
Kesedihan Daffin terasa meluap saat ingatannya menampilkan kembali sebuah momen bersama Amber, beberapa saat setelah kabar angin tentang pertunangan wanita yang dicintainya itu dengan Ikram berembus sampai ke telinganya.
"Amber, please. Kenapa dia? Kalau lelaki itu bukan Ikram, aku masih bisa terima," kata Daffin saat nekat menemui Amber ke rumahnya kala itu.
"Memangnya kenapa kalau Ikram?"
"Amber, Kinanti suka sama Ikram sejak SMA. Dan kamu tahu tentang itu! Masa kamu tega mengkhianati bestie sendiri?"
"Mengkhianati? Siapa? aku? Halo...? Salah aku ya, kalau Ikram sukanya malah sama aku?"
"Ikram? Suka sama kamu?" Daffin terbahak-bahak.
Bah! Daffin mungkin cowok pe'ak, rada sableng. Tapi bukan berarti Daffin tak punya kepekaan. Diam-diam, Daffin sering iseng mengamati interaksi Kinanti dengan Ikram sejak SMA. Sejak dia tak sengaja memungut sebait puisi yang dituliskan gadis itu untuk Ikram. Daffin juga bisa melihat jelas perbedaan sorot mata Ikram saat lelaki itu sedang menatap Kinanti atau Amber. Dan ciuman Ikram kepada Kinanti yang dilihatnya di vila itu semakin membuktikannya. Bahkan sepanjang acara, Daffin sering memergoki Kinanti dan Ikram saling mencuri tatap. Ikram dan Amber memang terlihat dekat sepanjang acara reuni. Tetapi, gesture yang ditunjukkan Ikram tak tampak seperti seorang pria yang sedang menyimpan perasaan khusus pada Amber. Berbeda dengan saat-saat Ikram sedang berada di sekitar Kinanti. Caranya menatap, menyapa, menawari makan dan minum, juga tingkahnya ketika berbagi cerita dan tawa sambil terus menancapkan tatapan kekagumannya pada Kinanti, jelas-jelas seperti lelaki yang sedang jatuh cinta.
"Amber. Aku beritahu kamu, Ikram mencintai Kinanti sejak SMA."
"Itu bukan urusan kamu! aku suka sama siapa itu hak aku. Kinanti suka sama siapa itu juga haknya Kinanti. Juga Ikram sukanya sama siapa, itu haknya Ikram. Nggak ada hak kamu buat ngatur-ngatur perasaan orang!"
"Hak aku suka sama kamu juga kan, Amber?"
"Iya, dan hak aku juga buat nolak kamu!"
"Anjirrr." Daffin tertawa lirih.
"Kurangnya aku apa sih, Amber?" desahnya seraya meraih tangan Amber dan meremasnya dengan tatapan memohon.
"Kamu bukan tipe aku, Daffin!" Amber menarik tangannya dengan cepat, lalu bersedekap seraya mengangkat dagu.
"Kamu itu cerewet dan kekanak-kanakan. Sedangkan Ikram lebih dewasa," ketusnya sambil memutar bola mata.
Daffin menelan ludah menyabarkan diri.
"Amber, aku perduli sama kamu! aku harus ingatkan kamu, Ikram itu sukanya sama Kinanti. Dia cuma separuh hati sama kamu, jangan sampai kamu ntar kecewa dan patah hati," ucapnya dengan lebih tenang.
"Stop it! aku tahu, Daffin. Aku tahu banyak soal Ikram dan Kinanti ketimbang kamu. Asal kamu tahu, Ikram itu cuma kasihan sama Kinanti!"
__ADS_1
"Apa kamu serius dengan kata-kata mu, Amber?"
Amber mengedikkan bahu masa bodoh.
"Kinanti nya juga sih baperan jadi orang. Semua kebaikan Ikram dibaperin!"
"Amber! dia itu bestie kamu, kan?"
"Terus kenapa?" ketus Amber.
Begitulah, sekeras apapun Daffin berusaha menyadarkan Amber, sama sekali tak mengubah keputusan wanita itu. Pertunangan itu tetap berlanjut.
"Aku bertaruh kamu pasti akan menangis!" Daffin mengutuk seraya membanting surat undangan pernikahan dari Amber, si mantan pacar.
Sungguh. Daffin tak betul-betul bermaksud menyumpahi Amber. Bagaimanapun, Daffin mencintainya, Daffin juga tak rela jika Amber tersakiti. Dia tak percaya Ikram menikahi Amber karena cinta. Desas-desus yang terdengar, mereka dijodohkan demi kepentingan bisnis keluarga.
Daffin tak berharap Ikram bakal mencurangi perasaan Amber yang tampak tulus menikahinya. Tetapi, telepon Ikram di pagi buta itu sungguh mengguncang kecemasannya. Telepon yang menyabotase niat Daffin untuk mencium Kinanti yang sedang tertidur cantik di atas sofa dalam apartemennya.
"Kurang ajar!" maki Daffin mendengar ponsel Kinanti berisik mengganggu padahal sedikit lagi bibirnya menyentuh bibir merah jambu itu. Daffin menyambar ponsel itu dengan cepat dan ingin mematikannya, tapi tertegun begitu nama Amber terpampang di layar. Seketika jantungnya dilumat kekhawatiran. Daffin pun mengangkatnya. Dia pikir Amber sedang butuh bantuan. Sebab jam empat pagi bukanlah waktu lazim bagi seseorang untuk menelepon orang lain tanpa alasan mendesak. Daffin nyaris saja membuka mulut untuk menyapa. Namun bungkam begitu kupingnya malah mendengar suara bariton Ikram.
