
"Amber, bangunlah. Sudah pagi." Ikram menepuk-nepuk pipi istrinya yang masih bergelung di bawah selimut tebalnya sepagi ini, oh tapi jam sembilan tidak bisa dikatakan pagi baginya. Bahkan sinar matahari sudah cukup terasa panas sengatannya saat dia memotong rumput sambil berjemur di halaman rumahnya tadi.
"Ayo turun, kita sarapan bareng," lanjutnya sambil mengguncang lengan Amber.
"Jam berapa sekarang?" Amber mengulet dan mengucek mata.
"Jam sembilan lewat."
Tangan Amber menggapai-gapai nakas, mengambil ponselnya.
"Ahh, kan hari Minggu, Ikram. Santai kenapa, sih?" protes Amber karena Ikram menyingkap selimut dan membuat kulit tubuhnya yang berbalut piyama satin meremang dingin tersapu hawa AC.
"Nggak cukup apa, semalam main hape sampai begadang?" tegur Ikram sambil geleng-geleng kepala. Padahal Ikram sangat ingin punya waktu tidur malam yang cukup, tetapi karena pekerjaan yang terus-terusan menumpuk, dia terpaksa begadang sampai lewat tengah malam, hampir setiap hari. Sedangkan istrinya yang punya waktu luang justru menghabiskannya dengan tidur secara berlebihan atau bersantai memantau sosial media yang minim guna. Ikram akan lebih suka jika Amber melakukan hal lain yang bermanfaat meski hanya untuk dirinya sendiri, menanam kembang kek, mendekor rumah kek, belajar memasak, atau apa saja terserah, asal jangan memandangi hape terus sambil selonjoran kaki sepanjang hari atau cuma merias diri. Tapi Amber bilang semua tugas rumah tangga itu sudah tertangani pembantu, sehingga yang dilakukannya tinggallah bersantai. Sekalinya sibuk, paling pergi kongkow dengan Aleta dan Tita, atau berkumpul dengan geng arisan sosialita abal-abalnya. Ya, Ikram menyebutnya sosialita abal-abal, sebab meski mereka orang berada tetapi masih banyak yang jauh lebih elit daripada mereka. Tetapi kadang Amber dan teman-temannya itu menilai status sosial mereka terlalu tinggi.
Seketika Ikram teringat pada Kinanti, dia sudah menjadi Nyonya Daffin sekarang, menantu keluarga Kalandra sang konglomerat. Kinanti lebih pantas menyandang gelar sosialita jika sudah aktif bersosialisasi di lingkungan elitnya nanti. Semoga Kinanti tidak akan kaget dengan status sosialnya yang setinggi langit sekarang ini, dan tetap membumi seperti Kinanti Queensha yang dia kenal sejak dulu.
Ikram sebenarnya sudah tahu latar belakang keluarga Daffin saat masih menjadi teman dekatnya dulu, tetapi Daffin memintanya berjanji agar jangan memberi tahu teman-temannya yang lain. Ikram pun menyanggupi janji itu, lagipula dia memang bukan jenis orang yang 'ember'.
"Memangnya kenapa, Daffin? Bukannya enak kalau orang-orang tahu siapa kamu sebenarnya? Nggak akan ada lagi deh yang menghina dan menyepelekan kamu," ujar Ikram sambil mengagumi motor Kawasaki Ninja punya Daffin yang seharga dengan sebuah mobil, yang disimpan di garasi rumah Tuan Kalandra yang luas dan dipenuhi mobil mahal berbagai merk, membuat Ikram terpukau serasa memasuki sebuah showroom.
__ADS_1
"Ah, nggaklah. Ngapain, gila. Malah aku ntar susah bedain mana teman yang pure sama mana yang fake."
Ikram terkekeh dan mengangguk setuju.
"Tapi sayang amat Daffin, nih motor jadi nganggur nggak kamu pakai pakai karena kamu nya malah pakai scoopy ke mana-mana. Boleh aku coba?" tanya Ikram yang segera menaiki motor mahal itu begitu Daffin mengangguk cepat, tanpa sedikitpun keraguan.
"Kalau mau, kamu boleh pinjam bawa pulang dan pakai aja sampai kamu puas."
