
Indra, Papa Ikram menginterogasi Kinanti detik itu juga. Raut tak suka tergambar jelas dalam wajah lelah Indra yang baru saja sampai dari Amerika. Perasaan pria paruh baya itu dirambati cemas.
Bagaimana kalau putera kesayangannya ini sampai menghamili anak orang di usia yang masih belia? Meskipun anak-anak itu bersumpah cuma berciuman dan baru pertama kali melakukannya. Tapi, bagaimana dengan besok? Apalagi Indra jarang di rumah karena sibuk berbisnis. Indra harusnya curiga saat CCTV di beberapa titik rumah mereka sering mati. Pasti Ikram yang sengaja mematikan demi menyelundupkan gadis itu ke rumah.
Setelah puas mengorek keterangan dari Kinanti, Indra berkata.
"Ini terakhir kalinya kau ke rumah ini. Kalau punya urusan dengan Ikram langsung selesaikan saja saat di sekolah. Sekarang pulanglah."
"Pa!" protes Ikram.
"Ikram. Tidak apa-apa." Kinanti mengisyaratkan agar Ikram jangan mendebat Papanya, seraya tersenyum meskipun matanya tampak ingin menangis.
Ikram terdiam. Lalu menyambar ponselnya dan menelepon Pak Herman.
"Pak, tolong antar Kinan pulang," katanya dengan perasaan bersalah kepada Kinanti yang baru saja diusir Papanya.
"Mau ke mana? Toh, kamu sudah menyuruh Pak Herman mengantar dia," cegah Indra sambil bersedekap saat Ikram hendak mengantar Kinanti ke luar.
Ikram memutar bola mata dan menelepon dapur.
"Bik, makanan-makanan yang tadi sudah dibungkus? Tolong masukin ke mobil Pak Herman, Kinan mau pulang sekarang. Jangan sampai ada yang ketinggalan."
Indra menghela napas panjang. Ternyata puteranya sudah dibuat bucin oleh gadis itu.
'Dasar cinta monyet!!'
Indra tak rela jika masa depan anaknya terganggu oleh keberadaan Kinanti di sekitarnya.
Pria paruh baya itu pun memutar otak. Menangani remaja yang memang gampang-gampang susah. Jika terlalu frontal melarang, Ikram bisa saja malah berontak dan main belakang. Dia paham sifat Ikram yang sedikit berbeda dari kedua Kakaknya yang lebih patuh. Indra harus bermain cantik.
Diam-diam Indra mengirim orang untuk mengumpulkan info tentang Kinanti dan dia mendapat laporan bahwa orang tua gadis itu di ambang bangkrut, bahkan sedang menjual rumah yang merupakan aset terakhir. Indra pun menemui orang tua Kinanti untuk membeli rumah itu dengan penawaran terbaiknya disertai syarat.
"Mari kita bekerja sama untuk saling menjauhkan anak-anak kita."
Indra memberi alasan agar orang tua Kinanti tak kebingungan mendengar syarat itu.
__ADS_1
"Sebab, saya memergoki mereka berciuman di rumah saya," ucapnya seraya menatap kedua orang tua Kinanti secara bergantian.
"Di kamar anak lelaki saya," katanya dengan sedikit penekanan. Sekilas terlihat senyum miring yang terasa mencela di bibirnya seakan senyum itu mengatakan.
'Makanya didik yang benar anak gadis kalian' kemudian Indra berdeham sebelum meneruskan lagi ucapannya yang belum selesai.
"Kalau mereka dibiarkan bebas berhubungan, bisa jadi akan melakukan yang lebih jauh lagi saat ada kesempatan," lanjutnya seraya mengangguk-angguk kepada Bisma yang terpaku menatapnya.
Ayah Kinanti itu tampak terkejut. Berbeda dengan ekspresi istrinya yang sedatar tembok.
"Maaf karena anak saya sampai memasuki kamar anak, Anda." Bisma menyahut dengan napas berat.
"Saya tahu betul bagaimana puteri saya. Dia pasti punya alasan kenapa ada di sana. Dan kenapa pula Anda biarkan putera Anda bebas membawa teman perempuannya ke rumah tanpa pengawasan?" sahut Ara membela sang puteri.
"Baiklah, anak kita sama-sama keliru. Saya juga salah, tak mengawasi putera saya dengan baik selama ini karena kesibukan saya di Amerika, Ikram jadi merasa bebas membawa temannya ke rumah," ucap Indra setelah melihat kemarahan dalam tatapan Ibunya Kinanti.
"Maaf, kami juga kurang mengawasi puteri kami dengan baik." Bisma berkata seraya mengusapi tengkuknya yang terasa berat. Dia disibukkan permasalahan finansial nya, gali lubang tutup lubang ke sana-sini hingga melalaikan tugasnya sebagai seorang Ayah bagi Kinanti Queensha. Kemudian Bisma menoleh kepada sang istri.
"Memangnya kau tak mengecek keberadaan Kinanti setiap pulang sekolah, Ma?" tegurnya.