Tangan Daffin gemetar. Berani-beraninya Ikram mengkhianati Amber! Padahal belum juga sebulan pernikahan mereka.
"Kinan, please. Sampai kapan kamu bakal memblokir nomor ku?"
Daffin tersenyum sinis. Setidaknya ini bukan perselingkuhan dua arah. Tapi tiba-tiba terngiang kembali di kepalanya ucapan Kinanti.
"Apa sih Daffin, yang kamu sukai dari Amber sampai kamu tergila-gila sama dia? Perlukah aku bantuin kamu buat ambil balik Amber dari Ikram?"
Daffin jadi gelisah. Inikah yang membuat Kinanti berkata begitu? Karena Ikram sering menghubunginya diam-diam dan menawarkan affair?
"Kinanti..." Ikram bicara lagi. Daffin memasang kuping, ingin tahu apa yang akan dibicarakannya.
"Biarpun aku udah menikah tapi aku pengen kita tetap bisa berteman baik kayak dulu, Maafin aku, Kinanti. Aku terlalu pengecut dan terlambat buat mengungkapkan ini," terdengar Ikram menghela napas sejenak sebelum kembali berkata.
"Kinanti..., I love you. Aku udah jatuh cinta sama kamu sejak kita jadi teman sekelas di SMA," lalu pria itu tertawa lirih.
__ADS_1
"Iya, Kinan...." desahnya.
"Bahkan sejak sebelum kamu ngeliat aku nangis hari itu di TPU. Aku udah suka sama kamu saat itu, Kinanti. Maaf. Karena baru bilang sekarang. Maafin aku, Kinanti. Please. Maafin aku." Ikram mendesah lagi dengan nada berat.
"Aku cinta sama kamu, tapi maaf aku terpaksa menikahi Amber. Untuk alasan yang nggak bisa aku jelasin. Please, Kinanti. Kamu boleh benci aku, tapi tolong jangan benci Amber karena pernikahan kami. Tetaplah jadi teman baiknya." Ikram mengatakannya dengan begitu lirih, nyaris menyerupai bisikan. Tapi sanggup menyambar-nyambar telinga Daffin yang mendengarnya.
"Kinanti, aku juga pengen ngeliat kamu bahagia. Tapi, dengan Daffin? Aku rasa dia bukan pria yang baik untuk kamu. Tolong pikirkan lagi, Kinanti. Aku perduli banget sama kamu."
Daffin hampir saja memaki tetapi sambungan teleponnya keburu mati.
"Dia bukan pria yang baik untuk kamu?" desisnya mengulangi kata-kata Ikram dengan nada sinis.
"Oh. benarkah?" ketusnya.
Seketika tekad Daffin menggelegak dalam kemarahan. Akan dia bungkam kejulitan Ikram dengan menikahi Kinanti!
Daffin memutar kembali mobilnya menyusul Kinanti ke halte tempat dia menurunkan wanita itu tadi. Namun sudah tak terlihat lagi sosok Kinanti di sana. Daffin memukul kemudinya dengan kesal. Pria itupun menuruni mobil dan menguncinya, lalu berlari-lari kecil.
"Kinanti!" panggilnya sambil menoleh ke sana-sini,
"Kinanti...! Kinanti...!" serunya lagi mencari-cari sosok Kinanti dengan napas terengah.
Tak banyak orang yang ada di sana dan tak satupun dari mereka yang seperti Kinanti. Kemudian Daffin menelepon wanita itu, tetapi panggilannya ditolak sebanyak apapun Daffin meneleponnya lagi dan lagi.
############
Daffin menyugar rambut hitamnya yang seindah model iklan shampo. Lalu mendesah pelan seraya memutar-mutar gelas wine di tangannya. Red wine ini cukup membantu Daffin meninggalkan segala ingatannya yang menjengkelkan. Lalu pria itu memandangi swimming pool di bawah sana.
"Cantik banget ya dilihat dari sini." Tiba-tiba ucapan Kinanti malam itu menyinggahi pikirannya.
Di balkon apartemennya ini, dia pernah berbincang-bincang dengan Kinanti. Dengan Keakraban yang diam-diam membungkus hangat perasaannya. Dibalik kediamannya selama ini, sebenarnya Kinanti sosok yang menyenangkan. Hingga muncul setitik harap dalam hati Daffin, bisakah Kinanti membuatnya jatuh cinta? Dan membantunya melupakan Amber? Namun yang terjadi, wanita itu malah memutuskannya dalam hitungan hari. Lebih menyakitkan lagi saat melihatnya bersama sugar daddy.
"Kurang ajar!" pekik Daffin sambil melempar gelas wine di tangannya hingga hancur begitu membentur dinding. Sehancur perasaan Daffin detik ini kala teringat lagi tentang tiga kotak ****** yang tercecer dari paper bag Kinanti tadi.
"Kurang ajar, Seaktif itukah Kinanti bercinta dengan babi tua itu?"
__ADS_1