Fake Couple

Fake Couple
Gampang tegang.


__ADS_3

Selesai sarapan, Daffin memanggil Rey dan menanyakan beberapa hal terkait pekerjaan dan memastikan lagi agendanya hari ini. Rey membuka ipad dan membacakan beberapa catatan khusus, sekaligus meminta persetujuan Daffin mengenai beberapa hal. Rey mendengar setiap arahan dari Daffin dengan saksama. Membuat Kinanti tersenyum melihat sisi serius seorang Daffin, tak menyangka jika Daffin ternyata orang yang teliti dan sanggup berpikir strategis, berbanding terbalik dengan penampilan luar yang diperlihatkannya selama ini, slengekan dan masa bodoh. Padahal Daffin punya kecakapan intuisi sejak lahir, juga memiliki leadership yang unggul, yang membuatnya mampu menjalankan fungsinya sebagai CEO dari anak perusahaan Kalandra Group, dan sebentar lagi akan diangkat menjadi Direktur di perusahaan induk, sebab Kalandra harus mempersiapkan Daffin sebagai pucuk pimpinan perusahaannya sebaik-baiknya. Dan posisi Daffin sebagai CEO anak perusahaan Kalandra Group nantinya akan digantikan oleh Nadia.


"Kinanti, aku berangkat duluan. Seperti biasa, ntar kita makan siang bareng. Yaya akan mengabari kamu lokasinya nanti," ucap Daffin sambil beranjak bangun dari kursi dan menghampiri Kinanti. Dan dengan lembut dikecupnya kening sang istri.


Kinanti mengangguk.


"Oke," janjinya sambil berdiri dan mendampingi langkah Daffin sampai depan pintu rumahnya. Lexus 570 sudah menunggu Daffin. Bukan sembarang mobil, mobil itu rupanya telah menjadi kode rahasia para konglomerat, merupakan petunjuk identitas mereka kepada konglomerat lainnya. Para konglomerat, pejabat, atau pengusaha tajir memiliki mobil ini untuk menyamakan identitas mereka masing-masing secara diam-diam.


Kinanti melambaikan tangan, menatap Daffin yang memasuki mobil itu bersama Rey yang tak pernah jauh-jauh darinya. Gerbang utama yang tinggi menjulang terbuka otomatis dan tertutup lagi setelah mobil sang tuan rumah keluar dan melaju di jalanan.


"Apa saja agendaku hari ini?" tanya Kinanti kepada Yania sambil berbalik memasuki rumahnya yang megah.


Asisten pribadinya itu pun menyebutkan satu per satu jadwal yang harus dijalani Kinanti.


"Oya, personal trainernya Mbak Kinanti sudah menunggu dari sepuluh menit lalu."


Ya, sesuai permintaan Daffin bahwa kegiatan olahraga tak boleh absen dari jadwal harian Kinanti. Tetapi personal trainer Kinanti seorang perempuan, sebab Daffin tak membolehkan istrinya disentuh pria lain meskipun itu seorang trainer yang bertindak secara profesional saat harus bersentuhan dengan kliennya.


"Pokoknya cari personal trainer perempuan, Yaya jangan yang laki. Apalagi yang ganteng. Orang jelek aja berani nikung kesempatan, apalagi yang cakep" Begitulah Daffin mewanti-wanti.


"Oke, aku ganti kostum dulu. Tolong bilangin, tunggu sekitar sepuluh menit lagi," kata Kinanti sebelum menaiki tangga menuju kamar untuk mengganti dulu dress pendek selututnya ini dengan kaos dan celana training.


Sementara itu di luar sana, mobil Daffin terjebak macet, suasana khas ibukota di pagi hari. Tetapi aktivitas Daffin tak pernah macet, dia mengisi waktu itu dengan melakukan rapat virtual dengan timnya yang sedang berada di luar Negeri, mendengarkan laporan dan pandangan mereka tentang proyek bisnis yang sedang berjalan di sana, sebagai data baginya guna bahan pertimbangan untuk mengambil sebuah keputusan strategis bisnis selanjutnya.


Saat Daffin sedang serius menyampaikan arahan, tiba-tiba saja terdengar benturan keras dari belakang mobil dan membuat tubuh Daffin terguncang sedikit. Kemudian Daffin melanjutkan kembali arahannya seperti tak terjadi apa-apa.


Si sopir yang masih kaget membuka kaca jendela mobil, dan melongokkan kepala ke luar.

__ADS_1


"Pak, lecet tuh mobilnya!" seru seorang pengendara motor sambil menyalip mobil Daffin yang terjebak macet bersama deretan mobil lainnya, namun para pengendara motor tetap bisa bergerak dengan memanfaatkan setiap celah.


"Waduh," gumam si sopir.