"Ah, gila, kamu!" Ikram terkaget-kaget mendengar tawaran Daffin yang menggiurkan sekaligus menciutkan nyalinya diwaktu bersamaan karena dipercaya meminjam motor semahal ini.
Daffin mengedikkan dagunya dengan santai.
Ikram terbatuk-batuk mendengar nama Kinanti disebut-sebut. Melihat cengiran Daffin, sepertinya temannya itu tahu tentang rahasia hatinya yang terdalam, yang memang menyimpan perasaan khusus untuk Kinanti. Entah bagaimana Daffin bisa tahu. Padahal Ikram tak pernah curhat apa-apa kepadanya, atau siapapun. Atau? Kinanti yang curhat pada Daffin? Tak mungkin. Ikram tahu sekali, Kinanti bukanlah jenis gadis yang seterbuka itu kepada orang lain. Kinanti orang yang tertutup bahkan Amber pernah keceplosan saat mengobrol dengannya, jika Kinanti itu orang yang membosankan, tapi Kinanti setia kawan dan bisa diandalkan, makanya Amber tetap memasukkan Kinanti ke dalam cyrcle pertemanan.
"For your info, Amber itu takut dan nggak suka naik motor. Mungkin karena itu dia selalu menolak tebengan dari kamu. Bukan gara-gara motor kamu yang cuma scoopy, tapi dia emang takut naik motor apapun. Cobalah kamu kasih dia tebengan mobil, aku rasa nggak akan nolak," kata Ikram membagi informasi yang kebetulan dia miliki.
Daffin terbelalak.
"Seriusan? Tahu dari mana kamu, Nyet?"
__ADS_1
"Tahulah, kampret! Ortunya Amber kan berteman dekat sama bokap ku. Beberapa kali aku pernah main ke rumah Amber karena diajakin bokap. Terus, Amber cerita soal ketakutannya naik mator pas menemani aku ngobrol di rumahnya"
"Monyettt, dari dulu kek kamu bilang kayak gini!" Daffin meninju lengan Ikram yang malah terbahak-bahak.
Kemudian Daffin memilih-milih mobil yang ingin dipakainya untuk menggaet Amber. Tapi dia bingung sendiri karena semua mobilnya terlalu mewah untuk ukuran anak SMA di lingkungan sosial mereka.
"Apa aku beli aja, ya? Tapi ntar gimana aku bilangnya sama Opa? Kemarin pas minta motor scoopy aja malah dibeliin Kawasaki, ntar kalau aku minta mobil biasa pasti bakalan dibeliin yang mahal-mahal juga," gumamnya sambil bersedekap, keningnya mengerut, tampak berpikir keras.
"Daripada beli, mending kamu sewa aja, Daffin."
Daffin menjentikkan jari.
"Aah. Good idea! Aku jadi inget, pelatih basket kita kan punya Livina yang dia pakai kerja part time jadi sopir taksi online. Aku sewa aja mobilnya," katanya sambil memainkan alisnya naik-turun. Lalu mengajak tos Ikram karena telah memberinya ide cemerlang.
Benar saja, selang beberapa hari kemudian, Daffin meneleponnya sambil berteriak ramai di tengah malam.
"Ikram! Finally,.... aku habis jalan sama Amber!" Lalu Daffin berceloteh ramai, menceritakan kesuksesannya menggaet perhatian Amber untuk pertama kalinya.
Ikram tersenyum simpul, ikut senang mendengar kabar gembira dari temannya. Dia pilih menjadi pendengar yang baik saja bagi Daffin yang sedang bergembira hari itu. Padahal dia juga punya cerita, bahwa dia juga berhasil membawa Kinanti jalan-jalan dengan Kawasaki Ninja punya Daffin di hari itu juga. Dan sepanjang perjalanan, di atas motor sport itu, tubuhnya berhimpitan dengan tubuh Kinanti karena posisi boncengannya yang nungging. Hingga selama motor itu melaju membelah jalanan Ibukota, dia bisa merasakan kehangatan tubuh Kinanti di punggungnya, serta eratnya pegangan tangan Kinanti yang melingkari pinggangnya.
__ADS_1
"Selamat, Daffin!" ucap Ikram sangatlah tulus, dia senang akhirnya Daffin berhasil jadian dengan Amber, cinta pertama Daffin.