
Kinanti ingin menjerit kesal gara-gara insiden ****** kurang ajar pesanan Herlin yang membuatnya harus menanggung malu sebesar ini di depan Daffin, Amber, dan juga... Ikram!
Kurang ajar. Kenapa sih dia punya bos bermuka ranjang seperti Herlin? Sampai-sampai ****** tak pernah absen dari daftar belanjaan pesanannya.
Lagi-lagi. Demi gengsi dan harga diri, Kinanti tak sanggup menolak sandiwara yang ditawarkan Daffin padanya tadi, berpura-pura sebagai pasangan romantis di depan Amber dan Ikram. Sampai akhirnya mereka berpisah di depan pintu lift. Amber dan Ikram akan naik ke lantai atas sedangkan dia dan Daffin akan ke bawah.
Sebelum berpisah, Amber memeluknya sambil cipika-cipiki.
"Awas hamil, Kinan. ****** bisa bocor loh. Udahlah, nikah aja biar mainnya juga tenang," bisiknya sembari terkikik.
Aaagh. Kurang ajar! Kinanti benar-benar malu.
Setelah Amber dan Ikram menghilang dibalik lift yang tertutup, Kinanti buru-buru memasang jarak dari Daffin. Keduanya sama-sama membisu saat memasuki lift yang membawa mereka turun ke lantai dasar.
Sekeluarnya dari lift, Kinanti meminta kembali seluruh paper bag yang dibawakan Daffin.
"Makasih udah bantu bawain," katanya saat harus berpisah di depan lift. Kinanti perlu memesan taksi di lobi utara sedangkan Daffin akan ke lobi utama menuju valet parking.
Daffin mengangguk. Tapi kemudian pria itu mengernyit heran saat Kinanti tiba-tiba saja mencekal lengannya dan bersembunyi di balik tubuhnya. Sambil menarik Daffin menjauh dari tempat itu.
"Apaan sih, Maemunah?"
"Ssst. Jangan berisik." Kinanti berbisik dengan wajah berubah panik melihat Tantenya ada di sana, sedang menggandeng lengan Herlin. Si Tante sedang tersenyum, caranya berbicara terlihat seperti sedang merayu buaya darat itu. Membuat jantung Kinanti dipecut kaget. Masa iya Tantenya selingkuh dengan Herlin?
Daffin mengikuti arah tatapan Kinanti dan menemukan sosok om-om yang tak asing di matanya. Lalu dia ingat kalau om itulah si sugar daddy. Seketika bibirnya membentuk smirk yang mencela.
'Kenapa, Kinan? Ambyar kamu ngeliat your daddy lagi sama firts lady nya? Takut ketahuan? Takut dijambak-jambak sama bininya, kamu? Emang enak!' pikirnya ketus, mengira Asri sebagai istri Herlin.
Daffin acuh tak acuh menuju lobi utama, mengabaikan Kinanti yang sedang bersembunyi di balik tubuhnya.
__ADS_1
Langkah Daffin yang memburu membuat Kinanti kerepotan berjalan mundur di depan Daffin. Gagal mengimbangi langkah Daffin yang cepat membuat wanita itu nyaris jatuh terjengkang kalau saja Daffin tak buru-buru merengkuh pinggang Kinanti dan memeganginya.
Jantung Daffin serasa disetrum kala Kinanti berpegangan begitu erat padanya, seakan Daffin lah satu-satunya tempat bergantung saat ini. Kinanti tampak tak berdaya dalam rengkuhan nya. Seperti kelinci yang terpojok seekor serigala, padahal Daffin bukan serigala. Wajahnya pun terlalu tampan untuk disandingkan dengan serigala.
Brug!
Kinanti tak sengaja menjatuhkan paper bag lagi. Dan gadis itu buru-buru melepaskan diri dari dekapan Daffin dan memunguti beberapa barang yang tercecer keluar.
Daffin memutar bola mata sambil berjongkok membantunya. Matanya pun seperti dicolok saat melihat penampakan kotak ****** itu lagi.
###########
"Mau aku anterin sampai mana?" Daffin buka suara, memecah keheningan panjang antara mereka.
"Aku mau ke Dharmawangsa. Kamu lewat sana, nggak?"
"Nggak."
"So? Itu rumah siapa? Rumah om-om yang lagi kamu hindari di Mall tadi?"
"Eh. I... iya." Kinanti gugup Daffin tahu dia sedang menghindari Herlin.
"Jadi, kamu putusin aku karena lebih pilih dia? Setelah melihat sendiri kalau apartemen ku nggak ada apa-apanya dibanding rumah atau properti lain yang dia tawarin ke kamu? Makanya enak ya kamu sekarang dapat sugar daddy, shopping terooos," cecar Daffin membuat jantung Kinanti dipecut kaget.
