
Daffin melirik jam tangan buatan Swiss seharga sebuah mobil yang melingkari pergelangan tangannya. Rasanya dia sudah tak sabar ingin mengakhiri meeting karena ingin segera bertemu dengan Kinanti Queensha. Tapi apa boleh buat, meeting kali ini sedang membahas hal penting dan tidak bisa diwakilkan orang lain karena menyangkut hal strategis yang butuh perhatian serta penanganan langsung dari sang CEO. Daffin harus segera menyelesaikannya sampai tuntas.
"Baiklah, kalau begitu saya sendiri yang akan menemui Mr Ramon di Italia. Tolong, Ilna," Daffin menoleh kepada sekretarisnya.
"Cek apakah ada jadwal saya yang urgent di minggu ini, kalau nggak ada lekas atur jadwal pertemuan saya dengan Mr Ramon di minggu ini saja," kata Daffin mengambil keputusan.
"Baik, Pak." Ilna mengangguk dan mencatatnya. Sementara Daffin melanjutkan beberapa arahan dan kebijakannya terkait proyek pembangunan perumahan yang tersendat-sendat karena kendala sengketa lahan.
Di tengah pembicaraannya, tiba-tiba ponselnya bergetar dan wajah cantik Kinanti terpampang di sana. Daffin jadi tidak fokus.
"Sebentar, saya jawab telepon dulu," katanya sambil menggeser tombol answer.
"Halo, Kinan?" Suara Daffin menyerupai sebuah bisikan.
__ADS_1
"Daffin, lagi sibuk, nggak? Aku perlu bicara."
"Emm, kenapa? Aku lagi meeting," sahut Daffin lirih.
"WA aja, ya? Pasti aku baca habis ini," bisiknya penuh janji, membuat orang-orang yang bisa mendengar saling toleh dan berbagi senyum karena kelembutan suara Daffin yang sarat perhatian pada sang istri yang meneleponnya. CEO mereka ini tampak berbeda sejak menikah, wajahnya menjadi sangat cerah dan senyum tak pernah absen dari bibirnya.
Lalu Daffin mematikan telepon dan melanjutkan pembicaraannya tadi.
Sedangkan Kinanti mendesah jengkel karena Daffin tak mendengar dulu apa yang ingin dia utarakan. Pikirannya kalut. Dia mendengar kabar dari Vandi sepupunya, katanya Om Dion terkena serangan jantung dalam penjara dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Kinanti harus menemuinya karena mereka belum pernah bertemu lagi sejak Kinanti meninggalkan rumah om nya itu bersama Daffin.
"Tapi, Mbak. Bagaimaan dengan janji makan siang dengan Mas Daffin?" Yania jadi ketar-ketir karena dia terlanjur menyanggupi permintaan Daffin agar membawa Kinanti tepat waktu saat makan siang nanti.
'Duh, apa kabar ini bonus ku bakal kena sunat si bos, nggak ya?!'
__ADS_1
"B... baik, Mbak." Tetapi mau tak mau Yania harus menuruti sang Nyonya, sebab kondisinya genting. Dia menelepon sopir agar segera menjemput di lobi.
"Langsung ke rumah sakit ya, Pak," kata Yania, lalu menyebut nama sebuah rumah sakit begitu Kinanti dan dirinya sudah duduk manis di dalam mobil.
Kinanti menelepon Vandi dan mengobrol dengannya sepanjang perjalanan ke rumah sakit.
"Maafin Kakak ya, Van. Bukan maksud Kakak mengabaikan kalian, tetapi..."
"Aku tahu, Kak. Karena suami Kakak nggak mengizinkan Kakak berhubungan dengan keluarga kami lagi, 'kan?"
"B... bukan begitu, Van. Daffin nggak sejahat itu, dia nggak bermaksud menyuruh Kakak memutuskan silaturahmi, hanya saja... pertemuan Daffin dengan Tante Asri yang terakhir kali sempat berakhir buruk dan Daffin masih kesal."
"Maafin Mama aku, Kak. Apa yang dilakukan Mama ke Kakak selama ini memang sangat buruk, dan kami tidak bisa membela Kakak"
__ADS_1
Kinanti tertawa lirih mendengar permintaan maaf sepupunya yang terdengar tulus. Dia mengangguk dengan tak kalah tulus.
"Sudahlah, itu sudah jadi masa lalu. Kakak baik-baik saja sekarang."