Fake Couple

Fake Couple
Kenapa hatinya masih saja merasa gelisah?


__ADS_3

"Dafffiiiiiin! Ngapain kamu cium-cium bibir aku?"


Daffin tersentak melihat Kinanti tiba-tiba membuka mata dan mendelik marah kepadanya. Tapi kemudian pria itu terkekeh santai.


"Eh, udah bangun kamu, Maemunah? aku kira lelap tidur," cengirnya.


"Aku kan cuma akting, Kinan. Biar Ikram jengah dan lekas minggat dari sini. Kenapa? kamu keberatan Ikram jadi terusir karena keberadaan ku?" cecar Daffin kemudian.


Kinanti terdiam sesaat lalu menyahut pelan.


"Thank's."


Daffin menyipitkan mata.


'Thank's?' pikirnya bertanya-tanya dan memandangi Kinanti seraya menilai-nilai sikap si cantik itu.


"Well. Ikram sudah pulang, kamu juga bisa pulang sekarang."


Daffin dibuat tertegun oleh ucapan Kinanti barusan. Kemudian pria itu berdecak pelan.


"Ngusir, nih? Kebetulan, aku juga bukan pengangguran. Banyak banget urusan yang aku tinggalin gara-gara harus ke sini. Oke, aku cabut sekarang. Get well soon, Maemunah," sahutnya seraya melambaikan tangannya kepada Kinanti disertai senyum dan kedipan mata. Kemudian melenggang pergi dengan gayanya yang acuh tak acuh.


Kinanti menghela napas panjang setelah Daffin menutup pintu dan benar-benar meninggalkan dirinya di ruang perawatan yang cukup besar dan hanya ditempati olehnya seorang diri. Dingin dan begitu sepi seperti hidupnya beberapa tahun belakangan ini, terutama sejak ketiadaan kedua orang tuanya.


"Setelah nuduh aku punya sugar daddy sekarang kamu nuduh aku punya affair sama Ikram? Cih. Rese, banget kamu! Dasar ... Daffin cap kaleng," gerutu Kinanti teramat dongkol.


Wanita cantik itu kemudian meringis kala nyeri merambati tubuhnya dengan begitu cepat hanya karena sedikit gerakan saja.


"Aw. Aduh...," gumamnya kala berusaha menuruni ranjang karena ingin pipis ke kamar mandi. Meski raganya digempur sakit, tapi Kinanti pantang tunduk. Dia harus membiasakan dirinya dengan rasa perih ini sampai beberapa hari ke depan, hingga waktu memulihkan semua luka-lukanya.


Akan tetapi, tubuhnya terasa begitu lemah dan teramat sakit padahal Kinanti sudah di ambang pintu kamar mandi, sulit baginya kembali ke ranjang demi menjangkau bel untuk memanggil suster. Kinanti pun memegangi tiang infus erat-erat kala kepalanya terasa pusing, nyaris terjatuh. Gadis itu terduduk sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di daun pintu kamar mandi saat ruangan serasa berputar-putar dan matanya berkunang-kunang. Kinanti menangis, kesal pada keadaan dan dirinya sendiri yang begitu lemah. Padahal saat ini dia harus mengandalkan dirinya sendiri.


'Tuhan, tolong aku...,' desahnya dalam hati pasrah oleh keadaan.

__ADS_1


Dan detik itu juga tiba-tiba tubuhnya terasa berayun saat seseorang mengangkatnya dalam gendongan.


"Ngapain kamu di sini, Maemunah?"


Mendengar dan melihat Daffin kembali membuat gadis itu tak kuasa menahan tangis yang bobol begitu saja.


"Kebelet pipis tapi pusing," isak Kinanti seraya menyembunyikan wajah dengan menghadap dada Daffin yang tengah menggendongnya.


Daffin justru tergelak sembari mendorong pintu kamar mandi di depannya. Lalu membantu Kinanti duduk di closet.


"Pipis gih, panggil aku kalau udah selesai," ujarnya sambil bergegas keluar.


Selama menunggui Kinanti, Daffin beberapa kali mengetuk pintu kamar mandi hanya untuk mengecek, khawatir wanita itu pingsan di dalam. Dan pria itu bernapas lega tiap kali mendengar sahutan Kinanti yang pelan tapi masih jelas terdengar. Diam-diam Daffin tersenyum kecut, untung saja ponselnya tadi tertinggal di sini sehingga Daffin buru-buru kembali mengambilnya dan dia sungguh terkejut melihat Kinanti dalam posisi bersimpuh lemah seperti tadi. Dan entah kenapa pemandangan tadi begitu mengganggu dan menggelisahkan perasaannya sampai kini.


"Sudah, Kinan?" Daffin mengetuki pintu.


"Kinan...? Kinan?" Tapi tak terdengar sahutan apapun dari dalam. Seketika pria itupun menghambur masuk.


"Kinanti...!" Dan jantungnya terasa mencelos melihat Kinanti betulan tergolek pingsan, tepat seperti yang dia khawatirkan.


