
Terjadilah hari ini, pernikahan sakral tanpa keberadaan orang tua kedua mempelai, karena semuanya sudah meninggal, juga tiada pendampingan dari keluarga dekat Kinanti. Namun Kinanti bisa merasakan support teramat besar dari orang-orang yang mendukung dirinya dan Daffin, terutama Opa Kalandra yang tiada lelahnya tersenyum seraya menitikkan air mata haru sepanjang akad nikahnya tadi berlangsung.
Mata Kinanti berkaca-kaca, dia menahannya sebisa mungkin. Jika menangis maka akan sulit bagi Kinanti untuk menghentikan laju air matanya. Dan tangan Daffin yang sejak tadi menggenggamnya erat-erat, sangat membantu Kinanti untuk tenang.
Ucapan selamat pun mengalir deras kepadanya dan juga Daffin. Para undangan bergantian menyalami dan memeluk mereka.
Saat melihat sosok Amber hadir dalam resepsi pernikahannya dan sedang berbaur dengan tamu lainnya, Kinanti menginjak kaki Daffin.
"Apaan sih, Maemunah?" bisik Daffin yang terkaget-kaget tapi tetap berusaha menjaga senyumnya di depan kamera.
"Kenapa ada Amber di sini? kamu nggak takut mandul?" desis Kinanti sambil pura-pura tersenyum menghadap kamera yang memotret mereka.
Daffin mencubit bokong Kinanti dan menahan senyum jahil kala melirik ekspresi Kinanti yang seperti ingin menelannya hidup-hidup. Tapi wanita itu pandai menutupinya dengan senyum cantik saat kamera mengarah pada mereka.
"Kamu kan bilang syaratnya nggak mau lihat cewek yang pernah aku *****-***** dan yang pernah aku tidurin hadir di sini. Aku udah penuhi syarat itu, kok. For your info... Amber nggak termasuk dalam list itu. Selama kami pacaran, cuma rangkulan dan gandengan tangan," bisik Daffin sambil berinisiatif mengubah pose, direngkuhnya pinggul Kinanti agar lebih rapat dengannya. Saat Kinanti kaget mendengar jawaban Daffin dan mendongak cepat kepadanya, Daffin memanfaatkan momentum itu untuk mencium bibir wanita yang sudah sah jadi istrinya ini. Sang fotografer pun dengan cekatan menangkap momen yang mengalir alami itu untuk diabadikan dalam kameranya.
"Don't worry. Aku sama Amber cuma ciuman kayak gitu, tanpa *****-*****, apalagi sampai ditidurin," bisik Daffin usai mengurai ciumannya.
"Oh. Jadi, kamu cium aku tadi sambil membayangkan rasanya mencium Amber di masa lalu?"
"Anjirrr. Salah lagi aku. Repot ye ngomong sama kamu? Ada aja aku salahnya." Daffin menggerutu tapi tetap merangkul Kinanti agar tetap merapat padanya, kala pihak WO memberi kode agar menghentikan dulu sesi foto mereka karena ada beberapa tamu yang ingin bersalaman dengan sang pengantin.
"Selamat ya, Kinan. Finally, married juga kalian berdua. Aku ikut seneng," ucap Amber seraya memeluk Kinanti yang matanya kini berkaca-kaca.
"Jangan nangis, Kinan. Ini hari bahagia kamu, have fun!" Amber memberi support.
Amber kemudian tersenyum dan menjabat. tangan Daffin, tiada kecemburuan yang menyembul dalam tatapannya. Ah. Daffin sebenarnya sudah tahu, sejak dulu cintanya kepada Amber memanglah bertepuk sebelah tangan. Semua kebaikan dan perhatiannya kepada wanita itu tidak dianggap berarti. Bodohnya, selama itu Daffin tak peduli dan rela patah hati berkali-kali demi Amber.
__ADS_1
"Selamat ya, Daffin. Awet-awet ya kalian," kata Amber sambil menepuk-nepuk pundak Daffin.
Daffin nyengir.
"Awet? kamu kata kita formalin?" celetuknya, membuat Amber terkikik geli.
Tiba-tiba senyum Daffin menyurut begitu melihat Kinanti saling berhadapan dengan Ikram yang bersiap menyampaikan ucapan.
Kinanti membalas senyum Ikram, membuatnya semakin cantik berlipat-lipat dalam balutan gaun pengantin putih yang simple namun elegan. Membuat Ikram yang tengah menjabat tangannya mematung takjub, tersihir kecantikannya.
"Selamat, Kinan." Sampai-sampai hanya itu yang keluar dari bibir Ikram.
