Fake Couple

Fake Couple
Followers.


__ADS_3

Tangan Kinanti gemetar memandangi halaman instagramnya. Dia punya banyak sekali followers sejak malam amal bersama teman-teman sosialitanya sebulan yang lalu, dan setiap saat jumlah followernya terus bertambah. Jika umumnya orang lain senang dengan popularitas, tetapi tidak dengan Kinanti. Dia takut kehidupan pribadinya bakal terekspose.


"Kenapa, Kinan? Something wrong?" tegur Daffin yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.


Kinanti mendongak dan menemukan Daffin sudah rapi dengan setelan jas hitam yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Menunjukkan sisi lain dari seorang Daffin yang sama sekali berbeda dari sosok Daffin yang dulu dikenal Kinanti. Ya, tentu saja, sebab Kinanti baru mengetahui jika Daffin ternyata bukan rakyat jelata sepertinya, jelang beberapa minggu pernikahan mereka. Siapa sangka Daffin ternyata termasuk sekian persen orang saja Indonesia yang memiliki kekayaan di atas rata-rata, namun selama ini pria itu dengan baik menyembunyikan identitas aslinya dan sukses mengelabui orang-orang di sekelilingnya. Kinanti sempat bertanya, kenapa Daffin menyembunyikan identitasnya, dan Daffin menjawab untuk menikmati kebebasan hidup semasa remajanya. Dan kini Daffin telah dewasa, dia harus kembali ke dunia nyatanya sebagai pewaris perusahaan sebesar Kalandra Group. Dia harus muncul memperkenalkan diri kepada dunianya.


"Tidak ada," jawab Kinanti sambil menggelengkan kepala. Daffin terlalu sibuk hanya untuk mendengar masalah ketakutannya yang tidak penting ini, bukan?


Daffin menarik kursi dan duduk di hadapan Kinanti, agar dapat leluasa memandangi kecantikan itu. Dan tangan Kinanti bergerak cepat mengambil piring di depan Daffin dan menyendokkan nasi. Lalu mengambilkan semangkuk kecil sup untuk suaminya.


"Mau dada atau paha?" tanya Kinanti sambil memilih-milih ayam goreng untuk Daffin.


"Mau semuanya, kalau itu punya kamu," cengir Daffin yang seketika membuat wajah Kinanti memerah jengah.


"Ck! Serius napa, Fin?"


Daffin terbahak, Kinanti lucu sekali di matanya jika sedang merasa malu sekaligus dongkol. Dan Daffin mengumpat dalam hati karena saat ini Kinanti sedang memasuki tanggal-tanggal merah sehingga Daffin tak bisa bebas melampiaskan gairah. Daffin harus menunggu seminggu lagi, tapi rasanya setahun saja.


"Apa aja," jawab Daffin pada akhirnya. Kemudian pria itu tersenyum melihat betapa telatennya sang istri mengurusi dirinya setiap makan bersama. Kinanti selalu mendahulukan isi piring Daffin daripada isi piringnya sendiri, dan istrinya itu menolak jika Daffin ingin melakukan sebaliknya untuk Kinanti.


Perhatian sekecil itu justru menjadi kebahagiaan mahal bagi Daffin, kebahagiaan yang tak bisa dibeli dengan uangnya. Tapi bisa dia dapati sejak menikahi Kinanti.


"Mikirin apa sih, Kinan?" tegur Daffin menyadari ada yang tak beres dengan ekspresi istrinya. Bagi Daffin, Kinanti itu seperti buku yang terbuka, mudah sekali dia baca. Dan pria itu mengerutkan kening karena lagi-lagi Kinanti menggeleng kepadanya.


Daffin memanggil Yania dan membisikkan sesuatu kepada asisten pribadi istrinya itu. Yaya menggeleng, kemudian mengangguk-angguk dan terkekeh pelan sebelum pamit undur diri dari hadapan Daffin sambil tersenyum kecil kepada Kinanti. Membuat Kinanti digelitiki penasaran.


"Kenapa, Daffin?"


"Nothing, kok."


"Bohong."


Daffin mengedikkan bahu dengan santainya.


"Dih, nggak percaya," katanya acuh tak acuh.

__ADS_1


"Emang nggak. So, apa yang kamu bisikin ke Yania tadi?" Dan senyum simpul penuh rahasia di wajah Daffin semakin membuat Kinanti gerah saja.


Daffin mengulum senyum melihat sorot kepo yang memantul-mantul dalam sepasang bola mata Kinanti yang indah.