Kinanti tercengang. Dia ingin menjelaskan yang sebenarnya. Tapi Daffin keburu mencecarnya dengan tuduhan-tuduhan yang membuat Kinanti tersinggung. Sehingga bibir Kinanti terkatup rapat dikunci kemarahan.
"Daffin, aku turun di halte depan situ aja," kata Kinanti dengan nada kesal, tak tahan mendengar tuduhan-tuduhan Daffin yang menyudutkan. Dan Daffin betul-betul menurunkannya.
Sebelum turun dari BMW SUV seri terbaru milik Daffin, Kinanti meletakkan sebuah paper bag di atas dashboard.
__ADS_1
"Ini yang kamu minta beliin tadi. Aku bayar pakai duit ku sendiri. Hasil kerja ku, bukan dari sugar daddy," katanya dengan hati tercubit sedih. Tak menyangka Daffin memandang dirinya sampai seperti itu.
Kinanti pun dengan cepat keluar dari mobil dengan setengah membanting pintunya. Dan secepat itu pula Daffin mengegas mobilnya, melesat jauh meninggalkan Kinanti yang memandanginya dengan air mata menggenang di pelupuk. Tapi Kinanti pantang menjatuhkan air matanya demi tuduhan Daffin yang tak berdasar.
"Well. Aku tahu sekarang kenapa Amber pilih Ikram ketimbang kamu. Dasar, bocil!"
#############
Daffin mencengkeram kemudi mobil. Menahan hawa panas yang tiba-tiba bertiup dalam dadanya. Kenapa dia bisa semarah ini? Sekesal ini? Bahkan tega menurunkan Kinanti di tepi jalan seperti tadi, meski wanita itu yang memintanya sendiri. Dengan tentengan sebanyak itu.
"Kurang ajar kamu!" pekiknya sambil mengerem mendadak. Untuk tak ada kendaraan lain di belakangnya. Daffin memukul kemudi. Lalu terpekur dalam diam. Kenapa dia harus menimpakan rasa marahnya pada Kinanti? Mungkin karena, Kinanti telah menggagalkan rencananya begitu saja. Padahal, Daffin menargetkan Kinanti sebagai istrinya bukan tanpa alasan. Sebenarnya dia ingin memanfaatkan Kinanti untuk membalas sakit hatinya pada Ikram. Dia tahu, Ikram sebenarnya lebih mencintai Kinanti daripada Amber. Namun entah karena alasan apa, si bodoh itu malah lebih memilih Amber, cinta pertama Daffin.
Ingatan Daffin pun terbang ke masa setahun lalu. Pada saat Daffin menemukan benda berkilau di lantai villa, tempat diadakannya acara reuni sekolahnya. Sebuah anting cantik berbentuk ring bermata berlian. Daffin memotretnya, lalu membagikan gambarnya ke group chat sekolah.
'Punya siapa ini, woi? Ada sama aku ya,' ketiknya.
Dan Amber dengan cepat menyahutinya.
'Punya Kinan, tuh! Tolong keep di kamu dulu ya'
Kemudian Amber meneleponnya.
"Daffin, punya Kinan itu. Keep dulu ya. Tadi orangnya nangis-nangis nyariin. Dia malah masih ada di villa tuh, kekeuh mau nyariin itu anting sampai ketemu. Soalnya penting banget bagi dia," kata Amber begitu ramai membuat Daffin senyum-senyum senang menikmati suaranya yang renyah.
Setelah Amber menutup telepon, Daffin pun mencari Kinanti yang katanya masih ada di villa demi menemukan anting ini. Daffin berniat memberikannya sekarang agar Kinanti tak perlu repot-repot lagi mencari.
"Mana dia si Kinan? Katanya masih di sini?" gumam Daffin seraya mencari-cari ke seluruh bagian villa yang sudah sepi. Akhirnya dia melihat Kinanti di sana sedang menangis. Eh. Rupanya wanita itu tak sendiri. Ada Ikram menemaninya. Daffin hampir saja memanggil mereka, tapi Daffin menelan kembali suara yang nyaris keluar dari mulutnya saat kedua orang itu tiba-tiba berpelukan lalu berciuman dengan panasnya hingga membuat Daffin tercengang. Daffin pun mengantongi anting itu sambil tersenyum kecil meninggalkan tempatnya. Diam-diam hatinya turut senang untuk Kinanti. Dia tahu Kinanti sudah begitu lama memendam perasaan untuk Ikram.
Daffin tak akan kaget jika sepulang dari puncak nanti akan mendengar kabar tentang Ikram dan Kinanti bakal jadian. Dan alangkah shock nya dia, karena justru mendengar kabar Ikram dan Amber bertunangan.
__ADS_1