
"Apa apaan ini?" Kinanti bergumam panik, sebab tak menemukan piyama kesayangannya yang bermotif kelinci. Padahal itu pakaian tidurnya yang paling nyaman.
"Jaga baik-baik ya, ini motif kelinci bukan sembarang kelinci. Ini Chooky BT21, karakternya Jungkook BTS. Limited edition. Asal kamu tau aja, susah banget dapetin ini, so... ini spesial for you," tutur Lina kala menghadiahkannya kepada Kinanti di hari ulang tahunnya empat tahun silam. Dan ternyata selain lucu, piyama itu sangat nyaman sehingga Kinanti kerap memakainya sampai lusuh, dan makin lusuh semakin nyaman di kulitnya. Tetapi sekarang lingerie-lingerie seksilah yang menggantikan posisi piyama kesayangannya itu di lemari. Dan Kinanti juga tak menemukan pakaian-pakaian lama miliknya yang lain. Tangannya membolak-balik seluruh pakaian yang tergantung dan juga yang sudah terlipat rapi, semuanya masih baru dan bermerk mahal, sudah rapi, wangi, dan siap pakai.
Tangan Kinanti terkepal menahan kesal, pakaian yang memenuhi lemarinya sekarang memang jauh lebih cantik, namun pakaian lamanya juga berharga dan punya kenangan tersendiri baginya. Seketika pikirannya menancap kepada Daffin, siapa lagi yang berani mengotak-atik barang pribadinya kalau bukan Daffin?
Kinanti pun menelepon pria sableng yang sudah jadi suaminya itu.
"Daffin, kamu kemanakan semua pakaian lama ku?"
"Aku buang." Pria itu menyahut dengan santainya, tanpa merasa berdosa.
Kinanti mendelik.
"Kamu gila!" semprotnya marah.
"Justru aku waras, Kinan, makanya aku ganti baju-baju jelek kamu itu dengan yang jauh lebih bagus. Masa bini aku pakai baju jelek aku diemin aja? Kamu itu bini ku, Kinan. Kamu sudah jadi Nyonya Daffin Kalandra, bukan lagi Kinanti si perawan cupu. Standard busana kamu kudu berubah. Ingat, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kamu berpijak di rumah keluarga konglomerat sekarang, so... jangan kayak orang susah."
Kinanti memutar bola mata karena malah diceramahi Daffin.
"Btw, buruan pakai baju. Terus turun ke bawah, kita sarapan bareng," titah Daffin, lalu sambungan telepon diputus, padahal Kinanti masih ingin bicara.
"Rese banget kamu." Kinanti bersungut-sungut. Akhirnya dia memakai salah satu pakaian barunya berupa gaun berwarna biru gelap, kontras dengan kulitnya yang putih langsat. Kinanti terkejut bagaimana gaun itu bisa begitu pas dengan lekuk tubuhnya, seakan gaun ini memang sengaja dipesan khusus untuknya. Lalu Kinanti memakai sepatu bertumit tinggi yang sepadan. Kemudian menatap dirinya di cermin, memeriksa sekali lagi penampilannya. Kinanti lega gaun ini menutupi belahan dadanya dengan sangat baik. Lalu tatapannya turun kepada sepatunya, selain cantik sepatu ini juga nyaman di kaki. Diam-diam Kinanti tersenyum memikirkan bagaimana Daffin bisa memerhatikan detail tentang dirinya lewat ukuran sepatu yang sangat pas ini. Kinanti tertawa lirih, dirinya tak ubahnya Cinderella yang telah mendapatkan sepatu kacanya.
Pintu kamarnya diketuk dari luar.
__ADS_1
"Masuk," kata Kinanti setelah mendengar suara Yania, asisten pribadinya.
"Permisi, Mbak Kinan, Mas Daffin sudah menunggu. Apa sudah siap? Atau ada yang perlu saya bantu?"
Kinanti mengangguk.
"Ya, tolong kembalikan semua baju-baju ku dan masukkan kembali ke lemari ini," titahnya. Dia yakin Daffin pasti menyuruh Yania, tak mungkin melakukannya sendiri.
