Fake Couple

Fake Couple
Lebih baik kalian nikah.


__ADS_3

Lydia sudah sehat dan masuk kerja. Menjalani lagi fungsinya sebagai personal assistant eksekutif. Dengan demikian Kinanti harus kembali pada posisinya sebagai private personal assistant yang akan menangani urusan Herlin yang lebih pribadi.


"Pak Bos lagi punya mainan baru, namanya Vania. Ini akun instagramnya. Cari tahu apa saja kesukaan Vania, catat merk apa saja yang sering dipakainya. Sebentar lagi valentine, si bos pasti bakal menghujaninya dengan hadiah yang Vania banget," pesan Ros saat Herlin menyuruhnya agar memberikan tugas itu pada Kinanti saja. Sedangkan Ros harus menangani urusan lain.


Tak lama kemudian, Herlin meneleponnya.


"Kinan. Belikan apa saja yang kira-kira cocok untuk Vania." Lalu menyebutkan sejumlah budget yang membuat Kinanti menelan ludah saking banyaknya.


"Baik, Om." Kinanti menjawab sambil melirik Ros.


"Aku harus belanja untuk Vania," katanya setelah Herlin menutup telepon.


"Well. Selamat bersenang-senang." Ros menepuk-nepuk pundak Kinanti Queensha.


Kinanti mencebik.


"Tapi senyum mu mengatakan sebaliknya. Pasti bakal merepotkan, iya kan?"


Ros terkikik dan berkata.


"Welcome to the world of Mr. Herlin!"


Kinanti mempelajari karakter Vania lewat instagramnya. Setelah mengamati style gadis itu, dia tahu hadiah apa yang kira-kira cocok kemudian mencatatnya dalam list belanja.


Kinanti lekas meluncur ke sebuah Mall di kawasan Senayan. Tanpa buang waktu dia langsung menuju gerai fashion bermerk.


"Apanya yang bersenang-senang?" gerutu Kinanti yang kerepotan membawa tentengan paper bag yang cukup banyak. Dan ditengah kerepotan itu, ponselnya berdering.


Herlin menelepon minta sekalian dibelikan sabuk dan dasi dengan menyebut merk tertentu. Mau tak mau dia harus kembali ke sebuah gerai fashion yang terletak di lantai yang baru saja ditinggalkannya.


Kinanti memutar bola mata.


"Ngapa baru telepon sih, dari tadi kek!" gerutunya sambil berbalik badan.


"Astaga!" Kinanti terlalu kaget melihat Daffin tiba-tiba sudah berada di depannya.

__ADS_1


"Eh, ka... kamu rupanya, Daffin?" sapanya canggung. Masih terbersit rasa tak enak dalam hatinya karena telah mengabaikan telepon Daffin yang bertubi-tubi setelah dirinya mengembalikan cincin pertunangannya pagi itu. Dan sejak saat itu komunikasi mereka terputus sama sekali.


Kinanti pria itu akan membalasnya dengan sikap dingin. Ternyata Daffin justru tersenyum lebar.


"Kamu lagi borong Maemunah? Banyak duit, nih? Traktir dong?" sapanya seriang Daffin yang biasa dikenalnya.


Kinanti tersenyum lega menerima sikap Daffin yang tetap bersahabat. Lalu dia mengangguk-angguk. Kebetulan dia juga belum makan siang.


"Hayuk! Mau makan di mana? aku traktir," ajaknya.


Senyum Daffin mengembang lebar mendengar sambutan Kinanti.


"Oke! Tapi aku ogah yang murah-murah," ucapnya sambil bersedekap dan memindai Kinanti dari ujung rambut hingga ke kaki.


" Hmm... aku mencium aroma duit yang banyak dari dompet mu," selorohnya sambil nyengir usil.


Kinanti tertawa. Iya, di dompetnya memang terselip kartu debet dan kartu kredit Herlin yang limitnya mencapai ratusan juta. Khusus untuk belanja kebutuhan pribadi Herlin termasuk barang-barang yang sedang ditentengnya sekarang. Tapi tentu saja dia tak akan memakai uang bosnya untuk mentraktir Daffin. Kinanti akan memakai uangnya sendiri. Meski pada akhirnya Kinanti harus menahan jerit frustrasi saat harus membayari ongkos makan mereka yang mencapai sejuta lebih. Astaga. Sejuta lebih!


Daffin sepertinya sengaja mengajak makan di restoran mahal dan memesan makanan apa saja seenak jidatnya. Dan yang lebih menjengkelkan, Daffin tak benar-benar menghabiskan makanan yang dipesannya. Tetapi saat Kinanti bilang kepada pelayan agar membungkusnya, Daffin malah meledeknya habis-habisan.


"Mubazir, Daffin. Daripada makanan ini dibuang, kan bisa dibagiin ke anak jalanan. Mereka bakal senang banget dapat makanan seenak ini."


