Fake Couple

Fake Couple
Gadis kecil.


__ADS_3

Hari ini, Daffin mengajak Kinanti menemui dan berkenalan dengan Kakeknya, sekaligus meminta restunya.


"Aku akan tetap menikahi mu meskipun Opa nggak setuju," ucapnya sambil menggenggam erat tangan Kinanti dan rasanya telapak tangan wanita itu terasa dingin dalam genggamannya pasti karena gugup.


"Ayo," ajak Daffin seraya merengkuh pinggul Kinanti.


"Opa ada di sana, sedang menunggu kita," bisiknya.


Kinanti tercekat dan mengikuti langkah Daffin. Wanita itu terperangah memandangi betapa luasnya halaman rumah ini. Dalam pikiran Kinanti sebelumnya, rumah yang akan dilihatnya nanti adalah rumah sederhana namun asri menyenangkan, dan ya, tempat ini sangat asri menyenangkan, tapi sama sekali tidak sederhana. Rumah dengan bangunan utamanya yang bergaya joglo ini terlihat antik dan juga klasik. Terlihat kokoh dan artistik karena berbahan kayu jati dengan kualitas terbaik.


Kinanti begitu gugup kala mengulurkan tangannya kepada seorang pria sepuh bersandal jepit, memakai celana pendek dan berkaos oblong. Pria tua yang seluruh rambutnya sudah memutih itu menyambut uluran tangannya sambil tersenyum ramah, memperlihatkan barisan giginya yang utuh dan bersih terawat di usianya yang sudah senja.


Melalui perbincangan mereka pada pertemuan itu, Kinanti bisa menyimpulkan jika Opa Kalandra adalah pria yang rendah hati dan sederhana meskipun dia kaya raya, seperti padi yang semakin berisi justru semakin merunduk.


Opa Kalandra dan Daffin mengajaknya memasuki taman yang luas di belakang rumah. Taman beralaskan rumput jepang yang menghijau, ditumbuhi pohon rindang dan aneka bunga yang cantik, indah terawat. Kinanti sungguh terpesona oleh kecantikan taman ini, tapi kemudian bibir wanita itu terkatup kala tatapannya membentur dua buah gundukan pusara yang berjajar di bawah deretan pohon kamboja yang sedang berbunga. Kalandra sengaja memakamkam anak dan menantunya secara berdampingan di belakang halaman rumahnya yang sangat luas ini, agar dia dapat menengok keduanya sewaktu-waktu atau bahkan setiap hari.


"Itu... Ayah dan Bunda ku. Ayo, kita temui mereka," bisik Daffin sambil merangkul pundak Kinanti.


Kinanti tak kuasa menahan haru melihat cara Daffin menaburkan bunga untuk kedua orang tuanya dengan begitu takzim. Kinanti bisa merasakan apa yang dirasakan Daffin sekarang, karena dia juga tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua. Daffin juga terlihat terharu saat kemarin Kinanti mengajaknya mengunjungi makam Mami dan Papinya.


"Aamiin...," ucap Kinanti dan Opa Kalandra secara berbarengan kala Daffin selesai memanjatkan doa untuk Ayah Bundanya.


"Ayo, Kinan. Kita duduk di sana," ajak Opa Kalandra seperti tengah memberi isyarat agar memberi waktu kepada Daffin untuk sendiri.


Kinanti memahami isyarat itu dan mengikuti langkah kaki Opa Kalandra.


Keduanya kini duduk bersisian di kursi taman sambil memandangi Daffin yang terpekur sendirian di sana.

__ADS_1


"Mulai sekarang, aku bisa titipkan Daffin kepadamu 'kan?" Opa Kalandra menoleh kepada Kinanti.


Kinanti tercekat dan mengangguk-angguk gugup.


Lalu pria tua itu terkekeh pelan.


"Daffin sudah kehilangan Ibu dan Ayahnya. Selama ini dia hanya punya aku, tapi sekarang dia juga punya kamu, orang yang akan sangat dekat dengan nya setiap waktu. Mungkin dia tidak akan selalu menjadi pria yang menyenangkan, suatu hari dia bisa juga menjadi pria yang sangat menyebalkan dan membuatmu marah. Tapi, dia tetaplah Daffin... pria yang sangat membutuhkan kasih sayang seorang wanita. Kasihilah dia yang sudah kehilangan kasih sayang Ibunya sejak masih sangat kecil. Tolong, sayangilah dia sepanjang waktu mu, sama seperti kau ingin disayangi dan dikasihi oleh orang lain. Sebab, kita hanya akan menerima apa yang telah kita berikan, bukan? Kau memberi kasih, maka kau akan menerima kasih. Seperti itulah cara dunia ini bekerja, dengan hukum sebab akibat ataupun hukum tabur tuainya."


Kinanti mengangguk pelan. Memahami nilai-nilai ucapan Opa Kalandra yang tak hanya tua secara usia, tapi juga secara pemikirannya yang matang dan bijaksana.


