Fake Couple

Fake Couple
Kamu hanya pelampiasan seperti wanita lain.


__ADS_3

Sedang asik-asiknya bercengkerama dengan Kinanti, bel pintu apartemen Daffin berbunyi.


"Siapa sih yang datang pagi-pagi gini, gangguin orang pacaran aja," gerutu Daffin sambil menyeret langkah malas dan mengecek siapa tamunya melalui kamera bel pintu.


Kinanti tersenyum geli setiap kali mendengar Daffin mengucap kata 'pacaran', seakan hubungan mereka betulan saja. Dan senyum Kinanti menyurut begitu melihat perubahan raut wajah Daffin yang tampak terkejut.


"Siapa, Daffin?" Kinanti jadi penasaran.


Daffin memutar bola mata. Kelihatan enggan menerima tamunya.


"Mantan ku," jawabnya sebelum membuka pintu.


Kinanti mengerutkan kening.


'Mantan?' pikirnya bingung. Di kepalanya mantan Daffin itu cuma Amber, tak terpikir ada wanita lain lagi.


"Apa yang membawa mu kemari?" sapa Daffin di ambang pintu.


"Morning, Daffin? aku bawain kamu makanan. Udah makan belum? Woi. aku dianggurin depan pintu aja, nih? Nggak sopan," oceh seorang wanita di luar sana.


Kinanti buru-buru menunduk saat Daffin melebarkan pintu dan membiarkan tamunya masuk. Kinanti gugup dan mengaduk-aduk buburnya, padahal dia tim bubur yang tak diaduk. Dia merasa malu tertangkap basah menginap di apartemen seorang lelaki.


"O... ow. Kamu tidak sendirian." Wanita itu terkejut melihat keberadaan Kinanti dalam apartemen Daffin sepagi ini. Apalagi dengan rambut panjang Kinanti yang terurai, masih basah sehabis keramas. Membuat pikiran wanita itu berlari jauh.


Kinanti memberanikan diri mengangkat wajah dan menatap sesosok wanita yang tak asing lagi di matanya.


'My God!' pekik Kinanti dalam hati begitu mengenali sosok di depannya, lalu menunduk lagi.


"Duduklah. Kebetulan kami lagi sarapan," ajak Daffin sambil meletakkan setumpuk tupperware bawaan wanita itu di meja.


"Kamu nggak perlu repot-repot mampir ke sini lagi. Kita udah putus. Tolong hargai perasaan cewek ku." Daffin berujar tanpa basa-basi.


"Well, baru tahu kalau kamu punya yang baru," sahut wanita itu sambil duduk di hadapan Kinanti.


Daffin merangkul pundak Kinanti.


"Beib, kenalin ini mantan ku, namanya Nadia. Btw, dia si penerima hibah Mazda ku yang pernah kamu tanyain pagi itu," kata Daffin sambil duduk di sebelah Kinanti.


Kinanti terbatuk kecil gara-gara Daffin memperkenalkan mantannya dengan begitu santai.


Nadia melotot.


"Ngapain kamu bahas-bahas si Mazda segala? Ambil lagi sonoo!"

__ADS_1


"Dih, orang cuma ngomong doang. Jangan sensi dong. Udah dikasih bukannya makasih, malah marah-marah. Aneh banget." Daffin terkekeh. Lalu berkata lagi pada Kinanti.


"Di kantor juga dia kayak gini ya, Kinan? Suka ngomel nggak jelas? Emang reseh dia."


Kinanti terkejut, ternyata bosnya itu mantan pacar Daffin? Tapi pria itu tak pernah membahasnya dalam obrolan mereka selama ini. Pantas saja Daffin terlihat sudah familiar dengan kantornya, pasti karena dulu sering menjemput Nadia di sana. Seketika ada desiran aneh yang tak nyaman bergejolak dalam dada Kinanti.


"Apa? dia tahu aku?" Nadia mengernyit memandangi Daffin. Lalu beralih kepada Kinanti.


Kinanti mengangkat wajah secara perlahan. Saat matanya bertemu tatap dengan Nadia, dia memberanikan diri menyapa.


"Ha... halo? Selamat pagi."


"Santai, Kinan. Doi emang galak tapi nggak gigit kok," seloroh Daffin sambil meremas tangan Kinanti di bawah meja, tahu Kinanti sedang gugup.


"Wait, kayaknya..., aku pernah lihat kamu? Orang kantor ya?"


"I... iya, Bu. Saya ..., Kinanti."


"Ah, aku ingat. Kalau gitu kita nggak perlu kenalan lagi. Kamu yang kena damprat Bu Ela waktu itu, 'kan? aku masih ingat laporan kerugian yang harus ditanggung perusahaan gara-gara kehebatan kamu bekerja."


Kinanti menggigit bibir. Ah, kurang ajar. Dia jadi malu menerima omelan Nadia di depan Daffin. Kinanti memang pernah melakukan kesalahan. Dia kurang teliti saat melakukan pengecekan kualitas barang dan jasa sesuai kontrak penjualan. Sehingga barang dan jasa yang diterima jauh dibawah standard dan merugikan perusahaannya. Saat itu Kinanti memang sedang tak sanggup berpikir jernih usai menerima undangan pernikahan Amber dengan Ikram. Surat peringatan dari HRD pun melayang cepat kepadanya.


