
"Makasih, Daffin. Aku janji bakal membayar semua ini," ucap Kinanti kala Daffin mengatakan sudah melunasi tagihan rumah sakitnya. Dan Kinanti sudah diperbolehkan pulang sekarang.
“Udahlah, Maemunah. Nggak usah dipikirin. Kamu juga dulu sering bantuin aku, kan?"
"Kapan?"
"Dulu waktu SMA, aku sering lupa bawa uang terus utang jajan ke kamu tiap ketemu di kantin, tapi sampai detik ini aku belum pernah bayar. Anggap aja udah aku lunasi sekarang "
Seketika Kinanti terpingkal-pingkal.
"Ah. Ada-ada aja kamu, mah! Utang mu dulu itu kan nggak seberapa, aku ikhlas kok. Itu kan nggak sebanding dengan biaya rumah sakit ku ini," ujarnya sambil geleng-geleng kepala.
"Ya sudah, aku juga ikhlas kok bayarin biaya rumah sakit mu ini. Jadi, nggak ada lagi istilah utang-utangan di antara kita."
"Thank's, Daffin." Kinanti terharu.
"Oke, udah nggak ada yang ketinggalan, kan? Yuk, kita pulang sekarang."
Seorang suster tersenyum ramah ketika berpapasan dengan mereka di koridor rumah sakit.
"Semoga lekas pulih ya, Mbak Kinan. Hati-hati di jalan," ujarnya seraya menyimpan rasa penasarannya tentang Ikram, pria yang semula menciumi pasiennya itu secara paksa tapi kemudian pasiennya itu tanpa sadar menikmatinya dan membuat ciuman mereka menjadi terlihat sangat panas dan terjadi cukup lama di malam itu.
Perjalanan dari Jakarta Utara menuja Depok cukup lancar hari itu, macet di titik-titik tertentu karena bertepatan dengan jam makan siang. Namun keduanya santai saja menikmati kemacetan sambil mengobrolkan banyak hal.
"Jadi, Nadia nggak memecat kamu?"
"Nggak, aku yang mengundurkan diri."
"Kenapa, Kinan?"
"Aku nggak nyaman aja sama dia. Sejak tahu kalau aku pacar kamu, dia mulai mengintimidasi aku di kantor. Beda banget dengan penilaian mu, kamu bilang Nadia itu profesional. Dih. Mana? Profesional dari Hongkong!" cebik Kinanti yang seketika disahuti gelak tawa Daffin.
"Kamu sempat balikan lagi sama dia kan, Daffin?"
Sekonyong-konyong pertanyaan Kinanti menghentikan tawa pria itu.
"Dih. Balikan apanya? Tahu dari mana, kamu? Ngaco aja. Ngapain aku balikan sama nenek-nenek gambreng, kayak nggak ada yang lebih cakep dari kamu aja," sanggah Daffin.
"Tapi emang nggak ada yang lebih cakep dari kamu sih, Kinanti. Makanya aku tetap menjomblo sehabis kamu putusin, daripada aku turun level dapat yang lebih jelek," lanjut si tampan itu sambil mengerling.
__ADS_1
Kinanti meninju lengan Daffin karena digoda sedemikian rupa.
"Terus, kenapa Nadia ada di apartemen kamu sepagi itu kalau bukan karena menginap?"
"Cemburu kamu, Kinan?"
"Dih!" Kinanti membuang wajahnya ke arah jendela mobil di sisinya seraya bersedekap. Dan terkesiap kala bahunya ditepuk-tepuk lembut oleh tangan kiri Daffin, sementara tangan kanan pria itu tetap memegang kemudi.
"Dengerin baik-baik ya, beib. Nadia itu menuruni bakat masak emaknya, yaitu Bik Sri, pengasuh ku sejak bayi. Sejak Bik Sri meninggal, masakan Nadia lah yang paling cocok dengan lidah ku. Makanya dia sering masakin buat aku dan mengantarnya sendiri ke apartemen. Gitu doang. Nggak ada hal lain lagi kok." Daffin kemudian mendesah.
"Kinanti, cuma kamu satu-satunya wanita yang pernah memakai handuk dan bathrobe aku, juga pakaian ku. Dan cuma kamu yang aku izinkan meniduri ranjang ku. Bahkan Amber saja nggak pernah," ucap Daffin seraya merengkuh tangan kanan Kinanti dan menggenggamnya.
'Nadia pernah sekali, tapi itu bukan maunya aku. Nadia yang menarik aku ke ranjang itu pas aku lagi mabuk,' lanjut Daffin dalam hati dan dia amat menyesali peristiwa itu.
Ada kelegaan yang terasa menyirami hati Kinanti begitu mendengar penjelasan Daffin. Diam-diam wanita itu mengulum senyum kala merasakan genggaman Daffin yang semakin erat dan juga hangat. Keduanya sama-sama nyaman dengan genggaman itu. Dan Daffin hanya melepaskan genggamannya saat akan mengoper gigi, lalu kembali menggenggam tangan Kinanti lagi.
Jantung Kinanti tiba-tiba saja berdegub kencang ketika sebentar lagi mobil Daffin akan mencapai rumah Tantenya. Dan jantungnya terasa mencelos kala melihat sedan mewah Herlin berada di halaman rumah si Tante.
