Fake Couple

Fake Couple
Sumpah?


__ADS_3

Kinanti memandangi swimming pool yang membiru di bawah sana. Itu adalah view favoritnya. Kinanti betah berlama-lama duduk di balkon hanya untuk memandanginya saja.


Tadi Daffin sudah mengajaknya melihat-lihat rumah baru yang rencananya akan ditempati mereka setelah menikah. Rumah seluas lima ratus persegi yang berdiri di lahan seluas seribu lima ratus meter persegi itu terasa sangat besar setelah dirinya terbiasa tinggal di apartemen Daffin yang lebih sempit namun sangat fungsional ini. Jika boleh memilih, Kinanti lebih suka tinggal di apartemen ini saja daripada di rumah itu. Apartemen ini terasa jauh lebih hangat dan menyenangkan bagi Kinanti.


Kemudian Kinanti menghela napas.


Memikirkan pernikahannya yang sebentar lagi akan terjadi tanpa kehadiran keluarga dekatnya. Om Dion mendekam di penjara dan menolak kunjungannya, sedangkan Tante Asri dirawat di rumah sakit karena serangan stroke, membuat sepupunya, Gilang dan Vandi kalang kabut merawat sang Mama. Andai Kinanti di sana, pasti Kinanti yang bakal mengurus semuanya. Selama ini Gilang dan Vandi hanya sibuk sekolah dan bermain saja. Urusan rumah dan segala kerepotannya selalu dilimpahkan kepada Kinanti.


Kinanti prihatin pada nasib mereka. Tapi Daffin melarangnya bersedih dan mengatakan jika apa yang terjadi pada keluarga Tantenya itu pasti buah karma perbuatan mereka sendiri di masa lalu.


"Sudah malam, Kinan. Jangan lama-lama di sini, ntar masuk angin." Teguran Daffin memecah lamunan Kinanti.


"Jaga kesehatan, sebentar lagi kita mau kawin." Daffin menyampirkan cardigan berbahan rajut tebal ke pundak Kinanti, untuk menghalau angin malam yang menerpa tubuh Kinanti yang berbalut piyama katun.


"Nikah, Daffin. Bukan kawin. Kamu kata kita kucing?" ralat Kinanti sambil membetulkan posisi cardigan di pundaknya agar lebih hangat menutupi leher.


Daffin terbahak-bahak sambil mengacak-acak poni Kinanti.


"Nikah juga ujung-ujungnya kawin, Kinan. Sama kayak kucing. Kawin itu kan kebutuhan dasar manusia dan binatang, gunanya buat beranak-pinak, biar rasnya nggak punah, biar kehidupan di bumi ini terus berlanjut."


Kinanti berdecih sebal.


"Malah ceramah," gerutunya.


"Ini bukan ceramah, Maemunah. Tapi obrolan, diskusi. Lah, kan situ duluan yang tadi bahas soal kawin dan kucing."


Kinanti mencebik.


"Memangnya kamu mau punya anak dari aku, Daffin?"


"Ya iyalah gila. Kan yang jadi bini ku ntar kamu. Masa aku bikin anaknya sama bini orang?" sahut Daffin seraya menoyor Kinanti seenak jidatnya. Lalu pria itu mengaduh saat Kinanti balas mencubit lengannya.


"Duh..., sakit juga cubitan mu, Maemunah. Bentar lagi bisa jadi kayak Amber sih kamu, tukang nyubitin orang seenaknya."


Mendengar nama Amber disebut-sebut, Kinanti terdiam. Nama itulah yang sedang menjadi ganjalan hatinya saat ini.


"Daffin, kamu yakin dengan pernikahan kita yang sama sekali nggak dilandasi cinta?" desahnya sambil membuang tatapannya ke arah swimming pool di bawah sana.


Daffin tertawa lirih sambil meraih kedua tangan Kinanti dan menggenggamnya erat-erat.

__ADS_1


"Kinanti, ... tatap aku," bisiknya.


Kinanti menoleh dan membalas tatapan Daffin yang menyorotkan kelembutan.


"Menikah tanpa cinta bukan berarti tak bisa bikin kita bahagia, Kinan. Just have fun with me," bisik Daffin seraya menatap Kinanti lekat-lekat, kemudian pria itu mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir Kinanti yang terkatup rapat.


Menggunakan lidahnya, Daffin akhirnya berhasil membuka bibir cantik itu lalu mendesak masuk dan memperdalam ciumannya membuat Kinanti terengah dan tanpa sadar mendesah nikmat.


Daffin membopong tubuh Kinanti yang terasa ringan dalam gendongannya, merebahkannya ke ranjang masih dengan saling bergulat bibir.


Dengan cepat hawa panas merambati tubuh, nafsu ingin bercinta pun mulai mengentak dan memecut hasrat Daffin. Secepat kilat dia menanggalkan kaos oblong yang dipakainya.


"I want you, Kinan...," desahnya di telinga Kinanti, sementara itu tangannya dengan lincah membuka satu per satu kancing piyama wanita itu.


Hasrat Kinanti bergejolak kala mendengar suara parau Daffin yang terasa begitu mendambanya. Kinanti menggigit bibir bersamaan dengan tubuhnya yang mulai menggelinjang oleh sentuhan demi sentuhan Daffin di beberapa titik sensitif tubuhnya yang kini setengah tidak memakai sehelai benang pun.


