Fake Couple

Fake Couple
Kenyamanan yang sangat dia butuhkan.


__ADS_3

Seperti biasa, Amber hanya bisa diam jika Mila sudah mulai mengoceh tentang banyak hal. Serba salah, kalau jauh dengan Mamanya dia kangen, tapi kalau dekat begini kesal juga mendengar Mamanya mengoceh terus. Apalagi ocehan sang Mama kali ini terkait dengan masa lalunya dengan Daffin, sang mantan. Ocehan itu mengganggu, meski sebenarnya Amber sudah lama move on, setelah dia memutuskan Daffin secara sepihak jelang keberangkatannya ke Amerika dulu.


Daffin menggenggam tangan Amber erat-erat.


"Amber, come on. Please! Aku nggak masalah kamu mau kuliah ke ujung dunia mana pun, asal kita tetap bisa komunikasi. Aku siap LDR an, kok," tolak Daffin seraya menggeleng tegas kala Amber mengucap kata putus dengan alasan akan melanjutkan study pasca sarjana ke Amerika untuk jangka waktu cukup lama.


Kali itupun Amber menggeleng tegas, yang berarti putus.


"Sorry. Aku nggak bisa, Daffin."


Amber melepaskan tangannya dari genggaman Daffin, tetapi Daffin balas mendekapnya dengan begitu erat.


"Kamu bisa, Amber. Selama kamu masih punya perasaan sama aku, kamu bisa memiliki aku kapan pun, karena cinta ku cuma buat kamu, buat kamu, Amber ...," bisik Daffin sebelum mencium bibir Amber dan menciumnya dalam-dalam.


Serta merta Amber berjinjit, membalas dan mengimbangi ciuman Daffin yang secara tak terduga sanggup membuat sekujur tubuhnya terasa hangat dan semakin memanas, terbakar hasrat terpendam yang tak disangka-sangkanya. Itu merupakan ciuman panas mereka yang pertama dan terakhir setelah beberapa tahun sudah berpacaran. Ironis.


Dan setelahnya Amber menangis, dia mulai bisa merasakan jika cinta Daffin kepadanya tak pernah main-main. Tetapi Amber harus mengakhirinya karena desakan sang Mama.


"Jika kau nekat melanjutkan hubungan dengan pacarmu itu, jangan menyesal kalau kami mencoretmu dari daftar warisan," ancam Mila.


"Mama apaan sih, segitunya?" protes Amber, menganggap itu cuma ancaman kosong.


"Tak percaya? Coba saja pacaran lagi sana dan lanjut menikah dengannya."


Amber pun menunduk begitu bertemu tatap dengan mata Mila yang menyorotkan keseriusan.


Ya. Mila sangat tidak menyukai Daffin sejak SMA. Bahkan Amber sampai kena jewer segala gara-gara kepergok pulang nonton berdua saja dengan Daffin di sebuah Mall. Rupanya Mila sudah mempersiapkan Amber untuk Ikram, Mila dan Indra, Papa Ikram, sudah sempat menyinggung tentang perjodohan putra-putri mereka, dan keduanya saling menyalakan lampu hijau.


"Tapi jangan kita buat kentara, biasanya anak-anak itu kalau dengar kata 'perjodohan' pasti sudah antipati duluan dan menganggap kita kolot. Baiknya kita kondisikan saja supaya kedekatan mereka terjadi secara alami. Kebetulan mereka satu sekolah dan pernah satu kelas, kan?" tutur Indra yang disetujui Mila dan Papa Amber. Karena itulah Indra suka mengajak Ikram mampir ke rumah Mila, dan Mila mengkondisikan agar Amber menemani Ikram mengobrol di teras rumah. Indra, Mila, dan Papa Amber pun saling tersenyum lega karena mendengar tawa akrab putra-putri mereka di sana. Tanpa mereka ketahui jika kedua remaja itu tertawa karena sedang berbagi info tentang gebetan masing-masing di sekolah. Amber memberitahu banyak hal tentang Kinanti, dan Ikram pun menyampaikan beberapa hal tentang Daffin.

__ADS_1


"Mama menyuruhmu sekolah, bukan pacaran! Apalagi pacaran dengan cowok nggak jelas kayak gitu. Putusin nggak? Kalau nggak..., Mama ambil hape dan kunci mobilmu, juga nggak ada uang jajan sampai kamu putusin dia," omel Mila sambil menjewer Amber.


Amber pun menuruti Mila dan memutuskan Daffin. Toh, cepat atau lambat dia memang ingin memutuskan Daffin. Tetapi rupanya tak semudah itu Daffin melepaskannya.


Cowok itu seperti permen karet yang terinjak sepatu, nempel terus ke mana saja Amber melangkah. Sampai Amber tak punya pilihan selain menerima Daffin kembali, karena kebucinan Daffin memberinya banyak untung. Dan Daffin sudah seperti sopir dan ATM pribadinya, lumayan... uang jajan Amber jadi utuh karena tak perlu beli bensin dan bayar jajan. Daffin juga sudah seperti supermannya, cepat sekali datang jika Amber memanggil dan butuh bantuan.


"Tapi, kita backstreet, ya. Soalnya aku nggak boleh pacaran sama 'bo-nyok', bokap-nyokap."


