
Kinanti menoleh ke arah rumah Tantenya dengan mata berkedip menahan tangis, namun entah apa lagi yang perlu ditangisinya? Selama ini dia tak pernah punya keberanian sebesar ini untuk keluar dari sana hanya karena takut hidup sendiri. Tapi sekarang dia tak sendiri lagi, bukan? Sudah ada seorang Daffin di sisinya.
"Kinanti, ayo masuklah," bujuk Daffin. Pria itu bisa memahami apa yang tengah menggelayuti pikiran Kinanti saat ini.
Bagaimanapun, di rumah itu tinggallah satu-satunya keluarga yang dimiliki gadis ini. Tapi, keluarga macam apa yang tega memeras dan merenggut kebahagiaan anggota keluarganya sendiri? Bahkan Tantenya yang serakah itu tega menyodorkan keponakan kandungnya ini kepada duda genit hanya demi duit. Bahkan berniat menikahkan Kinanti secara paksa dengan pria yang lebih pantas menjadi Ayahnya, lagi-lagi demi uang. Seakan derajat uang jauh lebih tinggi kedudukannya daripada harkat dan martabat seorang manusia, padahal manusia adalah ciptaan Tuhan nan paling mulia dibanding makhluk lainnya di bumi ini. Namun seringkali manusia justru merusak kemuliaan dalam dirinya dengan menuruti hawa nafsunya yang tak terkendali, hingga membuatnya menjadi lebih rendah, hina, dan jauh lebih buruk daripada binatang.
"Ayolah, tunggu apa lagi, gadis satu miliar ku?" Ucapan Daffin membuat Kinanti menoleh dan pria itu pun mengedipkan sebelah mata.
"Ada hal penting yang harus segera kita urus setelah ini, yaitu ... pernikahan kita." Dan senyum yang tersungging di bibir Daffin itupun semakin mengukuhkan ketampanannya.
############
Ikram memandangi surat undangan di tangannya dengan hati yang menggelegak oleh sesuatu yang tak pernah dia bayangkan. Dia lelaki beristri, tapi kenapa dia begitu merasa patah hati begitu mengetahui kabar pernikahan Kinanti?
Pria itu mendesah dan memandangi hamparan kolam renang pribadi yang sebiru warna keramik yang melapisinya. Dia sudah lelah berenang beberapa putaran hanya untuk melepaskan penat yang memberati hatinya gara-gara undangan pernikahan Daffin dengan Kinanti. Namun cubitan-cubitan kecil dalam hatinya ini tak juga berhenti, justru kian menjadi kala ingatannya melesat cepat ke masa lalunya bersama Kinanti yang saat itu masih berseragam SMA.
Hari itu menjadi pertama kalinya Ikram dan Kinanti jalan berdua sepulang sekolah, sejak keakraban mereka mulai terjalin. Mereka mengunjungi festival kebudayaan. Di sana ada banyak sekali jajanan, Ikram senang mentraktir Kinanti yang diam-diam suka makan. Tiba-tiba Kinanti menarik tangannya mengajak Ikram mendekati panggung yang sedang menggelar tari-tarian dan show busana adat pernikahan dari beberapa daerah.
"Bagus ya, yang itu." Kinanti berjinjit saat membisikkan kalimat itu ke telinga Ikram yang jauh lebih tinggi darinya.
Ikram tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Semua bagus Kinanti, tergantung dengan siapa kita memakainya kelak," jawabnya sambil menjilati ice cream cone di tangannya yang hampir meleleh.
"Mau...?" ujarnya menawari karena melihat punya Kinanti sudah habis. Melihat gadis itu mengangguk, Ikram mengulurkannya berniat ingin memberikan semuanya. Namun, Kinanti malah menjilat lalu menggigit ujungnya, lalu menoleh kembali ke arah panggung sambil bertepuk tangan bersama tepukan penonton lainnya.
Seketika itu juga, jantung Ikram berdesir-desir aneh. Lalu dia tersenyum seraya menjilati bekas gigitan Kinanti seraya tersipu. Sejak saat itulah Ikram sadar telah jatuh cinta pada Kinanti. Dan otaknya lekas merekam baik-baik baju adat yang ditunjuk Kinanti tadi sambil berharap suatu saat dapat memakainya dalam sebuah pesta pernikahan betulan bersama gadis ini. Tapi ternyata, itu hanyalah harapan kosongnya saja. Sebab wanita yang harus dia nikahi ternyata Amber, teman dekat Kinanti sendiri.
