
Kinanti membuka mata dan tersentak melihat lengan Daffin berada di atas perutnya, sementara kepala pria itu tergolek di sisi bantalnya. Kinanti ingin mengomel dan membangunkannya, tetapi ditahannya niat itu sebab dengkuran halus Daffin membuat ruang perawatan VIP yang luas dan ditempatinya sendirian ini tak terasa sepi lagi baginya.
"Daffin? Bangun, sudah pagi," bisik Kinanti seraya menepuk-nepuk kecil pipi Daffin yang terlelap.
"Hmm?" Daffin akhirnya terbangun dan mengucek matanya.
"Eh. Sudah kamu udah bangun, Maemunah? Mau pipis? aku anterin, yuk?" ujar Daffin seraya tersenyum lembut.
Kinanti menggeleng dan ingin dibantu suster saja, tetapi Daffin sudah keburu menggendong tubuhnya duluan, seakan tubuh Kinanti seringan kapas di tangan pria itu.
Usai mengantar Kinanti ke kamar mandi untuk pipis dan gosok gigi, Daffin menyuapinya sarapan dan membujuk Kinanti agar menghabiskannya.
"Nah, gitu dong. Biar nggak mubazir makanannya. Kamu sendiri pernah ngomelin aku waktu nggak ngabisin makanan yang aku traktir waktu itu," oceh Daffin.
Kinanti tersenyum, teringat momen makan siang terakhirnya bersama Daffin di sebuah Mall yang mana pada hari itu juga hubungan mereka berakhir dengan tidak baik dan Daffin menurunkannya di jalan usai menuduhnya punya sugar daddy. Kinanti teramat marah dituduh seperti itu, tetapi sekarang hatinya luluh setelah menerima kebaikan demi kebaikan Daffin, pada saat Kinanti betul-betul membutuhkan perhatian dan bantuan sekarang ini.
"Oya. Tadi pagi Dokter visit, tapi kamu masih nyenyak tidur, aku larang saat suster mau bangunin kamu. Aku udah sampaikan kondisi kamu yang sempat pingsan semalam. Ternyata tekanan darah kamu kerendahanan, Maemunah. Kamu masih butuh bedrest. Berhubung aku nggak tau gimana buat hubungi keluarga kamu, jadi aku beliin aja tuh semua perlengkapan pribadi kamu. Mulai dari pakaian yang private dan juga baju ganti tiga stel," jelas Daffin sambil merapikan alat-alat makan.
Wajah Kinanti merah padam mendengarnya. Dia terlalu malu harus menjawab bagaimana.
"Tapi aku nggak bisa lama-lama di sini, Daffin. Aku nggak punya duit buat nambahin selisih biaya kamar ini. Asuransi kecelakaan aku kayaknya nggak cukup buat cover ini semua." Akhirnya hanya kata-kata itulah yang meluncur dari bibir Kinanti. Seharusnya Ikram yang membayarnya karena dia yang memilihkan kamar ini untuk Kinanti, tapi tidak jadi karena dia pikir Daffin lah yang akan mengambil alih tanggung jawab ini.
Daffin tergelak.
__ADS_1
"Kamu nggak usah pikirin soal itu, Kinan. "
Untuk sejenak kalimat Daffin itu sanggup menenangkan hati Kinanti.
Kinanti kira Daffin bersedia membayarinya, tapi gadis itu terkesiap kala Daffin kembali melanjutkan ucapannya.
"Buat apa kamu punya sugar daddy? Tinggal telepon dia aja minta bayarin, beres 'kan?"
Seketika Kinanti melotot dan memukuli lengan Daffin dengan teramat marah.
"Sugar daddy, pala lu peyang!" pekiknya sambil mencubiti lengan Daffin yang meringis kesakitan dan mengaduh minta ampun sambil tergelak ramai.
Dan tepat di saat itu, pintu ruang perawatan VIP terbuka. Amber, Aleta, dan Tita memasuki ruangan seraya menenteng bingkisan buah dan sebuket bunga. Ketiganya terbengong-bengong melihat pertengkaran Kinanti dan Daffin seperti anak kecil berebut permen. Tetapi dalam keributan itu, mereka justru menangkap sebuah kemesraan yang sanggup membuat ketiganya merasa iri.
Bagaimana pria itu selalu mengalah kepada dirinya dan selalu ada dalam setiap kesulitannya. Daffin yang konyol dan kerap membuat hari-harinya terasa ceria. Berbeda dengan sikap Ikram yang terasa lebih mengutamakan pekerjaan daripada Amber, alih-alih memberi kebebasan istrinya bepergian sendirian atau dengan teman, bahkan Ikram terlihat enggan jika diminta mengantar jemputnya ke bandara, tak seperti Daffin yang selalu siap sedia kapan saja untuknya. Entah kenapa, diam-diam terselip kerinduan dalam hati Amber kala teringat kembali momen kebersamaannya dengan Daffin.
###########
Asri blingsatan karena ponsel Kinanti tidak aktif selama tiga hari ini sehingga tak bisa dihubungi. Wanita yang tetap langsing di usianya yang sudah berkepala lima itupun memaksakan senyumnya kepada Herlin.