"Ah, payah amat 'bo-nyok' mu., kayak mereka nggak pernah muda aja."


"Terus? Mau apa nggak?" cecar Amber.


Daffin bersungut-sungut, terpaksa mengangguk setuju menerima syarat menyebalkan itu. Mereka pun tetap berpacaran sampai masa kuliah. Dan resmi putus selamanya jelang keberangkatan Amber ke Amerika untuk melanjutkan study pasca sarjana.


Setelah keberangkatan Amber ke Amerika, Daffin menghubungi Ikram.


"Ikram, aku titip Amber, ya? Aku dengar Amber kuliah di kampus yang sama dengan kamu 'kan?" ujar Daffin saat menelepon Ikram lewat sambungan interlokal, setelah Amber terbang ke Amerika.


"Wah, keberadaan Kinanti sekarang misteri, Ikram."


"Misteri gimana, Daffin?"


"Nggak ada yang tahu kabarnya sekarang, dia hilang kayak ditelan bumi aja gitu. Akun medsosnya juga nggak ada yang tahu. Atau jangan-jangan malah nggak punya? Dia kan emang rada-rada introvert sejak SMA."


Ikram tercekat. Ya, Tuhan. Kenapa Kinanti terasa semakin jauh saja dari jangkauannya?


"Baby, aku membawakan sesuatu untuk kamu, apa kamu siap malam ini?" Suara perempuan tiba-tiba terdengar dari dalam speaker Ikram.


"Siapa itu, Daffin?" Ikram menerka-nerka, mungkinkah Daffin sudah punya pacar baru tapi masih juga menginginkan Amber?

__ADS_1


"Eh, bukan siapa-siapa, kok." Suara Daffin terdengar gugup.


"Hei. Apa yang kamu katakan, baby? Aku bukan siapa-siapa bagi kamu? I'm yours,... right?" Suara Nadia yang kala itu masih menjadi pacar Daffin terdengar semakin jelas di telinga Ikram yang terbengong-bengong memegangi ponselnya. Kemudian Ikram geleng-geleng kepala saat mendengar suara bibir seperti sedang saling mengecup dari dalam speaker ponselnya.


"Siapa Kinanti? Selingkuhan kamu, ya?" suara Nadia terdengar seperti orang merajuk dalam speaker ponsel Ikram.


"Eh. Ikram, ... ntar kita sambung lagi, ya." Daffin buru-buru memutuskan sambungan telepon dengan suara parau.


Ikram berdecak.


"Apa yang akan kamu lakukan, Daffin? Wow. Kamu benar-benar pria kurang ajar." Lalu geleng-geleng kepala.


Tiba-tiba dia merasa kasihan kepada Amber jika Daffin jadi brengsek begini. Amber gadis yang baik. Meski kadang sok gaul dan suka iseng main ke night club untuk hangout melepas stres, tapi gadis itu masih tahu batasan dan selalu minta Ikram menemaninya. Tanpa Ikram, Amber tak berani melantai sendirian. Dan Ikram seperti dibebani tanggung jawab untuk menjaga Amber, hingga dia tak segan-segan ribut bahkan sampai adu pukul dengan pria asing yang menjamah tubuh Amber seenaknya di sana. Ikram selalu memastikan Amber pulang aman bersamanya. Seperti seorang kakak lelaki yang menjaga adik perempuannya.


"Kamu masih suka sama Daffin, Amber?" pancing Ikram suatu ketika, saat jalan-jalan mengisi libur akhir pekan bersama Amber di sebuah taman yang terletak di jantung kota New York.


Amber terdiam lama, yang berarti 'iya', tetapi Amber terlalu gengsi mengucapkannya.


"Kayaknya dia udah punya pacar sekarang, Amber."


Secepat kilat Amber menoleh dan menatap Ikram yang tengah merentangkan tangan, menghirup udara musim semi dan menikmati setting alam yang indah di taman seluas 340 hektar yang terletak di tengah pulau Manhattan itu.


Merasa dipandangi, Ikram balas menoleh dan bertemu tatap dengan sepasang mata Amber yang berkaca-kaca.


"Kalau mau nangis, nangis aja, Amber. Nggak ada yang lihat kok."


Baru juga Ikram menutup mulut, tangis Amber sudah pecah. Ikram buru-buru berbalik badan tanpa sepatah kata, meminjamkan punggungnya sebagai tempat Amber untuk menangis. Seketika itu juga jantung Ikram bertalu-talu, seakan dia tengah merasakan kembali seorang Kinanti yang juga pernah menangis di punggungnya seperti ini. Lalu Ikram membalik badan, dan memeluk Amber erat-erat.


'Ah, ya..., semestinya aku dulu memelukmu seperti ini, Kinanti,' sesal Ikram dalam hati. Andai waktu bisa ditarik mundur kembali, dia ingin memeluk Kinanti seerat dan sehangat ini.

__ADS_1


Dan pada detik itu juga, sejuta kupu-kupu serasa beterbangan dari dalam perut Amber, efek pelukan Ikram yang terasa begitu melindungi dan menyelubungi perasaannya dengan kenyamanan yang sangat dia butuhkan.


__ADS_2