
Saat Zela dan Ken memergoki papanya yang tidur diSofa ruang keluarga pagi lalu, kedua kembar sulung itu langsung tau kalau ada masalah yang tak mengenakkan antara kedua orang tuanya. Tapi, keduanya mencoba untuk pura-pura tak tau dan berusaha terlihat percaya-percaya saja ketika sang Papa mengatakan kalau ia ketiduran disofa.
Bukan hanya itu, tapi pagi itu juga mama mereka keluar kamar dengan mata bengkak, jelas sekali kalau habis menangis lama.
Tapi lagi dan lagi kedua kembar sulung Takahashi itu pura-pura tak tau.
Dan itu semua sudah berlalu ditiga hari yang lalu. Rumah mereka yang akhir-akhir ini memang terasa senyap dan dingin pun semakin terasa beku dan tak mengenakkan. Sepasang saudara kembar Takahashi itu sudah sepakat untuk berpura-pura tak tau dan membiarkan kedua orangtua mereka untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Karena Akan terasa tak sopan ketika mereka yang masih remaja ikut campur urusan kedua orang tua mereka yang sudah pastinya akan sangat menyinggung keduanya.
Jadi itu jugalah yang Zela lakukan, ia berusaha bersikap biasa saja walaupun ia tau kedua orang tuanya sedang tak baik-baik saja, namun ketika malam hari ia melewati kamar orang tuanya untuk membuat susu dan camilan sebagai teman belajar, Zela tertegun ketika mendengar suara bantingan kaca yang disertai pekikan marah mamanya yang dibalas bentakan papa yang menyebut nama mamanya marah.
Zela juga masih ingat ketika suara papa terdengar samar-samar ditelinganya, membahas dirinya juga Ken. Sulung Takahashi itu sampai menahan nafasnya ketika ia berhasil menangkap inti pertengkaran kedua orang tuanya.
"Kamu ini sebenarnya kenapa hah? Aku gak pernah masalahin apa yang ada difikiranmu Dhira, aku cuma mau kamu bagi waktu, uda itu aja, gak usah bahas-bahas yang lain sampai kamu nuduh aku selingkuh segala. Jangan memperumit masalah"
Zela semakin merapatkan tubuhnya kepintu kamar orang tuanya, mencoba mendengar lebih jelas suara papanya.
"Aku juga gak peduli gimana fikiran bodoh mu itu bekerja, tapi sekali aja anak-anakku tertekan sama tingkah mu, aku nggak pernah main-main sama kamu Dhir"
Tertekan?
Apa Papanya sedang mengancam mamanya? Tapi untuk apa? Apa karena ia yang menangis waktu itu? Apa papanya marah kepada mamanya karena merasa mama tak memperhatikan ia dan Ken lagi?
Zela meremat ujung baju piyamanya dengan gugup. Dikepala gadis berdarah Jepang itu sudah banyak menyimpulkan spekulasi-spekulasi dari pertanyaan-pertanyaannya.
Lalu sesaat setelah papanya berbicara, suara teriakan mamanya terdengar sangat marah. Zela bahkan sampai tersentak walaupun ia berada diluar kamar.
Mama nya adalah ciri khas mama yang galak, cuek dan bermulut pedas. Tapi Mamanya tak pernah sekalipun menaikkan nada suara setinggi itu selama ini.
"Jadi kalau kamu nggak selingkuh emang ngapain kamu dikantor sampai tengah malam baj*ngan! Kamu selalu nuntut aku untuk selalu ada buat anak-anakmu, tapi kamu bahkan gak pernah peduli untuk hal itu. Kamu selalu nyalahin aku kalau mereka kenapa-kenapa tanpa tau kalau aku stress dirumah sendirian. Kemana janjimu yang bakal luangin waktu kalau aku hamil hah!"
Zela semakin sulit menghirup oksigen disekitarnya ketika jantung berdetak terlalu kuat, takut kalau yang dikatakan mamanya benar.
Apa papa selingkuh?
"Uda berapa kali aku bilang Adhira! Aku harus fokus ke kantor pusat dibulan-bulan ini dan ngejar target perusahaan" Suara papa terdengar putus asa.
"Anak-anak uda mau lulus sekolah, aku pasti bakal sibuk buat ngurus kuliah mereka, survei kampus mereka, cari tempat tinggal mereka disana, dan masih harus mikiri bagian terburuk dari pergaulan mereka Dhir, aku bakal ngabisin waktu buat itu, jadi sebisa mungkin aku selesai urusan kantor di tiga bulan ini, kamu sebenarnya mikir nggak sih?" Lanjut papanya lagi.
Zela tak tau sejak kapan, tapi matanya sudah terasa panas dan meneteskan air mata.
Apa papa dan mama selalu bertengkar karena mereka?
