
Zeo tau Adhira sudah membalas cintanya, tapi rasanya Zeo masih belum terbiasa akan hal itu. Em, rasanya sedikit aneh saat biasa menghadapi Adhira yang emosi dan egonya menggebu-gebu tiba-tiba menjadi manja dan sangat jinak ini.
"Dhir"
"Hm"
"Ini beneran gak boleh kerja?" Tanya Zeo agak meringis. Merasa aneh dan tak enak hati dalam sekali waktu.
"Gak" Adhira melepas pelukannya, perempuan itu menatap Zeo dengan mata memicing. "Kamu kenapa sih sibuk mau kerja mulu, seminggu kamu di Jepang main-main sama geng mu itu kamu mau. Giliran libur sehari buat anak sama iatrinya pikir-pikir"
Zeo berdehem, "Bukan gitu-
"Udah ah, males aku sama mu, uda sana kerja. Baru nyampek Jakarta juga. Makan tuh kerjaanmu" Sinis Adhira beranjak dari tempat tidur. Dan Zeo hanya meringis saat debamam pintu terdengar diseluruh penjuru kamar.
Zeo menghela nafasnya bingung. Mereka memang baru pulang dari Bandung pagi tadi, dan maksud Zeo, ia akan langsung ke kantor siang ini untuk memimpin proyek lemparan dari kantor pusat. Tapi, Adhira yang masih menggebu-gebu akan cinta nya itu tak mau melepas pelukannya. Terus menempel kemana pun. Bahkan, saat si kembar tidur siang tadi, Adhira sempat-sempatnya merajuk dan minta ditemani tidur.
Mengusap wajahnya geli, Zeo menelpon asistennya, meminta untuk mewakilinya menangani rapat proyek ini. Sementara dirinya akan kembali membujuk si singa betina yang lagi senang-senangnya merajuk itu.
"Papa?"
Zeo yang masih mendengarkan pembicaraan asistennya tentang masalah pandangan proyek itu agak terkejut saat Zela memanggilnya. Gadis kecil Zeo itu mengusap mata mungilnya dengan punggung tangan. Masih mengantuk.
"Ya Ai" Sahut Zeo mengusap rambut Zela sayang. "Kok uda bangun hm?"
"Mama itu- apa mama, " Zela tampak berfikir, berusaha mengingat kosa kata yang cocok untuk laporan pada papanya "Mama bangunin Zela, habis itu, mama suluh Zela ke papa. Bilang mama mau jalan-jalan gitu"
Zeo hampir saja menyemburkan tawanya saat ia berhasil menyerna ucapan anaknya. Adhira Alindra, meminta anaknya untuk mengajaknya jalan-jalan, Istrinya itu kenapa bisa jadi semenggemas kan ini sih. Dan tampaknya itu juga yang difikirkan asisten Zeo. Orang di seberang telpon itu beberapa kali berdehem untuk menutupi tawanya sebelum pamit menutup telpon dan menyuruh Zeo untuk fokus ke keluarga lebih dahulu.
"Papa-"
"Iya sayang"
"Jangan Ketawa"
Zeo tersenyum,
"Mama bilang gitu, nanti mama melajuk tau"
Kali ini Zeo tak lagi dapat menahan tawa gelinya, ayah dua anak itu terkekeh pelan sambil menyiumi wajah Zela gemas.
__ADS_1
"Iya sayang, bilang sama mama nanti sore kita jalan-jalan ya. Sekarang papa mau bahas kerjaan dulu sama Om Bobi Oke. "
Zela diam sebentar sebelum menyahut dengan lucu. "Oke papa" Katanya terkikik geli saat Zeo mengunyel-unyel pipinya.
*****
"Ze"
Zeo langsung menoleh saat Adhira menepuk pundaknya.
"Hm"
"Kata Zela kita Beneran mau jalan-jalan? Beneran jadi kan?" Tanya Adhira dengan mata berbinar.
Zeo menahan senyum gelinya, "Iya Jadi, tapi aku bantu Bobi nangani Proyek dulu ya, 15 menit lagi."
"Yaudah. Tapi kita mau Kemana?" Tanya Adhira memeluk pundak Zeo.
Zeo berdehem, "Zela pingin kekebun binatang, tapi nanti kalau kamu mau ketempat lain dari itu, aku oke aja"
"Beneran"
"Hm"
Dulu, ia hanya sekedar mengikuti ego untuk memberi Adhira pelajaran.
Dan keesokan harinya Zeo tak mengetahui kehidupan nya berubah total dalam sekejab mata. Ia menikah dengan perempuan yang paling ia benci selama ini. Akan menjadi ayah diusia muda, dimusuhi mertua dan iparnya, ditinggal pergi kuliah teman-temannya dan yang pasti mendapat tekanan pekerjaan diluar kemampuannya.
Zeo tak tau, kehidupan kelam itu terus belanjut untuk tahun-tahun berikutnya.
Namun sekarang, setelah semua banyak pengorbanan dan luka yang ia perjuangkan sendiri. Rasanya setimpal dengan wajah ceria kedua anaknya dan juga wajah cemberut istrinya yang menunggu disamping mobil.
Sekarang sudah sore, Lima belas menit yang dijanjikan Zeo, ternyata berjalan tiga jam yang mana membuat Adhira dan kedua anaknya uring-uringan.
"Papa lambat banget, kayak katatsumuri . Kata mama," Kata Ken begitu Zeo masuk kedalam mobil.
"Iya, lama -lama mama bilang kita suruh panggil papa, papa katatsumuri bukan papa Zeo lagi." kata Zela menimpali, "Ya kan ma?"
"ehhhh, apa iya ai." kata Zeo kepada Adhira yang sekarang menatap keluar kaca. Perempuan itu merajuk. Walaupun sekarang rasa Gengsi Adhira sedikit berkurang. Namun sifat kaku dan galaknya belum juga berubah. Hal-hal sepele saja bisa merubah moodnya dengan cepat. Seperti saat ini contohnya.
__ADS_1
Tapi anehnya, baik Zeo dan kedua anaknya justru senang karenanya.
Kegalakan Adhira seolah-olah sudah menjadi makanan sehari-hari Zeo dan sikembar yang hampir tiap saat mendapat kecerewatannya.
"Ai-" rayu Zeo.
"Apa!" kesal Adhira
"Senyum nya mana, senyum dulu dong. Satu-Dua
"Ti-tigaa..
"Uluh-uluh, mau senyum itu, hayoo, mau senyum itu"
Adhira menahan senyumnya ketika suami dan anaknya terus menggodanya. Hal itu membuat Zeo dan Zela juga Ken terbahak melihatnya.
"Ih, jangan ketawa Ze." kesal Adhira memukul lengan Zeo yang menyetir.
Zela dan Ken semakin kuat tertawa. Ketika melihat papanya dipukuli mamanya.
"Stt, kalian jangan ketawa, ngetawai orang tua berdosa tau." kata Adhira pada kedua anaknya.
"Mama kalian malu tuh Zel, Ken."
"Zeo!" kesal Adhira merengek yang justru membuat perjalanan mereka menjadi menyenngkan.
Yah, Zeo pikir akhir perjuangannya untuk mendapat maaf Adhira berakhir indah. Ia tak tau kehidupan kedepannya seperti apa.
Tapi Zeo berharap. Keluarga kecilnya akan tetap selalu bahagia.
-
Note :
Katatsumuri : siput.
-
Maaf Guys, kalau feel nya gak dapet huhuhu, kalimatnya banyak yang gak harmonis.
__ADS_1
Akhir-akhir ini aku lembur terus, Jadi gitu deh, Sorry yaaa