
Daffin dan Kinanti berpamitan pulang saat hari sudah malam.
"Menginaplah, Daffin. Kalau kamar mu bisa bicara, dia juga pasti akan bilang kangen ingin kau tempati lagi barang sesaat," bujuk Opa Kalandra.
Daffin menepuk-nepuk punggung tangan sang Kakek yang masih erat menggenggam tangannya.
"Besok ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, Opa," jawabnya lembut.
"Kau masih saja sibuk bekerja padahal hari pernikahan mu sudah di depan mata? Ambillah cuti dan fokus dengan pernikahan mu." Opa Kalandra geleng-geleng kepala Daffin masih saja sesantai itu jelang hari pernikahannya yang sudah tinggal hitungan hari.
"Opa kan tahu, kami tidak menggelarnya secara mewah dan besar-besaran. Dan sudah ada WO yang mengurusnya. Kami terima beres. Makanya aku punya banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan dan Kinanti bisa rileks dengan dirinya sendiri tanpa pusing mengurusi *****-bengek pernikahan."
Kalandra tertawa lirih.
"Kudengar dari asisten pribadi mu bahkan Kinanti enggan memesan gaun pengantin dan pilih menyewa saja? Bukankah ini momen terpenting dalam hidup mu, Kinan? Tidakkah kau ingin memesan gaun yang khusus dirancang desainer hanya untuk mu?" ujar Opa Kalandra sembari menoleh kepada Kinanti.
"Nggak apa-apa, Opa. Toh, gaun pengantin hanya dipakai sekali seumur hidup, buat apa membelinya jika bisa disewa untuk sekali pakai saja?" sahut Kinanti seraya tersenyum santun.
Kalandra terbahak.
"Kau memang pengantin wanita yang simple dan anti ribet, Kinan." Pria sepuh itu mengacungi jempol. Dalam hatinya teramat lega mendengar pernyataan Kinanti tentang pernikahan yang hanya dilakukan sekali secara tak langsung Kinanti berkomitmen untuk menjaga pernikahan ini seumur hidup nya.
Lalu Kalandra tersenyum bangga kepada sang cucu, meskipun tajir melintir tetapi cucunya itu tak suka bermewah-mewahan. Jika banyak anak muda saat ini berlomba untuk saling bermegah-megahan dalam menggelar pernikahan sampai memaksakan budget, tidak dengan Daffin yang lebih suka bersikap secukupnya saja meski dia punya dana selangit. Daffin hanya mengundang orang dan teman dekatnya saja yang dibatasi jumlahnya sampai seratus orang. Dan dia memilih konsep pesta kebun sederhana yang akan digelar di sebuah 'wedding venue and restaurant' miliknya.
"Biar lebih akrab dengan tamu yang datang, Opa." Begitulah cucunya itu beralasan.
Ah. Didikan kesederhanaan yang dia tanamkan kepada Daffin sejak kecil rupanya telah berhasil terbentuk dengan baik.
Tanpa Kalandra ketahui, sebenarnya Daffin sangat ingin menggelar pernikahannya secara besar-besaran dan sangat mewah. Ingin menjadi raja dan ratu dalam sehari bersama mempelai wanita yang dicintainya, tetapi jika wanita itu adalah Amber. Sayangnya sekarang dia tidak akan menikah dengan Amber sehingga dicoretnya rencana pernikahan mewah impiannya itu.
Kini, Daffin akan menikahi Kinanti. Dia ingin menggunaan konsep pernikahan yang berbeda, yang sepertinya bakal disukai wanita ini. Daffin memang tak mencintai Kinanti, tapi Daffin mengasihinya. Lebih tepatnya, Daffin mengasihani Kinanti seperti Daffin mengasihani dirinya sendiri. Maka dia memerhatikan juga kenyamanan Kinanti dalam pernikahan ini.
Pernikahan tanpa cinta, bukan berarti tak akan bisa menjadi pernikahan yang manis. Setidaknya Daffin merasa nyaman bersama Kinanti, sebab mereka senasib, sama-sama yatim piatu dan sama-sama ditinggal menikah oleh kekasih hati. Baik dirinya dan juga Kinanti, sama-sama tahu bagaimana sakitnya rasa itu. Pernikahan ini bagai koalisi patah hati. Daffin berharap, mereka dapat saling menyembuhkan lewat pernikahan ini.
__ADS_1
Daffin bisa mengerti jika diam-diam Kinanti masih memendam cintanya untuk Ikram. Sebab dirinya sendiri pun masih menyimpan rasa cinta yang begitu besar untuk Amber.