"Excuse me. Bisa kita sarapan aja? Ini liburan, nggak asik bawa-bawa kerjaan. Mengomellah pada tempatnya." Untunglah Daffin menengahi dan membuat Nadia mengerem ocehannya.


Nadia mencomot kerupuk, mengunyahnya sambil menusukkan tatapan kepada Kinanti, seakan dia juga ingin mengunyah Kinanti seperti kerupuk di tangannya.


"Cuma nginap kok, first time."


"Aku tidak tanya kamu," omel Nadia sambil mendelik kepada Daffin yang menyelanya, lalu menoleh pada Kinanti sambil mengunyah lagi kerupuknya. Wanita berambut pendek itu memandangi Kinanti yang menunduk dengan sorot penghakiman.


"Aku tanya kamu, jangan shock kalau sewaktu-waktu Daffin mutusin kamu tanpa alasan," Nadia berkata seraya melirik Daffin dengan tajam.


Daffin terkekeh dan mencomot kerupuk.


"Aku akan menikah dengan dia," sahutnya sambil mengunyah.


Nadia tersenyum sinis. Lalu geleng-geleng kepala.


"Apa kamu lagi bercanda padaku?"


Daffin meneguk air minum.


"Tidak," jawabnya sambil meletakkan gelas, kemudian membuka tutup-tutup tupperware dari Nadia yang berisi makanan-makanan kesukaannya, tapi Daffin telanjur kehilangan selera. Daffin hanya memandangi tanpa berniat menyentuhnya.

__ADS_1


"Tiba-tiba?" Nadia menatap Daffin dengan tatapan berkilat setajam pisau.


"Tidur. Aku sudah merencanakan nya sebaik mungkin."


Nadia bersedekap.


"Apa kamu yakin dia benar-benar mencintai kamu, Kinan? Aku beritahu kamu, dia sangat mencintai Amber. Kamu hanya akan berakhir seperti aku dan cewek-cewek lain yang cuma dijadiin objek pengalih perhatiannya dari Amber. Siap-siap aja, kamu bakal ditendang keluar kalau dia udah bosan. Lebih baik kamu lari!"


Daffin memutar bola mata dan meraih tangan Kinanti dan menggenggamnya di atas meja.


"Lebih baik kamu pulang aja sekarang. Sebelum aku bener-bener tendang kamu keluar seperti yang kamu bilang barusan karena aku udah bosan dengerin kamu ngoceh," sahutnya dengan tatapan yang menyorot dingin pada Nadia.


Nadia terpingkal hingga matanya berkaca-kaca. Seakan jawaban Daffin tadi lelucon paling menggelikan di dunia.


"Well, kita lihat aja nanti. Aku bertaruh kamu akan menangis, Kinan!" sahutnya sama sekali tak terlihat gentar menerima tatapan menusuk Daffin. Di matanya, Daffin tetaplah seorang baby boy. Dan baby boy nya ini sedang ngambek saja sekarang, karena Nadia mencoba merebut gulali manis yang bisa merusak kesehatan giginya.


"Daffin..., Daffin," desah Nadia sambil geleng-geleng kepala dengan sisa tawanya.


"Telfon aku kalau kamu udah bosan sama cewek kamu ini," ucapnya sambil melenggang keluar dari apartemen Daffin tanpa sudi menoleh pada Kinanti.


"Wow. Aku bakal mampus di kantor," celetuk Kinanti begitu Nadia sudah lenyap dari pandangan mereka.


Daffin justru terbahak.


"Orang gila mah nggak perlu dipikirin, Kinan. Bisa keturalaran gila ntar kamu. Cuekin aja."


"Tapi dia bos di kantor aku."


Daffin menggenggam tangan Kinanti lagi dan meremasnya dengan lembut.


"Tenanglah. Nadia memang terlihat sangar di luar, tapi hatinya lembut kok. Dan dia orangnya profesional, nggak bakal semena-mena kalau kerjaan kamu bener. So, fokuslah pas kerja, jangan bikin kesalahan lagi. Oke, darling?"


"Kayaknya kamu paham banget Nadia gimana. Dan Nadia juga paham kamu gimana. Kalian cocok. Kenapa putus? Kenapa nggak sama dia aja? Kenapa repot-repot bayar aku buat jadi partner kamu di pernikahan Amber, kan ada Nadia? Kalau nama kalian ditulis dalam kartu undangan pernikahan juga pas banget"


Daffin mencolek ujung hidung Kinanti.


"Cemburu yah, Kinan?"


Kinanti menabok lengan Daffin.


"Dih! aku serius tanya," ketusnya.


Daffin memajukan wajahnya lebih dekat ke wajah Kinanti hingga membuat wanita itu terdiam seketika, kehilangan kata-katanya yang semula ramai.

__ADS_1


"Waktu itu aku penasaran aja, gimana rasanya punya pacar lebih tua. Tapi Nadia ketuaan buat aku. Ngomelnya aja kayak nenek-nenek gambreng. Dan dia nggak secakep kamu, Kinan. Lihat, lagi senewen kayak gini aja kamu cakep, apalagi kalau pas senyum?" bisiknya seraya mengedipkan sebelah mata. Lalu mendaratkan kecupan di bibir Kinanti yang tiba-tiba saja terbuka menerimanya, hingga kemudian ciuman itu berlanjut lebih lama dari yang Daffin kira.


Maka hari itupun mereka tidak jadi pergi ke mana-mana. Keduanya merasa nyaman mengisi waktu berdua saja dalam apartemen Daffin.


__ADS_2