
"Mama, kapan papa pulang nya? "
Adhira mengusap wajahnya jengkel kala lagi-lagi pertanyaan itu yang ditanyakan Zela. Hari ini sudah hari kedua Zeo pergi ke Jepang untuk urusan perusahaannya. Dan pertanyaan tentang kapan pulangnya si papa kesayangan anak kembarnya itu sudah bagai nyanyian wajib Zela dan Ken.
"Mama gak tau kak,"
"Pulangnya kok lama papanya" Keluh Zela lagi, sulung Takahashi itu kembali mengeluh.
"Mama gak tau, kan semalam kalian yang ngintilin papa kemana-mana, harusnya kalian yang tau dong"
"Intilin itu apa ma?"
Adhira menipiskan bibirnya jengkel kala Ken, si jiplakan papa Zeo itu membawa robot-robotannya sambil mengernyit bingung.
"Nggak tau mama, uda kalian main bareng disitu, atau nonton tv itu, Tuh, Princess rapunzelnya lagi nyanyi itu" Kata Adhira menghidupkan tv agar pertanyaan anaknya teralihkan.
"Tapi, Papa kapan pulangnya ma?" Tanya Zela lagi sambil menatap layar televisi.
Adhira menahan nafasnya, ia menatap kedua anaknya yang juga menatapnya penuh rasa ingin tau, Yah, sekarang Zela dan Ken sudah besar. Kedua anak kembar Zeo itu sudah menginjak usia 4 tahun. Perkembangannya pun cukup baik malah terkesan sangat baik. Jika dulu Baik Adhira maupun Zeo sempat khawatir karena keterlambatan perkembangan kedua anaknya. Apalagi ketika diusia 2 tahun Zela dan Ken belum juga bisa berjalan dengan lancar. Keduanya sering terjatuh dan memilih merangkak. Juga kemampuan bicara yang bisa dibilang buruk.
Tapi setelah banyak berkonsultasi dengan dokter, sekarang keduanya sudah menunjukkan banyak perkembangan yang signifikan. Bahkan sangking signifikannya hal itu menjadi hal yang menjengkelkan bagi Adhira yang tak telaten jika ditanya-tanya. Seperti saat ini contohnya.
"Kapan mama?"
Ibu dua anak itu berdecak kesal, "Emang semalem waktu papa pergi, papa bilang kapan pulangnya sama kakak sama Ken hm?"
Zela mengerucutkan bibirnya, "Papa bilang lum tau"
"Kalau papa aja belum tau , terus mama tau gitu kak, mama mana tau?" kata Adhira agak kesal. Yah perempuan itu masih sama, kepergiaan Zeo dua hari ini dan teguran Zeo waktu itu belum memberi perubahan sama sekali untuk nya. Ia masih suka mementingkan ego nya sendiri.
"Dhir lo galak banget, liat tuh anak lo pada jadi murung." tegur Windi yang melihat Zela memonyongkan bibirnya sambil kembali menatap televisi. Oya, omong-omong dua hari ini Adhira dirumah mamanya dan sekarang ia sedang reuni dengan ketiga teman SMA nya.
"Ya kan gue bener, gue gak tau kapan papa nya pulang Win"
"Ya tapi gak gitu juga lah jubaedah, uda jadi emak-emak juga" kesal Febi.
"Iya Dhir, tuh liat tuh, mukanya Zela sama Ken mendung gitu, duh ya ampun, pake rangkul-rangkulan pulak tuh anaknya Zeo, kan kesannya kayak lo mama tiri banget Dhir" Kata Windi menatap Zela dan Ken yang saling berpelukan sambil terus bergumam dalam bahasa Jepang, mungkin mereka saling menenangkan satu sama lain.
"Ish sumpah Dhir, asli gue pengen ninju lo aja rasanya. Heran sama anak sendiri juga gak ada ngalah-ngalahnya." tambah Windi lagi.
"Anak Zeo."
"Astaga, Dhira. Ish." kesal Febi mencak-mencak.
Adhira terkekeh, "Iya-iya anak gue juga. Anak kita berdua" kata perempuan itu terkekeh.
"Hampir gue mecahin nih piring kalau lo tadi sampai gak ngakui mereka tadi Dhir" Sela Intan emosi. Adhira terkekeh.
"Ma papa itu belum pulang?."
Adhira memejamkan matanya menahan kesal kala gantian Ken yang bertanya.
"Belum Ken. Kalau papa mu pulang kan nanti nampak wujudnya dirumah." kata Adhira menatap Ken yang sedang memeluk Zela. Mungkin si bungsu itu sedang membantu si kakak yang merajuk.