Ara terdiam dan merenung. Selama ini dia telanjur meyakini puterinya tak bakal berbuat macam-macam. Memang, selama satu semester belakangan Kinanti sering pulang terlambat dengan alasan ikut try out ujian dan padatnya jadwal bimbingan belajar, Ara percaya karena perkembangan akademik Kinanti menjadi meningkat. Ara juga senang karena Kinanti sering pulang dengan membawa banyak makanan yang menyelamatkan perut mereka dari kelaparan. Namun Ara sama sekali tak menyangka kalau semua makanan itu dari Ikram. Ternyata Kinanti membohonginya, bilang kalau makanan yang sering dibawanya pulang itu dari teman-teman perempuannya. Dan Ara shock kemarin saat melihat kissmark di area leher sang puteri yang seketika menyambar-nyambar jantungnya.
"Kita juga pernah remaja. Pasti ada dorongan perasaan khusus selain hanya karena hormon. Apa lagi kalau bukan tentang cinta pertama?" Ara menatap Indra lurus-lurus, kesal puterinya terus-terusan disudutkan.
Indra menghela napas panjang.
'Cinta pertama? Bullshit,' sahutnya dalam hati.
Lalu dia berkata.
"Saya hanya ingin memastikan agar jangan sampai konsentrasi belajar anak-anak kita terganggu perasaan semu mereka tentang cinta. Apalagi sisa waktu mereka di SMA tak sampai satu semester lagi. Semestinya mereka giat belajar menghadapi ujian, bukannya malah pacaran. Apalagi saya akan membawa Ikram kuliah di Amerika. Saya ingin Ikram fokus dengan rencana studinya"
Indra menatap kedua orang tua Kinanti Queensha bergantian. Seakan tatapan itu sedang berkata.
'Dan Kinanti benar-benar mengganggu, tolong singkirkan anak mu dari anak ku.'
__ADS_1
############
Kini, di rumah sakit ini setelah sepuluh tahun berlalu, Ikram tak sanggup lagi membendung segala rasa yang telah begitu lama dipendamnya.
"I love you, Kinan."
Kinanti tercekat merasakan kecupan lembut Ikram di keningnya, lalu memalingkan wajah kala bibir Ikram menuruni hidung dan hampir menyentuh bibirnya, hingga ciuman lelaki itu pun meleset di pipinya.
"Ikram, kamu sudah menikah," tegur Kinanti seraya menenangkan jantungnya yang bertalu-talu karena merasakan napas Ikram di atas pipinya. Dan pria itu tak jua menyurutkan jaraknya dari wajah Kinanti.
"Tapi, aku mencintai kamu. Selalu kamu, hanya kamu, Kinanti." Ikram berbisik sambil menangkup dagu Kinanti dan memaksa gadis itu balas menatapnya dalam jarak sedekat itu.
"Lihat aku."
Kinanti mendorong Ikram agar menjauh.
"Jangan konyol," gumamnya sambil memegangi kepalanya yang mendadak pening, tapi bukan karena efek tertabrak motor tadi melainkan efek ciuman Ikram yang mengejutkan serta ungkapan cintanya yang tiba-tiba. Membuat Kinanti ingin menangis antara senang sekaligus marah. Ternyata selama ini dia tak salah, Ikram memang menyimpan perasaan yang sama besar sepertinya. Tapi, kenapa harus menutupinya selama ini? Bahkan sampai menikahi Amber? Kinanti yakin, Ikram pasti tahu Kinanti nyaris gila karenanya. Tega sekali dia.
"Kinan, aku nggak bermaksud ninggalin kamu begitu saja ke Amerika. Tapi..."
"Ikram, do you know what the meaning of tapi?? Kata itu menegaskan bahwa semua kalimat yang udah kamu ucapin sebelumnya menjadi mentah dan sia-sia."
"Kinan, tolong kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya."
"Untuk apa, Ikram? Itu semua masa lalu. Toh, cinta kamu itu bukan hak aku lagi sekarang. Kamu udah punya Amber. Dan aku udah punya Daffin." Kinanti menelan ludah gugup.
'Sorry, Daffin. Aku terpaksa bawa-bawa kamu' lanjutnya dalam hati.
Ikram tertawa getir seraya menyisir rambut ikalnya yang tebal dengan jemarinya. Matanya berkedip-kedip menatap Kinanti.
"Aku nggak yakin tentang perasaan kamu ke Daffin. Kamu mencintai aku, Kinan. Hanya aku, kan?"
Kinanti memutuskan kontak matanya dengan Ikram. Gelisah karena lelaki ini bisa menebak perasaannya dengan sangat tepat.
Ikram menangkup dagu Kinanti, menghadapkan kembali wajah gadis itu padanya. Lalu lelaki itu berbisik seraya menatap Kinanti dengan sorot frustrasi.
__ADS_1
"Katakan bahwa kamu mencintai aku juga. Aku ingin mendengarnya langsung dari kamu, Kinanti. Sekali ini saja."
Dan melihat Kinanti justru terdiam, Ikram mencium bibir wanita itu dalam-dalam. Tak peduli Kinanti meronta dengan tenaga yang lemah dan takluk dibawah kendalinya.