"Maaf, Mbak. Aku nggak tahu, karena Mas Daffin sendiri yang mengeluarkan dan membawanya entah ke mana," jawab Yania membuat Kinanti terkejut.
'Niat banget dia menghabisi semua pakaian ku,' pikir Kinanti menahan dongkol, terpaksa merelakan semua pakaian lamanya yang berharga.
########
"Nah, kan. Membuang semua baju-baju jelek mu itu emang keputusan terbaik, Kinan. Lihat sekarang, kamu udah kayak Kate Middleton yang ceria, anggun, dan elegan. Kamu bukan lagi Kinanti Queensha yang auranya penuh tekanan batin sebelum aku nikahin. Tapi aku nggak kayak Pangeran William yang botak itu lah yaw! Rambut ku kayak model iklan shampo gini kok."
Kinanti tertawa. Ucapan Daffin membuat niat Kinanti yang semula ingin mengomeli Daffin, gara-gara membuang pakaian lamanya, jadi menguap pergi. Kinanti bisa menangkap niat baik Daffin dibalik sikapnya yang terkadang arrogant.
"Bye-bye, Chooky," gumam Kinanti lirih sambil menyendok nasi goreng, menu sarapannya pagi ini.
"Chooky? Siapa tuh?"
"Piyama motif kelinci ku, yang warnanya pink, yang udah kamu buang."
"Oh, piyama kamu yang jelek itu juga punya nama rupanya."
__ADS_1
"Ishh." Kinanti mencebik dongkol karena Daffin dengan mudahnya mengeluarkan kalimat hinaan seenak jidatnya sendiri.
"Kamu nggak tahu aja, itu piyama bukan sembarang piyama. Itu piyama BT21 karakternya Jungkook BTS, limited edition, produk resmi dari BigHit Korea, dan fandom BTS seluruh dunia memburunya, tapi aku salah satu orang yang beruntung bisa dapat itu karena dikasih kado dari Lina, teman terbaik semasa ku masih kerja di kantor Nadia. Tapi kamu malah membuangnya. Yang aku sesali bukan karena semata-mata kehilangan piyama itu, tapi aku seperti menyia-nyiakan upaya Lina," Kinanti mendesah.
"Piyama itu harganya hampir dua juta karena produk resmi BTS. Bagi kami uang segitu gede banget. Lina menyisihkan gajinya yang tak seberapa buat ditabung biar bisa membelinya, dan setelah membelinya dia malah kasih itu ke aku, sebagai simbol berartinya pertemanan kami yang melebihi kecintaannya terhadap produk official BTS impiannya. Pas aku tolak, dia tetap memaksa aku menerimanya, segitu tulusnya dia ke aku," jelas Kinanti pada akhirnya.
Daffin menghela napas mendengar penuturan Kinanti.
"Sorry."
Sorry, memang hanya itu yang dikatakan Daffin. Namun getar suaranya menggambarkan betapa menyesalnya dia.
Membuat Kinanti tersenyum dan mengangguk. Permintaan maaf Daffin yang tulus seperti booster yang membantu Kinanti ikhlas melepaskan kenangannya terhadap si Chooky dan Lina.
"Habisin sarapan mu, kita akan pergi setelah ini."
"Sebenarnya kita mau ke mana sih?"
"Makan saja dulu lah," jawab Daffin sambil menyambar ponselnya di meja dan menelepon seseorang.
Kinanti pun melanjutkan sarapannya tanpa bertanya lagi. Percuma. Jika Daffin sudah masuk dalam mode serius begitu, semua di sekelilingnya seperti angin lalu saja baginya.
"Yaya, kamu cari cewek yang namanya Lina, yang pernah kerja di kantornya Nadia. Tawari dia nonton konser BTS langsung di Korea, begitu dia bilang mau, langsung beliin tiket konser BTS buat dia dan siapin akomodasinya, kasih juga uang saku biar dia bisa belanja produk resmi BTS di sana." Lalu Daffin menutup telepon setelah menerima jawaban Yania.
Pria itu pun kembali larut melanjutkan kegiatannya membuka dan membaca e-mail demi e-mail yang terkait dengan pekerjaannya sebagai pengusaha properti dan real estate. Tanpa menyadari Kinanti sedang terbengong-bengong menatapnya.
__ADS_1