"Dilumah? Tapi kita gak dilumah ma, belalti papa nunggu dilumah ya." tanya Ken cadel. Yah kedua anak Zeo itu benar-benar membawa gen Takahashi sekali, bahkan mungkin tak ada yang percaya kalau Zela dan Ken berdarah campuran Indonesia karena baik fisik maupun pengucapan bicarnya semua nya khas negara asal keluarga Zeo itu.
"Maksud mama, kalau papa uda pulang papa nanti kerumah nenek Ken. Jumpain kita" kata Adhira berusaha pelan.
__ADS_1
"Oh, belalti papa belum pulang ma."
"Mada ie ni inai Ken (Belum pulang Ken) Ken main dulu ya sama kakak hm" sahut Adhira yang langsung membuat anak laki-laki itu kembali fokus ke kakaknya.
"Lancar jepang lo Dhir. " kata Febi.
"Ngawur aja gue mah, yang penting anak gue gak rewel."
"Artinya apa?" kepo Febi lagi.
"Papa nya belum pulang, gitu." kata Adhira pelan.
"Lo bete banget kayaknya Dhir," kata Intan yang sejak tadi diam.
"Anak-anak Zeo nyebelin, " kata Adhira mengerucutkan bibirnya.
"Yang nyebelin anaknya atau papanya." goda Windi terkekeh.
"Tau, ntar lo yang sebel sama papanya karena belum ada dikasih kabar, lagian Zela sama Ken Lucu gitu kok malah dibilang nyebelin." kata Febi
" Apaan sih. Lucu dari mananya, setiap hari nanyai papanya mulu, baru juga ditinggal dua hari, gue itu pusing."
"Iya deh iya,"
"Lo bilang iya tapi mukanya kayak ngejekin gue. Belum ngerasain punya anak sih." kata Adhira menelungkupkan kepalanya kemeja makan. Tempat mereka duduk sekarang memang berada diruang makan karena Intan yang tadi numpang makan ketika datang.
"Yeh, iri bilang bos, lagian salah siapa punya anak cepet-cepet." kata Windi tak terima.
"Salah Zeo." kata Adhira pelan.
"Salahin terus laki lo Dhir, heran gue sama Zeo kok betah hidup bareng lo bertahun-tahun. Anak lo lagi setiap hari lo galakin lo judesin kok tetep nempel sama lo ya heran gue." keluh Intan.
"Tapi saran gue ya Dhir, lo turuni lah sedikit ego lo." kata Intan tiba-tiba Yang diangguki Windi dan Febi.
Adhira mengangkat wajahnya, ia menatap ketiga temannya bingung. "Ego apa?"
"Lo sering kayak bersifat acuh tak acuh ke anak suami lo, emang lo gak takut Zeo pulang keJepang ini nyari yang baru?" kata Intan lagi.
Adhira mengerjapkan matanya, lalu terkekeh, "Mana mungkin, Zeo mah cinta sama gue, cinta juga sama anak-anaknya kali Ntan. Gak mungkin cari yang baru."
"Lo pede banget sih Dhir, emang lo tau apa tentang Zeo?" ditanya begitu, Adhira langsung kicep. Bahkan di 5 tahun pernikahannya ia tak banyak tau tentang Zeo. Walaupun dulu Adhira menyetujui untuk hidup dan memberi kelengkapan keluarga untuk kedua anaknya. Tapi selama ini Adhira selalu bersikap pasif dihubungannya dengan Zeo.
Ia selalu memberi leluasa untuk Zeo dalam hubungan mereka. Zeo yang selalu mengungkapkan cinta padanya. Zeo yang selalu berjuang dan menjaga nya juga anak-anaknya.
"Lo nggak takut dia punya simpanan gitu. Secara Zeo masih muda dhir, 24 tahun kalu lo lupa. Umur segitu dengan fisik yang kayak Zeo siapa sih yang gak mau. Kalau seandainya dia ngaku masih single sama rekan kantornya juga masih dipercaya kali." kata Windi yang membuat Adhira diam seribu bahasa. Harus Adhira akui, Zeo memang setampan dan sesempurna itu untuk ukuran laki-laki yang akan dijadikan pasangan. Pasti banyak yang tertarik dengan Zeo selain dirinya sendiri. Bahkan, Intan dulu pun sempat memuji-muji Zeo saat SMA.
"Sekarang gue tanya sama lo, lo sebenernya cinta nggak sih sama Zeo?"
