
"Ikram!" Kinanti mendorong Ikram agar menjauh, setelah lelaki itu puas menciumnya.
Ikram menatap Kinanti yang terbelalak shock kepadanya. Meski bibirnya terkatup rapat, tetapi mata wanita itu menyiratkan banyak hal. Bahwa benar, memang ada cinta di antara mereka. Hanya saja, Kinanti tak sanggup mengakuinya karena keadaan dan status Ikram yang sudah jadi suami orang.
"Jangan gila, Ikram. Kamu suami Amber, teman dekat ku! Seharusnya kamu tanyain hal ini sejak dulu sebelum kamu menikahi Amber, kenapa baru sekarang? Jangan bikin aku jadi serendah ini, Ikram. Kalau aku meladeni kamu, akulah yang bakal di cap pelakor! Orang-orang nggak peduli siapa yang memulai perselingkuhan duluan, bagi mereka tetap aja aku yang salah," cecar Kinanti dengan air mata yang menganak sungai di pipi. Kecewa menerima sikap Ikram yang telah menciumnya secara paksa.
Ikram tertunduk usai tertampar kata-kata Kinanti. Ikram merasa dirinya begitu egois. Buat apa pula dia memaksa Kinanti mengakui sebuah rasa yang jelas-jelas sudah dia ketahui sendiri sejak sepuluh tahun lalu.
Ingatan Ikram kembali melayang ke masa SMA. Dimana hari itu dia mencari-cari Kinanti yang belakangan ini jadi sulit dia temui. Kinanti tampak sengaja menghindarinya sejak di usir dari rumah Papanya.
"Ups, sorry!" Ikram bertabrakan dengan seorang siswi di sebuah belokan kelas, dia cepat-cepat memungut buku yang terjatuh dari tangan siswi itu.
"Eh, Kinan?" tegur Ikram seraya mengulurkan buku itu pada orang yang sejak tadi dicari-carinya di seantero sekolahnya yang luas.
"Hai, Ikram." Kinanti tersenyum kikuk sambil melalui Ikram setelah menerima bukunya.
"Kinan, Aku ingin bicara dengan kamu!" Ikram memanggil tapi Kinanti tak mengacuhkannya. Gadis itu justru berlari-lari kecil menuju lapangan basket yang sedang menggelar pertandingan antar kelas.
Ikram menyurutkan langkahnya. Dia tak suka keramaian. Selama ini dia nyaman dengan Kinanti karena punya banyak kesamaan. Sama-sama suka ke perpustakaan bukan cuma untuk membaca tapi untuk menikmati kesendirian alih-alih membaca atau menulis tugas. Jauh dari kebisingan. Tapi sekarang Kinanti jarang mengunjungi perpustakaan. Ikram sering melihatnya di tepi lapangan basket bersama Amber dan teman-temannya yang berisik.
Ikram pun ikut mencoba keluar dari zona nyamannya dan belajar basket dari teman sekelasnya. Dan sesekali nongkrong bareng di warung kopi sambil main gitar sampai larut malam. Ternyata lumayan menyenangkan. Perhatiannya jadi sedikit teralihkan dari sosok Kinanti yang belakangan ini suka mengganggu pikirannya
"Ikram, rumah kamu di mana sih?" tanya Daffin seraya mengulurkan sekaleng soft drink di sela-sela waktu istirahat mereka latihan di lapangan basket Senayan.
"Yuk, langsung mampir aja ke rumah ku sehabis ini?" Ikram menawari dan Daffin mengiyakan dengan sekali anggukan.
Ikram membawa Daffin ke rumahnya di Sabtu pagi itu. Mereka jadi akrab dalam waktu singkat. Nyaris lupa waktu kelewat asik main PS di kamar Ikram. Apalagi Bibi menyuguhi mereka dengan banyak makanan enak yang diantarkan setiap waktu ke kamar Ikram.
"Anjrit, enak-enak banget masakan pembokat mu, Ikram!" kata Daffin sambil melahap pempek buatan Bibi yang rasanya tak kalah lezat dari pempek Pak Raden.
Ikram tersenyum melihat Daffin sangat menikmati sajiannya, seketika mengingatkannya pada sosok Kinanti yang juga sangat menyukai masakan Bibi. Membuat Ikram diam-diam merindukan momen kebersamaannya dengan gadis itu.
"Ikram, Kinanti itu diam-diam galak ya?" celoteh Daffin sambil menekan-nekan tombol stik PS, menghindari serangan pasukan Ikram yang bertubi-tubi.
__ADS_1
Jantung Ikram berdebar-debar mendengar nama Kinanti disebut-sebut.
"Kenapa nanya-nanya? kamu naksir?" seloroh Ikram dengan hawa panas yang diam-diam merambati dadanya. Hingga dia melancarkan serangan gila-gilaan kepada Daffin lewat permainan PS mereka. Membuat Daffin bertekuk lutut dibawah intimidasi permainannya.