Kinanti menoleh kepada Daffin setelah pria itu selesai memarkir mobil dan mematikan mesin. Daffin tampak menyipitkan mata memandangi sedan mewah di depan mereka.
"Sepertinya, Tante ku lagi ada tamu," ucap Kinanti gugup.
"Om Herlin. Mantan bos ku"
"Mantan bos?"
Kinanti mengangguk.
"Asal kamu tahu, ****** yang kamu lihat waktu itu punya dia. Aku kerja sebagai asisten pribadinya dan dia selalu memasukkan ****** ke dalam list belanjanya. Dialah orang yang kamu tuduh sebagai sugar daddy nya ku."
Serta merta Daffin menahan lengan Kinanti yang sedang membuka pintu, hingga Kinanti menutup kembali pintu mobil yang sudah setengah dibukanya tadi.
"What?" tegurnya seraya menurunkan tatapannya pada cekalan Daffin di lengannya.
"Setelah menurunkan dan ninggalin kamu di jalan waktu itu, aku memutar balik mobil buat mencari kamu lagi, Kinanti. Tapi kamu keburu nggak ada di sana. Aku nyesel, Kinan. Maafin aku," ucap Daffin seraya menatap Kinanti lekat-lekat membiarkan wanita itu memandanginya lebih lama dan mencari sendiri kebenaran dalam kata-katanya melalui sorot mata Daffin yang dipenuhi kesungguhan. Dan Daffin pun tersenyum setelah Kinanti tersenyum.
"Ayo turun, aku kenalin ke Tante dan Om ku," ucap Kinanti seraya bersiap membuka pintu mobil.
"Wait. Kamu tunggu dulu di sini," cegah Daffin. Dan pria itupun lekas menuruni mobil, berlari kecil memutari bagian depan mobilnya kemudian membukakan pintu untuk Kinanti.
__ADS_1
"Hati-hati kepalanya, Kinanti," ujarnya seraya memayungi kepala Kinanti, mencegahnya dari benturan bagian atas mobilnya.
Kinanti sedikit terpincang saat berjalan dan dia membiarkan Daffin menggandengnya.
"Kinanti! Dari mana saja kamu selama ini, hah?!" bentak Asri begitu melihat sosok orang yang dicari-carinya beberapa hari ini.
"Kinan? Kamu kenapa?" tegur Herlin melihat Kinanti jalan terpincang sampai-sampai harus dipapah seseorang. Dan Herlin menyipitkan mata kala bersitatap dengan pria muda yang tengah memapah Kinanti.
Kinanti mematung di ambang pintu, tanpa sadar dia memegangi lengan Daffin dengan lebih erat.
Daffin merasakan cekalan Kinanti di lengannya, dia bisa merasakan getar ketakutan di sana. Pria itu pun melepaskan tangan Kinanti yang mencekal lengannya lalu menggenggamnya erat-erat, seakan sedang menjanjikan perlindungan yang tengah dibutuhkan Kinanti.
Melihat Kinanti bergandengan tangan dengan pria asing tepat di depan matanya, membuat Asri meradang. Terlebih sedang ada Herlin di sini.
"Kinan, sini masuk! Dan kamu, keluar. Tinggalkan Kinanti sekarang juga. Dia sudah punya calon suami," ketus Asri seraya memandangi Kinanti dan Daffin bergantian dengan sorot seperti ingin membunuh.
Mendengarnya, hati Daffin mendidih. Di genggamnya tangan Kinanti dengan lebih erat. Lalu dengan tegas dia berkata.
"Sayalah calon suami Kinanti, tak ada calon yang lain."
Asri terperangah mendengar keberanian pemuda di depannya. Lalu menoleh kepada Herlin yang geleng-geleng kepala seraya terkekeh. Kemudian Herlin menaikkan alis matanya kepada Asri, seakan sedang melempar bola panas kepadanya.
Terngiang di kepala Asri ancaman Herlin beberapa menit yang lalu, sebelum Kinanti datang bersama pemuda asing itu.
"Jika kau tak bisa membuat Kinanti Queensha menikahi ku, maka kembalikan utang satu miliar mu atau siap-siap saja keluarga mu jadi gelandangan karena terpaksa ku sita rumah mu."
Seketika kepala Asri berdenyut-denyut sakit. Bagaimana ini? Dalam situasi ini dia sangat membutuhkan suaminya, Dion. Tetapi yang terjadi, Dion baru saja diciduk polisi tadi pagi dan sekarang sedang dalam pemeriksaan dengan tuduhan kasus penggelapan uang.
"Kinanti, jelaskan padanya. Kau akan menikah dengan Herlin. Kemudian suruh dia pergi," ucap Asri dengan tatapan nyalang, antara marah, kesal, dan juga panik.
Akan tetapi, Kinanti justru saling toleh dengan pemuda kurang ajar itu sembari berbagi senyum kecil yang membuatnya muak. Dan berani-beraninya gadis itu malah menyahuti.
"Tan, aku akan menikah dengan Daffin, pria ini. Bukan dengan Om Herlin atau yang lainnya."
Asri tertawa miris atas segala kekacauan yang menyapa hidup nya belakangan ini.
"Jangan mimpi, kecuali kau sanggup membayar lunas utang Kinanti sebesar satu miliar hari ini juga!" tantangnya kepada Daffin.
Dan Asri terpingkal puas kala bersitatap dengan Kinanti yang seketika memucat.
__ADS_1