"Gimana?" tegur Daffin disela-sela kegiatan sarapannya.


Kinanti memberengut.


"Gimana apanya?"


"Enak nggak kalau rasa penasaran kamu nggak terjawab?"


Kinanti terdiam. Menerka-nerka arah pembicaraan Daffin.


"Kinan," desah Daffin.


"Aku nggak suka kamu menyembunyikan sesuatu dari ku, apapun itu, sekecil apapun itu, apalagi jika besar. Ganggu banget, tahu. So. Apa yang sebenarnya lagi kamu pikirin, Kinan? Hmm? Aku tahu, pasti ada yang lagi mengganjal di pikiran kamu 'kan? Aku janji bakal bilangin apa yang aku bisikin ke Yaya tadi setelah kamu cerita isi pikiran yang kamu sembunyiin dari ku sekarang.


Kinanti terkejut, ternyata Daffin memerhatikan dirinya sejeli itu.


Daffin malah terbahak-bahak dan membuat Kinanti melotot jengkel.


"Tuh, kan? Nyuruh curhat tapi malah diketawain!"


Daffin menghentikan tawanya dan menatap Kinanti dengan sorot yang tiba-tiba meneduhkan.


"Ya udah sih, kalau gitu jangan posting apapun kehidupan pribadi kamu di sosmed. Kalau nggak ada yang kamu posting, kan nggak ada yang ngeliat. Gitu aja kok repot," jawabnya sambil menjulurkan tangan, mengusap rambut Kinanti yang berkedip-kedip memandangi Daffin.


"Terus, akun sosmed ku itu buat apaan dong?"


"Buat kepoin orang lain ajalah, tapi jangan kasih celah mereka buat kepoin kamu, kecuali kamu punya maksud dan tujuan tertentu bikin kepo mereka. Kayak aku yang cuma posting di instastory buat panas-panasin Ikram dan Amber, begitu target melihat ya langsung hapuslah, clear," cengir Daffin.


Kinanti terkekeh.


"Kamu kayak anak kecil aja" celetuknya.

__ADS_1


"Tapi anak kecil itu secara alamiah jujur loh, Kinan. Sekali-kali kita perlu bersikap kayak anak kecil yang murni apa adanya. Simple tapi solutif, no ribet-ribet mikirin ntar tanggapan si anu gimana, si itu gimana. Feel free ajalah."


Kinanti terdiam. Lalu tersenyum. Bicara dengan suaminya memang menyenangkan. Dan ganjalan dalam hati Kinanti sudah berangsur pergi sekarang.


"Nah. Sekarang gantian, apa yang kamu bisikin ke Yania tadi?"


"Tidak ada."


"Tidak ada? Kamu tadi bilang, setelah aku ngomong kamu nya mau gantian omongin apa yang kamu rahasiakan tadi ke aku, iya kan?" Kinanti tak terima.


"Emang tidak ada, kok," jawab Daffin santai saja.


"Daffin," tegur Kinanti dengan nada rendahnya tapi tajam.


"Yaya...!" panggil Daffin.


Tak sampai setengah menit, Yaya sudah ada di hadapan mereka berdua.


"Iya, Mas? Ada apa?" Yania mengangguk bergantian kepada Daffin dan Kinanti.


"Ucapin apa yang aku bisikin ke kamu tadi, tanpa ada yang diganti titik-komanya, biar Kinan juga tahu apa yang aku omongin tadi."


Yania bengong tapi kemudian tersenyum kepada Kinanti, membuat Kinanti semakin penasaran.


"Apaan sih, Yania?," Kinanti menatap Yania lekat-lekat.


"Eh, tadi Mas Daffin bilang, 'Yaya, tahu nggak... aku mau ngomong apaan? Penting nggak penting sih, tuh lihatin deh, Kinanti ngeselin ya kalau lagi manyun, tapi cakep gemesin. Iya, nggak? Iya kan? Awas kalau kamu jawab nggak, aku sunat bonus kamu bulan ini."


"Gitu doang kata Mas Daffin, Mbak"


"Ish! Seriusan dong, Yania?" Kinanti mencebik tak percaya.


"Seriusan, Mbak. Mas Daffin beneran ngomong gitu, kok!" tegas Yania sambil mengangkat tangan dan membentuk jarinya menjadi huruf V yang berarti 'sumpah'.


Kinanti terbelalak dan menoleh kepada Daffin yang terpingkal-pingkal sambil memandangi wajah Kinanti yang merona merah, sukses kena prank Daffin.

__ADS_1


__ADS_2