Apa mereka terlalu egois dan menyusahkan?
"Kan! Kamu mikirin mereka terlalu berlebihan lagi kan! Demi Tuhan Zeo! Anak-anakmu itu uda dewasa, nggak harus kamu fikirin sejauh itu!"
"Sejauh mana! Justru karena anak-anakku uda dewasa aku harus lebih extra kemereka"
"Dan lupain aku, "
"Lupain apa Dhira, aku-
"Zela! Ken! Zela! Ken! Itu aja kan yang ada difikiran mu, gak guna tau nggak"
"Adhira!"
"Apa! Benerkan? Emang kamu pernah ngertiin aku? Lama-lama aku benci sama anak-anakmu itu!"
"Adhira Aliandra! yang kamu bilang kamu benci itu anak-anak kita!"
"Kan! Bela terus, lupain janji mu buat ada untuk aku, lama-lama bosan aku, kita gugur kan aja lah ya anak ini, takutnya malah jadi boomerang buat ku"
"Gila kamu, "
"Iya emang gila aku, urus anak-anakmu sendiri sana, jangan suruh aku untuk rawat mereka lagi kalau kamu bahkan gak bisa bagi waktu kamu antara aku dan anak-anakmu"
"Mereka anak-anakku Dhir, aku-
"Tapi aku juga hamil anakmu sekarang!"
"Demi Tuhan Dhira! Mereka anak-anakmu, anak kita! kamu cemburu sama anak-anak mu sendiri!"
Zela menahan tangisannya ketika suara orang tuanya masih saling bersahutan, saling menyalahkan dan saling membela.
Tapi satu kesimpulan yang Zela dapat.
Mamanya membencinya.
...****************...
"Mau kemana kamu Zeo!" Adhira berteriak lagi saat Zeo mengambil jaket dan kunci mobilnya, meninggalkan perdebatan panjang mereka sebwlumnya.
"Alzeo!"
"Hotel"
"Mau ngapain kamu kehotel hah, Zeo! Aku belum selesai ngomong"
Zeo menghela nafas, menatap Adhira yang kini juga menatapnya dengan mata basah. Jujur, hati Zeo berdenyut sakit ketika melihat penampilan Adhira yang selalu tampak menyedihkan semenjak pertengkaran mereka tiga hari yang lalu. Zeo juga tau kalau istrinya itu selalu kurang tidur tiap malamnya karena mereka yang selalu bertengkar.
Selalu bertengkar secara rutin. Sangat-sangat memuakkan untuk Zeo sendiri. Pertengkaran awal mereka yang hanya masalah sepela selalu merembet kepertengkaran lainnya. Seperti tadi Adhira yang menuduhnya selingkuh lalu tiba-tiba merasa cemburu dengan Zela dan Ken.
Adhira ini-
__ADS_1
Semakin lama bukan hanya semakin egois, tapi juga semakin tak masuk diakal.
"Zeo hiks"
"Besok kita ngomong lagi kalau kamu uda tenang, sekarang tidur" Kata Zeo sebelum menutup pintu kamar mereka. Meninggalkan Adhira yang menangis sendirian.
Menghela nafas lelah, papa berdarah Jepang itu mengeraskan rahangnya , merasa begitu emosi. Hari ini benar-benar hari yang buruk.
...****************...
Begitu Zeo pergi, Adhira semakin tergugu ditangisannya. Merasa sangat buruk karena lagi dan lagi telah membuat suaminya tak betah dirumah.
Adhira bukannya tak sadar kalau kalimat-kalimatnya begitu menyakitkan ketika mereka bertengkar. Tapi sungguh, Adhira tak bermaksud begitu.
Apalagi ketika itu membahas anak-anaknya, Adhira tak membenci mereka. Demi Tuhan, Adhira sangat menyayangi mereka.
Tapi rasa trauma dan stress yang menimpanya membuat ia selalu mengucapkan kalimat-kalimat menyakitkan itu.
Adhira hanya merasa sendiri.
Suaminya sibuk dikantor sampai harus selalu pulang malam. Anak-anaknya sibuk sekolah dan les sampai hampir tengah malam. Mereka semua sibuk. Mereka semua meninggalkannya.
Adhira merasa kian sendiri, seolah-olah tak ada yang memperhatikannya.
Apakah Adhira salah kalau ia ingin Zeo juga meliriknya. Fokus pada kehamilannya, perhatian dengan depresinya. Adhira hanya ingin itu. Tapi Zeo selalu menomor satukan anak-anak mereka. Adhira merasa terasingkan. Merasa diasingkan, merasa dinomor duakan, sampai rasa Ego nya membuat ia cemburu dengan anaknya sendiri.