"Jam segini kok baru pulang, Ikram?" tegur Amber begitu melihat Ikram memasuki kamar lewat jam dua dini hari.


"Kamu sendiri, sampai rumah jam berapa tadi? Gimana konsernya, seru?" sahut Ikram seraya mengecup kening istrinya yang baru saja kembali dari Korea bersama Aleta dan Tita.


Amber menggelayuti lengan suaminya dengan manja.


"Seru, dong! Aku bahkan sempat pegang tangan salah satunya."


Ikram mengusap-usap lembut rambut istrinya seraya tersenyum.


"Oya? Asik dong."


Amber kemudian berceloteh panjang menceritakan pengalamannya.

__ADS_1


"Nah, kamu pasti capek, istirahatlah. Tidur, gih," ujar Ikram setelah Amber berhenti mengoceh.


"Kamu sendiri memangnya nggak capek? Jam segini baru pulang kerja. Mau dibuatin teh hangat?"


Ikram mengangguk dan tersenyum.


"Boleh. Makasih ya, Sayang. Capek-capek gini kamu masih mau buatin aku minum," ucapnya sambil mengecup kening istrinya sekali lagi.


Amber terkekeh.


"Nggak kok, ngapain juga aku repot-repot turun ke dapur, kan tinggal telepon aja nyuruh si Bibik," sahutnya kemudian menelepon pembantunya.


"Bik, buatin dua teh chamomile, ya. Antar ke sini, nggak pakai lama," titahnya.


"Mau dipijat, Ikram? Kalau mau, besok aku panggilin therapis ke rumah. Aku juga mau pijat sekalian. Kebetulan aku punya langganan therapis baru, enak banget loh pijatannya."


Ikram tersenyum kecut mendengarnya. Amber memang rajin melayaninya, tapi tak benar-benar dengan tangannya sendiri.


"Eh, iya. Kamu belum jawab pertanyaan ku tadi, kamu dari mana sih, Ikram? Kok jam segini baru pulang? Kupikir tadi kamu bakal jemput aku ke bandara, tapi kutelepon malah nggak kamu angkat-angkat. Kupikir kamu lagi meeting tadi, makanya aku nebeng pulang bareng jemputannya Tita. Tapi kutelepon sekretaris mu, kok katanya kamu nggak ada jadwal meeting malam ini?"


Ikram bimbang sesaat. Dia tak ingin menyampaikan kejadian yang sebenarnya, khawatir Amber akan berpikir terlalu jauh tentang dirinya dan Kinanti. Tetapi jika dia tak cerita yang sebenarnya, cepat atau lambat Amber bakal tahu juga dan bisa-bisa justru memancing kecurigaan yang tak perlu. Sebab memang tak ada apa-apa antara dirinya dengan Kinanti. Ikram berada di sana hanya karena Kinanti sedang membutuhkan bantuannya, itu saja bukan?


"Tadi sore tiba-tiba ada yang menelepon ku, katanya Kinanti kecelakaan dan sedang dibawa ke rumah sakit. Lalu aku ke rumah sakit itu untuk mengeceknya. Tapi aku sudah menelepon Daffin, sebab dia yang berkewajiban menjaga Kinanti sekarang," ujar Ikram membeberkan cerita itu sambil mati-matian menahan rasa sedihnya setiap kali teringat akan luka-luka yang diderita Kinanti akibat kecelakaan itu.


Amber tersentak dan mengguncang lengan Ikram.


"Tapi, Kinan baik-baik saja, kan? Nggak ada luka serius atau apa, kan?"


"Syukurlah nggak ada. Tadi aku sendiri yang menanyakan hal itu kepada Dokter yang memeriksanya."


"Syukurlah...." desah Amber menyembunyikan cubitan-cubitan kecil dalam hatinya. Fakta jika Ikram masih sepeduli itu terhadap Kinanti diam-diam memukul harga dirinya sebagai seorang istri. Ikram dan Kinanti memang bukanlah mantan, tak pernah ada status yang jelas antara mereka. Tapi Amber tahu pasti, seperti apa perasaan Ikram kepada Kinanti selama ini. Amber juga tahu, betapa munafiknya Kinanti dahulu kala yang bilang benci pada Ikram tapi diam-diam menyukai dan mencintainya.


"Di mana rumah sakitnya? Besok kita tengokin Kinan lagi, yuk?" ajak Amber seraya mengamati wajah suaminya lekat-lekat.

__ADS_1


"Jadwal kerjaku besok sangat padat. Toh tadi aku sudah bertemu dengan Kinanti. Kamu ajak saja Aleta dan Tita. Aku titip salam buat Daffin." Ikram menjawab dengan wajah sedatar tembok dan tatapan sedingin kulkas.


Amber mendesah pelan. Seharusnya tak ada yang perlu dia khawatirkan. Melihat ekspresi Ikram sekarang, tampaknya dia sudah tak sepeduli itu kepada Kinanti Queensha. Apalagi sudah ada Daffin di antara mereka. Tetapi, kenapa hatinya masih saja merasa gelisah?


__ADS_2