
Ikram baru saja menyelesaikan sarapannya saat Amber turun setelah mandi selama hampir satu jam. Entah apa saja yang dilakukannya di kamar mandi dengan waktu selama itu. Untung saja ada beberapa kamar mandi di rumah mereka yang besar ini, sehingga Ikram tak perlu mengantri menunggu istrinya selasai mandi baru dia mandi.
"Letakkan dulu hapenya," kata Ikram sambil mengambil gawai dari tangan Amber.
Amber memberengut, tapi menurut. Wajah cantik itu tersenyum melihat Ikram menyendokkan nasi beserta lauk pauknya.
"Ini namanya kamu sarapan sekalian makan siang," tutur Ikram seraya menyodorkan sepiring makanan kepada istrinya.
"Makasih, Sayang." Amber mengedipkan sebelah mata.
Ikram tersenyum melihat Amber yang lahap menyantap makanan, melupakan dietnya. Mungkin karena pembantu baru mereka yang jago sekali masak.
"Mubazir kalau cuma dicicip dikit," seloroh Amber sambil menambahkan lagi lauk-pauk ke dalam piringnya.
"Makan yang banyak, awas jangan sampai tersedak." Ikram mengisi lagi gelas minum Amber yang tinggal setengah.
Amber tersenyum menerima perhatian Ikram yang sangat manis kepadanya. Amber mulai tahu kebiasaan Ikram yang satu ini, yaitu suka ditemani dan menemaninya makan sampai selesai.
"Memangnya aku anak kecil, aku bisa sendiri," kata Amber setiap kali Ikram ingin membantu menyingkirkan dulu duri ikan yang akan disantapnya.
Ikram menghela napas, mengingatkan dirinya sendiri jika Amber bukanlah Kinanti yang takut pada duri ikan. Entah kenapa, Ikram masih saja belum bisa menghilangkan kebiasaan tentang membersihkan ikan dari durinya itu, karena dulu dia senang sekali melakukan itu untuk Kinanti.
Sementara Amber makan, Ikram meminjam smartphone Amber yang rupanya tadi tengah membuka halaman Instagr*m. Dan dia langsung menemukan instastory Daffin yang seperti titik-titik saking banyaknya yang di upload. Dengan jantung berdebar-debar, Ikram nekat mengintip isinya. Ternyata ada banyak sekali foto-foto Kinanti yang diunggah di sana, disertai kata-kata romantis sarat pujian dari Daffin untuk Kinanti yang sekarang sudah sah menjadi istrinya. Norak, tapi tak heran lagi jika Daffin yang menuliskannya. Kata-kata gombal seperti itu memang Daffin banget. Tapi yang menarik perhatian Ikram adalah kecantikan Kinanti yang tak pernah surut di matanya. Ikram tahu ini salah, sangat salah. Semestinya dia tak boleh lagi menyimpan ketertarikan untuk wanita selain istrinya, tetapi... wanita lain itu adalah Kinanti, Ikram bisa apa jika ini tentang Kinanti? Perasaan Ikram seperti melumpuh jika menyangkut Kinanti. Serta merta Ikram membuang napas penat, lelah akan perasaannya kepada Kinanti yang tak kunjung tuntas dan terus mengganjalnya ini.
"Ngeliatin apa, Sayang? Serius amat?" Teguran Amber membuat Ikram gugup.
"Oh, tidak ada."
Amber menyipitkan mata tak percaya.
__ADS_1
"Tidak ada? Benarkah? Wajahmu mengatakan sebaliknya."
Ikram tertawa lirih dan berkomentar.
"Ini..... nggak sengaja ngeliat instastory Daffin. Ckckck. Kata-katanya, ampun deh." Lalu geleng-geleng kepala.
"Norak? Kalau nggak norak kan bukan Daffin," cengir Amber. Lalu Amber mengambil alih gawainya dari tangan sang suami. Dan jantungnya bagai lupa cara berdenyut saat melihat tas yang sedang ditenteng Kinanti dalam foto itu. Kurang ajar. Itu adalah tas dengan brand international seri terbaru yang sedang di incarnya, tetapi sekarang Kinanti sudah memilikinya duluan. Lalu Amber memindai penampilan Kinanti dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan tak ada barang yang tak bermerk mahal.
"Amber? Kok tiba-tiba wajah mu pucat begitu?" Ikram mengguncang lengan istrinya.
Amber menatap Ikram lurus-lurus.
"Kapan kamu punya waktu ke luar Negeri? Temani aku jalan-jalan dan belanja," ujarnya dengan segaris senyum kaku karena dipaksakan.