Adhira tau ia Egois karena ingin Zeo hanya fokus padanya. Tapi apakah itu tak wajar? Dia sakit, kemungkinan besar mentalnya kembali terguncang yang berkemungkinan bisa kembali masuk rumah sakit jiwa dan yang paling penting ia sedang hamil.
Adhira meremas piyamanya, menangisi kepergian suaminya, menangisi mentalnya dan menangisi rasa Egonya yang tak pernah mau kalah.
Bahkan pada anaknya sendiri.
...****************...
Pagi itu, Ken merasa sangat bingung saat kakak kembarnya memeluknya sambil menangis secara tiba-tiba. Matanya membengkak dan kulit wajahnya memerah, menandakan kalau tangisan itu bukan tangisan baru, tapi sudah lama.
Apakah kakaknya menangis semalaman?
Ken mengusap rambut kakaknya lembut, mencoba menenangkan. Mereka masih didalam kamar, seharusnya sekarang sudah bersiap untuk berangkat sekolah, tapi karena tangisan Zela tak kunjung reda maka tampaknya kedua Takahashi muda itu akan libur sekolah untuk hari ini, lagian besok adalah hari sabtu. Mereka bisa libur sepuasnya sampai minggu.
"Lo berantem sama Yaka ya?" Tanya Ken pelan, mencoba menanyakan sebab kakaknya menangis, dan tersangka utama yang ada dikepalanya adalah pacar kakaknya sendiri.
"Nggak hiks" Zela menggeleng-gelengkan kepalanya kuat.
"Jadi?"
"Papa sama Mama berantem tadi malam" Cerita Zela sesenggukan. "Mama benci kita Ken hiks, mama ngerasa kita jahat karena Papa fokus kekita aja, hiks Ken gue hiks, Sakit banget" Zela terus menangis dipelukan adik kembarnya. Meremat baju kaos Ken dengan kencang, meluapkan kesedihannya.
Ken diam saja, sejujurnya ia sudah tau sehari yang lalu, mama dan papa nya itu bertengkar didini hari, membahas tentang keegoisan mamanya dan emosi papanya yang selalu meluap. Ntah diawali apa, tapi Ken sempat mendengar kalau mamanya meminta pisah dari papanya.
Namun, tampaknya tidak begitu.
Kalau tadi malam mereka kembali bertengkar, berarti masalahnya memang sepelik itu kan?
Dan apa benar sang mam membenci mereka? Apa mereka terlalu manja? Apa mereka terlalu merepotkan.
Ken mengecup kepala Zela ketika remaja tujuh belas tahun itu menceritakan kejadian yang ia dengar. Ken diam saja, tapi bohong jika ia tak merasakan apa yang Zela rasakan.
Mama membenci mereka.
"Udah, jangan nangis lagi hm? Gimana kalau kita ke Dufan? Nanti gue jajanin apa pun yang lo suka" Ajak Ken lembut
"Tapi sekolahnya? Mama nanti makin marah" Kata Zela tersengal-sengal.
"Bolos hm, nanti ganti baju dimobil"
"Lo mulai nakal ya"
"Lo yang ngajarin" Jawab Ken yang membuat Zela tersedak karena tertawa sambil menangis.
Ken tersenyum, ia tau masalah keluarganya memang sepelik itu, tapi- untuk saat ini biarkan kakaknya tersenyum dahulu.
Dan benar saja, Acara jalan-jalan ke Dufan itu berjalan sangat seru sampai keduanya lupa waktu. Mereka pulang malam karena mampir untuk makan diresto Jepang yang agak jauh dari rumah mereka sebelum pulang.
Keduanya masih tertawa-tawa sambil membawa jajanan yang mereka beli, tergambar sangat bahagia diwajah keduanya, tapi-
Raut bahagia itu langsung berubah secepat kilat begitu mendapati rumah mereka berantakan, banyak barang pecah diruang keluarga, bahkan Vas bunga kesayangan mamanya pun sudah bercecran menjadi serpihan beling. Lalu-
"Mama" Kaget Zela dan Ken saat mendapi Adhira menangis disudut bawah Sofa.
"Mama kenapa?" Tanya Zela panik yang diabaikan oleh Adhira.
"Mama-
"Puas kalian?"
"Ma" Kedua saudara kembar itu tersentak, kaget dengan ucapan mamanya.
"Ma, mama kenapa sih?"
"Papa kalian pergi karena kalian hiks, karena dia fikir mama gak bisa jaga kalian. Sekarang puas? Kemana aja tadi? Mama tanya kemana aja kalian tadi hah!"
Baik Zela maupun Ken terdiam.
__ADS_1
Bukan, bukan karena tak berani menjawab hanya saja, ini sangat-sangat mengejutkan.
Mama kesayangan mereka ini membentak mereka?
...****************...
"Zela!"
