EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-50 Kesabaran yang menipis


__ADS_3

Zeo diam memperhatikan Adhira dari balik ruangan kaca. Perempuan itu duduk berhadapan dengan seorang psikiater kenalan papanya.


Zeo mengernyitkan kepalanya kasian ketika Adhira berteriak-teriak saat menjawab pertanyaan psikiater. Dapat Zeo simpulkan dulu Adhira selama kehamilannya mendapat tekanan psikis yang luar biasa. Namun karena sikap angkuh dan arogan nya membuat tekanan itu tak terlihat dengan jelas. Sekarang setelah ada diposisi ini Zeo baru mengerti kenapa dulu Adhira sering kali melakukan percobaan bunuh diri atau menggugurkan kandungannya, atau bahkan bersikap antipasi saat ia mendekatinya.


Zeo melamun lama, banyak yang dipikirkan laki-laki itu, sampai ia tak sadar seseorang menghampirinya.


"Zeo?" panggil Om Han, psikiater yang menangani Adhira sekaligus kenalan papa Zeo.


Zeo menoleh, "Ah, iya om, gimana Adhira dia kenapa?" tanya Zeo ketika Om Han berdiri didepannya.


"Kayak yang didiagnosa psikolog sebelumnya, Adhira mengalami yang namanya postpartum depression atau depresi pasca melahirkan. Namun terlebih itu tampaknya Adhira juga memiliki tekanan psikis yang lebih dari itu, dari hasil wawancara yang kami lakukan. Tampaknya, maaf sebelumnya Zeo bukannya Om mau menuduh kamu tapi apa kamu pernah melakukan suatu hal yang menyakiti Adhira? Seperti memukul atau memaki secara berlebihan misalnya? Yang kira-kira dapat membuat Adhira tertekan selama ini. Karena bisa dibilang Depresi Adhira ini termasuk berat. Ia bahkan ketakutan hnaya melihat anak-anak kalian"


Zeo tergagap, sudah pasti ia sering melakukannya dulu. Tapi apa separah itu kah dampaknya?


Om Han tersenyum, sebagai seorang psikiater tentu saja ia dapat membaca ekspresi lawan bicaranya. Dan tanpa bertanya lagi Han sudah bisa menemukan benang merah dari masalah anak temannya itu.


"Mungkin nanti Adhira belum bisa menerima anak-anak kalian, tapi bukan berarti tidak bisa. Adhira bisa sembuh secara perlahan. Depresi ini adalah jenis depresi jangka pendek, jadi kamu jangan terlalu khawatir-


"- Namun selama pemulihan Om harap kamu tidak memaksa Adhira untuk berintraksi dengan anak-anak kalian, ia masih butuh waktu untuk menerima. Dan juga Om harap kamu bisa lebih lembut dan perhatian lagi pada Adhira. istri kamu itu hanya perlu keterbukaan saja karena Selama ini ia memendamnya sendiri jadi ketika ia emosi ia bisa kehilangan kendali dirinya Dan akhirnya menyakiti dirinya sendiri-"


"- Walaupun depresi ini termasuk depresi jangka pendek namun jika dibiarkan berlarut-larut nantinya Adhira bukan hanya menyakiti dirinya sendiri, mungkin saja Adhira akan berani menyakiti kamu atau pun anak kalian yang ia rasa menjadi sumber masalah kehidupannya."


Zeo mengangguk kaku, terlalu banyak informasi dan fakta yang ia terima dalam jangka subuh hingga siang ini membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih.


****


Selama perjalanan pulang dari tempat praktek Om Han, Zeo perhatikan Adhira tak banyak berbicara. Perempuan itu hanya menatap kosong  keluar jendela dan sesekali menangis tanpa alasan. Mata perempuan itu bahkan sudah bengkak karena banyak menangis.


"Aku mau ke rumah sakit, kamu ikut?" tawar Zeo pada Adhira dengan lembut. Ah, lebih tepatnya berusaha lembut. Memang siapa yang kira-kira bisa terus sabar jika orang yang harus ia lembuti ini baru saja mencoba membunuh anak-anaknya.


Adhira menatapnya, "Rumah sakit? Ngapain?" Tanya Adhira sesenggukan.


"Jumpa anak-anak lah"

__ADS_1


"Nggak! Zeo nggak! Jangan belok jangan belok, Akhhh!! Kalau gue bilang nggak, ya nggak!" Teriak Adhira begitu menyadari mereka sudah berhenti didepan rumah sakit.


"Pulang Zeo, pulang!!!!" Adhira memegang lengan Zeo ketakutan.


Zeo mengusap wajahnya, ia menghentak tangan Adhira lengannya."Lo sebenci itu sama mereka ya Dhir?"


Adhira memalingkan wajahnya, enggan menatap Zeo yang kini tampak sangat terluka.


"Apa gak bisa lo benci gue aja? Gue yang salah diposisi ini dhir, gue mohon" Kata Zeo memelas.


"Gue mohon lo buka hati lo buat mereka, mereka butuh mamanya Dhir, mereka butuh kamu." kata Zeo serak, ntahlah sekarang laki-laki itu mudah tersentuh apalagi jika sudah membahas kedua anaknya. Seperti saat ini contohnya mata lelaki itu sudah tampak memerah.


