
Zeo terkekeh, ia lalu menciumi kedua anaknya ketika anak-anaknya itu memang sedang menatapinya.
"Papa sayang kalian," bisik laki-laki itu disela kesedihannya.
******
Adhira duduk melamun menatap obat-obatan anti depresi dihadapannya. perempuan itu baru saja meminumnya. Pikirannya yang awalnya kacau mulai sedikit tenang begitu pil-pil itu berhasil dicerna tubuhnya. Adhira mulai bisa bernafas lega.
"M-mam"
"Mamama"
Adhira menoleh begitu ia mendengar ocehan disebelahnya. Kedua bayi yang dulu sangat ia benci itu kini sudah beranjak tumbuh. Usia nya sudah menginjak 14 bulan. Tapi belum pandai berjalan atau merangkak seperti pada anak seumurannya. Bahkan duduk saja keduanya masih dibantu oleh nannynya. Kata dokter, perkembangan kedua bayi nya terbilang lambat karena efek dari kelahiran prematur dan lain sebagainya.
Jujur saja, Adhira mengakui ia bukan lah ibu yang baik, mana ada seorang ibu yang bahkan enggan menyentuh anak-anaknya. Tapi setelah menjalani banyak terapi dan dibantu obat-obatan dari psikiaternya, sekarang setidaknya Adhira sudah tak separah dulu ketika berhubungan dengan kedua anaknya. Perempun itu sudah mulai berani mencium ataupun menyapa walaupun sesekali. Walaupun secara diam-diam, karena sungguh, sejak kejadian setahun lebih yang lalu, dimana ia bertengkar dengan Zeo.
Zeo benar-benar memonopoli bayi-bayi mereka, bahkan Zeo sanggup melarang semua orang untuk mendekatkan anak-anaknya pada Adhira karena takut Adhira berbuat nekat. Padahal, Adhira sudah tak separah dulu. Ia mana mungkin membanting atau menyakiti bayi-bayi berpipi gembil itu.
Tidak mungkin,
"Ma-mama"
"Papapa"
"Oh, nampak mama ya sayang ya" celetuk Tari, nanny anaknya yang melihat kedua bayi itu mengangkat-angkat tangannya berusaha menggapai Adhira yang duduk dikursi.
Ah, Sekarang Adhira berada didapur, dan sepertinya kedua anaknya itu baru saja akan makan karena mereka didudukkan di kursi makannya yang beroda.
"M-mama"
Adhira tersenyum kecil, berusaha menahan tangis. "Hai, sini sama mama." kata Adhira melambaikan tangannya. Namun walaupun begitu, Perempuan itu tak berniat turun dari kursinya untuk mengangkat kedua anaknya. Jujur saja Adhira takut untuk menyentuh anak-anaknya.
Adhira pernah nekat memgunjungi kamar si kembar saat tengah malam, padahal saat itu ia hanya melihat si kembar yang katanya sedang terkena flu. Demi Tuhan, saat itu Adhira hanya mencium pipi anaknya.
Tapi saat itu Zeo langsung datang dan menampar pipinya, Laki-laki itu mendekap dua anaknya ketakutan seolah-olah Adhira adalah monster. Adhira tak bisa mengatakan apapun saat itu, psikisnya memang terganggu, tapi sungguh hati keibuannya mulai muncul.
Terkadang jika Adhira ada keinginan untuk berinteraksi yang kebetulan tak ada Zeo dirumah, Kedua mertuanya yang sangat sayang padanya saja sanggup langsung menjauhkannya. Hal itu terus berlanjut sampai sekarang, jadi wajar saja jika Adhira tak begitu akrab dengan kedua anaknya. Walaupun ia ingin.
"Zela mau sama mama ?" tawar Tari pada bayi perempuan yang tampak sangat mirip dengan adik kembar Zeo. Zee dan Zea.
"Atau Ken dulu yang mau gendong sama mama." kata Tari lagi pada bayi laki-laki yang tampak lebih besar dan sangat mirip dengan Zeo, mulai dari rambutnya, matanya bahkan makanan kesukaannya.
