
Sorry for typo
****
"Dhir"
Adhira tersentak pelan, perempuan itu langsung mengambil air dalam gelas yang sudah ia siapkan untuk membantunya menelan sesuatu dengan cepat sedangkan tangan lainnya masukkan botolan pil kecil itu kedalam saku celemeknya.
"Dhir,"
"Hm"
"Dhir, kenapa? Kesedak?" Tanya Zeo khawatir.
"Nggak, aku haus aja tadi, kenapa kamu manggil?" Tanya Adhira mengalihkan pertanyaan.
"Oh, Bulan ini, kamu uda dapet?"
Adhira langsung menghentikan gerakan tangannya yang akan mencuci piring guna melihat wajah suaminya itu.
"Kenapa!?" Jutek Adhira, agak kesal sebenarnya, Semenjak hubungan mereka membaik, si papa Zela Ken ini senang kali mengabsen jadwal bulanannya. Terkadang jika telat satu atau dua hari saja si papa muda itu akan melesat secepat kilat untuk membeli testpack, harus dideteksi sejak dini katanya. Agar nanti mudah berjaga-jaga agar kejadian si kembar dulu tak terulang lagi.
Adhira bukannya tak tau. Zeo sedang mengharapkan kehadiran anak lagi darinya. Walaupun laki-laki itu tak mrmbicarakannya secara gamlang. Tapi dari semua tingkah dan prilakunya, Adhira sudah paham keinginan tersirat itu.
Walaupun jika ditanya langsung, Zeo pasti akan menjawab dengan santai, " Apa sih? Anak kan rejeki dari Tuhan, dikasih yah syukur, gak dikasih ya nggak papa, kan uda ada Zela sama Ken"
Tapi, Setiap melihat hasil testpack negatif atau saat Adhira menyuruhnya membeli pembalut, wajah masam si laki-laki Jepang itu tak dapat ditutup-tutupi.
"Kok senyum-senyum, ditanya kenapa juga" Tambah Adhira lagi saat Zeo hanya cengengesan di depan kulkas. Ah, omong-omong ini hari minggu. Zeo tak bekerja dan kedua anaknya sedang main ditaman kompleks bersama tetangga depan mereka.
"Aku ke apotek ya"
"Heh, ngapain?"
"Beli tetspack ya"
"Ya Sallam, Zeo, ih, "
"Kenapa? Kan mana tau usaha kita gak sia-sia selama ini"
Adhira melirik Zeo penuh permusuhan, "Usaha apa maksud mu hah"
"Ck, Ayolah Dhir, aku tau kamu baru masuk umur kepala dua, tapi gitu aja gak paham, atau mau usahanya kita perbanyak lagi, oh atau sekarang aja gimana, mumpung anak-anak masih diluar-
Teng
Zeo menghela nafas saat Adhira menatapnya jengah sambil memegang sendok dan piring.
"Usaha apa tadi Papa"
"Ekhem, nggak kok, yaudah aku mau mandi dulu, dah mama"
Zeo langsung pergi menuju kamar, mungkin memang berniat mandi.
Adhira terus menatap Kepergian Zeo masih dengan mata elangnya. Namun, begitu pintu kamarnya tertutup, Adhira menurunkan piring dan sendoknya. Perempuam itu menghela nafas.
Matanya bergetar kala pandangannya jatuh kesaku celemeknya. Botol pil Pencegah kehamilan itu masih ada disana.
Seketika, Mata ibu dua anak itu memerah, merasa begitu sangat jahat, bagaimana bisa ia memberi harapan palsu untuk suami dan kedua anaknya akan kehadiran anggota baru ketika dirinya sendiri telah menolak kemungkinan itu.
Adhira memejamkan mata kala matanya kian panas, sebelum ia tergugu dipinggir wastafel, kenapa dunia seolah begitu jahat padanya.
Rasanya baru semalam ia merasakan nadinya teriris pisau, rasanya baru semalam ia merasakan tamparan ayahnya karena kehamilannya, rasanya baru semalam ia merasakan hubungan toxic yang menyakitkan bersama Zeo, rasanya baru semalam ia berjuang untuk mengembalikan kewarasannya setelah depresi beratnya. Dan rasanya baru semalam ia bisa menerima anak-anaknya setelah baby blues berat yang ia terima.
Dan sekarang-
Suami dan anak-anaknya mengharapkan anggota baru hadir diantara mereka.
Adhira tersengal disela isakannya, Ia tak ingin mengecewakan Zeo yang selama ini banyak berjuang dan berharap untuknya, ia juga tak ingin mengecewakan Ken yang hampir tiap saat meminta adik karena tak mau dijadikan adik oleh Zela. Ken ingin menjadi kakak, Ken ingin adik, Kata-kata lugu dan penuh harap itu mungkin hanya dianggap lelucon atau penyemangat untuk Zeo, Tapi-
tidak untuk Adhira.