Ken menarik tangan Zela saat gadis itu akan masuk kekamarnya. Tadi mereka baru saja menenangkan sang mama, lalu membereskan ruang keluarga. Tampak sekali keduanya sangat kacau, tapi keduanya juga sama-sama berusaha terlihat baik-baik saja.
"Jangan aneh-aneh kak" Kata Ken penuh arti.
Zela tersenyum, "Tenang aja" Kata Zela mencoba tertawa yang justru semakin terlihat menyedihkan dimata Ken.
"Gue pegang janji lo"
"Aman" Kata Ken yang membuat zela tersenyum sebelum menutup pintu kamar.
Tok! Tok!
"Kak, lo uda janji ya" Teriak Kem lagi.
Zela mengusap matanya yang berembun,
"Iya bawel! Uda sana mandi terus tidur" Kata Zela lagi.
"Janji ya"
Zela menghela nafas saat langkah kaki Ken terdengar menjauh. Memejamkan matanya, Zela manangis tergugu.
Sedari kecil, walaupun ia sudah didongengi bagaimana perjuangan kedua orang tuanya dalam menjalin bahtera rumah tangga di lima tahun awal pernikahan mereka. Tapi secara langsung sendiri, baik Zela maupun Ken tak pernah merasakan kesulitan itu secara langsung.
Yang mereka ingat.
Mereka punya mama dan papa yang harmonis, yang saling menyayangi dan saling melengkapi. Intinya mereka punya keluarga yang sempurana. Zela dan kem biasa serba dimanja, dan kini semua seolah terbalik begitu saja.
Ternyata menjadi dewasa itu semenyakitkam ini ya?
Ternyata menjadi anak sulung itu sekeras ini ya?
Zela terus menangisi keadaannya, ia mengingat tadi mamanya mengatakan kalau papanya marah ketika mendapat telpon dari tempat les kalau mereka bolos tapi mama tak mengetahui apa-apa.
Jadi papa fikir kalau mama sudah tak peduli pada mereka, papa marah dan mama kacau, ia merasa semua masalah ini adalah sebab ia dan Ken.
Zela menangis sampai dadanya terasa sesak, ia hanya ingin keluarganya kembali seperti semula, tak ada yang saling egois, tak ada yang saling menyalahkan, dan tak ada yang merasa diasingkan.
Tapi bagaimana?
Apakah kalau ia terluka maka keluarganya akan sadar dan utuh kembali?
Pertanyaan itu langsung terbesit difikiran gadis Jepang yang sedang kacau itu ketika ia melihat pisau kater dimeja belajarnya, pisau yang biasa ia pakai untuk memotong beberapa bahan saat membuat kerajinan tangan.
Zela menelan ludahnya ketika mengingat cerita salah satu sahabatnya yang nekat mengiris nadi untuk mendapat perhatian orang tuanya yang bercerai. Dan itu berhasil, sekarang kedua orang tuanya selalu memperhatikannya walaupun sudah berpisah dan memiliki keluarga masing-masing.
Jadi-
Apakah itu juga akan berfungsi pada dirinya? Apa masalahnya akan selesai secepat itu nantinya.
Zela menghapus air matanya, langkahnya perlahan menuju meja belajarnya, mengambil pisau kater dengan hiasan kartun itu ketangannya.
Zela menatapnya lama. Fikiran gadis itu melayang, ia hanya ingin masalahnya selesai, ia hanya ingin kedua orang tuanya sadar dan kembali seperti semula.
Tapi-
Apakah harus?
Zela takut, tapi ia juga buntu, bagaimana cara menyelesaikan masalah ini? Dan memyadarkan orang tuanya?
Krrk
Suara pisau kater yang diiris berulang dikulit itu membuat ngilu.
Shssh
Zela merasakan perih yang sangat.
Shsh
Ini sakit sekali. Batin gadis Jepang itu bergetar. Benar-benar sakit dan mengerikan.
Zela harap masalah ini akan selesai nantinya, yah, semoga saja begitu-
...****************...
Note:
Satu bab yang berisi banyak adegan ya. Gak terlalu panjang kan? Btw, ini bab terpanjang yang pernah aku buat. Wkwk.
Oya, dibab semalam seru banget bisa saling tukar opini tentang keresahan dan tekanan di remaja jaman sekarang. Ternyata banyak banget dari kita yang uda sadar masalah itu ya.
Aku harap, itu bisa kita jadikan pembelajaran untuk kedepannya ya.
Anyway, jadi dewasa itu sulit juga ya? Apalagi mental-mental calon pasien psikilog kayak dimasa kita ini. Umur uda tua, tapi pengalaman dan daya tahan banting masih terlalu muda.
__ADS_1
Aku jadi ngerti sekarang, kenapa ada kata-kata yang bilang kalau dewasa itu bukan tentang umur. Hm, gimana menurut kalian? Sudahkah kalian merasa dewasa sesuai umur?