Fake Couple

Fake Couple
Tengsin.


__ADS_3

Kinanti terbangun karena sebuah tangan membelai-belai bokongnya yang tidak menggunakan sehelai benang pun tapi kemudian meremasnya dengan kuat.


"Dafffiiiiiin,... jangan rese!" omel Kinanti sambil menggeliat bangun, namun tangan itu malah bergerak ke bagian tubuhnya yang lain lagi. Dan pada saat Kinanti membuka lagi mulutnya untuk mengomel, bibir Daffin sudah keburu membungkamnya dengan ciuman yang panas dan dalam.


"Please. Badan ku rasanya remuk redam," keluh Kinanti saat Daffin mulai menindih tubuhnya. Kinanti heran bagaimana bisa pria ini masih memiliki stamina setelah apa yang mereka lakukan semalaman. Bahkan Kinanti masih merasakan nyeri yang menyengat di **** ************* yang telah ditembus Daffin dalam percintaan mereka yang pertama.


"Kamu wajib olahraga rutin mulai sekarang. Bercinta itu butuh energi dan stamina yang stabil, Maemunah. Jangan pasrah, diam-diam aja kayak gedebog pisang. Come on, mana Kinanti yang erotis macam penari gurun semalam?"


Kinanti mencubit pinggang Daffin dan membuat pria itu terkekeh dan berguling dari atas tubuhnya.


Bercak merah yang menodai sprei hotel ini baru saja tertangkap mata Daffin. Namun tanpa itupun, Daffin bisa merasakan jika Kinanti memang baru pertama kali ini melakukannya.


Melihat Kinanti meringis, Daffin buru-buru memeluknya.


"Apa aku menyakiti mu? I'm sorry, Kinan. Tapi... kamu suka, kan?" bisiknya sambil mengecup kening istrinya.


Kinanti menyapu rambut dari kening Daffin seraya tersenyum padanya. Tentu saja dia suka, semalam itu pengalaman yang sangat luar biasa baginya. Nyeri yang harus ditanggungnya, terasa sepadan dengan kenikmatan yang diterima. Semalam itu adalah tarian yang sangat panjang, lambat, namun kian lama kian membumbung dan membuat keduanya hancur lebur dalam percintaan yang mengagumkan. Keduanya saling bersahutan dalam tetesan peluh, Kinanti terus-terusan mendesah dan Daffin tiada hentinya mengerang penuh kenikmatan kala milik Kinanti mencengkeram erat miliknya, dengan tangan saling membelai, memeluk, menjelajah satu sama lain seraya saling mempelajari diri. Detik itu juga, Kinanti terasa begitu membutuhkan Daffin, dan demikian pula sebaliknya. Keduanya saling membutuhkan untuk dipuaskan. Saling memberi dan menerima kepuasan. Dan setelah semuanya usai, tiada kata yang terucap dari bibir mereka, tetapi mata mereka saling menatap lekat tanpa suara. Kemudian Daffin melingkarkan lengannya ke tubuh Kinanti, mendekapnya dengan sayang, lalu keduanya pun tertidur pulas penuh kepuasan tak terkira. Ekspektasi Kinanti dan Daffin tentang malam pertama telah terpenuhi dengan begitu sempurna.


Dan pagi ini, melihat Kinanti masih tidak menggunakan sehelai benang pun di depan matanya serta merta membuat tubuh Daffin menegang lagi dengan cepatnya. Dan rasanya desakan ini bisa membuatnya gila, membuatnya tak bisa memikirkan apapun selain Kinanti yang kecantikannya seperti bidadari. Entahlah seperti apa rupa bidadari surga, tapi bagi Daffin kecantikan Kinanti cukup bersaing dengan standard kecantikan para bidadari model Victoria Secret yang juga diberi sayap setiap kali melenggang di atas catwalk. Malah di matanya, kecantikan khas Asia seorang Kinanti Queensha justru lebih memukau.


Daffin menatap Kinanti dengan sorot penuh kekaguman. Rambutnya berantakan, beberapanya menjuntai di pipi dan lehernya yang jenjang.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik," ucap Daffin begitu lirih, namun tiada kebohongan dalam getar suaranya.


Tangan Daffin bergerak membelai punggung Kinanti yang mulus, mengalirkan rasa lapar dalam diri Kinanti, tetapi bukan rasa lapar di perutnya. Setiap bagian tubuhnya seperti bersorak menyambut maskulinitas seorang Daffin yang gagah atletis. Cara pria itu menatapnya, menyingkirkan sosok Daffin yang selama ini suka melawak atau merengek seperti bocah. Di depan mata Kinanti kini menjelma seorang pria dewasa, seorang pria yang benar-benar pria dalam arti yang sebenarnya. Pria yang siap memuaskan dahaga dan rasa laparnya, yang kini mendesak dalam setiap aliran darahnya hingga hawa tubuh Kinanti seketika memanas dengan cepat.