Adhira justru merasa, kalimat-kalimat lugu seperti, "Ken mau adik mama", "Ken mau jadi Onisan mama" atau "Kapan Ken punya adik mama?"
Kalimat itu justru mampu membuatnya menangis tiap hari dikamar mandi sambil membekap mulutnya. Sungguh, ia pun ingin memiliki anak lagi, ia ingin rumah mereka ceria dan ramai walaupun si kembar mulai sekolah nantinya.
__ADS_1
Tapi-
Untuk mengulangi proses penuh kenangan dan kesakitan itu, Adhira belum sanggup, sangat-sangat tak sanggup.
"Mama" Panggilan dengan nada terkejut itu membuat Adhira tersentak, ibu muda itu menghapus kedua mata basahnya dengan cepat, namun terlambat karena kedua bocah Takahashi itu sudah menatapnya dengan mata yang juga merah. Ciri khas mereka sekali, tak bisa melihat mamanya menangis karena mereka akan ikut menangis.
"Mama- Nande Huks" Si Bungsu Takahashi yang muka nya masih kotor bekas kecap itu merentangkan tangannya, hatinya ikut sakit saat melihat mama cerewet super judesnya itu menangis tergugu dipinggi wastafel seperti.
"Mama napa? Jahat papa iya ma hiks"
Adhira yang awalnya menahan tangis justru kian tergugu saat Ken mengecup kedua matanya lalu mengusap rambutnya.
"Pukul ya, papanya ma" Si bungsu Takahashi yang masih kesulitan berbahasa indonesia itu tampaknya berusaha sekuat tenaga menenangkan ibunya walaupun terkadang kalimatnya masih kacau balau.
"Gak kok, mama gak papa"
"Papa mana ma?" Pertanyaan dengan nada judes itu dilontarkan oleh si sulung. Mata kecil si gadis Zeo itu mengkilap marah.
"Mama nangis pasti kalena papa kan, ih, papa nakalnya gak kapok-kapok" Si sulung mengepalkan tangannya tak terima.
Adhira terkekeh di sela-sela tangisannya. Ia lalu memeluk kedua anaknya dengan sayang. "Nggak kok, nggak papa. Mama tadi kena sabun matanya"
"Matanya"
"Iya matanya, ini mata itu ini" Jelas Adhira mencoba sabar.
"Oh" Kedua bocah itu mengangguk patuh, senang mendapat kosa kata baru dalam bahasa indonesia.
"Tapi mamanya jangan nangis lagi huhuhu" Ken yang hatinya lembut itu kembali menangis saat mengingat tangisan mamanya sebelumnya.
"Heh, cingeng'
"Huhuhu, mama,, Kakak hu"
"Cowok kok nangis"
"Huhuhu"
Adhira terkekeh akan tingkah keduanya, setidaknya sampai akhirnya Zeo keluar kamar dan mengernyit heran menatap anak dan istrinya yang seperti teletubis itu.
"Mama nangis papa huhuhu" Adu Ken nelangsa.
"Iya, mama nangis sambil cuci piling papa, Ken sama Kakak jadi sedih" kata Zela menjelaskan.
Zeo langsung menatap Adhira, sedangkan Adhira memalingkan wajahnya. Mata sembab, hidung merah dan bibir bergetar itu sudah menjadi bukti bagaimana tangisan Adhira sebelumnya.
"Zela sama Ken, boleh bantu papa siapin tempat tidur mama sama papa nggak, mama biar istirahat dulu, papa mau gendong mama" Kata Zeo lembut.
Kedua anak kembar itu saling memandang, seolah berdiskusi dari tatapan mata keduanya yang terhubung ke batin dan pikiran.
"Ha'i" Sahut keduanya setelah diam brberapa detik dan langsung berlari kekamar orang tuanya.
Zeo tersenyum kecil, ia lalu menghampiri Adhira. Walaupun Zeo penasaran luar biasa akan penyebab tangisan Adhira, karena sungguh, beberapa menit yang lalu istrinya itu masih menunjukkan kegalakan dengannya, tapi sebisa mungkin Zeo mendekat dan merangkul tanpa menghakimi.
Digendongnya Adhira dengan hati-hati, lalu dibawa ke sofa ruang keluarga, Adhira berada dipangkuan Zeo, posisi nyaman untuk bersandar didada Zeo sambil menangis. Dan itulah yang dilakukan Adhira selama beberapa menit.
Setelah Adhira mulai tenang, barulah Zeo bertanya.