"Kalau mau teriak, teriak aja, Kinan. Jangan ditahan-tahan, oke? Dinding apartemen kita bagus, suara kita aman nggak bakal kedengaran sampai luar," kata Daffin tanpa menurunkan tensi cumbuannya.


"Owhh...!" Pekikan itu pun sungguh keluar dari bibir Kinanti yang menggeliat di bawah kungkungan Daffin.


Daffin terpukau menatap sosok Kinanti yang mengagumkan. Jantungnya berdetak cepat, tak menyangka Kinanti ternyata seindah ini. Dia pun mengerahkan upaya terbaiknya untuk memuaskan Kinanti.


Kinanti nyaris mengangguk, tapi sekonyong-konyong wasiat Maminya terngiang-ngiang.


"Kinan, berjanjilah ... 'no *** before married'. Itulah letak perjuangan mu sebagai wanita, bagaimana menjaga keperawanan yang akan kau persembahkan hanya untuk suami mu kelak. Meskipun misalnya pernikahan mu tinggal sehari lagi, tetaplah dijaga sampai kau benar-benar sah menikah." Seperti itulah ucapan Maminya dulu, saat menemukan kissmark di leher Kinanti, jejak ciuman pertamanya dengan Ikram.


Ah. Ikram.... Tiba-tiba hati Kinanti bagai disilet ketika teringat kembali nama itu. Kenapa hatinya tiba-tiba sesakit ini? Padahal besok adalah pernikahannya dengan Daffin, pria yang telah begitu baik padanya. Harusnya Kinanti bahagia karena akhirnya ada juga pria yang berhasil melengserkan Ikram yang selama ini bertahta dalam asanya.


Kinanti menggigit bibir kala teringat kembali bagaimana Ikram menyusupkan tangannya ke dalam gunung kembarnya hari itu. Ah. Ya..., seperti ini..., seperti cara Daffin menyentuhnya sekarang ini. Gunung kembar nya terasa pas dalam genggaman tangan Ikram yang hangat dan sanggup menggetarkan sekujur tubuhnya kala itu. Dan Ikram pun tertawa lirih seraya menatapnya dengan sorot kelembutan dan kasih sayang saat Kinanti mulai mendesah, merasakan kenikmatan semacam ini untuk pertama kalinya.


"Boleh?" bisik Ikram kala itu dan tangannya pun bergerak cepat melepas kancing demi kencing baju seragam sekolah Kinanti begitu Kinanti mengangguk.


"Suka, Kinan?" Ikram berbisik lagi seraya membelai lembut gunung kembar nya. Sensasi belaian Ikram itu pun sanggup membuat Kinanti kehilangan kewarasannya.


Kinanti mengangguk lagi membiarkan Ikram melakukan apa saja yang dia inginkan. Lalu Kinanti memejamkan mata kala Ikram kembali menciumi bibirnya, lalu turun ke leher sambil terus membelai-belai gunung kembar nya dengan gerakan teramat lembut namun terasa begitu nikmat.


"Ikram!" Bentakan Papa Ikram yang menyerbu masuk ke dalam kamar pun lekas menguraikan pergumulan mereka.


Kinanti tercekat dan keluar dari lamunan kala Daffin bersiap mendesakkan dirinya.

__ADS_1


"No..., jangan sekarang, Daffin." Kinanti mendorong dada telanjang Daffin yang berkeringat.


"W... why...?" Daffin terdengar kecewa.


"Kita belum nikah."


"Toh, besok kita nikah."


"Tetap saja, sekarang belum sah. Kita bukan kucing yang asal kawin tanpa didahului pernikahan."


Daffin terbahak-bahak dan berguling dari atas tubuh Kinanti.


"Aaargh. Tanggung banget nih, Maemunah," gerutunya.


Daffin memiringkan tubuh dan menatap Kinanti. Lalu pria itu tersenyum.


"Oh My God.... kamu cakep banget sih, Kinan? kamu cewek tercakep yang pernah aku lihat, tapi juga satu-satunya yang nolak aku pas udah di ujung gini," desahnya.


Kinanti memukuli Daffin dengan dongkol.


"Kurang ajar! Jadi kamu udah lepas segel? Udah main sama berapa cewek kamu, hah? Awas kamu, jangan 'main' sama aku! Ogah aku ntar kena HIV!"


"Anjirrr. Sembarangan aja kamu, Maemunah!" Daffin menjitak kening Kinanti seenaknya, tapi terkekeh saat Kinanti balas menabok lengannya.


"Gini-gini iman aku masih setinggi tembok China, Kinan."


"Cih," decak Kinanti tak percaya.


"Oke, aku emang pernah nongkrong di night club, pernah iseng check in bawa cewek, tapi akhirnya cuma aku *****-***** doang, kok..., nggak sampai dicelupin. Sumpah!" oceh Daffin seraya mengangkat telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.


'Kecuali Nadia, itu kecelakaan!' lanjut Daffin dalam hati. Makanya Daffin masih menyimpan dongkol kepada Nadia, sebab telah mencuri keperjakaannya yang sangat berharga. Untung saja Nadia sudah dia pastikan sehat, bebas HIV.


"Bohong!"


"Sumpah, Kinan."


"Sumpah mandul? Kalau kamu bohong, ntar kena azab mandul. Berani?"


Seketika, Daffin pucat pasi.

__ADS_1


__ADS_2