
"Apaan sih!" Kinanti menggeplak tangan Daffin yang tiba-tiba terulur seenaknya ke bibir Kinanti.
"Bibir kamu belepotan cokelat, tau!" Daffin tergelak, menertawakan Kinanti yang mengerutkan kening lalu menjulurkan lidah ke sekitar bibir merah jambunya dan menjilati cokelat yang menempel di sudut-sudut bibirnya.
"Hmm... enak, kalau masih ada, aku mau lagi ya, Fin. No cokelat, no info," kata Kinanti sambil menutup buku dan berlalu meninggalkan Daffin yang berkedip-kedip menatapnya.
"Bereees, Kinaaann!" seru Daffin begitu Kinanti sudah cukup jauh berjalan meninggalkan taman sekolah.
Kinanti tersenyum kecil. Tangannya merogoh sebuah cokelat yang masih utuh dari sakunya.
"Sudah lama Papa nggak lagi bawain oleh-oleh cokelat dari Swiss kayak gini," gumamnya senang.
Sejak saat itu, Kinanti tak perlu menunggu lagi oleh-oleh dari Papanya, karena dia semakin sering mendapatkannya gratis dari Daffin. Saat ditanya dari mana Daffin mendapatkan cokelat-cokelat mahal itu, cowok itu mengedikkan bahu seraya menjawab.
"Aku juga dikasih gratis sama orang kaya yang kebetulan aku kenal. Udah makan aja. Jangan berisik, ah." Begitulah Daffin beralibi hari itu.
"Terus, dari mana kamu punya duit buat beliin tiket konser Amber nonton Suju?" selidik Kinanti sambil memandangi Daffin.
__ADS_1
"Jajan di kantin aja kamu masih suka minta duit aku?" tembak Kinanti, saat itu Kinanti masih punya uang jajan lebih karena orang tuanya belum bangkrut.
"Aku kerja part time, Kinan. Ngumpulin duit biar bisa beliin tiket Amber, nggak apa-apa... yang penting Amber gembira di hari ulang tahunnya."
Jawaban Daffin itulah yang membuat Kinanti tersentuh dan mau membantu Daffin mendapatkan Amber. Tanpa Kinanti ketahui jika tiket konser seharga dua juta yang diberikan Daffin kepada Amber itu tak ada apa-apanya. Dan tentu saja Daffin tak perlu kerja keras untuk mendapatkannya.
###########
Daffin mengecup kening istrinya.
"Thanks, Kinan, kamu makin lihai aja bikin aku melayang," ujarnya sambil mengedipkan sebelah mata.
"Oke, aku mandi dan ganti baju dulu. Telepon Yaya, suruh pesan makanan, kita makan di sini aja, aku nggak ada waktu makan di luar. Masih ada kerjaan yang perlu aku selesaikan di kantor."
"Oke."
Makanan yang dipesankan Yaya sudah tiba, bertepatan Daffin sudah selesai mandi dan mengganti bajunya dengan yang bersih. Keduanya lalu makan bersama dengan suasana santai.
__ADS_1
"Eh, Kinan. Kamu emangnya nggak doyan ikan ya?" tegur Daffin melihat ikan gurame bakar masih utuh di meja.
Kinanti terdiam dan menelan ludah. Tetapi Daffin menganggapnya sebagai jawaban tidak.
"Enak gini kok nggak doyan, rugi kamu. Aku embat deh kalau gitu," kata Daffin sambil memakan habis ikan gurame yang sangat diinginkan Kinanti, tetapi dia terlalu malu untuk bilang kepada Daffin untuk membantunya memisahkan lebih dulu si daging ikan dari durinya. Kinanti masih tak percaya diri membersihkan duri ikan itu dengan tangannya sendiri, karena pernah punya trauma dengan si duri.
Kinanti sudah lama sekali tak makan ikan gurame, terakhir kali dulu... saat dirinya masih bersama Ikram, sebab Ikram rajin memisahkan daging ikan dari durinya untuk Kinanti. Tanpa perlu diminta, Ikram selalu melakukannya.
"Ngelamunin apa, Kinan?"
Suara Daffin mengejutkan Kinanti.
"Tidak ada" Kinanti menggeleng sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Tidak ada, lagi, ..." Daffin mendesah.
"Aku tidak suka itu, kamu tahu," ucapnya seraya memandangi Kinanti lekat-lekat.
__ADS_1
"Aku tahu kamu lagi memikirkan sesuatu, dan aku sebel banget kalau kudu nebak-nebak isi kepala mu macam kudu ngisi jawaban TTS," tegur Daffin dengan tatapannya yang meresahkan dan terasa begitu menuntut.
"Cukup katakan saja, Kinan. Aku akan dengarkan apapun itu."