Ya, cintanya masih tertancap pada Amber. Gadis yang pernah menyelamatkan hidupnya di masa lalu. Daffin akan selalu mengingat momen itu sampai kapan pun. Momen saat Daffin sengaja menenggelamkan diri kala pelajaran berenang semasa SMP. Hari itu dirinya tak kuasa lagi menahan beban kesedihan. Dan entah bagaimana, ada dorongan teramat besar ingin menyusul mati saja Ayah dan Bunda yang sangat dirindukannya.
Pada saat dadanya sudah semakin sesak seperti akan meledak, tiba-tiba saja seseorang menariknya ke permukaan. Daffin sempat tak sadarkan diri beberapa saat, tetapi kemudian dia memuntahkan air yang sempat terminum banyak olehnya tadi, setelah seseorang melakukan resusitasi jantung paru terhadapnya.
"Dia bangun!"
"Dia sudah bangun!"
"Eh, iya... dia bangun!"
"Syukurlah, aku pikir dia bakalan mati."
"Iya, aku pikir juga gitu."
"Keren! kamu baru aja menyelamatkan nyawa orang, Amber!"
"Bagus, Amber. Dari mana kamu belajar CPR?" tegur guru olahraga.
"Dari film, Pak," sahut Amber, teman yang baru saja menolongnya itu.
Jawaban keren Amber itu pun disambut tepukan meriah semua orang.
"Daffin, kamu kan jago renang? Bisa-bisanya tenggelam? Nggak lucu, ah!"
"Untung Amber lihat dan langsung nyebur nolongin kamu."
"Iya, kalau nggak... bisa-bisa udah di akhirat kamu sekarang!"
"Utang nyawa kamu, Fin..., sama si Amber."
Teman-teman lelaki Daffin ramai menegur, tanpa menyadari jika itu tadi sebuah upaya bunuh diri.
__ADS_1
Sejak saat itu Daffin mulai memberi Amber sebanyak-banyaknya perhatian sebagai bentuk balas budinya. Hampir setiap hari Daffin mentraktirnya di kantin, memayunginya jika hujan, atau memberinya coklat dan boneka meski bukan hari valentine. Tetapi teman-teman justru menyorakinya, mengira Daffin menyukai Amber. Lama-lama membuat Amber risih dilengketi Daffin setiap saat. Gadis itu pun mulai menghindari Daffin yang membuatnya jadi 'mati pasaran'. Setiap cowok yang disukai Amber jadi mundur teratur gara-gara Daffin.
Akan tetapi, perhatian Daffin tak pernah menyurut. Bahkan selulusnya dari SMP, Daffin ikut-ikutan mendaftar di SMA yang sama dengan Amber.
"Ish. Kamu lagi, kamu lagi?" Amber memutar bola mata kala bertemu dengan Daffin di hari pertama sekolahnya di SMA.
"Eh, Amber? kamu sekolah di sini juga?" Daffin pura-pura bego.
Amber bersedekap memandangi Daffin dengan tatapan tidak suka.
"Please, kita pura-pura nggak kenal aja di sini. Oke?" pinta gadis itu sambil mendelik galak.
Daffin cuma tersenyum.
"Ngapain kamu malah cengar-cengir? Minggir!" ketus Amber dongkol. Kemudian kedua orang itu menoleh saat mendengar derap langkah kaki mendekat.
"Eh, kamu rupanya, Amber? Udah ketemu belum toilet nya? aku juga mau ke toilet, nih," tegur seorang gadis yang muncul di belakang Amber.
"Belum ...." Ekspresi Amber berubah ramah kepada gadis yang rambutnya diikat ekor kuda itu.
"Halo?" sapa gadis itu sembari mengangguk ramah saat bertatapan dengan Daffin.
"Yuk, Kinan. Kita ke toilet," ajak Amber sembari menggandeng Kinanti menjauhi Daffin.
"Siapa cowok itu, Amber? Teman SMP mu, ya?"
Daffin masih bisa menangkap suara Kinanti yang semakin menjauhi tempatnya sedang berdiri.
"Ah, bukan! Baru juga lihat. Tadi nggak sengaja tabrakan di belokan." Samar-samar terdengar Amber menjawab begitu.
"Oooh." Respon Kinanti datar saja.
Daffin tertawa lirih. Semakin Amber mengacuhkannya, dia justru tertantang ingin meraih hatinya. Mulai saat itu, Daffin pun menggali bayak hal tentang Amber lewat teman dekatnya, Kinanti.
__ADS_1