"Yaelah, beliin lagilah yang masih baru. Tega amat kamu, masa kasih yang bekas."


"Aku tahu. Lebih baik kasih yang baru. Tapi kan sisa makanan ini masih layak buat dimakan, bukan benar-benar sisa gigitan kamu. Lagian kamu gitu amat pesan makanan kayak orang kesurupan, dihabisin juga kagak. Lapar mata doang."


"Dih. Baru juga traktir segini doang udah bawel aja kamu, Maemunah."


Kinanti terdiam. Percuma berdebat dengan sultan yang tak paham soal pengiritan keuangan macam rakyat jelata sepertinya.


"Mau aku bantuin bawa nggak?" tanya Daffin saat mereka sudah keluar dari restoran.


Kinanti menggeleng, padahal tangannya kerepotan menenteng banyak paper bag.


"Btw. I wanna buy something again. Kamu duluan aja, Daffin. See you. Bye." Kinanti berkata sambil memasuki sebuah lift yang terbuka. Meninggalkan Daffin yang mematung memandanginya sampai pintu lift tertutup memisahkan mereka.

__ADS_1


###############


Daffin menghela napas dalam-dalam. Terbit rasa kesal dalam hatinya.


'Ck. Beda lu sekarang, Kinan. Mentang-mentang udah dapat sugar daddy, sombong amattt,' gumamnya sambil bersedekap dan geleng-geleng kepala.


Daffin ingin mengabaikan Kinanti, tapi entah kenapa kakinya masih saja penasaran ingin mengikuti wanita itu. Daffin pun memasuki lift dan mencari-cari Kinanti dari lantai ke lantai. Dan terkejut menemukan wanita berambut panjang itu justru berada dalam sebuah gerai fashion bermerk khusus pria. Itu merk mahal. Tak sembarang orang sanggup membeli barang di sana tanpa membawa dompet yang tebal. Daffin mendekat dan melihat si cantik itu sedang memilih-milih dasi dan juga ikat pinggang. Lalu pikiran Daffin hinggap kembali ke sosok om-om yang pernah bersama Kinanti.


"Ciyeee, buat ayang beb mu, Kinan? Si om-om itu?" gumam Daffin mendadak senewen.


Ternyata Kinanti memang menjalin hubungan khusus dengan pria tua berduit itu. Lihat saja tentengan Kinanti, produk fashion bermerk semua. Shopping memang menyenangkan bagi wanita. Dan lebih menyenangkan lagi kalau ada yang membayarinya. Sugar daddy rupanya menjadi 'jalan ninja' buat Kinanti. Begitu dugaan Daffin.


"Nggak nyangka kamu kayak gitu, Kinanti. Utang mu pasti udah lunas kan? Malah kamu dapat lebihnya buat foya-foya sekarang," gumannya dengan hati tercubit kecewa.


Daffin baru saja bergerak selangkah ingin meninggalkan tempat itu. Tapi sekonyong-konyong dia berbalik untuk memasuki gerai tadi, di mana Kinanti sedang bertransaksi di kasir, Daffin mengambil sebuah dasi asal-asalan, lalu menyodorkannya ke meja kasir.


"Sekalian bayarin. Duit kamu sekarang kan banyak," selorohnya.


Kinanti terlihat ingin 'menyalak' kepadanya, tapi Daffin buru-buru merangkul Kinanti seraya berbisik.


"Ada Ikram dan Amber di belakang kita. Camera, Roll. Action." Dan bisikannya sukses membuat Kinanti bungkam.


"Ini sekalian, Kak?" tanya staf kasir kepada Kinanti sambil menunjuk dasi yang disodorkan Daffin.


Daffin memerhatikan Kinanti yang menghela napas sebelum mengangguk.


"Iya, tapi pisah bill dan pisahin tempatnya ya. Yang ini bayar pakai ini saja," kata Kinanti sambil menyodori sebuah kartu debet.


"Eh, kalian di sini?" Teguran Amber di belakang mereka membuat Daffin buru-buru merapatkan jaraknya kepada Kinanti yang sedang kerepotan membawa banyak paper bag, sehingga jatuh sebuah dan menghamburkan isinya.


Daffin membungkuk membantu Kinanti memunguti isinya yang berserakan. Dahi pria itu tercekat melihat tiga buah kotak kecil yang membuat wajahnya merah padam.


'Apa-apaan ini!' pekiknya dalam hati. ******? Daffin buru-buru memasukkannya ke dalam paper bag.


Amber berdeham salah tingkah sambil merangkul erat lengan Ikram. Sedangkan Ikram terbatuk-batuk kecil sambil memalingkan wajah jengahnya ke tempat lain. Rupanya mereka juga sempat melihat kotak ****** itu.

__ADS_1


"Wow. Ehm..., lebih baik kalian nikah deh," celetuk Amber sambil geleng-geleng kepala.


__ADS_2