"Kenapa hm"
"Kenapa mama galaknya Zela Ken ini nangis hm, ada yang jahat ya? papanya sampai mau diserang anak-anak nakal itu karena mama nangis tiba-tiba" Kata Zeo hampir seperti berbisik
Adhira mendongak, mata bulat yang selalu menjadi candu untuk Zeo dan Ken serta menjadi bahan irian untuk Zela karena mata mereka semua menyipit mengikuti Zeo itu tampak terluka.
"Maaf" Bisik Adhira.
"Maaf kenapa hm? Kamu gak salah apa-apa"
"Aku salah Ze, aku salah,"
"Nggak sayang, kamu gak salah"
"Aku jahat hiks, "
"Siapa yang bilang? Kamu baik, kamu yang terbaik"
__ADS_1
"Tapi aku salah, tapi aku jahat hiks, aku bohongi kamu, Ken, sama Zela hiks aku jahat banget hiks" Nafas Zela mulai tersengal dan Zeo berusaha menenangkannya dengan mengelus punggung perempuan itu.
"Mau minum?"
"Nggak hiks, kamu harus marahin aku habis ini ya Ze, kamu harus pukul aku habis ini ya Ze, aku salah, aku jahat, aku lemah"
"Sayang-
"Hiks, Zeo maafin aku, jangan tinggalin aku hiks"
"Sayang bilang dulu kenapa-
Adhira langsung mengambil botol kecil dikantung celemek depannya, meletakkannya di depan Zeo.
Zeo terkesiap, laki-laki itu menatap botol dengan pil-pil kecil itu dengan mata yang ntah bagaimana bisa mulai memanas. Zeo tak bodoh untuk mengetahui apa arti dan fungsi obat itu. Karena sungguh, tiga bulan setelah mereka berbaikan, Zeo sendiri yang meminta Adhira untuk menghentikan pengonsumsian obat itu karena ia ingin anggota baru dirumahnya.
Tapi-
Adhira masih mengonsumsinya, lalu gunanya harapan yang selalu ia lambungkan tinggi tiap harinya itu apa kalau Adhira bahkan enggan memulainya.
"Kenapa?" Bisik Zeo sambil memeluk tubuh bergetar Adhira.
Adhira membalas pelukan itu dengan sama kuatnya, "A-aku gak sanggup Zeo, aku takut aku kayak dulu, aku takut aku gagal kayak dulu hiks, aku gak mau, aku gak mau anak-anak aku luka lagi Ze hiks.. Maaf, maafin aku hiks, aku gak bisa"
Dibalik pelukan itu, Zeo meneteskan air matanya, sebelum ia menghapusnya sekilas dan berusaha tersenyum. Sungguh, bohong rasanya kalau ia tak sakit hati. Ia sakit hati sekali.
Sejak ia meminta Adhira menghentikan konsumsi obat pencegah kehamilannya, sejak saat itulah ia berharap akan ada anggota baru dikeluarganya. Agar rumah nya terasa ramai apalagi sebentar lagi si kembar akan mulai sekolah. Zeo ingin anak dari Adhira, lagi. Bukan merasa serah atau egois dengan tak memikirkan Adhira. Tapi Zeo hanya berfikir, mempunyai banyak anak pastinya akan mrnyenngkan nantinya. Apalagi di Jepang, memiliki anak lebih dari dua itu adalah suatu hal yang masih dipandang tak biasa. Jadi selama diindonesia, Zeo ingin memperbanyak anggota keluarganya.
Tapi terlepas dari itu semua, Hal itu tergantung pada Adhira.
Karena Adhiralah yang menjalaninya.
"Maaf Zeo hiks, aku takut"
"Maaf hiks"
Zeo tersenyum, "Sttt jangan nangis, gak papa sayang gak papa"
"Sttt, gak perlu minta maaf, seharusnya aku yang minta maaf karena uda egois maaf ya"
"Nggak, kamu nggak egois, aku yang- hmp
Zeo membukam bibir Adhira dengan ciumannya.
"Maaf ya, lain kali semua hal harus kita diskusikan bersama ya, hm"
Adhira tergugu, merasa tersanjung karena keputusan Zeo.
"Maaf Ze"
"Kamu gak salah sayang"
"Hiks, Ze, "
"Ya"
"I love you so much"
"Heh, tumben-tumbenan, harus direkam kayaknya nih, akhirnya ada yang ngaku cinta"
"Zeo ih"
Zeo terkekeh, "iya-iya, I love you too Honey"
*****
Hai-hai, siapa nih yang uda teror-teror aku wkwkwk.
Sorry banget ya aku lamaaaa banget gak up, sama yang kayak aku bilang dibab sebelumnya dikolom komentar. Kantorku lagi ngejar target bulan ini. Jadi kayak agak di press gitu otak dan waktunya,
Stress aku itu- hehehe.
Tapi aku seneng karena masih ada yang tungguin, kira-kira, mau bab selanjutnya atau sampai sini doang nih, hayooo...
See you ya
__ADS_1