EGO- Adhira

EGO- Adhira
Ego-22 Gara-gara sibakso


__ADS_3

Omong-omong, jika Zeo tadi pagi memaksanya untuk meminum susu dan mengubah pola hidup yang sehat, Maka malam ini, Adhira akan melakukan hal yang sebaliknya.


Ah, senangnya.


***


Namun pemikiran itu seketika sirna saat Adhira menyadari ia tak memiliki uang untuk membeli nanas. Ck, menyebalkan sekali, gerutu Adhira sambil keluar kamar, tapi saat pandangannya melihat Zeo duduk diruang tamu yang sekaligus merangkap sebagai ruang nonton. Secercah harapan itu kembali muncul, ia bisa meminta uang pada Zeo.


Adhira berdehem, ia mendekati Zeo yang duduk dilantai dengan laptop, berbagai kertas dan segelas air hangat diatas meja. Adhira dapat mendengar pemuda itu terus berbicara menggunakan bahasa jepang yang sangat lancar melalui headphone, sedangkan tangannya sibuk mengetik atau beberapa kali mengecek tumpukan kertas didepannya. Benar-benar sibuk.


Ntah apa yang dilakukan pemuda itu, di hampir tengah malam begini kerja kah? Pikir Adhira penasaran.


"Ngapain lo?" pertanyaan Zeo itu membuat Adhira tersentak kaget. Adhira melirik Zeo, pemuda itu berbicara sebentar pada pembicara di headphonenya. Lalu kembali fokus padanya.


"Apa urusan lo." balas Adhira setelah mengatur mimik wajahnya. Ia tak boleh terlihat takut didepan pemuda itu.


"Gue tanya baik-baik Dhir,"


"Yaudah, kan uda gue jawab."


Zeo menghela napas, tak mau tersulut emosi disaat banyak kerjaan menumpuk yang minta diselesaikan.


"Gue minta uang." kata perempuan itu tiba-tiba.


"Uang? Buat apa?"


"Makan bakso" Sahut Adhira meyakinkan.


"Bakso? malem-malem begini? "Tanya Zeo lagi sambil mengangkat jam tanganya yang ia letak diatas sofa.


"Kenapa emangnya- udalah kasih aja kenapa sih, sibuk banget" Kata Adhira ketus, masih sambil menyodorkan tangannya.


"Buat apa?" tanya Zeo lagi agak curiga. Setelah pertengkarannya dengan Adhira tadi pagi, ntah kenapa rasa kepeceryaan Zeo hilang total pada perempuan ini.


"Uda dibilang buat gue , gue mau beli jajanan, beli bakso, laper." kata Adhira menyentuh perutnya yang mulai nampak menonjol.


Zeo sempat terkesima oleh perut Adhira yang tertutup piyama Dora itu, hatinya berdesir ketika mengingat bahwa ia akan-berkemungkinan- memiliki anak kembar nantinya.


"-lo bilang lo mau gue rawat ini anak, dan sekarang dia berulah lo tau itu. Gue laper pengen keluar makan bakso." kata Adhira yang membuat Zeo mengerjap. Agaknya ia tak fokus oleh kalimat Adhira karena terfokus pada perut perempuan itu.


"Ya- Tapi-


"Gue ngidam Zeo, anak lo ini yang pingin. Puas lo!" Bentak Adhira kesal.

__ADS_1


"Lo mau keluar?" tanya Zeo lagi, namun belum sempat Adhira menjawab, pemuda itu sudah melanjutkan pembicaraan dengan orang yang tadi berbicara padanya.


"Adhira pa, minta keluar beli bakso katanya." kata Zeo yang membuat Adhira menyadari bahwa sejak tadi, Zeo berbicara dengan keluarganya.


Zeo menatap Adhira, "Hm, kayaknya dia mulai ngidam."


Adhira yang ditatap begitu pun ntah kenapa menjadi sedikit salah tingkah.


"Em, Zeo kurang tau, mungkin 2 atau 3 bulan."


"Hm, nanti Zeo tanya kan lagi. Yaudah, Zeo mau pergi dulu"


Adhira menaikkan alisnya ketika Zeo bangkit dari duduknya. Menutup laptopnya, melepas headphonenya dan mematikan ponselnya. "Mau kemana lo?"


"Katanya lo mau makan bakso."


Adhira tergagap, mulutnya terbuka lalu menutup lagi. Dia tak mungkin mengatakan kalau ia berencana membeli nanas muda kan? Bisa mengamuk lagi pemuda ini nantinya.


"Terus lo mau ngapain?"