Adhira tak menyahut, perempuan itu bingung dengan perasaannya sendiri. Ia bergantung dengan Zeo, ia membutuhkan Zeo dalam hidupnya. Tapi- Apa kah ia sudah mencintai Zeo?
"Tuh kan, lo bahkan gak bisa jawab."
"G-gue gak tau."
"Lo sebenernya nggak tau sama perasaan lo atau gengsi sama perasaan lo?"
******
__ADS_1
"itadakimasu (Selamat makan), papa!" teriak si kembar ketika Zeo menelpon saat mereka sedang makan malam. Ceritanya si kembar sedang pamer pada papanya karena sekarang diberi izin makan mie goreng oleh sang mama.
"Wah, anak-anak papa masih makan ya?" Kata Zeo tersenyum geli.
"Ha'i (Iya)"
"Apa menunya malam ini? " Tanya Zeo sambil memicingkan matanya, "Eh, makan mie? Ciee, boleh makan mie ya sama mama" Goda Zeo yang membuat si kembar tertawa malu-malu.
"Nenek atau mama yang masak ?"
Adhira melirik ponsel yang digunakan kedua anaknya untuk menelpon Zeo. Jika dipikir-pikir ulang, selama Zeo pamit pergi ke Jepang dan meninggalkan Adhira dan kedua anaknya dirumah Ayah Adhira di Bandung. Zeo sama sekali belum pernah menghubungi nomor Adhira. Laki-laki itu selalu menelpon nomor ayah Adhira atau bahkan nomor Devan untuk berbicara dengan Zela dan Ken.
Ntah kenapa hal sepele itu membuat Adhira memikirkan kata-kata temannya tadi. Apa Zeo sudah ada pengganti dirinya disana? Atau apa lelaki itu sudah lelah dengan sifat nya?
"Nenek yang masak, mama tadi main sama tante papa. Kami itu tadi itu dimalahin mama loh papa" adu sisulung manja pada papanya yang hanya bisa tertawa di hadapan kamera.
"Iya papa, Kakak itu, apa tadi kata mama papa gak tau pulang nya gitu kata mama sama ken." adu Ken yang kebingungan menyusun kata.
Zela dan Ken memang sedikit susah berbicara, jika dulu keduanya sulit berbicara menggunakan bahasa Jepang. Kini justru terbalik, sekarang mereka malah sering kebingungan sendiri jika berbicara menggunakan bahasa indonesia apalagi dalam kalimat panjang.
Mungkin efek keluarga Zeo yang sehari-harinya selalu berkomunikasi menggunkan bahasa ibu mereka.
"Oh mama bilang gitu? " dan hebatnya adalah Zeo langsung nyambung oleh segala keacakan kalimat anak-anaknya.
"Ha'i"
"Sekarang mama nya mana?"
"Mama" panggil Zela dan Ken pada Adhira yang masih melamun.
"Mama,"
Mira yang melihat cucunya sibuk memanggil Adhira pun menggoyakan bahu Adhira.
"Hah, apa ma?" Tanya Adhira pada Mira.
"Zeo" bisik mamanya yang membuat Adhira menoleh kearah dua anaknya yang sedang memegang ponsel Devan.
"Papa ngomong, mama mau?" tanya Ken yang ditanggapi gelengan oleh Adhira.
"Mama gak mau pa, mama masih makan."
"Makan?"
"He'em."
"Yaudah, kasih handphonenya ke Kakek dulu ya sayang, papa mau ngomong sama kakek."
Deni yang disebut-sebut oleh menantunya itu pun segera menerima uluran tangan cucunya. "Kenapa Ze?" tanya Deni ramah.
Yah hubungan menantu dan mertua antara Zeo dan orang tua Adhira berubah total semenjak Adhira melahirkan Zela dan Ken dulu. Sekarang justru Adhira merasa Zeo lebih disayang daripada dirinya ketika mereka datang berkunjung.
"Titip Adhira sama anak-anak dulu ya yah, Zeo kayaknya masih agak lama karena sekalian jaga Obaachan yang beberapa kali drop juga." kata Zeo yang ditanggapi anggukan dan basa-basi dari Deni.
Adhira yang mendengar pembicaraan Zeo dan ayahnya itu tercenung, bahkan, saat Zeo izin pulang lebih lama pun, Zeo tak menghubunginya. Seketika, Adhira merasakan hatinya perih.
Dan Bahkan, setelah sambungan vidio itu berakhir, Zeo sama sekali tak menanyakan Adhira lagi. Melihat itu Adhira menjadi dirudung ketakutan nya sendiri.
__ADS_1
Apa benar Zeo sudah ada pengganti dirinya?
********