__ADS_1
"Ikram, kamu di sini rupanya?"
Teguran Amber membuat Ikram menoleh dengan gugup.
"Aku baru selesai berenang"
"Yaah, kok nggak ajak-ajak sih?" Amber cemberut seraya duduk di atas pangkuan Ikram dengan sikapnya yang selalu saja manja.
Semua lelaki pasti senang digelayuti wanita secantik Amber, apalagi wanita cantik ini sudah sah menjadi istrinya. Namun entah kenapa, hati Ikram tak betul-betul tergetar olehnya. Tentu saja Ikram tak menampakkannya terang-terangan. Dibalasnya sikap manja Amber itu dengan pelukan hangatnya yang juga terasa memanjakan bagi Amber.
Amber tersenyum lebar, menampakkan barisan giginya yang putih terawat. Lalu wanita itu melirik ke meja.
"Oh, rupanya kamu sudah baca undangan pernikahan Daffin sama Kinanti, ya?" bisiknya sambil mengecup pipi suaminya. Melihat Ikram mengangguk, Amber melanjutkan ucapannya.
"Finally, mereka nikah juga. Aku ikut lega jadinya. Mereka nggak perlu kumpul kebo lebih lama lagi."
"Kumpul kebo?"
Amber terkekeh.
"Mereka sudah tinggal seatap sebelum menikah. Sepulang dari rumah sakit, Kinanti tak kembali lagi ke rumah Tantenya, tapi ke apartemen Daffin. Well, itu bukan hal aneh lagi kan di zaman sekarang? Ah. Jangan kamu pikir kalau Kinanti itu benar-benar polos. Apalagi kita sudah pernah lihat sendiri mereka beli ******. Buat apa coba itu, hmm?" cerocos Amber seraya memainkan alisnya naik-turun.
Ikram menggigit pipi bagian dalamnya, menyimpan rasa kecut dalam hatinya. Bah. Sepertinya, hanya dirinyalah yang terjebak dalam sweet memories. Sedangkan Kinanti sendiri sudah move on bersama Daffin.
"Kamu mau berenang, Sayang?" bisik Ikram seraya menyingkap bathrobe yang menutupi tubuh indah istrinya.
"Why not?" desah Amber disertai tatapan penuh arti.
__ADS_1
Ikram pun serta merta mengangkat tubuh istrinya, kemudian menceburkan diri bersama-sama ke dalam kolam. Tapi tentu saja bukan untuk benar-benar berenang. Bagi pasangan suami istri itu, ada hal lain yang jauh lebih mengasikkan untuk dilakukan di dalam kolam itu selain berenang, hal yang membuat keduanya tenggelam penuh kenikmatan.
############
Seorang pria sepuh berdiri menatap ke luar jendela. Pegunungan di depan sana terhampar dengan begitu indahnya, view yang sangat cantik saat diperhatikan dari dalam sebuah vila megah pribadi yang tengah disinggahinya untuk bersantai.
Rambut dan kumisnya sudah memutih, kulitnya mulai mengeriput, namun garis rahangnya masih saja tegas, setegas sikap dan kata-katanya selama ini.
Pria itu adalah Kalandra, alias Opa Andra, Kakeknya Daffin.
"Cucu ku benar-benar akan menikah?"
"Iya, Tuan," sahut pria berkacamata bernama Reza yang memakai setelan jas rapi, yang tak lain adalah asisten pribadi sekaligus tangan kanan Kalandra.
Kalandra mengisap cerutu.
"Gadis inikah yang membuat Daffin sampai tega menggilas perusahaan Nadia? Padahal Nadia sudah seperti Kakaknya sendiri."
"Betul, Tuan. Namanya Kinanti Queensha, data-data tentang gadis itu sudah kami dapatkan. Apakah Tuan ingin saya membacakannya?" sahut si asisten sambil berkedip-kedip saat asap cerutu yang diembuskan Kalandra mengenai wajahnya.
"Tak perlu, sedikit banyak aku sudah tahu tentang gadis itu." Kalandra menyahut seraya terkekeh pelan.
"Jadi, Tuan merestui pernikahan itu?"
Kalandra menoleh dan menatap asistennya lekat-lekat.
"Ya," angguknya yakin.
__ADS_1
Dan senyum tipis pun tersungging di bibir tua itu.