Fake Couple

Fake Couple
Bekerja.


__ADS_3

"Oh, bagus! Jadi selama ini diam-diam kau mengongkosi Kinanti, hah? JAWAB!" cecar Asri.


Dion memijiti kepalanya yang mendadak pening. Bakal panjang kalau berurusan uang dengan istrinya.


Asri berkacak pinggang. Memelototi Kinanti dengan tajam.


"Tahu diri kenapa sih, Kinan? Bukannya balas budi ganti memberi, ini malah minta-minta. Memangnya matamu buta? Lihat itu Gilang dan Vandi, anak-anak Tante, kedua sepupumu yang masih perlu sekolah. Masih butuh banyak biaya. Harusnya kau gantian membantu, bukannya malah minta-mintain uang Om Dion di belakang Tante!"


Kinanti tambah pusing. Belum juga uang tersebut didapat tapi sudah kena damprat.


Asri jenis orang yang sangat sulit diberi pengertian dan hanya ingin mendengar apa yang ingin dia dengar. Sebagai suami yang sudah menikahinya bertahun-tahun, Dion tahu hal itu. Namun dia tetap pasang badan demi melindungi Kinanti.


"Ma, dengar dulu. Kinanti jobless sekarang..." Belum selesai Dion berbicara, Asri sudah naik darah.


"APA? Jadi kamu pengangguran sekarang, Kinan? Tapi dengan sombongnya kamu menolak tawaran kerja dari Herlin yang gajinya besar itu? Dasar tak tahu di untung!"


Dion menghela napas mengumpulkan kesabaran.


"Ma, sudahlah. Jangan menyalah-nyalahkan Kinanti terus. Lagipula Kinanti sampai kehabisan uang bukan karena dia boros atau apa tapi karena Mama membebaninya utang berbunga besar sampai satu miliar. Jangan ngawur, Ma!" tegurnya sambil geleng-geleng kepala.


Asri semakin mendidih. Suaminya justru membela orang yang sedang diserangnya. Asri merasa jengkel seperti dikhianati.


"Ngawur gimana? Aku punya catatannya kok! Aku sudah memberinya pinjaman, kewajiban dia membayarnya dong. Apalagi Kinanti sendiri yang memohon-mohon bantuan uang dariku saat itu!" bentaknya dengan sorot berapi-api.


"Tapi Ara itu Kakak kandung mu, Ma. Sudah kewajiban mu menolong tanpa perlu menunggu permohonan Kinanti sekalipun."


"Tetap saja yang namanya utang harus dibayar! Kinanti kan bilangnya utang saat itu, bukannya minta!"


"Kalau Kinanti bilang minta, apa Mama mau kasih saat itu? Makanya Kinanti bilang utang biar Mama mau kasih karena Kinanti sangat membutuhkan uang itu buat Maminya, Kakak kandung mu sendiri."

__ADS_1


"Kalau bilangnya minta aku pasti kasih, tapi sepunyaku dong nggak sebanyak itu. Masa aku harus menanggung seluruh biaya pengobatan Kak Ara? Saat Kak Ara kaya raya saja yang menikmati kekayaannya bukan aku dan anak-anak kita, tapi anaknya sendiri, yaitu Kinanti!"


Dion menghela napas.


"Baiklah, kalau gitu biar aku yang membayari utang Kinanti. Mulai detik ini jangan ganggu keuangan Kinanti lagi," ucapnya datar tapi tegas.


"Cukup, Pa!" Asri menggebrak meja sekali lagi. Gebrakannya kali ini lebih keras dari sebelumnya, saking kerasnya sampai membuat gelas kopi Dion terguling meluncur jatuh dan pecah membentur lantai.


Kinanti tak enak menjadi sumber keributan Om dan Tante nya. Diapun beringsut keluar dari ruang kerja Dion.


"Kak, maafin Mama aku ya? Kakak jadi banyak utang gara-gara Mama aku."


Kinanti tersentak mendengar teguran sepupunya yang masih SMP. Dia merasa kasihan karena Gilang harus mendengar pertengkaran orang tua gara-gara dirinya.


"Ssst Gilang, jangan mikir macam-macam. Kakak juga minta maaf sudah banyak ngerepotin kalian." Kinanti menepuk-nepuk lembut punggung Adik sepupunya, meski pundaknya sendiri butuh ditepuk-tepuk agar lebih tegar menghadapi masalahnya sendiri.


Samar-samar terdengar suara Tantenya yang melengking nyaring dari dalam ruangan Om nya.


Kinanti tersentak. Ternyata Om Dion juga sedang kesulitan uang. Kinanti merasa malu meminta bantuannya tadi.


"Padahal jelas-jelas dia butuh kerja. Kenapa menolak tawaran kerja dari Herlin? Sombong amat!"


