__ADS_1