Ikram mendesah.
"Beda, Ikram, Itu kan aku sama teman-teman, tapi nggak sama kamu," rengek Amber dengan tatapan berkedip-kedip penuh permohonan.
"Amber, please. Kamu tahu sekali kesibukan ku seperti apa. Sepertinya kamu juga perlu sibuk agar tak cuma mikirin jalan-jalan melulu. Bangunlah bisnis dengan teman-teman mu, supaya kalian lebih produktif daripada konsumtif terus."
Amber memutar bola mata.
"Siapa bilang aku konsumtif terus? Aku sudah berinvestasi di pasar modal dan juga investasi ke dalam bisnis yang dijalankan teman-teman ku."
"Kalau begitu, ciptakan lah kesibukan baru yang lain lagi. Banyak kok kesibukan yang bisa kamu lakukan selain travelling, shopping, arisan, dan bisnis, misalnya sibuk mengurusi ku, suami mu." Ikram memanfaatkan momentum ini untuk menegur istrinya secara halus.
"Mengurus mu?" Kening Amber berkerut seraya memandangi Ikram.
Ikram mengangguk.
__ADS_1
"Amber, kurasa aku telah memberimu banyak sekali kelonggaran sehingga kamu melalaikan kewajiban mu terhadap ku. Aku lebih banyak dilayani pembantu daripada dilayani oleh mu, istriku sendiri," ungkapnya menyampaikan rasa keberatan.
Amber terkekeh.
"Astaga, Ikram, Kupikir kamu bukan orang yang kuno seperti itu," desahnya sambil geleng-geleng kepala.
"Kuno?"
"Ini era emansipasi, Ikram. Lelaki dan perempuan sama saja. Kalau bisa sendiri kenapa harus dilayani sih? Kalau ada pembantu kenapa harus aku? Papa ku saja nggak pernah protes kok dilayani pembantu selama menikahi mama ku. Sejak dulu juga yang melayani kami semua di rumah ya pembantu. Karena pembantu memang dibayar untuk itu. Lagipula, kamu dulu pas masih tinggal di rumah mu sendiri juga diurus sama pembantu 'kan?"
"Tidak, saat mama ku masih hidup. Mama ku yang mengurus anak-anak dan suaminya dengan tangannya sendiri, Amber," tegas Ikram seraya menyorot lembut kepada Amber meski hatinya jengkel mendengar jawaban Amber tadi. Kehidupan rumah tangga macam apa yang dijalaninya jika Amber terus-terusan bersikap seperti ini?
Melihat Amber terdiam, Ikram melanjutkan kata-katanya.
"Amber, salah satu tugas istri itu melayani suaminya, dengan tangan mu sendiri. Aku tidak memintamu melakukan semua pekerjaan rumah sendirian, maksudku... khusus aku saja yang kamu layani dengan tangan mu sendiri, saat membuatkan aku teh misalnya atau saat menyiapkan makan," jelasnya dengan suara rendah dan lambat agar Amber bisa memahami maksudnya dengan baik. Ikram bisa memahami sikap Amber karena orang tua Amber sangat memanjakannya, dan tidak membiasakan Amber melakukan pekerjaan rumah tangga.
"Ikram, aku nggak suka kamu pakai kata melayani. Karena kedudukan suami istri itu setara. Nggak ada yang lebih tinggi atau rendah antara kita. Bahkan jabatan orang tua kita pun setara. Jangan kolot kenapa, sih?"
"Kolot? Amber..."
"Kamu juga sama, selalu mengutus sopir untuk mengantar-jemput aku ke bandara tiap aku ke luar kota atau ke luar negeri. Alasan mu selalu saja kerja, meeting, ini itu, pokoknya ada-ada saja alasan mu.
"Tapi aku benar-benar sibuk karena banyak pekerjaan, Amber."
"Oke. Fine. Dan aku tak pernah menuntut mu mengantar-jemput aku kan? Padahal itu kewajiban mu sebagai suami. Jangan berlindung dibalik jadwal kerja mu yang super padat itu, deh. Jika kamu memang niat, pasti bisa meluangkan waktu buat menemani ku. Daffin saja dulu selalu bisa meluangkan waktunya untuk ku, padahal dia juga pengusaha, sama sibuknya seperti kamu, tapi dia bisa demi aku, kenapa kamu nggak?"
"Amber!"
"What...? Aku dengar kamu, nggak perlu bentak-bentak!"
__ADS_1