Ocehan Asri sekonyong-konyong menampar Kinanti. Meski pedas tapi ada benarnya. Saat ini, dia memang membutuhkan pekerjaan dari Herlin.


############


Herlin melipat tangan di depan dada saat Kinanti memasuki ruang kantornya. Pria tambun dan berkumis itu tersenyum seraya menyapa.


"Selamat datang, Kinanti. Senang melihat mu di sini. Bekerjalah dengan giat"

__ADS_1


"Pasti, Pak. Kerja keras adalah hal yang sangat bisa saya tawarkan."


Herlin terbahak keras. Dia suka sekali dengan kepercayaan diri wanita muda di depannya. Membuatnya semakin cantik berlipat-lipat. Tak cuma cantik tapi juga otaknya kelihatan berisi. Sikapnya pun berbeda dari wanita cantik lainnya yang dia temui. Herlin jadi semakin tertarik padanya. Tapi dia juga tahu, menaklukkan Kinanti Queensha tidak akan mudah. Dia harus pandai-pandai tarik ulur dengan wanita ini.


"Jangan panggil aku, Pak. Panggil saja Om seperti biasa, biar nggak aneh di kupingku."


Kinanti mengangguk.


"Kau sudah tahu tugas mu kan? Yang jelas tugas mu bukan untuk mempromosikan kecantikan mu di depanku. Aku memang suka kecantikan tapi aku juga suka kecerdasan. Kau harus cekatan, aku tak suka asisten yang lelet," ujar Herlin sambil bertanya-tanya dalam hati, seperti apa Kinanti jika mengenakan pakaian seksi dengan make up halus yang memperindah mata cantiknya dan juga bibir merah jambunya yang begitu menggoda untuk di gigit. Bahkan pakaian wanita itu sangat sopan tapi tetap terlihat begitu seksi di mata Herlin.


Tungkainya jenjang dan mulus, dadanya tampak berisi meski tak terlalu besar dan pinggulnya ramping sempurna. Membuat Herlin mengkhayalkan banyak hal tentang Kinanti.


"Saya mengerti, Om."


"Kau sudah menandatangani persyaratannya kan? Bekerja padaku minimal satu tahun atau kau akan kena pinalty sebesar sepuluh kali lipat dari gajimu jika gagal."


Kinanti mengangguk. Meski dalam hatinya ketar-ketir, dia terpaksa menyanggupi syarat itu. Semoga masa satu tahun bekerja itu waktu yang singkat. Kinanti harap bisa melaluinya dengan cepat. Seperti saat dia bekerja di perusahaan yang terdahulu, lima tahun tak terasa telah lewat.


"Baiklah, selamat bekerja. Sementara kamu belajar dulu sama Lydia," kata Herlin menyebut nama personal assistant eksekutifnya.


"Oya. Ingatkan Lydia untuk menghubungi perwakilan dari PT XXX. Atau kau saja tak apa-apa biar sekalian kenalan sama mereka. Katakan, aku minta laporan evaluasi proyek pabrik di Bengkulu sebelum jam dua siang nanti. Lalu, atur ulang jadwal pertemuan ku dengan direktur PT Niaga Nusantara Jaya nanti sore." Herlin berkata sebelum mengangkat ponselnya yang berdering. Dan pria itu mengangguk kecil saat Kinanti pamit meninggalkan ruangan.


"Bagaimana, Herlin?" sapa Asri dalam teleponnya.


"Jangan lupa. Perbaiki citra mu yang buaya di depan nya mulai hari ini," diktenya.


Herlin terkekeh.


"Kau cerewet sekali Asri," sahutnya dengan tatapan menyorot ke arah pintu, seakan pintu itu bisa tembus pandang ke meja kerja Kinanti di luar sana.

__ADS_1


"Aku sudah mengatur banyak hal untuk kalian. Jangan mengacaukannya. Tahan nafsu mu berburu wanita. Supaya Kinanti tak ilfeel padamu. Jika kau terus bersikap baik, lembut kebapakan, bisa jadi tak sampai setahun dia sudah bertekuk lutat padamu. Kinanti itu butuh pria dewasa untuk mengisi kekosongan hatinya. Apalagi kau itu sebenarnya sangat manis. Cobalah diet, turunkan berat badan dan kurangi lemak perut mu. Kau pasti akan tampak luar biasa," oceh Asri blak-blakan menyampaikan isi pikirannya. Begitu bersemangat menjodohkan Kinanti dengan teman suaminya ini


"Begitukah menurut mu, Asri? Aku sangat manis dan akan tampak luar biasa?" Herlin terkekeh di puji sedemikian. Dia tahu Asri itu mata duitan, semua tindakannya bertujuan untuk uang. Tapi dia bisa merasakan penilaian Asri kepadanya barusan tidaklah bohong.


__ADS_2