"Pak, tolong dicek," kata Rey.


"Siap, Pak Rey." Si sopir pun menuruni mobil dan berjalan ke bagian belakang.


Daffin mengintip sekilas dari kaca spion, si sopir tampaknya malah terlibat cekcok dengan motor si penabrak. Daffin menghela napas kesalnya.


"Rey, dia sopir baru ya?" tegurnya pada sang asisten.


"Iya, Mas. Sopir penggantinya Pak Asep karena Pak Asep sedang izin sakit hari ini"


"Pantas. Sana kamu aja yang beresin masalah ini. Ajari dia jangan norak, malu sama mobil," omel Daffin yang diangguki Rey. Sedangkan Daffin kembali melanjutkan rapat virtualnya.


"Maaf, masnya nggak apa-apa kan? Nggak ada luka, kan? Motornya ada yang rusak?" tegur Rey membuat si pengendara motor jadi bingung, barusan dimarahi tapi kok tiba-tiba dibaik-baiki?


"Eh, nggak ada, Pak. Maaf nggak sengaja nabrak, padahal sudah saya rem tapi nggak keburu."


Mata Rey memindai si pengendara yang berjaket khas ojek online dan motor yang dikendarainya, lalu mengeluarkan dompet.


"Mas, tuh... ban motornya sudah gundul, ini ambil buat beli ban yang baru dan servis juga remnya, sebentar lagi musim hujan, awas jalanan jadi lebih licin."


Sekonyong-konyong si pengendara motor itu berkedip-kedip bengong.


"Ini. Tolong diterima dengan ikhlas," ujar Rey.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar si pengendara motor itu pun menerima uang dua juta yang diberikan Rey. Saking kaget dan bahagianya, dia bahkan lupa berterima kasih. Tetapi Rey tak membutuhkan ucapan itu karena itu bukan uang pribadinya, tetapi uang si bos alias Daffin.


"Ayo, cepat masuk mobil. Kamu nggak baca teliti SOP jika menyopiri Pak Daffin, ya? Lain kali, kalau ada motor yang nggak sengaja menabrak mobil kita di jalanan kayak gini jangan dimarahi, tapi tanyakan dan cek keadaannya, terus kasih kompensasi. Bagi Pak Daffin, kalau mobilnya rusak toh ada asuransi atau tinggal beli lagi. Untung mood Pak Daffin lagi bagus, jadi kamu nggak kena omel," tegur Rey sambil menepuk-nepuk pundak si sopir.


"Eh, b... baik, Pak Rey. Maaf," sesal si sopir.


"Rey," panggil Daffin setelah Rey memasuki mobil lagi dan dia sudah mengakhiri rapat virtualnya.


"Kayaknya kita nggak bisa on time rapat di Tangerang kalau macetnya kayak gini. Naik helikopter aja deh," titahnya.


Rey pun mengangguk dan segera menelepon pilot agar mempersiapkan helikopter untuk sang bos. Lalu menyuruh sopir mereka menuju sebuah gedung milik Kalandra Group yang menyediakan helipad, nanti helikopter akan menjemput Daffin di sana.


'Kinanti lagi ngapain ya?' Tiba-tiba saja pikiran itu mengusik Daffin. Setiap hari dan sewaktu-waktu sosok istrinya ita selalu saja menggoda pikirannya. Membuat Daffin tak bisa memikirkan hal lain lagi sebelum mendengar suaranya secara live.


Daffin pun menghubungi istrinya lewat video call. Tak butuh waktu lama, Kinanti menerima panggilan itu.


"Apaan, Fin?" sapa Kinanti tanpa basa-basi.


Kinanti meletakkan smartphone itu di sebuah meja dengan posisi kamera yang bisa merekam jelas gambar dirinya, sementara tangan Kinanti sibuk mengeluarkan pakaian dari lemari. Dan mata Daffin bisa copot saat tiba-tiba saja Kinanti melepaskan dress yang dipakainya, hingga menampakkan tubuhnya yang sangat indah hanya berbalut pakaian privat warna hitam berenda.


"Kenapa, Fin? Ada yang ketinggalan? Ntar aku bawain pas kita ketemu makan siang, atau kamu lagi suruh orang buat ngambil ke sini?" tegur Kinanti sambil bersiap-siap memakai kaos dan celana training yang sudah dia persiapkan.


Daffin memaki dalam hati dan membatin


'Kurang kamu, Kinan..., bikin anu aku langsung tegang aja!"


Daffin ingin menggoda Kinanti lebih jauh tapi khawatir terdengar Rey dan sopirnya. Sehingga Daffin mengunci rapat-rapat bibirnya, menelan ludah, dengan sorot mata yang begitu lekat memandangi Kinanti.

__ADS_1


__ADS_2