
Alunan musik instrumental piano menambah kesyahduan acara pernikahan ini. Orang-orang terlihat nyaman, bebas makan dan minum menikmati sajian. Percakapan dan gelak tawa terdengar ramai hingga setiap sudut taman. Inilah pesta yang sebenarnya, kemeriahan yang mencapai setiap sudut tempat.
Sementara MC sedang memandu acara dan mengajak para tamu undangan bersenang-senang dengan games berhadiah, Daffin malah mengajak Kinanti berkeliling, menemui beberapa teman lama mereka yang tengah asik mengobrol saja di sudut taman sambil merokok. Daffin lebih suka seperti ini, aktif berbaur daripada duduk-duduk saja di pelaminan dan berjarak dengan teman-temannya yang berharga.
"Ngapain kamu sampai sini, pengantin kok malah sibuk keliling. Bukannya duduk-duduk aja mumpung lagi jadi raja dan ratu sehari," tegur Dedi, teman Daffin semasa SMA. Dedi Cs terkejut karena Daffin dan Kinanti malah menyambangi mereka, meninggalkan pelaminan.
"Justru itu, aku ini kan ceritanya raja yang perhatian sama rakyatnya. Makanya aku pengen nengokin langsung kalian-kalian wahai rakyat jelata, stok sembako di rumah aman 'kan?" sahut Daffin sambil menjabat tangan Dedi dan teman-temannya yang lain.
"Kurang ajar, aku dikata rakyat jelata. Kagak liat apa aku ke sini tadi pakai mini cooper?" Dedi pura-pura protes.
Daffin mencebik.
"Kagaklah, ngapain juga aku kurang kerjaan ngeliatin kamu ke sini naik apaan. Lagian bodo amat, nggak peduli, tapi awas aja kalau isi amplop mu tipis," selorohnya.
"Bisa banget ye, Daffin. Kamu bikin amplop ku insecure gara-gara terima cinderamata kawinan mu itu, Logam Mulia lima gram, bray!"
"Eh, itu ceritanya aku titip simpen aja ke kalian semua. Ntar pas butuh, tinggal aku minta, daripada aku keluar duit buat sewa SDB (Safe Deposit Box). Dah aku catet ye nama-nama kalian semua, jangan ngilang kalian, kalau aku ntar butuh duit."
"Yaah, ntar kalau pas kamu ambil tapi adanya tinggal surat dari pegadaian gimana dong, Daffin?"
Seketika tawa Daffin dan teman-temannya meledak ramai. Tentu saja semuanya tahu jika Daffin hanya bercanda. Sejak dulu Daffin bukanlah tipe orang yang suka memberi disertai pamrih, dia orang yang tulus. Dan mata mereka sekarang kian terbuka lebar, bisa melihat siapa gerangan Daffin yang sebenarnya, dibalik kesederhanaannya selama ini ternyata teman mereka ini seorang pengusaha dan cucu konglomerat.
Kinanti tersenyum dan ikut tertawa mendengar senda gurau Daffin dengan teman-temannya, yang merupakan temannya juga karena satu SMA.
"Eh, Kinan? Selamat ya udah jadi Nyonya Daffin." Angga menyapa seraya mengulurkan tangan, menjabat tangan Kinanti yang membalas jabatannya dengan senyum hangat.
Teman-temannya yang lain jadi ikut-ikutan menjabat tangan Kinanti bergantian. Padahal tadi mereka sudah saling berjabat tangan dan foto bersama di pelaminan sana.
__ADS_1
Daffin melirik Kinanti yang sejak tadi tersenyum, sorot matanya yang berbinar gembira semakin menegaskan kecantikannya di mata Daffin.
Tetapi sepertinya bukan hanya Daffin yang melihatnya, teman-teman lelakinya yang lain pun tampak tertegun sesaat mengagumi kecantikan Kinanti. Diam-diam dalam hati mereka tak menyangka jika Kinanti bakal menjelma jadi semenarik ini. Kenapa tak ada yang menyadari kecantikan Kinanti sejak SMA? Mungkin karena Kinanti yang terlalu pendiam dan tak suka banyak gaya seperti umumnya remaja lain di kala itu. Wanita itu tak suka menonjolkan dirinya sejak dulu dan menjalani hari-harinya di SMA dengan cara yang sangat biasa saja.