Kinanti sekarang berada dalam pelukan Daffin yang terasa begitu memilikinya, memecut gairahnya hingga mengentak-entak. Kinanti menggigit bibir, memejamkan mata kala dorongan primitif dalam dirinya mulai menggerakkan pinggulnya seperti penari erotis.


"I love you," desahnya sangatlah lirih, sambil mengecupi lengan Daffin yang tengah melingkari tubuhnya.


Sekonyong konyong tubuh Daffin menegang. Tapi, bukan karena desakan gairah yang sejak tadi merongrong tubuhnya. Dengan perasaannya yang sedang meluap-luap oleh kebahagiaannya hari ini, haruskah Daffin bilang saja, I love you too? Bukankah itu sangat mudah dan akan membuat Kinanti senang?


"Nggak apa-apa, Daffin. Toh, pernikahan kita ini juga tanpa cinta." Kata-kata Kinanti yang diucapkan di pinggir danau kemarin itu terngiang lagi di telinga Daffin.


I love you. Semudah itukah seseorang mengumbar kata itu hanya karena desakan rasa ingin bercinta?


Masih lekat dalam ingatan Daffin, bagaimana hari itu Anggraeni mengajaknya melihat laut.


"Daffin, kamu tahu apa itu cinta?" ucap sang Bunda yang disahuti gelengan Daffin. Tentu saja Daffin yang belum genap lima tahun belum bisa diajak berfilosofis.


"Cinta, itu seperti nyawa mu, kehidupan mu. Saat cinta hilang darimu, maka yang kau rasakan seperti mati," ucap Anggraeni sambil berjalan ke tengah laut dengan Daffin kecil dalam gendongannya.


"Mati itu sakit kan, Bun?" tanya Daffin dengan polosnya.

__ADS_1


Anggraeni tertawa.


"Jauh lebih sakit jika kau kehilangan cinta, Nak. Apalagi jika cinta itu direnggut paksa darimu. Lebih baik mati. Ya, mati lebih baik. Mati dengan membawa cinta. Cintanya Bunda itu Daffin." Anggraeni tersenyum kepada Daffin yang juga tersenyum kepadanya, tanpa menyurutkan langkahnya yang semakin menuju ke tengah laut.


"Heiii, berhenti! Stooop! Stooop!" Pekikan seseorang di belakang mereka membuat Daffin menoleh. Seorang lelaki dewasa seusia Ayahnya melambai-lambai kepada mereka seraya berlari mengejar. Dan Daffin membalas lambaian tangan lelaki itu dengan senyumnya yang tak menyadari bahaya apapun.


"Bundaaaa!" seru Daffin kala pria itu menariknya paksa dari dekapan Anggraeni.


Dan masih lekat dalam ingatannya, bagaimana Anggraeni mengabaikan dirinya yang dibawa pergi orang asing, dan tetap melanjutkan langkahnya menuju laut.


"Toloong! Hentikan dia! Cepat, hentikan wanita itu! Saya selamatkan dulu anak ini, sambil cari bantuan!" jerit orang yang menggendongnya.


Samar-samar Daffin masih mengingat bagaimana orang-orang berlarian untuk bersama-sama menarik Anggraeni dari tengah laut, diiringi pekik tangis Daffin yang melihatnya, mengira orang-orang akan menyakiti sang Bunda.


"Ups, ... sorry, Kinan. Aku, ... kebelet pipis!"


Sekonyong-konyong Daffin melepaskan pelukannya dari tubuh Kinanti dan meraih jubahnya yang teronggok di lantai sejak semalam. Lalu melilitkan talinya ke pinggang sambil berjalan menuju kamar mandi.


Kinanti tercengang dan berkedip-kedip.


"Aihhh. Kurang ajar," desahnya sambil menjitaki jidatnya sendiri.

__ADS_1


"Aku tadi ngomong apaan sih? I ... love ... you ...?" Kinanti bergidik geli. Lalu menggigit bibir dan mencuri-curi tatap ke arah kamar mandi.


"Tapi, dia tadi... nggak dengar aku ngomong apaan 'kan?" pikirnya tengsin, lalu menenggelamkan wajahnya dalam bantal.


__ADS_2