
Kinanti berdecih.
"Dih. Siapa juga yang tebar pesona?"
"Ya situlah, siapa lagi? Ngapain coba senyum-senyum ke Dedi Cs? Dah tahu mereka itu kumpulan playboy sejak SMA hanya gara-gara populer sebagai anak basket, padahal aku yang paling sering cetak skor tiap tandingan, bukan mereka."
Kinanti mengerutkan kening karena Daffin tiba-tiba mengomel tidak jelas.
"Terus, kamu sekarang nyesel kenapa nggak jadi playboy juga kayak mereka? Salah sendiri situ sibuk bucin sama Amber, kayak nggak ada cewek lain aja yang bisa kamu pacarin selain dia. Syukurin. Nyesel emang datang belakangan sih ya? Kalau duluan namanya pendaftaran, bukan penyesalan," sindir Kinanti sambil mengibaskan tangan, melepaskan diri dari tangan Daffin yang sejak tadi menggandengnya.
"Dih, ngapa tiba-tiba Amber dibawa-bawa sih?"
"Loh, emangnya kamu punya mantan di SMA selain Amber?"
Daffin membuang napas lelahnya. Bertengkar mulut dengan perempuan memang menyebalkan! Kenapa pula Kinanti tiba-tiba membahas mantan?
"Bos...! Bos!"
Kinanti dan Daffin menoleh kepada Rey yang terengah-engah di hadapan mereka.
"Apaan sih, Rey? kamu kayak habis dikejar doggy aja, lari-lari kayak gini. Untung kamu nggak kecemplung danau. Tapi masih mending kecemplung danau kita ini bersih, Rey. Ketimbang kecemplung parit, kayak teman SMA ku dulu ada yang pernah dikejar doggy terus kecebur parit. Mana air paritnya hitam bau gitu, Rey, apes banget nggak tuh?" oceh Daffin sambil curi-curi tatap kepada Kinanti yang mendelik dongkol karena Daffin mengungkit kejadian memalukan itu.
Rey geleng-geleng kepala.
"Bos,... ini lebih gawat daripada dikejar doggy. Bos!"
"Terus dikejar apaan kamu? Gorila?" Daffin terkekeh sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana, merasa lucu melihat wajah Rey yang kusut banget.
"Bos, sebentar lagi,... Mbak Nadia datang, Bos. Tuan Kalandra sendiri yang menelepon, menyuruhnya datang. Security kita nggak akan berani mengusir Mbak Nadia jika Tuan Kalandra yang menurunkan perintah agar Mbak Nadia harus masuk."
Kali ini gantian wajah Daffin yang memucat.
"Pokoknya, terserah gimana caranya kamu..., yang penting jangan biarin dia memasuki area nikahan aku ini. Cepat! Sana, gerak!" omelnya galak.
"S... siap, Bos!"
__ADS_1
Daffin membuang napas dongkol, lalu tak sengaja beradu tatap dengan Kinanti yang berkedip-kedip menatapnya sambil melipat kedua tangannya di depan perut.
"Jadi, kamu udah pernah tidur sama Nadia. Iya, kan? Makanya kamu melarang Nadia memasuki area ini karena sumpah mandul itu?"
Ucapan Kinanti memang lirih, tapi sanggup menyilet perasaan Daffin dengan rasa sedih.
"So... sorry, Kinan. A... aku... nggak bisa mengubah masa lalu yang udah telanjur terjadi. Maafin aku, please...?" ujar Daffin tak kalah lirih. Tatapannya menyorot penuh permohonan kepada Kinanti yang mematung di depannya.
Kinanti tahu, ucapan Daffin itu benar. Siapa juga yang bisa mengubah masa lalu? Tapi, kenapa perasaannya jadi sesedih ini? Diam-diam ada rasa menusuk di hatinya. Tapi Kinanti tertawa, menutupi rasa sakit itu.
"Ya sudah, nggak apa-apa," jawabnya sambil mengangguk mengerti.
Kemudian Kinanti mendesah dan memutar tubuhnya membelakangi Daffin, menghadap danau buatan sambil memegangi dadanya yang digempur nyeri. Bukankah dia juga pernah hampir melakukannya dengan Ikram? Jika saja Ayah Ikram tak memergoki mereka hari itu, mungkin saja Kinanti sudah tak perawan hari ini. Padahal Ikram ternyata bukan jodohnya, Ikram malah menikahi Amber, teman dekat Kinanti sendiri. Memikirkan semua itu membuat Kinanti terisak pelan.
"Ya ampun, Kinan..., please? I'm sorry, Kinan. Maaf..., aku bikin kamu nangis di hari pertama kamu jadi istri ku. Please, Kinan. Maafin aku."
