
"Diem sebentar aja." bisik laki-laki itu meletakkan dagunya diceruk leher Adhira. Adhira menelan ludah nya gugup ketika merasakan tetes demi tetes sisa air keramas dari rambut Zeo mengenai pipinya.
Adhira menggenggam kuat pagar balkonnya. Tapi kali ini ia tak menolak pelukan Zeo itu dengan pemberontakan. Mereka sama-sama menenangkan diri mereka dengan cara masing-masing.
********
Lama mereka ada diposisi seperti itu. Namun tak ada seorang pun diantara mereka yang ingin memulai pembicaraan.
Zeo makin merapatkan pelukan mereka sedangkan Adhira hanya diam tak merespon. Posisi Adhira yang membelakangi Zeo membuatnya tak tau bagaimana ekspresi Zeo saat ini.
"Aku tau Panji gak mungkin rebut kamu dari aku dan anak-anakku. Karena aku tau dia nggak serendah itu, aku tau seberandalannya dia, dia tau posisinya yang hanya sekedar masa lalumu" kata Zeo serak. Mungkin efek terlalu banyak diam. Tapi suara itu terkesan sangat tersakiti, apa pembicaraan laki-laki itu dengan Panji tadi sangat berat sampai Zeo yang biasanya tenang ini tampak begitu rapuh?
"Tapi kenapa aku bisa setakut dan semarah ini cuma karena liat kalian pelukan Dhir."
Adhira merasakan aliran darahnya berhenti ketika Zeo mengungkapkan keresahan nya.
"Kamu tau, aku nggak tau kenapa aku masih mau bertahan sampai sekarang. Aku bingung Dhir, aku bingung sama perasaanku sendiri. Aku capek tersakiti sendiri, aku capek berjuang sendiri, aku capek dapat tekanan sendiri. Tapi ntah kenapa aku masih mau dan masih berharap suatu saat kamu pulang ke aku, balas pelukanku, balas ciuman ku, Aku gak tau Dhira, aku gak tau kenapa aku bodoh dan setolol ini, tapi satu hal yang aku tau. Kamu itu punyaku dan anak-anakku. Bahkan sampai matipun bakal tetep kayak gitu."
"Ze-"
"Stt, kali ini biarin aku yang ngomong Dhir, kali ini biarin aku yang berkeluh kesah. Biarin aku yang mengurangi beban pikiranku. Dan kamu cuma perlu mendengarkan. Aku capek Dhira, beneran capek. Rasanya aku mau nyerah disetiap detiknya." Bisik Zeo kian serak. Ntah kenapa, mendengar keluh kesah Zeo, Adhira merasakan hatinya berdenyut. Seperti ada yang menyubitnya.
"Z-zeo" gugup Adhira ketika Zeo membalikkan tubuh Adhira. Sekarang posisi mereka saling berhadapan dengan kening yang saling bertemu.
"Aku gak tau apa alasan yang buat kamu ngebenci aku sedalam itu Dhir. Aku akui aku yang salah dari awal, aku yang buat kamu ada diposisi ini sekarang. Aku yang ngehancurin impianmu, hidupmu bahkan psikismu. Tapi setelah banyak hal yang terjadi diantara kita di dua tahun terakhir ini. Apa gak ada landasanmu untuk berusaha menerimaku Dhir? Nerima anak-anak ku?"
Zeo memejamkan matanya ketika matanya terasa perih. "Aku tau kamu sayang mereka. Aku tau kamu mulai nerima anak-anakku. Tapi kenapa harus sembunyi-sembunyi? Kenapa kalau dihadapanku seolah-olah kamu ngebenci mereka sampai nadimu? Kenapa hm? Kalau kamu berpikir aku bakal ninggali kamu dan kembali ke Alina yang kayak kamu pikirkan selama ini. Boleh aku kasih tau kamu Dhir, hubunganku sama Alina bahkan uda berakhir disaat itu juga waktu kamu angkat telponnya dulu."
Adhira menatap Zeo tak percaya, jadi selama ini ia salah sangka? Ia pikir Zeo masih sering menemui kekasihnya itu. Adhira pikir, Zeo benar-benar melakukan ancamannya untuk membawa anak-anaknya untuk Alina. Adhira pikir, Zeo sejahat itu.
__ADS_1
"Apa kamu liat itu Dhir? Pemandangan itu adalah pemandangan terlangka yang pernah aku temui" kata Zeo kembali membalikkan tubuh Adhira agar perempuan itu bisa melihat apa yang ia tunjuk dihalaman rumahnya. Yaitu keharmonisan keluarga Zeo. Ada orang tua, kedua adiknya dan kedua anaknya yang sedang bersantai dihalaman rumah yang luas itu. Menikmati suasana sore yang hangat.
"Keharmonisan kayak gitu yang aku dan adik-adikku harapkan dari dulu, " bisik Zeo yang membuat Adhira mengerutkan keningnya tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Zeo. Adhira tau hubungan Zeo dengan orang tuanya memang buruk tapi apa separah itu?
"Selama hampir 21 tahun hidupku, aku gak pernah ngerasain yang namanya keharmonisan keluarga."
"Tapi-"
"Aku bukan anak mama atau papa" bisik Zeo lebih pelan, ada nada tersakiti disuaranya.
Adhira membulatkan matanya terkejut, perempuan itu kembali menghadap Zeo dengan keterkejutan dikedua bola matanya. Adhira bahkan tak menyadari ketika tangannya sudah memegang kaos depan Zeo erat. "A-apa?"
"Setidaknya itu yang dulu papa dan mama bilang ke aku waktu aku minta mereka buat bawa aku sama mereka ke Kanada " kata Zeo tersenyum kecil.
