Fake Couple

Fake Couple
Tercengang.


__ADS_3

Daffin meringis, menyesali mulut besarnya yang keceplosan soal cewek.


"Nah, nggak berani kan, kamu?" ketus Kinanti sambil mengancingkan kembali piyamanya.


Daffin menelan ludah sambil mencuri tatap pada gundukan gunung kembar Kinanti yang masih ingin dibelainya.


"Apa kamu, lihat-lihat? Dasar, mesum!"


Kinanti beranjak dari ranjang tetapi dengan cepat Daffin menahan lengan wanita itu dan menariknya hingga Kinanti terduduk di pangkuannya.


"Apaan sih, Daffin!" Kinanti meronta. Bayangan Daffin yang pernah bercinta dengan perempuan selain dirinya, secara tiba-tiba menggigit egonya sebagai calon istri Daffin.


"Maafin aku, Kinan. Itu kan masa lalu, nggak bisa aku apa-apain lagi karena udah lewat. Tapi aku bisa membenahi diri aku di masa kini dan masa depan. I'm yours, Kinan. Mulai sekarang, aku milik mu dan kamu milik ku. Oke?" bisik Daffin seraya memeluk Kinanti erat-erat, semakin kuat Kinanti meronta minta dilepaskan sekuat itu pula Daffin mengencangkan pelukannya. Hingga Kinanti akhirnya lelah dan terdiam.


"Maafin aku ya, Kinan?" bisik Daffin lagi. Entah kenapa, kediaman wanita ini terasa menggelisahkan dirinya. Perasaannya tak nyaman jika tak diacuhkan Kinanti seperti ini.


"Kinan? Maafin aku dong?" rayunya seraya mengecupi bahu Kinanti.


"Ngomong dong, Maemunah?" rengeknya sambil mengetatkan pelukannya. Lalu meletakkan keningnya di pundak Kinanti yang tetap saja terdiam seribu bahasa.


Kinanti menghela napas dalam-dalam, menenangkan gejolak membingungkan dalam hatinya. Jantungnya sejak tadi berdebar hebat, sulit ditenangkan hanya karena rengekan dan kecupan-kecupan kecil Daffin di bahunya. Dan entah bagaimana perasaannya jadi menghangat saat merasakan eratnya pelukan lelaki itu kepadanya.


"Kalau aku mandul, emangnya kamu nggak sedih, Kinan? Emangnya ntar kamu nggak pengen hamil, melahirkan, terus punya bayi yang lucu, imut, menggemaskan kayak aku?" rengek Daffin lagi.


Sekonyong-konyong tawa Kinanti meledak. Ya, Tuhan! Sempat-sempatnya ini cowok malah narsis.


Melihat Kinanti tertawa, cengiran lebar pun menghiasai wajah tampan Daffin yang sejak tadi manyun.


"Jadi, aku udah dimaafin? kamu nggak jadi nyumpahin aku mandul 'kan, Kinan?" Daffin menatap Kinanti dengan matanya yang melebar, seperti bayi yang minta digendong.


Di mata Kinanti, Daffin menggemaskan dengan ekspresinya yang sepolos ini. Serta merta Kinanti mendaratkan kecupannya kening Daffin, mengusap rambut pria itu dan mencubit hidung Daffin yang mancung sempurna.


"Ada syaratnya," ucap Kinanti sambil mengalungkan kedua lengannya di leher Daffin.


"Just say it, baby." Daffin mengedipkan mata.

__ADS_1


"Jangan sampai aku lihat muka orang yang pernah kamu *****-***** dan kamu tidurin itu hadir di acara pernikahan kita besok. Siapapun dia. Kalau kamu udah telanjur mengundangnya, bagaimanapun caranya, usir! Suruh pergi, daripada kamu kena sumpah mandul?"


Daffin ternganga mendengarnya.


'Kinanti benar-benar ya? Kalau sudah marah suka aneh-aneh aja! Masa tamu undangan mau diusir?'


Kediaman Daffin membuat Kinanti menghela napas panjang. Dalam hatinya diam-diam mendongkol, mengira Daffin sedang memikirkan cara mengusir Amber yang telanjur masuk dalam list tamu undangan.


'Jadi. kalian udah pernah tidur bareng? Pantas saja, kamu sangat sulit melupakan Amber karena hubungan kalian sudah sejauh itu,' pikir Kinanti sengit.


"Nggak sanggup?" tantang Kinanti seraya bersedekap sinis memandangi Daffin yang masih terdiam.


"Kalau aku sanggupi, sumpah mandul kamu nggak jadi berlaku 'kan? Dan, please! Jangan pernah kamu ucapin sumpah macam ginian lagi?"


Kinanti mengangguk.


Daffin juga mengangguk.


"Oke. Deal."


"Jangan ada satu pun yang lolos masuk," ketus Kinanti.


