Fake Couple

Fake Couple
Tidak sabar menunggu.


__ADS_3

Melihat Daffin masih saja mematung memandanginya tanpa segera bicara, Kinanti menegur dengan tak sabar.


"Woy, Daffin? Apaan?" tanyanya sambil memakai celana training.


"Buruan, aku udah ditungguin personal trainer ku tuh. Kasihan dia kalau nungguin aku lama-lama cuma buat ganti baju doang," ocehnya seraya bersiap memakai kaos oblong.


"Wait! Don't move!" cegah Daffin.


Kinanti mematung kaget. Lalu menoleh ke kanan, kiri, dan sekitarnya dengan tatapan waspada dan juga bingung, mengira ada sesuatu. Tetapi begitu Kinanti menyadari cengiran nakal Daffin dalam kamera videonya, dia baru tersadar kalau tadi Daffin sedang melakukan tangkapan layar terhadap dirinya. Kinanti tiba-tiba ingin balas mengusili Daffin.


"Kenapa?" Kinanti tersenyum miring, bersiap melancarkan serangan.


"Kamu menginginkan ini?" ledeknya sambil melepaskan pakaian private nya secara perlahan dengan gerakan yang dibuat-buat dramatis, hingga tampaklah kini sepasang aset pribadinya, bagian atas tubuh Kinanti yang menjadi favorit Daffin, yang selalu dibelai Daffin sepanjang malam, yang selama ini membuat Daffin tak bisa tidur tenang tanpa membelai dan menangkupnya lebih dulu.

__ADS_1


Napas Daffin seketika tertahan gugup melihatnya. Pria itu menggigiti bibir bawahnya dengan gelisah. Kemudian Kinanti dalam video yang ditatapnya ikut-ikutan menggigit bibir dengan begitu sensual.


"Kamu sangat menyukai ini, kan?" desahnya sambil mengedipkan mata.


Double killer!


Daffin terbatuk-batuk.


"Kurang ajar...." desisnya teramat lirih seraya mengendurkan ikatan dasinya yang sudah terpasang rapi di lehernya. Daffin berdeham karena tiba-tiba kerongkongannya menjadi terasa sangat kering, terbakar oleh hawa tubuh nya yang diam-diam memanas. Untung saja dia memasang headset sehingga tak ada yang mendengar ******* maut istrinya.


"Minum, Bos." Rey mengulurkan sebotol air mineral, dan Daffin langsung meneguknya sampai habis tanpa sedikit pun mengalihkan tatapan dari dalam smartphone miliknya yang sedang menampilkan tubuh indah Kinanti dengan begitu sempurna, tetapi membuat Daffin sakit kepala dan panas dingin karena tak bisa menyentuhnya detik ini juga.


"Awas kamu, Kinan..., kalau telat datang saat makan siang, ntar," ucap Daffin dengan suaranya yang parau dan bibir menyeringai berbalut nafsu.

__ADS_1


"Oke, Mr CEO, selamat meeting, ya. Bekerjalah dengan giat," sahut Kinanti sambil mendekatkan wajahnya ke kamera dan memberikan kecupan nakal di layar kamera.


Daffin nyaris lupa cara bernapas, untung jantungnya sehat. Ulah Kinanti kali ini benar-benar mengancam kesehatan jantung dan jiwanya.


"Huft. Anjirrr...." desahnya sambil meringis ngilu menahan desakan juniornya yang seketika mengeras dan meronta-ronta dalam celana pantofelnya.


"Come on. Give me a kiss." Kinanti mengedipkan sebelah mata dan membuatnya menjadi sangat cantik di mata Daffin.


Daffin terkekeh dan mengangguk-angguk, kemudian bersuara pelan.


"I will..... sebanyak yang kamu mau. Ntar, sesudah makan siang," ucapnya bagai sebuah sumpah.


Sepelan apapun suara Daffin, Rey bisa mendengarnya. Si asisten pribadi itu tersenyum jengah seraya membuang tatapannya ke luar jendela kala udara di dalam mobil ini tiba tiba berbau-bau ****.

__ADS_1


"Aku tidak sabar menunggu" Kinanti melayangkan flying kiss kemudian mematikan sambungan video call nya dengan Daffin.


Kinanti tertawa puas sambil memakai kembali pakaian private nya yang berwarna hitam berenda.


__ADS_2