
Tak terasa sudah sebulan ini Kinanti menjalani profesinya sebagai asisten pribadi Herlin. Pria itu memang tetaplah Herlin yang mata keranjang dan penyuka daun muda. Tetapi setidaknya Herlin tak kurang ajar padanya dan menjaga profesionalitas. Kinanti tak luput dari kesalahan pada saat awal-awal bekerja dengannya dulu. Tapi Herlin langsung menegurnya. Herlin memberitahu kesalahan Kinanti dengan jelas. Mengulangi intruksinya dengan tegas. Membuat Kinanti cepat belajar dan dapat menghindari kesalahan yang sama.
"Sepertinya si bos jarang mengomel sejak kamu kerja di sini," komentar Ros melihat perubahan sikap bosnya.
Ros adalah private personal assistant yang bertugas membantu Herlin mengurusi hal-hal yang bersifat personal sama dengan posisi Kinanti. Namun berhubung Lydia sedang bedrest pasca operasi usus buntu, maka Herlin meminta Kinanti menggantikan posisi Lydia sementara waktu. Sebab Kinanti sempat kerja tandem dengan personal assistant eksekutifnya itu.
"Memangnya Om Herlin suka mengomel?" Kinanti malah bertanya balik.
Ros cuma menjawab dengan senyuman. Dia takut salah bicara. Menurutnya Herlin tak terlalu membutuhkan tambahan asisten pribadi. Tapi setelah melihat paras Kinanti yang sangat memenuhi kriteria bosnya, Ros mengerti kenapa si bos tiba-tiba harus menambah private personal assistant baru. Biar urusannya yang bersifat pribadi dapat di urus oleh Kinanti yang cantik ini sehari-hari.
Tadinya Ros sempat iri mendengar gaji Kinanti yang jauh lebih besar darinya. Tapi terdiam setelah mengetahui Kinanti harus menandatangani syarat tertentu disertai ancaman pinalty, padahal Ros tak pernah dikenai syarat semacam itu. Diam-diam Ros curiga itu hanyalah akal-akalan si bos untuk menjerat Kinanti. Sehingga rasa iri tersingkir dari hatinya. Berganti kasihan karena Kinanti tampak tak menyadari adanya udang di balik batu dalam proses penerimaan dirinya sebagai pegawai Herlin di sini.
"Jadwal meeting ku hari ini sudah beres semua, Kinan?" tanya Herlin sepulang meeting di kawasan Jakarta Timur.
"Masih ada satu lagi dengan Pak Manuel dari PT Pelita Indojaya, nanti malam jam tujuh di hotel Mulia"
"Hmm. Kalau begitu kita makan siang saja dulu. Baru balik kantor. Kau mau makan apa, Kinan?"
"Apa saja, Om."
Bibir Herlin melengkung setengah tersenyum.
"Kalau begitu aku ingin sekalian mengajak mu jalan-jalan dulu, refreshing."
Kinanti ingin berkata tidak tapi Herlin sudah keburu menekan pedal gasnya. Dan sedan mewah sang bos sudah melesat kencang di jalur tol. Herlin sengaja tak pakai sopir pribadi jika sedang meeting di luar bersama Kinanti.
Sejam kemudian mereka berada di Bogor. Herlin membawa Kinanti ke restoran yang kental dengan suasana alamnya yang segar alami.
"Hati-hati, Kinan." Herlin buru-buru memegangi lengan Kinanti kala gadis itu nyaris tersandung saat menaiki undakan.
"Eh. Terima kasih, Om." Kinanti melepaskan lengannya dari pegangan Herlin.
__ADS_1
Herlin menarik kursi untuk Kinanti. Setelah memastikan Kinanti duduk, Herlin baru bergegas menarik kursinya sendiri di depan Kinanti.
"Pesanlah, Kinan,"
Kinanti mengangguk dan membaca buku menu. Dia sudah memahami makanan seperti apa yang disukai atau tidak disukai bosnya. Lalu menuliskan pesanan untuk mereka.
Herlin tersenyum memerhatikan wajah Kinanti yang terlihat serius. Gadis itu masih saja menganggap dirinya sedang bekerja, melayani makan siang si bos sebagai bagian dari tugasnya.
Herlin merogoh bungkus rokok di sakunya lalu menyalakan sebatang. Lelaki itu asik mengisap dan mengepulkan asap tanpa memalingkan tatapannya dari wajah Kinanti yang memesonanya.
Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata sedang mengawasi meja mereka dengan tangan terkepal.
'Kurang ajar. Kamu ninggalin aku buat cari sugar daddy, Kinan?' pikir Daffin begitu sengit.
Harga diri Daffin bagai anjlok dari langit ketujuh melihat Kinanti tampak begitu melayani makan siang si Om-Om. Mengambilkan nasi dan lauk pauk untuknya. Sedangkan Kinanti tak pernah bersikap seperti itu padanya.
"Jadi bagaimana, Mas Daffin? Adakah yang perlu kami revisi lagi?"
Daffin melonggarkan dasi yang sebenarnya sudah dilonggarkan, tapi masih saja serasa mencekik lehernya.