"Ah, kamu nggak bisa ngalah dikit ара, Ikram? Sadis amat serangan mu, udah tahu aku newbie," protes Daffin sambil melempar stik PS ke kasur.
"Btw, ngapain kamu tadi tanya-tanya Kinan?" Ikram juga meletakkan stik PS dan menoleh pada Daffin.
"Oh, itu. Ceritanya, aku kemarin memungut kertas puisi punya Kinanti. Jatuh dari bukunya. Niatnya mau aku balikin. Tapi aku takut dia marah, soalnya kertasnya udah lecek sama aku. Nah, kalau aku balikin kira-kira dia ngamuk nggak, ya? Dengar-dengar kamu pernah kena selepet dia gara-gara tugas kelompok, ya? Ntar aku kena amuk nggak ya, kalau kertasnya aku bikin kucel gitu?"
"Mana sih kertasnya, coba lihat?"
Daffin membuka resleting tas ranselnya dan mengeluarkan secarik kertas puisi yang betulan lecek, tapi tulisannya masih jelas terbaca. Lalu mengulurkannya pada Ikram.
"Kayak gini, nih."
Ikram menerimanya dengan mata berbinar-binar. Lalu bibirnya tersenyum simpul kala membaca isinya.
'Dear, I.... Kutulis namamu di atas pasir tapi ombak menghapusnya. Lalu kutulis namamu di atas awan, namun angin meniupnya pergi. Maka kutulis namamu dalam hatiku saja dan di sanalah namamu terpatri selamanya,'
"Jangan dibalikin deh, Daffin. Dia kayaknya bakal marah. Udahlah. Buang aja." Ikram berkomentar seraya menaruh kertas itu di atas meja dengan acuh tak acuh, padahal nanti setelah Daffin pulang dia bakal buru-buru menyimpannya.
Daffin terkekeh seraya mengangguk-angguk. Ikram tak menyadari kalau Daffin hanya pura-pura minta pendapatnya. Daffin sebenarnya sedang memancing reaksi Ikram. Penasaran. Ingin melihat apakah Ikram suka juga dengan Kinanti atau tidak.
"Kinan, diam-diam cakep juga ya, Ikram?" pancing Daffin lagi.
Ikram memutar bola mata.
"Ah! Cakepan juga Amber, Fin," sahutnya asal saja. Padahal Ikram tak pernah memperhatikan Amber secara khusus. Baginya, cuma Kinanti yang menarik di antara semua gadis di sekolahnya.
"Eh, bacot! Punya ku itu, anyiiing!"
Daffin menendang bokong Ikram dan Ikram pun balas menendangnya. Keduanya pun main tendang-tendangan dan pukul-pukulan bantal.
__ADS_1
###########
"Maaf, Kinan. Aku... khilaf."
"Tolong jangan kayak gitu lagi, Ikram. Apapun yang pernah terjadi antara kita, itu tinggallah masa lalu. Jangan diungkit-ungkit lagi. Kamu suami Amber sekarang."
"Dan kamu? Yakin akan menikah dengan Daffin?" ucap Ikram tiba-tiba. Dan seketika itu juga ada rasa sakit menyengat hatinya kala melihat Kinanti mengangguk.
Seorang suster menyela masuk.
"Maaf, permisi. Dokter ingin bicara dengan wali atau keluarga Ibu Kinanti Queensha. Bisa ikut saya ke ruangan sebentar, Pak?"
Ikram mengangguk.
"Kinan, istirahatlah. Aku tinggal dulu, ya?" pamit Ikram seraya menyelimuti Kinanti.
Si suster tersenyum simpul sambil memegangi dadanya yang masih kaget gara-gara memergoki kedua orang itu berciuman panas tadi. Untung saja dia tak nyelonong masuk.
Lima belas menit kemudian Ikram kembali lagi ke dalam ruang perawatan dan berkata.
"Kinan, syukurlah nggak ada cedera serius. Dokter tak mengharuskan mu rawat inap, tapi setidaknya menginap lah di sini dulu sampai besok,"
Kinanti terdiam.
'Lagipula aku tak berniat pulang malam ini,' pikirnya sedih. Ingin menginap di hotel tetapi malah bermalam di rumah sakit.
"Aku udah telepon Daffin. Dia lagi otw ke sini. Aku pulang setelah dia datang."
"Eh...? Da... Daffin? kamu ngasih tahu dia?" Kinanti mendadak sangat gugup.
"Memangnya kenapa?"
"Di... dia mau... ke sini?"
__ADS_1
"Harus. Dia kan tunangan mu. Atau ... kamu pengen aku aja yang nungguin kamu malam ini?" bisik Ikram seraya menancapkan tatapannya dalam-dalam kepada Kinanti.
Kinanti memalingkan wajah, menahan gejolak yang menyentak-nyentak dalam dadanya.