"Thank's." Dan cuma itu pula yang Kinanti ucapkan.
Ikram mengangguk kepada Kinanti dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
Daffin menjaga senyumnya, meski dalam hatinya sinis. Dia bisa menangkap sorot cemburu yang masih menyala terang dalam bola mata Ikram. Padahal pria itu sudah tak berhak lagi cemburu kepada Kinanti. Sebab Kinanti sekarang adalah miliknya. Hanya miliknya.
Ikram dan Amber menyingkir dari sana sambil bergandengan, kemudian berbaur dengan teman-teman semasa SMA mereka yang juga menjadi tamu undangan. Membuat resepsi pernikahan ini menjadi semacam reuni kecil bagi mereka.
Pesta kebun yang digelar di sebuah wedding venue & restaurant milik Daffin ini memang terasa istimewa, sederhana tapi tak bisa dibilang sederhana. Danau buatan yang luas melingkari area resepsi yang menghijau sehingga untuk mencapai area pesta para tamu harus bergantian masuk melewati jembatan kayu panjang dengan ornamennya yang melengkung, sangat estetik untuk berswafoto.
Perjamuan ini tampak mencerminkan kepribadian sang mempelai yang ingin menikmati suasana pernikahan yang tak formal dan kaku. Kinanti dan Daffin memang ingin berbagi hari bersejarah mereka bersama orang-orang terdekat, bersantap di kebun yang sarat nuansa hijau dengan dekorasinya yang terkesan back to nature. Sebagaimana kebun yang asri dengan koleksi tanamannya, rangkaian bunga-bunga cantik menghiasi setiap meja.
Mawar putih dan merah tampak paling mendominasi. Kinanti sendiri yang memilihnya. Dan panitia telah menyediakan botol-botol bening sebagai wadah, agar para tamu undangan nanti bebas membawa pulang bunga-bunga yang diinginkan sebagai hadiah di akhir pesta.
Taplak putih berenda menghiasi meja makan kayu yang kokoh, berpasangan dengan kursi-kursi bergaya rustic dan serbet linen dilipat dua ditempatkan di bawah 'show plate' kayu yang terkesan antik. Kartu menu dimasukkan dalam amplop karung bersimpul tali rami dan cutlery kuningan, tampak istimewa meski penataannya terkesan santai. Aneka makanan, minuman, dan buah-buahan tersebar di berbagai titik agar para tamu bebas menikmati nya sambil berbaur dan bebas menikmatinya sambil berbaur dan mengobrol santai. Lilin-lilin aromatik dalam wadah keramik pun tersebar di meja, menambah sensasi jamuan ini. Ditambah musik instrumental piano yang disuguhkan secara live.
__ADS_1
"Cantik dan asik banget ya tempatnya."
"Iya, keren."
"Budgetnya pasti mahal. Sewa tempatnya aja mehong."
Teman-teman SMA Daffin dan Kinanti saling bergumam dan menilai-nilai penyelenggaraan pesta kebun yang terasa santai namun justru hangat dan tetap terjaga kesakralan acaranya ini.
"Eh, tahu nggak, ternyata tempat ini punya Daffin."
"Hah? kamu serius? Punya Daffin betulan?"
"Iya. Aku juga kaget dan baru tahu,"
"Selama ini dia kayak orang biasa aja, mana tahu ternyata dia anak orang kaya."
"Bukan kaya lagi, cuy! Tapi tajir mampus."
"Ah, seriusan kamu?"
"Kamu nggak lihat tadi siapa Kakek-Kakek yang duduk di samping Daffin? Itu Tuan Kalandra, pemilik Kalandra Group. Ternyata..., dia Kakek kandungnya Daffin."
Pelan-pelan, rahasia kekayaan Daffin mulai terbuka. Entah siapa yang meniupkan rumor itu pertama kalinya. Tapi tentu saja orang-orang mulai mencari tahu, apalagi Daffin memakai Lamborghini sebagai mobil pengantinnya hari ini. Dan memberi cinderamata logam mulia seberat lima gram untuk masing-masing tamu undangan. Belum lagi wajah-wajah pengusaha terkenal yang turut hadir sebagai tamu undangan Kakeknya.
Amber yang mendengar desas-desus di sekelilingnya seketika tersedak equil yang tengah diminumnya. Kalandra Group adalah salah satu perusahaan besar di Negeri ini, yang berjaya di sektor properti dan kini sudah merambah sektor lain.
'Hah? Daffin? Dia pemilik tempat ini? Cucunya pemilik Kalandra Group?' pikir Amber sambil terbatuk-batuk.
__ADS_1