"Ikut lah, emang lo tau tempatnya? Atau lo mau bohongi gue? Lo mau ngelakuin sesuatu hm?" tanya Zeo menyelidik, ia mendekati Adhira dengan tatapan tajamnya. Sejak awal instingnya sudah mengatakan hal buruk. Lagian bagaimana mungkin Adhira si perempuan yang tadi pagi mengibarkan bendera kebencian pada calon anak mereka itu tiba-tiba berbaik hati untuk menuruti ngidam anaknya. Itu terlalu aneh untuk dicerna secara nalar.


Adhira berdehem, "Gue uda gak mood makan kalau sama lo, Awas!" dorong Adhira melangkah pergi.


Adhira meliriknya sekilas, "Suka-suka gue lah."


"Adhira!" bentak Zeo yang diabaikan total oleh perempuan itu.


***


Mengacak rambutnya sebentar, Zeo kembali melirik pintu kamar Adhira, Ia jadi kepikiran tentang ucapan Adhira tadi, apa benar Adhira ngidam?


Apa Zeo yang terlalu overthinking pada perempuan itu?


Jika benar-benar ngidam? Kasihan sekali Adhira dan anaknya, apalagi Adhira sedang mogok makan sejak pagi karena masih dalam suasana pertengkaran mereka masalah susu.


Zeo mengerang frustasi, ah, bagaimana cara menanyakan kebenaran tanpa harus terlihat benar-benar peduli.


"Moshi-moshi(Halo) Ze"


"Ah- ya, "Zeo agak tersentak kaget dengan suara dari layar laptopnya itu.


"Oh, Moshi-moshi, mama" Panggil Zeo kaku. Oh, ayolah, ia jarang sekali berbicara nonformal pada orang tuanya sendiri, mereka bahkan tak pernah berkomunikasi secara gamblang sejak dulu. Dan sekarang, Karena kebingungannya. Zeo bahkan nekat menelpon mamanya hanya untuk menanyakan apa yang harus ia lakukan pada Adhira.

__ADS_1


"Kenapa Ze?" Tanya mama Zeo sambil tersenyum canggung, tampaknya mama Zeo merasakan apa yang juga Zeo rasakan.


"Papa uda tidur?" Tanya Zeo menghela nafas.


Sang mama mengangguk, perempuan indo- Jepang itu lalu mengarahkan kameranya kearah papa Zeo.


"Udah, papa mu tidur habis meeting sama kamu tadi, katanya capek. Oya, kalian uda pulang? Katanya Adhira ngidam," Kata mama Zeo itu tersenyum.


Zeo mengangguk kan kepala lalu menggeleng dengan canggung, "Nggak, ah, iya, sebenarnya Adhira marah tadi, jadi kami nggak pergi" Kata Zeo menundukkan kepalanya.


"Marah? Kenapa?"


Zeo melirik kearah pintu kamar Adhira, Ia tak mungkin mengatakan yang sejujurnya kan."Zeo bilang Zeo sibuk tadi, Terus Adhira marah. Jadi, menurut mama Zeo harus apa?"


Lama keheningan menyapa, Zeo bahkan berpikir ia telah mematikan suara sambungan vidio call itu, namun tiba-tiba mamanya bersuara. "Zeo minta maaf lah, terus turuti ngidamnya. Ah, memang Adhira ngidam apa tadi?"


"Bakso"


"Ei, Jam 2 gini apa ada yang masih jualan Bakso ya?"Tanya Mama Zeo itu juga bingung.


"Zeo gak tau, mungkin ada atau mungkin gak ada, Zeo gak begitu sering makan itu soalnya" Kata Zeo menerawang, Ia memang tak pernah memakan bakso karena selain ia tak begitu menyukai makanan bulat itu, selera makanannya dengan makanan Indonesia juga memang kurang.


Yah, walaupun mamanya masih ada sedikit darah indonesia, tapi sejak kecil baik mamanya maupun semua keluarganya tumbuh besar dan tinggal di Jepang, jadi, rasanya makanan-makanan khas negara neneknya itu masih terasa asing dilidah mereka. Tak peduli walaupun Zeo menetap di indonesia hampir 3 tahun belakangan ini.


"Yaudah, kalau gitu besok aja, ini juga Adhiranya uda tidur kan"


Zeo diam, ia tak tau harus menjawab apa, Kekamar Adhira saja ia hanya sekedar berganti baju dan mengambil serta memulangkan bantal. Lalu bagaimana caranya Zeo tau.


"Ya"


"Ze"


"Hm"


"Mama sama papa boleh dateng keapartemen kamu kapan-kapan"


"Ya"


"Ze"


"Hm"


"Maafin mama ya?"

__ADS_1


Zeo tak menjawab, ia melambaikan tangan sebelum mematikan sambungan mereka. Mengabaikan permintaan maaf mamanya.


__ADS_2