"Aku anak diluar nikah. Aku hasil pergaulan bebas mereka waktu kuliah di Kanada. Kamu tau Dhir, mama sama papa dulu sama aja. Sama-sama bejatnya karena buang aku kepanti asuhan dan gak mau ngakui aku sebagai anak mereka, terutama papa. Mungkin aku gak bakal tau mereka kalau aja dulu waktu aku umur setahun Obaachan sama Ojiichan gak ambil hak asuh ku" kata Zeo gamang, seolah-olah cerita yang ia ceritakan telah menyakitinya begitu dalam.
"Ze-"
Adhira terdiam, perempuan itu menatap Zeo dengan pandangan sulit diartikan.
"Kamu tau betapa sulitnya jadi aku? Aku selalu bertanya-tanya kenapa aku gak pernah dijenguk mama sama papa? Kenapa aku harus belajar bisnis dari kecil, kenapa Obachan selalu ngatur aku dengan alasan balas budi, kenapa aku selalu merasa jadi boneka dikeluarga Takahashi-" Zeo menarik nafasnya ketika setetes air matanya jatuh.
"Mama papa selalu nyalahin aku atas semua kehancuran yang mereka dapat. Aku pikir dulu dengan adanya Zea sama Zee mama papa bakal berubah setidaknya untuk adikku. Tapi bisa kamu lihat jadinya? Mama kasih adikku ke Obaachan. Mereka bertengkar didepan ku, mereka maki-maki aku didepan ku, Demi Tuhan Dhira, aku masih bocah tujuh tahun waktu itu. aku gak tau kenapa mereka benci aku, aku gak tau kenapa papa selalu marah waktu aku memperkenalkan diri pakai marga Takahashi dibelakang namaku. Aku gak tau Dhira, gak tau, yang aku tau, mereka gak suka aku. mereka gak akui aku."
Adhira tak tau kenapa, tapi air matanya sudah jatuh. Ia memegang dada Zeo dengan gemetar. Seolah ikut merasakan apa yang Zeo kecil rasakan dulu, di buang, dicampakkan, dan diacuhkan.
"Kamu tau Dhira, Hidupku berantakan , semua masalah yang aku hadapi seolah-olah ngasih landasan kuat kenapa alkohol jadi teman terbaik untukku. Aku habisin waktu ku di klub, bar, diskotik, ngalihkan rasa sakit hatiku ke rokok, aku- aku tenggelam dilubang kegelapan karena sakit hatiku Dhir "
"Lalu Apa menurutmu aku bakal biarin anak-anakku ngalamin hal yang sama?"
__ADS_1
Adhira menggeleng dengan isakan.
"Apa aku harus biarin mereka kehilangan sosok orang tuanya? Apa mereka juga bakal ngerasain tekanan yang juga aku dapat? Apa mereka bakal hancur kayak aku juga Dhir? Apa mereka juga bakal nangis waktu ditanya kemana mama dan papanya pergi-
"Nggak Dhira, Aku nggak akan sudi, Aku gak mau ngulangi cerita yang sama kayak orang tua ku Dhir, Itu sebabnya kenapa aku bisa semarah itu waktu kamu mau gugurin mereka. Aku bukan mereka yang lepas tanggup jawab, aku bukan mereka Dhir, Aku bukan mereka. Aku bukan papa pengecut Dhira, Aku bukan mereka" bisik Zeo meyayat hati.
"Dulu waktu kamu bilang kalau kamu bakal ngehukum aku dengan ngasih penderitaan keanak-anakku. Apa hukuman itu masih lama Dhir? "
"- Apa kamu masih mau hukum aku Dhir? Kasian Zela sama Ken. Mereka bahkan belum bisa apa-apa diusia sekarang. Mereka butuh kamu disisi mereka buat ngehadapi kekurangan mereka Dhir." bisik Zeo terisak dipundak Adhira.
"Mereka butuh sosok mamanya. Mereka butuh kamu." Saat Zeo kian terisak dipundaknya. Adhirapun ikut menangis dalam diam. Ia merasakan sakit seperti yang dirasakan Zeo saat ini. Mau bagaimana pun mereka adalah orang tua yang memiliki kekhawatiran yang lebih akan tumbuh kembang anak-anaknya.
"Dhira, bisa aku mohon ke kamu buat jadi mama yang baik buat anak-anakku, bisa kamu berikan kasih sayang mu dan ngurangi egomu buat mereka? Bisa kan Dhir? Bahkan walau aku harus memohon dikakimu seumur hidupku itu bukan masalah untukku asal kamu mau jadi sosok mama buat anak-anak ku."
"aku gak tau apa yang harus aku lakuin buat ngeruntuhin ego mu."
"Tapi Adhira Alindra Takahashi, kamu mau kan hidup layaknya keluarga bareng aku dan anak-anak ku? Kamu mau kan ngasih keluarga yang harmonis buat Zela dan Ken? Kamu mau kan mulai semuanya dari awal bareng aku?" Tanya Zeo menatap Adhira yang kini mulai menangis. Hatinya tersayat ketika Zeo terus memohon padanya.
"Mau kan Dhir?" kata Zeo mengguncang bahu Adhira. "Aku mohon"
Melihat Adhira yang diam saja, Zeo tersenyum kecil, ada sedikit harapan yang ia dapat. Laki-laki itu menundukkan kepalanya, ia meraih bibir Adhira dengan bibirnya dengan kelembutan yang menjelaskan keseriusannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah pernikahan mereka. Adhira Alindra membalas ciuman Zeo dengan sama lembutnya.
**********
Fyiuhhhh,,,,,
Huh, Gimana sama bab ini?
__ADS_1
Deep banget huhuhuhu, Zeoooo...