"Maaf, sampai di mana kita tadi?" desahnya. Kemudian menarik napas mengumpulkan kembali konsentrasi yang sempat acak-acakan sejak melihat kehadiran Kinanti yang sudah lama tak dilihatnya lagi.
Kurang ajar. Kinanti tambah cantik saja. Lebih kurang ajar lagi karena Kinanti memanfaatkan kecantikannya itu untuk menggaet sugar daddy. Jangan-jangan betul kata Nadia, Kinanti cuma mau mengincar uangnya. Kinanti memang tampak sulit didekati di awal- awal membuat Daffin begitu penasaran ingin meraihnya. Saat sudah di tangan, tiba-tiba saja Kinanti memutuskannya tanpa sebab. Mungkin, karena Kinanti sudah mendapat tangkapan yang lebih besar untuk menyelesaikan permasalahan keuangannya. Cih, padahal kalau Kinanti bilang sejak awal semua itu hanya tentang uang, Daffin pasti akan langsung memberikan. Uang bukanlah hal besar baginya.
'Ck. Kamu belum tahu aja siapa aku, Kinan,' ketus Daffin dalam hatinya.
Daffin Kalandra, alias Daffin adalah anak semata wayang dari Almarhum Wirawan Utomo, seorang pebisnis properti yang meninggal di puncak kesuksesannya. Daffin mewarisi aset sang Ayah bernilai ratusan miliaran rupiah di usianya yang masih sangat belia, di antaranya berupa gedung-gedung perkantoran, perumahan, ruko-ruko, dan hotel-hotel kecil yang tersebar di beberapa kawasan strategis ibukota dan sekitarnya. Sementara waktu sempat dikelola Opa Utomo yang juga seorang pengusaha. Tapi sekarang, Daffin sudah dipercaya untuk mengelola sendiri asetnya dibawah pengawasan sang Kakek.
Tapi tak ada teman yang benar-benar tahu latar belakang kekayaannya, sebab Daffin sengaja menyembunyikannya. Daffin lebih suka tampil sederhana agar bisa berbaur nyaman dengan teman-teman sekolah serta teman kuliahnya. Lebih suka ikut nongkrong di warung kopi murahan pinggir jalan sambil main gitar dan sekali-kali merokok. Dia tak suka naik turun mobil, meski punya beberapa di garasi rumahnya yang luas. Daffin lebih suka naik motor saja, itupun motor matic biasa seperti yang dimiliki para remaja pada umumnya. Namun sejak jatuh cinta dengan Amber, Daffin mulai beralih ke mobil karena Amber tak suka diantar jemput dengan motor.
Daffin kembali teringat omelan Nadia padanya.
__ADS_1
"Kamu tahu tidak, Kinanti itu punya banyak utang! aku tahu ini dari orang-orang kantor. Soal utang bank nya yang nggak selesai-selesai itu sudah jadi rahasia umum rupanya. Dan kamu..., tentu saja bakal jadi santapan empuknya. Dia cuma mengincar duit mu!" oceh Nadia pada hari itu, sepulangnya Kinanti dari apartemen Daffin setelah Kinanti menginap semalam.
"Aku tahu!"
"Kamu tahu? Tapi kamu tetap memacarinya, bahkan mau menikahinya segala? Sadarlah, boy!" Kemudian Nadia betul-betul menjewer Daffin dalam arti yang sebenarnya.
"Buseeet. Galak beut kamu jadi orang? Berbakat kamu jadi ibu tiri!" keluh Daffin sambil mengusapi kupingnya yang sakit. Cuma Nadia satu-satunya orang yang bisa menjewer Daffin seperti itu.
Puteri semata wayang Bibi nya itu sudah seperti Kakaknya sendiri. Terlebih usia Nadia memang tujuh tahun lebih tua darinya. Salah Daffin sendiri sudah merusak status 'kakak-adik' mereka dengan memacarinya.
Kala itu Daffin sedang mabuk usai diputuskan oleh Amber. Di waktu yang sama, Nadia datang ke apartemennya mengantar lauk-pauk kesukaannya seperti biasa. Dan di matanya saat itu, Nadia menjelma sebagai Amber lalu Daffin menciuminya dengan brutal.
"I'm sorry, Nadia...," sesal Daffin dari balik selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
Nadia tersenyum.
"Maaf aja nggak cukup."
"So?"
"Ayo pacaran," ucap Nadia mengejutkan.
"Oke." Daffin menyahut santai. Pikirnya, mungkin dengan memacari wanita lain bisa membantunya melupakan Amber yang waktu itu baru saja terbang ke Amerika untuk melanjutkan study pasca sarjana.
Nadia mengerutkan kening.
"Serius, Daffin?"
"Coba aja dulu."
Tapi Daffin tertawa kecut esok harinya, saat melihat CCTV yang merekam aktivitas mereka semalam. Sewaktu Daffin mabuk, Nadia bisa saja mendorong, menampar, memukul, menjewer, atau apapun untuk mengelak dari ciuman dan cumbuannya. Tetapi yang terjadi, Nadia justru menikmati ciuman demi ciuman Daffin, bahkan menariknya ke atas ranjang dan menyelesaikan segalanya di sana. Daffin pun bersumpah jika itu menjadi percintaan mereka yang pertama dan terakhir.
__ADS_1