Fake Couple

Fake Couple
Aset Daffin yang sangat berharga.


__ADS_3

Kinanti buru-buru menyusul Dion ke rutan. Tetapi keinginannya untuk membesuk sang om membuahkan hasil mengecewakan.


"Boleh saya tahu alasan kenapa beliau tidak mau bertemu dengan saya?" desak Kinanti kepada petugas rutan. Dan Kinanti menghela napas sedih karena petugas tersebut tidak bisa memberikan keterangan.


Kinanti kembali ke mobil dengan membawa perasaan bingung atas sikap ganjil Dion yang selalu menghindarinya. Dia ingin ke rumah Asri untuk menengoknya, sekaligus mencari tahu sendiri jawaban dari perubahan sikap Dion, sebagai keluarga Asri mungkin tahu alasannya. Tetapi dia pikir Daffin pasti akan marah jika Kinanti bertemu Asri tanpa izinnya, bagaimanapun Daffin suaminya. Kinanti tak ingin bertindak sesukanya sendiri.


"Mbak, ayo makan dulu? Mbak Kinan sudah melewatkan makan siang," bujuk Yania.


"Nggak pengen, Yania." Kinanti membuang tatapannya ke luar jendela.


"Kenapa Om nggak mau menemuiku ya? Padahal sudah seperti Ayah ku sendiri, pahlawan ku selama ini, Yania." Kinanti menitikkan air mata.


Yania mendesahkan simpatinya.


"Kalau gitu, cari tahu saja, Mbak."


Kinanti menoleh.


"Cari tahu?" tanyanya lugu.

__ADS_1


Yania mengedikkan bahunya dengan santai.


"Bayar saja detektif untuk mencari tahu."


"Tapi..., mahal ya bayarnya?"


Yania tertawa.


"Nggak ada yang mahal. bagi Mas Daffin, Mbak."


"Berarti aku harus minta izin Daffin dulu."


"Yup, belum terlalu terlambat menyusul bos makan siang," asisten pribadinya itu mengedipkan sebelah mata, seakan mendukung Kinanti agar merayu Daffin.


"Barusan saya kontekan sama Rey, katanya Mas Daffin juga belum makan siang gara-gara Mbak Kinanti nggak jadi datang."


"Masa sih?" Kinanti menggigit bibir dan berpikir sejenak.


"Ya sudah, ayo kita temui dia, sepertinya aku harus menyuapinya dengan sesuatu," ucapnya sambil menyeringai kecil. Dia harus menaklukkan Daffin demi mendapat izin sewa detektif.

__ADS_1


##########


Di dalam ruang kerjanya, Daffin masih sibuk berkutat mencermati beberapa dokumen perjanjian bisnis yang sedang dipelajarinya. Daffin menelepon ahli hukum perusahaan dan meminta beberapa saran sebelum mengambil keputusan. Pria itu sedang serius kala Ilna mengetuk pintu.


"Maaf, Pak, permisi...," tegur Ilna hati-hati mengingat mood Daffin tadi sempat memburuk.


Daffin terdiam sejenak sambil bertanya 'ada apa' melalui mimik wajahnya, kedua alis terangkat ke atas.


"Ada Ibu Kinanti," ujar Ilna yang lekas diangguki Daffin dengan senyum terkembang sempurna.


"Suruh masuk," jawab Daffin sebelum melanjutkan kembali kegiatan meneleponnya, tetapi tatapannya masih lekat mengarah ke pintu. Dan cengirannya kian melebar begitu melihat Kinanti muncul di sana, menenteng tas mahal edisi terbatas.


Daffin memindai Kinanti mulai dari ujung rambut hingga ujung kakinya yang memakai high heels dari sebuah brand internasional ternama. Kurang ajar. Kinanti cantik sekali, anggun dalam balutan gaun karya desainer papan atas yang semakin mengukuhkan status dirinya sebagai seorang Nyonya miliarder.


Daffin melambaikan tangan kepada Kinanti, tapi belum bisa memutuskan pembicaraannya dengan ahli hukumnya. Kinanti pun memahami kesibukan Daffin yang tak bisa dihentikan hanya karena kehadiran nya.


Kinanti menghampiri Daffin, berniat ingin duduk di kursi kosong yang berada di depan mejanya, tetapi Daffin merentangkan satu lengannya, sementara tangan satunya masih memegang gagang pesawat telepon. Kinanti pun lekas membelokkan langkah mendekatinya. Daffin pun menarik Kinanti duduk di pangkuannya sambil tetap menerima telepon.


Kinanti tersenyum kecil, Pikirannya mulai berstrategi. Dibelainya wajah sang suami, lalu dikecupnya kening Daffin dengan lembut. Dan Kinanti pun bisa merasakan ketegangan yang menguasai tubuh pria ini sekarang dan ada yang terasa menonjol di tempat yang sedang didudukinya ini, di bagian bawah tubuh Daffin yang paling privat, aset Daffin yang sangat berharga.

__ADS_1


__ADS_2