"Well, nikmati pestanya. Thank's udah pada datang." Daffin buru-buru menggandeng Kinanti dan membawa pergi istrinya jauh-jauh. Daffin tahu seperti apa isi kepala mereka hanya dengan melihat sorot tatapan para lelaki itu.
"Maemunah, bisa nggak sih kalau nggak usah tebar pesona kayak gitu?"
###########
Kalandra mengedarkan pandang, tetapi dia tak menemukan juga sosok yang sedang dicari-carinya.
"Rey, di mana Nadia?" tanyanya kepada Rey yang kebetulan sedang melintas.
Rey mendekat dan membungkuk hormat.
Kening Kalandra berkerut bingung.
"Apa dia bertengkar lagi dengan Daffin? Bukankah mereka sudah baikan kemarin?"
"Mmh... mungkin untuk hal ini, mohon maaf, Tuan bisa menanyakan langsung kepada Mas Daffin saja," jawab Rey ingin mengamankan diri, dia takut keliru memberi jawaban tanpa menyadari jika jawabannya barusan justru mendatangkan masalah.
"Dasar, Daffin," gumam Kalandra seraya menelepon Nadia.
"Halo, selamat pagi, Opa?" sapa Nadia begitu Kalandra meneleponnya.
"Kau di mana? Kenapa tak datang ke pesta pernikahan Daffin?"
__ADS_1
"Maaf, Opa. Daffin melarang saya datang."
"Ada apa lagi memangnya?" desah Kalandra sambil geleng-geleng kepala.
"Entahlah, Opa. Tapi Daffin berpesan, katanya dia akan memusuhi saya seumur hidup jika saya sampai menginjakkan kaki di acara pernikahannya hari ini."
Kalandra menghela napas panjang. Ternyata sisi kekanakan Daffin masih saja belum hilang. Sejak kecil, setiap ada masalah cucunya itu kerap menjadikan Nadia bulan-bulanan kemarahannya. Kalandra jadi kasihan kepada gadis itu. Padahal Kalandra dulu menyuruh Bik Sri memindahkan puterinya itu dari kampung ke Jakarta, agar bisa menjadi teman dan saudara bagi Daffin yang kala itu terlihat sangat kesepian.
"Sa... saya... titip... Nadia, Tuan." Demikianlah wasiat Bik Sri, orang yang telah berjasa merawat cucunya sejak bayi. Dengan demikian, Kalandra gantian ingin merawat Nadia seperti cucunya sendiri. Lagipula dengan segala kelebihannya, merawat anak yatim piatu seperti Nadia sudahlah kewajiban baginya.
Kemudian Kalandra menyekolahkan Nadia dengan serius, sama seriusnya seperti mengurus pendidikan Daffin. Dan ternyata Nadia anak yang cerdas, sehingga sanggup mengikuti pelajaran yang ditempuhnya di sekolah-sekolah internasional dengan nilai akademik yang baik. Berbanding terbalik dengan cucunya sendiri yang malas belajar, bahkan merengek minta disekolahkan saja di sekolah biasa tanpa ada embel-embel internasional. Membuat Kalandra was-was melepas Daffin dalam pergaulannya dengan anak kampung biasa. Sehingga Reza mengirim tim bodyguard khusus yang mengawasi Daffin selama 24 jam, tanpa Daffin sadar jika sedang dikawal dan selalu diawasi keamanannya. Dengan begitu Daffin bebas bergaul dengan teman-temannya dari semua kalangan, tanpa tebang pilih.
"Sudah-sudah. Kemarilah sekarang," tegas Kalandra pada Nadia.
"Tapi, Opa? Kalau Daffin marah gimana?" Nadia terdengar khawatir. Dia kapok saat Daffin marah besar sampai-sampai bikin oleng perusahaannya.
"Opa yang tanggung jawab. Ke sinilah sekarang. Lagipula aku perlu memperkenalkan mu sebagai CEO anak perusahaan Kalandra Group yang baru, kepada beberapa rekanan ku yang jadi tamu undangan ku di sini."
"Baiklah, Opa. Karena Opa sendiri yang meminta, saya akan datang," desah Nadia terdengar lega karena dukungan Kalandra.
Kalandra menutup telepon dan menatap Rey yang terpaku di depannya.
"Kau boleh pergi," katanya sambil menahan heran kenapa asisten pribadi cucunya itu memandanginya dengan wajah pucat, seperti melihat hantu lewat.
"B... baik, permisi, Tuan." Rey pamit.
'Duh. Gawattt!' Rey benar-benar kalang kabut.
__ADS_1