"Coba sekali aja lo peluk mereka, tatap mata mereka, lo-"


"Bisa diem nggak!" bentak Adhira, "Lo selalu prioritasin anak-anak lo, lo gak pernah mikirin perasaan gue. Gue hiks, Lo jahat Ze, Cuma lo yang bisa gue andelin, tapi lo-,Lo selalu mikirin anak-anak dan anak-anak!" Bentak Adhira.


"Siapa bilang gue cuma prioritasin mereka tanpa mikirin perasaan lo, justru lo yang gak punya perasaan. Apa gak ada sifat keibuan lo muncul waktu liat anak-anak kita Dhir? Apa hati lo gak tergerak sedikitpun waktu mereka nangis kayak gitu? Mereka darah daging kita lo dhir, Lo ngandung mereka 7 bulan Adhira! 7 bulan, dan gak ada gitu hati lo terbuka buat mereka. "


Adhira memegang sealtbet nya sambil menunduk, perempuan itu menangis terisak. Zeo menghakiminya.


Zeo menatap Adhira yang menangis itu cukup lama. Ia sadar, ia tak seharusnya memarahi Adhira ketika baru beberapa menit yang lalu perempuan itu mengalami tekanan terbuka dari psikiater. Zeo tau ia salah. Tapi kesabarannya sudah tak tau arti benar dan salah lagi.


" Gue gak maksa lo buat nerima gue dihidup lo, tapi bisa nggak lo nerima anak-anak gue Dhir? Mereka gak salah apa-apa. Mereka cuma butuh dekapan lo sebagai seorang ibu udah itu aja, apa sesusah itu sih?"


"Me-mereka jahat hiks-"


"Mereka nggak jahat Adhira, lo yang jahat!! Apa gak cukup lo nyakitin mereka selama dikandungan? APA GAK CUKUP HAH" Emosi Zeo memuncak begitu mengingat perlakuan Adhira pada anak-anaknya.


Adhira tersentak, suara Zeo yang keras terasa menusuk sampai relung hatinya.


"Gue mau nemuin anak-anak gue, gue mau bawak mereka pulang. Kalau lo gak mau lo bisa pulang duluan." kata Zeo ketus, ia memilih mengakhiri emosinya sendiri karena enggan memperburuk keadaan dan juga psikis Adhira. Walaupun sudah terlambat.


"Ini uangnya, lo bisa pesen taksi dan tunjukin alamat rumah gue yang uda gue kirim ke lo. Atau kalau lo mau lo bisa nyetir sendiri, ini kuncinya." tambah Zeo lalu keluar dari dalam mobil, meninggalkan Adhira yang terus menatapnya dengan tangisan tertahan.

__ADS_1


****


Zeo langsung menemui kedua anaknya yang siang ini sudah bisa pulang. Laki-laki itu menggendong bayi perempuannya dan menyium bayi laki-lakinya yang masih berada di boks.


"Adhira gak ikut?"


Zeo menoleh ke mamanya yang sedang menyiapkan susu untuk kedua bayi Zeo. Karena Adhira yang tidak bisa memberi kedua anaknya ASI, maka untuk nutrisi kedua anaknya Zeo harus membeli susu formula anjuran dokter yang bisa menambah berat badan kedua bayi itu keberat normal.


"Dia dimobil," kata Zeo pelan, ia menggondong putrinya dengan dekapan seolah-olah mencurahkan isi hatinya pada putri kecilnya.


"Apa kamu marahin dia?" tanya Papanya.


"Ada diposisi ini juga bukan maunya, kamu cuma perlu bersabar dan bertahan untuk anak dan istrimu."


Zeo terdiam cukup lama, ia kembali mencium putrinya ketika menyadari kesalahannya pada Adhira tadi.


"Apa yang dibilang papa kamu itu benar Ze, kamu cuma perlu bersabar lagi, atur emosi kamu lebih baik lagi. Jangan sampai kamu melukai anak dan istrimu karena emosimu."kata mamanya.


Zeo mengangguk, ia menatap kedua anaknya secara bergantian. Kedua bayi yang sudah berumur 24 hari itu  masih sangat kecil dan seolah-olah menunjukkan keringkihannya. Zeo merasakan sesak didadanya karena hal itu.


"Stt, kok kamu sekarang cengeng sih Ze?" kata Mamanya lalu memeluk Zeo yang masih menggendong anaknya. Laki-laki itu menangis dipelukan mamanya.


"Apa ini hukuman buat Ze ya ma? Kalau iya Ze nyesel ma, Ze nyesel bener-bener nyesel. " tangis Zeo dipundak mamanya.


"Cup-cup uda dong, kamu itu uda jadi papa loh artinya harus lebih tegar lagi, lebih sabar lagi, dan lebih kuat lagi karena kamu yang jadi tameng buat keluarga mu. Coba deh liat itu baby nya liatin papa nya. Bingung kenapa papanya cengeng." kata mama Zeo menghibur.


Zeo terkekeh, ia lalu menciumi kedua anaknya ketika anak-anaknya itu memang sedang menatapinya.


"Papa sayang kalian," bisik laki-laki itu disela kesedihannya.


****


Deep banget pembahasannya.

__ADS_1


Oya, Happy weekend guys.


__ADS_2