
Adhira kian tergugu ketika merasakan perutnya nyeri, Ia rindu Zeo.
Dan malam ulang tahunnya itu, ia akhiri dengan pejaman mata yang basah. Dengan jaket Zeo yang ada dipelukan hangatnya.
****
" Zeo Oniican, Nande?" Tanya Zee yang melihat Zeo melamun. Karena pertanyaan Zee itu semua orang yang ada diruang makan itu menatap Zeo penuh rasa penasaran.
"Nande!?( apa sih)" Tanya Zeo terdengar agak kesal karena ditegur.
"Oniican(Abang) ngelamun mulu." kata Zee tak mau disalahkan.
"Kangen gishi heh," ejek Zea menunjuk Zeo menggunakan sumpitnya.
"Zea turunkan sumpitmu, Shitsurei no(Gak sopan)" tegur Papa mereka ketika melihat Zea menunjuk menggunakan sumpit.
"Gomen(Maaf)," ujar Zea tak ikhlas.
"Kamu kangen Alina?" kata Obaachan mereka tersenyum.
Zeo memundurkan tubuhnya. Mendorong makanannya dengan kasar, "Uda berapa kali Zeo bilang Obaachan, Zeo uda putus dari Alina. Zeo uda punya istri. Bisa nggak sih sehari aja gak bahas Alina. Uda seminggu lebih Zeo disini itu aja yang dibahas. Zeo muak Obaachan!" kata Zeo jengah.
"Obaachan gak suka sama istri kamu itu."
"Gak suka? Obaachan kan belum pernah jumpa, kenapa obaachan uda ngejudge dia."
"Apa Obaachan salah?" tanya nyonya Takahashi tak terima.
"Ya jelas salah lah. Obaachan belum pernah ketemu Adhira, kenapa obaachan langsung gak suka dia. Obaachan banding-bandingi lagi sama Alina, Obaachan pikir Zeo suka gitu." kata Zeo marah. Ia memang tak menyukai Adhira, tapi sebisa mungkin Zeo menjaga martabat Adhira didepan keluarganya. Mau bagaimana pun Adhira adalah ibu dari anak-anaknya kelak.
"Gak Obaachan, Nggak, Zeo malah muak sama sikap Obaachan."
"Kamu marah sama Obaachan? Kan memang benar apa kata Obaachan. Istri kamu itu bukan perempuan baik-baik kalau dia memang perempuan baik-baik seharusnya dia itu gak jadi istri kamu sekarang. Tidak hamil diluar nikah seperti itu, tidak keluar sekolah, kalau istri kamu emang perempuan baik-baik dia seharusnya mau tau tentang keluarga suaminya. Obaachan tidak pernah menuntut sama kamu, tapi obaachan sakit parah semalam apa dia peduli? Tidak kan? " marah wanita berdarah jepang itu menggebu.
"Okaasan-"
__ADS_1
"Diam kamu Nana, jangan berani bela menantu kamu didepan saya. Kalian itu sama saja. Lihat tingkah kalian dulu itu hah. Jadi berandalan cucuku" Marah nenek Zeo pada mama Zeo yang langsung menunduk takut.
"Ai-"
"Kamu juga, jangan berani bela cucu kamu ini." Sergah nenek Zeo pada kakek Zeo.
Semua orang terdiam tak ada yang berani bersuara.
"Kalau Zeo bilang, Zeo yang gak kasih tau Adhira gimana? Kalau Zeo bilang Zeo yang gak mau Adhira tau keluarga Zeo yang berantakan gimana? Kalau Zeo bilang kalau Zeo yang gak mau Adhira tau obaachan yang gak punya hati gimana? Hah! Obaachan gak berhak ngejudge Adhira cuma karena dia gak mau tau soal keluarga kita. Dan satu lagi istri Zeo gak serendah itu tapi ZEO YANG BIKIN DIA JADI RENDAH, ZEO YANG HAMILI DIA DILUAR NIKAH, Obaachan mau apa. Obaachan juga bakal ngatain Zeo Iya!" Zeo menggenggam sumpit ditangannya sampai patah. Pemuda itu benar-benar marah.
"Lihat, Lihat efek istri kamu itu hah, Kamu berani ngelawan dan bentak orang yang uda besarin kamu- kalian- kalian lihat itu, Cucu ku jadi tak punya adab karena perempuan abazure (Jala*ng) itu."
"OBAACHAN! obaachan uda kelewatan." kata Zeo bangkit dari duduknya.
"Zeo-san" panggil kakek nya mencegah.
"Mau kemana kamu."
"Pulang!"
Zeo mengambil jaketnya, mencari dompet, dan segala keperluannya dikamar.
"Alzeo!"
"Kenji, bilang Zeo buat tinggal."
Zeo menghentikan kegiatannya, ia lalu menatap papanya. Papanya itu adalah boneka hidup neneknya, selalu menuruti semua kata neneknya itu.
"Zeo, kamu urus perusahaan yang ada disini. Tinggal sebulan dua bulan lagi sambil jaga obaachan dan ojiichan ."
"Perasaan semalam otousan (papa)bela Adhira deh"
"Kenji- kamu bela manantumu itu hah" Marah nenek Zeo merasa di khianati.
"Okaasan- " Papa Zeo menghela nafas, "Adhira lagi hamil"
__ADS_1
"Kamu bela perempuan Abazure itu karena di hamil, wah, sejak kapan kamu punya hati begitu, kemana aja kamu waktu buang Zeo waktu masih bayi dulu hah"
Papa dan mama Zeo terdiam. tak sanggup melawan.
Sedangkan Zeo tersenyum meremehkan papanya. Ia menatap semua anggota keluaraganya. Kalau saja bukan karena nenek dan kakek nya yang merawat dan mengurusnya sejak bayi. Zeo enggan pulang kembali kejepang. Yah, Memang pada dasarnya poros hidupnya hanya nenek dan kakeknya kan?
"Zeo gak mau, Zeo uda punya keluarga sendiri." Desis Zeo melangkah pergi.
"Zeo! Kamu keluar dari Jepang, jangan harap kamu bisa hidup tenang dengan Abazure itu" ancam neneknya.
Zeo menghentikan langkahnya, ia memejamkan matanya menahan emosi. Namun ia kembali melangkahkan kakinya keluar untuk mencari udara segar. Ia tak akan melawan jika neneknya sudah mengancam.
Papanya yang merupakan manusia yang paling keras kepala saja tunduk oleh neneknya. apalagi dirinya yang belum punya apa-apa untuk melindungi Adhira dan anaknya.
"Zeo!"
***
Zeo mendudukkan dirinya didalam cafe, ia menatap gelas kopinya, lalu kembali menatap kaca cafe yang menampilkan pemandangan musim semi.
Pikirannya berkecabang, bingung anatara ingin pulang dan menemui Adhira atau tetap tunduk pada neneknya.
Jika ia pulang, tak menutup kemungkinan neneknya akan menyulitkan hidupnya dan Adhira. Hidup dan besar dengan neneknya, Zeo cukup tau bagaimana sikap dan sifat neneknya itu.
Zeo mengusap wajahnya, ia lalu mengambil handphonenya, menekan nomor yang ntah bagaimana bisa ia hapal diluar kepala. Nomor yang ia pandangi sejak semalam.
"Otanjoubi omedetou Ai, ”
Zeo tersenyum tipis, "Aitai" katanya mengakhiri rekaman suaranya dengan tangan yang menggenggam kuat. Ia benar-benar rindu.
***
Note"
Otanjoubi omedetou Ai : Selamat ulang tahun sayang.
__ADS_1
Aitai. : Benar-benar ingin bertemu.