
"Tentu saja Kakak baik-baik saja karena suami Kakak tajir."
"Bukan begitu juga, Van. Daffin dasarnya memang baik, bahkan Kakak baru tahu belakangan kalau dia ternyata setajir itu."
"Apa benar Kak Daffin baik, Kak?"
Kinanti tertawa lagi.
"Tentu."
"Kalau begitu, apa boleh aku pinjam uang buat biaya pengobatan Papa?"
Kinanti menggigit bibir. Dia harus membicarakan dulu masalah ini dengan Daffin. Takut mengambil keputusan keuangan sendirian karena itu hal yang sangat sensitif. Meski Daffin seorang miliarder, bukan berarti Kinanti akan seenaknya memakai uang Daffin tanpa izin meski untuk hal baik.
"Nanti kakak akan bicarakan dulu dengannya."
"Terima kasih, Kak. Tapi aku butuh sekarang juga untuk membayar administrasi, agar Papa bisa segera mendapat kamar perawatan yang layak."
"Berapa, Van?" Untungnya Kinanti punya dana pribadi.
"Seratus juta, Kak."
__ADS_1
"Se... seratus juta?" Kinanti menelan ludah. Meski sudah jadi Nyonya konglomerat tetapi tetap saja bagi Kinanti uang seratus juta itu banyak, karena dia tahu bagaimana sulitnya mencari uang.
"Baiklah, pakai uang Kakak saja kalau gitu. Kirim nomor rekening mu," ujar Kinanti. Dan Vandi dengan cepat mengirimkannya dan secepat itu pula Kinanti mentransfernya demi pengobatan Om Dion yang sangat dia sayangi seperti Ayah sendiri.
Di sebelah Kinanti, Yania memasang kupingnya dengan tajam. Selain bertugas menjadi asisten pribadi Kinanti, dia juga merangkap sebagai mata-mata Daffin tentu saja.
Sementara itu di sebuah ruang perkantoran yang terletak di segitiga emas Jakarta, Mega Kuningan, Daffin menyandarkan punggungnya di kursi kerja. Duduk sejenak sebelum bersiap menemui Kinanti di sebuah hotel prestisius yang berada tak jauh di seberang gedung miliknya.
"Maemunah tadi mau ngomong apaan sih, ya?" gumamnya sambil membuka aplikasi chat, ada banyak pesan menumpuk yang belum sempat dia balas. Namun tentu saja pesan dari Kinanti adalah prioritasnya. Selesai membacanya, Daffin ingin membanting ponselnya.
"Fin, aku ke rumah sakit. Om Dion kena serangan jantung, aku ingin menjenguknya. Sorry, kita nggak bisa ketemu dulu makan siang nanti" Ternyata begitu isi pesan Kinanti.
Daffin menelepon Rey dan minta dibatalkan saja pesanan kamar hotel yang dipersiapkannya untuk bersenang-senang dengan Kinanti.
"Jadi, makan siangnya gimana, Bos?" tegur Rey.
"Nggak selera," sahut Daffin dengan nada suara macam anak kecil sedang merajuk karena tak mendapatkan es krim nya. Selera makan siangnya ikut menguap bersama kekecewaannya yang gagal menyantap Kinanti siang ini.
"Tapi Bos harus tetap makan, aktivitas Bos masih panjang hari ini," bujuk Rey.
"Ntar aja." Daffin menutup telepon dan memanggil sekretarisnya.
__ADS_1
"Ilna, bawa sini dokumen-dokumen yang harus saya cek tadi."
"Nggak jadi nanti saja setelah makan siang, Pak?
"Ck. Kalau saya minta sekarang ya sekarang. Bawel amat kamu," omel Daffin mulai uring-uringan akibat hasrat yang tak tersalurkan.
"B... baik, Pak."
Ilna memasuki ruangan Daffin sambil membawa tumpukan dokumen yang dimintanya. Lalu pamit pergi tanpa sahutan sepatah katapun dari sang CEO. Membuat si sekretaris mengerutkan kening.
'Perasaan tadi pas meeting masih baik-baik aja, kenapa tiba-tiba jutek gini?' pikirnya sambil mengetik pesan dalam group chat khusus karyawan agar waspada jika bertemu dengan si bos.
"Jangan bikin ulah dulu ya kalian-kalian semua" tulisnya memperingatkan.
Sementara itu di rumah sakit Kinanti mendesah bingung karena tak menemukan Vandi yang katanya sedang mengurus administrasi Papanya. Ditelepon juga tak tersambung.
"Mbak Kinan, kata petugasnya, memang ada tadi pasien dari rutan tapi ternyata bukan kena serangan jantung. Begitu si pasien sadar dan dinyatakan baik-baik saja oleh Dokter, polisi membawanya kembali ke rutan," kata Yania setelah mengumpulkan informasi.
"Bukan serangan jantung?" Kinanti mendesah lega sekaligus resah di saat yang sama.
Lalu, bagaimana dengan uang seratus juta yang diminta Vandi tadi? Kenapa Vandi tidak memberitahunya apa-apa lagi setelah ini?
__ADS_1