Sekonyong-konyong Daffin memeluk Kinanti dari belakang dengan begitu erat. Pria itu tak sanggup jika harus menatap kesedihan wanita sebaik Kinanti. Daffin sungguh malu dan merasa bersalah.
"Ampuni aku ya, Kinan?"
Kinanti mengangguk-angguk, tetapi tangisnya masih belum berhenti.
Daffin memutar tubuh Kinanti agar menghadapnya.
"Kinan, boleh aku jelasin?" bisiknya seraya menghapus air mata yang membanjiri pipi wanita yang sudah jadi istrinya ini.
"Aku, pernah tidur sekali sama Nadia. Saat aku lagi mabuk sehabis putus dari Amber. Di mata ku malam itu, Nadia adalah Amber yang sangat aku cintai, tapi ternyata Amber malah bertunangan dengan teman setongkrongan ku sendiri, yaitu Ikram. Aku nggak bisa berpikir jernih hari itu, Kinan. Kami melakukannya tanpa cinta. Bahkan aku nggak betul-betul ingat seperti apa rasanya percintaan malam itu," jelas Daffin seraya memandangi Kinanti yang tetap saja menunduk, tetapi tangisnya sudah berhenti.
"Nggak apa-apa, Daffin. Toh, pernikahan kita ini juga tanpa cinta." Lalu Kinanti tertawa seraya membuang tatapannya ke danau, menolak berkontak mata dengan Daffin.
Entah kenapa, kata-kata Kinanti tadi menggores luka dalam dada Daffin. Tentang pernikahan mereka yang tanpa cinta. Halah. Cinta? Apa itu penting? Bukankah yang terpenting mereka sama-sama nyaman? Daffin mencintai Amber selama ini, juga Kinanti yang mencintai Ikram selama ini. Dan apa yang mereka dapat dari cinta itu selain akhir kisah yang sakit? Tetapi bersama Kinanti yang tidak dicintainya, Daffin justru merasa gembira dan bahagia.
"I don't care about love, Kinan. Selama kita tetap nyaman bersama menjalani pernikahan ini." Daffin memeluk Kinanti erat-erat.
Kinanti memejamkan mata, menikmati pelukan Daffin yang kokoh dan juga hangat. Ya, pelukan seperti inilah yang dia butuhkan. Persetan dengan cinta yang hanya menyakitinya.
__ADS_1
Keduanya berpelukan di pinggir danau. Tampak mesra dan menyentuh perasaan para tamu undangan yang melihatnya dari kejauhan. Pengantin itu tak tampak seperti pasangan yang sedang galau, justru sebaliknya, terlihat romantis dan sangat manis. Seakan keduanya memang benar disatukan cinta. Momen itu pun dengan cepat diabadikan oleh para fotografer dadakan, alias teman-teman mereka yang melihatnya.
"Ih, so sweet banget sih mereka berdua?"
"Cocok banget ya mereka ternyata, cantik dan ganteng."
"Perfect couple."
"Daffin romantis banget!"
Begitulah komentar teman-teman yang melihatnya. Membuat sesuatu dalam dada Amber bergolak panas. Dia tahu, Daffin memang pria yang seromantis itu sejak dulu. Hanya saja, Amber kerap menolak keromantisannya.
"Apaan sih kamu, Fin? Norak, ah!" bentak Amber saat tiba-tiba Daffin menghadang langkahnya di sebuah belokan kelas sepulang sekolah.
"Happy valentine!" Daffin mengulurkan sebuket cokelat dengan tersenyum manis.
Amber buru-buru menepisnya.
"Terima aja dulu, Amber. Jangan kasar gitu ah, nolaknya," bisik Kinanti di sebelahnya.
"Ya udah, sini!" ketus Amber.
Daffin mengulurkannya dan Amber buru-buru mengambil.
"Thank's, Daffin. Nah, ini sekarang udah jadi punya aku 'kan? So, boleh dong kalau mau aku kasihin ke siapa aja?" Lalu Amber mengulurkan buket colekat itu kepada Kinanti.
"Nih, Kinan. Kamu kan doyan banget makan cokelat! aku lagi diet."
"E... eh, kok?" Kinanti berkedip-kedip bingung menatap Amber dan Daffin bergantian. Sorot tak enak hati kepada Daffin terpantul jelas dalam mata teman sebangku nya itu.
"Ambil aja buat kamu, Kinan. Sekalian ambil orang yang ngasih ini juga boleh," cengir Amber sambil buru-buru kabur meninggalkan Kinanti dan Daffin.
"Amber!" panggil Kinanti di belakangnya.
Amber menoleh dan tertawa puas, tanpa menghentikan laju langkahnya yang semakin menjauhi Kinanti dan Daffin.
__ADS_1
"Semoga lu berdua jodoh!" ledeknya sambil terkikik geli.
Dan ternyata, doa Amber hari itu benar-benar terkabul hari ini.