Adhira tersenyum pada kedua bayi itu, mendengar nama Zela dan Ken yang merupakan nama kedua anaknya itu. Mengingatkan Adhira pada kejadian setahun lebih yang lalu saat setelah mereka keluar dari rumah sakit. Zeo langsung mengadakan pesta sederhana yang dihadiri oleh kerabat dan keluarga Zeo serta teman dan kedua orang tua Adhira untuk memberi nama kedua anaknya itu.
Saat itu Adhira yang kondisinya belum membaik hanya bisa duduk didalam kamar dan mencatat baik-baik nama kedua anaknya dalam benaknya.
Ai Zela Takahashi dan Alzelo Ken Takahashi.
Adhira benar-benar tak tau menahu tentang nama itu, ia bahkan tak menegerti makna dari nama kedua anaknya. Yang pasti yang Adhira tau Ai itu berarti cinta sedangkan Ken berararti kuat. Hanya itu yang Adhira tau sisanya ia tak tau apa-apa.
"Buk, coba gendong Zela kasian dari tadi rentangin tangan ke ibuk terus." kata Tari mengangkat Zela lalu memberikan bayi perempuan itu pada nya.
Adhira menggeleng kuat, "J-jangan nanti papanya marah." kata Adhira merunjuk pada Zeo.
__ADS_1
Tari yang mengerti kondisi kesehatan majikannya itu tersenyum, sebagai seorang perawat yang tinggal selama setahun bersama majikannya tentu saja Tari mengerti apa dampak jika ia menyerahkan Zela dan Ken pada mamanya.
Tapi, Tari juga sudah tau. Adhira sudah tak semengerikan dulu. Terkadang Tari memergoki Adhira yang menatap Zela dan Ken saat tidur. Sejak saat itu Tari tau kalau sebenarnya masih ada hati keibuan dari seorang Adhira.
"Nggak papa buk, bapak belum pulang. Nyonya sama tuan lagi berkebun dibawah mereka gak bakal tau. Coba ibu turun dulu." kata Tari meminta Adhira turun yang langsung dituruti Adhira dengan ragu.
"Nah sama mama ya sayang ya. Ken juga sini sama mama" kata Tari menyerahkan Zela dan Ken yang langsung merangkul leher Adhira begitu tangan-tangan kecil itu bisa meraihnya.
Adhira menatap tari dengan mata berkaca-kaca, ia terisak begitu merasakan pelukan dari kedua anaknya. Untuk pertama kalinya setelah satu tahun lebih ia menjadi ibu, Adhira bisa merasakan apa namanya jatuh cinta pada kedua anaknya tanpa alasan.
"Beneran boleh?"
Tari mengangguk.
"Mamamamama"
"Aku beneran boleh pelul hiks?"
"Boleh dong buk, ibuk mamanya."
"Hiks, boleh, hiks, "
Tari yang melihat itu menghapus air matanya, ia senang karenanya. Selama ini Zela dan Ken sering merengek ketika melihat Adhira tak sengaja lewat. Namun Zeo dan kedua orang tuanya melarang Tari mendekatkan ibu dan anak itu karena takut Adhira lepas kendali.
"Mamama"
"Mamam-a"
"Iya sayang iya, ini mama." kata Adhira mencium kedua anaknya.
Adhira menghilangkan senyumnya perlahan, ia berpikir. " Apa boleh?" tanya Adhira yang langsung diangguki Tari dengan kuat.
"Tapi aku gak tau caranya" Kata Adhira terdrngar menyesal.
"Saya yang ajari buk, ibuk tenang aja, oke"
Dan hari itu juga hari pertama Adhira belajar merawat kedua anaknya layaknya seorang ibu.
*******
"Papa pulang," kata Zeo sambil berlari kecil untuk menggendong anaknya yang sudah menunggu kepulanggannya diteras rumah bersama nanny nya.