"Maaf, Herlin. Aku tak bisa menghubunginya. Mungkin dia sedang menginap di rumah temannya. Sejak kemarin belum pulang dan tak memberi kabar apapun. Aku justru baru tahu darimu kalau dia sudah tak bekerja lagi sebagai asisten mu," desahnya gelisah. Padahal dia berjanji akan membawa Kinanti menemui Herlin sekarang ini.
'Bisa-bisanya Kinanti benar-benar memilih membayar pinalty sebesar itu daripada menikahi Herlin!' batin Asri merasa geram.
__ADS_1
"Kau bilang, Kinanti bakal terpojok dan pasti mau menikahiku jika ku tekan dengan pinalty itu. Tapi nyatanya, dia benar-benar pilih membayar pinalty daripada ku nikahi. Tahu begitu, aku akan menahannya tetap bekerja bersama ku sampai aku menjalankan sendiri rencanaku," protes Herlin.
Rencana yang Herlin maksud sangatlah jahat. Herlin tahu saat ini Dion sedang diincar polisi karena laporan rekan bisnis yang merasa dirugikan olehnya. Setelah Dion berada dalam sel penjara nanti, maka Dion tak akan bisa lagi menjaga keponakan kesayangannya itu. Setelah itu Herlin akan memaksa Kinanti menikahinya dengan cara apapun, menidurinya lebih dulu bila perlu. Tentu saja rencananya itu akan lebih mudah dilakukan jika Kinanti tetap bekerja dengannya. Tetapi, Asri justru mengacaukan rencana yang sedang di aturnya lewat usulannya yang keliru. Sekarang Kinanti telanjur kabur dan menjauh dari Herlin.
"Kelemahan Kinanti itu uang, Herlin. Harusnya dia takluk menerima ancaman pinalty darimu," sahut Asri tak habis pikir.
Herlin terbahak-bahak.
"Sepertinya kau memang tak mengenal seperti apa keponakan mu itu, Asri. Jika kelemahan Kinanti adalah uang, buat apa dia menahan dirinya berlama-lama tinggal bersama mu yang suka memerasnya? Bisa saja dia kabur sejauh-jauhnya. Toh dia sanggup menghidupi dirinya sendiri. Kau pikir Kinanti seculas dirimu yang cuma memikirkan uang di kepalanya? Dia hanya berhati baik dan benar-benar menyayangimu dan keluargamu, makanya dia tetap bertahan bersama kalian sampai sejauh ini."
Sekonyong-konyong Asri terdiam mendengarnya. Kata-kata Herlin mulai terasa ada benarnya. Kinanti tetap bertahan tinggal bersamanya, karena gadis itu butuh kasih sayang dan kesepian. Dan memang Asri lah satu-satunya keluarga yang dimiliki Kinanti saat ini.
"Maaf, Asri. Aku sudah habis kesabaran. Jika kau tak bisa membuat Kinanti menikahi ku, maka kau harus mengembalikan satu miliar yang kau pinjam dariku yang katamu untuk menambal bisnis suamimu itu. Ingat, bulan depan sudah jatuh tempo. Jika kau tak bisa mengembalikannya, terpaksa aku akan menyita aset apapun yang kau punya, rumah mu misalnya."
"Herlin..., ku mohon. Tega sekali kau bicara begitu padaku? Aku ini istrinya Dion, teman dekat mu. Lupakah bagaimana Dion dulu sering menyelamatkan nyawamu? Dia bahkan sudah seperti bodyguard mu saja ketimbang teman. Apalah artinya uang dibanding persahabatan kalian?"
Lagi-lagi Herlin terbahak.
"Bahkan kau sendiri tega menukar kehormatan keponakan kandung mu kepada ku demi uang, Asri. Bah! Bisa-bisanya kau berkata begitu sekarang. Tentu saja uang sangat berarti dibandingkan seorang teman yang pernah mengacungkan pistol nya ke kepalaku," sahutnya sambil geleng-geleng kepala teringat bagaimana murkanya Dion kala mengetahui Herlin nyaris menculik Kinanti seusai acara gala dinner, Dion menghadangnya di jalan untuk menjemput Kinanti.
Tangan Asri terkepal. Marah karena Herlin telah memukulnya dengan kebenaran demi kebenaran. Juga mendesaknya dengan ancaman akan menyita rumahnya segala. Padahal, Asri tak punya simpanan uang saat ini. Dan lagi, uang satu miliar yang dipinjamnya dari Herlin itu tak benar-benar dia berikan kepada Dion melainkan dia investasikan ke dalam sebuah bisnis yang menjanjikan bunga sangat besar. Dia pikir investasi itu bakal membuatnya panen uang berlipat-lipat dalam waktu singkat, niatnya dia akan menyerahkannya kepada Dion setelah uang itu berlipat ganda. Namun apesnya, dia justru terjebak investasi bodong, hingga sampai sekarang belum jelas bagaimana nasib investasi satu miliarnya itu. Bahkan kasus investai bodong yang juga melibatkan uangnya itu kini sedang ramai diusut polisi dan diliput berbagai media nasional.
Tak ada jalan lain, Asri bertekad untuk menekan Kinanti agar segera mengembalikan utang satu miliarnya itu. Jika Kinanti tak sanggup, maka dia harus menebusnya dengan menikahi Herlin!
__ADS_1