"Iya-iya..., Maemunah. Nah, sekarang kamu senyum dong?" Daffin mengecup bibir Kinanti yang sejak tadi manyun, lalu mencium nya dengan gemas. Tangannya meraba-raba dan menyusup masuk ke dalam piyama Kinanti lagi, ingin menggapai gunung kembar Kinanti yang kenyal menggairahkan. Dan Daffin terpingkal-pingkal karena Kinanti dengan cepat menggeplak tangannya yang mulai nakal, lalu menggelitiki pinggangnya hingga Daffin merasa sangat geli.


###########


"Re, udah beres kan yang aku suruh semalam?"


Re yang tak lain adalah Rey mengangguk cepat.


"Beres, Bos. Saya sudah menghubungi kelima nama undangan yang telanjur Bos undang itu, agar tak datang. Saya juga sudah menyiapkan security khusus untuk menjaga agar kelima orang itu jangan sampai memasuki area resepsi."


"Bagus, Rey. Awasi terus. Jangan kasih kendor." Daffin menepuk-nepuk pundak Rey.


'Soalnya masa depan aku taruhannya, jangan sampai mandul gara-gara sumpahnya, Maemunah' pikirnya ngeri-ngeri sedap.

__ADS_1


"Tapi, kenapa Bu Nadia juga nggak boleh datang, Bos? Bagaimana kalau Tuan Kalandra nanti menanyakan keberadaan Bu Nadia?"


"Itu urusan aku, yang penting kamu jagain si Nadia jangan sampai kelolosan. Bilang ke dia, kali ini aku bakal musuhin dia seumur hidup kalau dia nekat masuk ke area nikahan aku apapun alasannya"


"Tapi, memutuskan silaturahmi itu dosa loh, Bos."


"Iya-iya, aku tahu! Pokoknya, lakukan apapun agar Nadia jangan sampai masuk ke area nikahan ku. Titik!"


Rey mengerutkan kening, padahal kemarin Daffin dan Nadia sudah saling memaafkan di hadapan Tuan Kalandra, kenapa sekarang tiba-tiba bosnya ini marah lagi kepada orang yang sudah seperti Kakaknya sendiri itu? Selain itu, Daffin jadi gampang uring-uringan jelang pernikahannya yang kurang beberapa jam lagi, padahal semuanya sudah sangat beres, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan sejak kapan bosnya itu takut ketemu mantan? Sampai-sampai mencegahnya datang, padahal dia sendiri yang mengundang.


"Mungkin si bos baru kepikiran ngapain juga mengundang mantan yang cuma dipacarinya seumur jagung. Dan Bu Nadia kan mantan nya juga," komentar Yania pada Rey saat keduanya sedang berbalas chat. Yania juga seorang personal asisten Daffin, yang diberi tugas khusus untuk melayani Kinanti.


"Rey, aku udah kelihatan rapi?"


"Iya, sudah cakep, Bos."


"Kapan aku pernah jelek sih, Rey? aku tanya udah kelihatan rapi apa belum, bukan tanya udah cakep apa belum."


Rey cuma nyengir kuda kena semprot omelan Daffin.


"Rey, telepon Yaya, Kinan udah siap belum?"


Yaya adalah panggilan khusus dari Daffin untuk Yania. Para asisten sudah tak heran jika Daffin asal ceplos memanggil nama orang, bahkan calon istrinya sendiri saja dipanggil, Maemunah.


"Katanya sudah, Bos."


"Anjiiir, deg-degan banget aku, Re." Daffin jadi curcol. Rey memang asisten pribadinya, tapi terkadang Daffin memperlakukannya seperti teman sendiri.


"Wajar kalau deg-degan bos, soalnya bos mau nikahin cewek yang cakepnya kayak bidadari. Mbak Kinanti ini memang best of the best dari semua cewek yang pernah bos pacarin. Sudah cantik, ramah, baik banget pula orangnya. No make up on aja Mbak Kinan udah cakep apalagi make up. Bos beruntung banget," cerocos Rey penuh pujian, sebab fakta yang dia perhatikan memang demikian. Tak heran kalau bosnya memutuskan langsung menikahinya saja padahal belum lama jadian, biar tidak ditikung orang seperti nasib cinta pertamanya dulu dengan Amber.


"Ceritanya kamu kagum sama calon istri ku, heh?"


Rey seketika mengatupkan bibir kala menyadari kilatan tak suka tergambar jelas dalam raut wajah Daffin. Lalu dengan cepat si asisten pribadi itu menggeleng.


"Ingat. Cuma aku yang boleh ngomongin Kinanti Queensha kayak gitu. Jangan berani-berani nya kamu bayangin Kinanti dalam kepala mu, she's mine," omel Daffin sambil melangkahkan kaki menuju ruang make up, tak sabar ingin menemui Kinanti yang katanya sudah siap diajak menghadap penghulu.

__ADS_1


Dan lelaki itu tercengang begitu menatap sosok yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.


"Ki... Kinanti? kamu... sangat cantik!"


__ADS_2