"Wah Zela uda wangi nih, Ken juga" kata Zeo mencium keduanya bergantian.
Kedua bayi berusia satu tahun itu tergelak ketika Zeo memainkan jarinya diperut mereka.
"Ze, cuci tangan dulu jangan kebiasaan kayak gitu. Gak baik buat anak-anak." tegur Mama Zeo dari dapur.
Zeo mengangguk, ia memberikan putri kecilnya itu pada perawatnya. "Sama nanny dulu ya sayang, papa mandi dulu" kata Zeo tersenyum.
Laki-laki yang baru pulang dari kantor itu menghampiri mamanya didapur. Ia mengambil air dingin dari dalam kulkas.
"Adhira gimana ma?" tanya Zeo seperti biasanya. Sekarang setelah satu tahun berlalu tentu saja Zeo sudah terbiasa dengan sikap dan sifat istrinya itu. Ia akan menanyakan Adhira setiap hari agar tau perkembangan nya.
__ADS_1
"Nah, ini nih, mama ada kabar baik buat kamu sini deh." kata mamanya semangat.
Zeo mengerutkan keningnya, "Nande?" bingung Zeo.
"Sini, cepetan ini tentang istri kamu."
"Adhira?"
"Ck, ya emang istri kamu kalau bukan Adhira siapa lagi?" kesal mamanya.
Zeo terkekeh, laki-laki itu menggaruk kepalanya tak enak hati.
"Atau kamu masih berhungan sama Alina yah, ngaku."
"Ya ampun mama ini kok jadi bahas yang aneh-aneh sih, Ze sama Alina loh uda pu-tus. Zeo uda jadi bapak-bapak kalau mama lupa. Dan yang pasti Zeo bukan papa." kata Zeo membuat mama Zeo menatap Zeo lama.
"Hm, kamu bukan papa."
"Terus ada berita apa."
"Nah, ini nih, coba liat ini pasti kamu gak bakal percaya Ze, mama dikirimin sama Tari barusan." kata Mama Zeo mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan nya pada Zeo.
Zeo merasa Aliran darahnya terhenti untuk sepersekian detik begitu melihat vidio berdurasi 10 detik yang ditunjukkan mamanya.
Adhira.
Adhira Alindra, istrinya yang selama ini mengibarkan bendera permusuhan dengan Zela dan Ken akhirnya mau memandikan kedua bayi itu?
"Kaget kan? Mama aja-
Zeo menatap mamanya yang berbicara tapi telinganya terasa berdengung, Zeo langsung berlari menuju kamarnya yang berada dilantai dua dengan tergesa-gesa ia bahkan tak memperdulikan teriakan mamanya atau bahkan kakinya yang beberapa kali tersandung.
Brak
Zeo langsung mendorong pintu kamarnya. Laki-laki itu menemukan Adhira yang tampak terkejut diranjangnya.
Zeo tersenyum, ia lalu menerjang Adhira diranjang.
"Kamu-
Zeo langsung mencium bibir Adhira dalam, "Makasih dhir, makasih." kata Zeo lalu kembali mencium bibir Adhira sambil menangis. Ia sangat bahagia.
-
Note :
Nanny \= sebenernya artinya perawat balita umur 2-5 tahun. (Tapi aku tetep bilang nanny karena lebih gampang walaupun Zela dan Ken belum ada 2 tahun)
Nande \= apa? Kenapa?
Kalian jangan kaget ya, waktunya emang lompat-lompat, Dan artinya juga cepet tamat. wkwkwk.
Kalau di cerita aslinya di ******* dulu, cerita mereka uda tamat di bab 45. Pendek singkat, dan jelas.
__ADS_1
Ini uda kelebihan banyak. Hayooo.
Tapi mungkin, Di Noveltoon, karena sebisa mungkin kurevisi dan kutambabahi bab, kayaknya cerita ini bakal berakhir di bab 60 an lebih deh. lagi-lagi gak sampek seratus bab🤐