"Jujur. Aku terkejut mendengar Daffin ingin menikah. Padahal belum lama ku dengar, dia patah hati karena ditinggal menikah cinta pertamanya. Kinanti, apa kau sungguh-sungguh mencintai Daffin, sehingga mau menikahinya? Kau tahu dia masih mencintai wanita lain 'kan? Kau tak masalah dengan itu?"


Jantung Kinanti seketika berdegup kencang. Tak ada cinta antara mereka. Pernikahan ini terjadi hanya karena keadaan.


"Ka... kami..., memang belum lama menjalin hubungan," Kinanti menggigit bibir, bingung harus menjawab apa.


"Tapi kami berteman, sejak SMA. Makanya kami cepat dekat, setidaknya kami sudah saling mengenal."


"Kau yakin?" ucapnya sambil menatap Kinanti lekat-lekat, membuat wanita itu berkedip-kedip ditatap sedemikian rupa.


Opa Kalandra kemudian geleng-geleng kepala.


"Sudahlah. Mungkin kau lupa, itu sudah sangat lama," ujarnya membuat kening Kinanti berkerut bingung.


Kalandra mendesah dan kembali melemparkan tatapannya kepada Daffin yang masih terpekur di depan makam orang tuanya. Ah. Dia sangat bersyukur cucunya itu sehat dan berumur panjang, keberadaan Daffin lah yang membuat dirinya selama ini sanggup bertahan hidup, bahkan sanggup melawan serangan jantungnya di hari petaka itu.


Kalandra pernah nyaris kehilangan Daffin selamanya, saat Anggraeni tiba-tiba menjemput Daffin dari sekolah play groupnya, membawanya pergi tanpa pendampingan Bik Sri menuju sebuah pantai di Anyer. Untung saja ada wisatawan yang curiga melihat Anggraeni menggendong Daffin dari bibir pantai menuju ke tengah laut. Wisatawan itupun lekas menghentikan aksi Anggraeni yang berniat membawa Daffin mati bersamanya hari itu.

__ADS_1


"Nyonya Anggraeni mengalami gangguan kejiwaan, Tuan. Dan saat ini Tuan Wahyu sedang mendampingi Nyonya yang sedang dirawat di rumah sakit jiwa."


Laporan dari Reza hari itu memukul Kalandra dengan kekagetan yang luar biasa.


"Lalu? Bagaimana dengan cucuku? Di mana dia sekarang?" desaknya teramat cemas.


"Tuan muda Daffin baik-baik saja, dia justru tak mau pulang dan masih berada di Anyer, menginap di resort milik Tuan Wahyu, bersama Bik Sri. Dan saya sudah menyertakan beberapa bodyguard untuk menjaga dan mengawasi mereka selama dua puluh empat jam penuh."


"Antar aku ke sana, kita jemput Daffin. Mulai sekarang Daffin akan tinggal bersama ku," tegas Kalandra dengan tatapan berkilat cemas.


Sesampainya di resort itu, Kalandra menangis haru melihat cucu semata wayangnya itu sehat dan baik-baik saja. Daffin sedang bermain ayunan dengan seorang anak kecil sebayanya, ternyata dia puteri dari seorang pengunjung resort yang telah menyelamatkan Daffin dari tangan Anggraeni kemarin. Menurut Bik Sri, gadis cilik itulah yang menjadi teman Daffin selama dua hari menginap di resort ini.


"Apa itu Kakek mu?" ujar si gadis berkepang sambil menepuk-nepuk pundak Daffin agar menoleh.


"Opaaaa!" Daffin melompat dari ayunan dan berlari menyambut sang Kakek.


Kalandra juga berlari dan membungkukkan badan untuk memeluk sang cucu yang amat dia cemaskan keselamatannya. Air mata pria itu mengalir deras tanpa sanggup dikendalikan.


"Opa jangan nangis, Opa kan lelaki. Kata Bunda, lelaki itu nggak boleh nangis," tegur Daffin seraya menghapus air mata di pipi Kalandra.


"Kenapa nggak boleh? Kalau kata Mami ku, semua orang berhak menangis. Air mata itu kan diciptakan Tuhan untuk semua orang, boleh dipakai buat menangis," sahut gadis kecil berkepang tadi seraya mengulurkan tisu untuk Kalandra.


"Tapi jangan banyak-banyak nangisnya ya, Kek? Awas... ntar bisa habis," pungkasnya lugu.


Kalandra menerima tisu itu sambil terkekeh mendengar ucapannya.


"Terima kasih, anak pintar. Siapa namamu?" Kalandra mengulurkan tangan.

__ADS_1


Gadis kecil berkepang itu tersenyum cantik seraya membalas uluran tangan Kalandra yang hangat kala membungkus telapak tangan mungilnya.


"Kinanti Queensha," jawabnya singkat dan jelas.


__ADS_2