
Kinanti pergi ke Dufan untuk melepaskan kemarahan. Menjerit sekeras-kerasnya di atas ketinggian wahana ekstrim yang dinaikinya. Menangis sepuasnya di atas wahana yang mengayun-ayunkan tubuhnya di udara. Kepala di kaki, kaki di kepala. Seperti itulah kehidupan yang dialaminya selama ini. Seperti itulah sulitnya dia mencari uang. Tapi Kinanti tak pernah mengeluh, dia tetap bekerja giat. Tapi, tak ada yang menghargainya. Kerja baik dan kerja kerasnya selalu berujung sia-sia.
Namun kemudian, terngiang nasehat Maminya semasa hidup dulu.
"Apapun yang terjadi tetaplah bersyukur, Kinan. Dan berbahagialah. Bahagia itu hak kita, hak semua orang. Bahagia tak butuh alasan. Kau hanya perlu merasa seperti itu setiap saat,"
"Maaf, Mam. Aku lupa tentang itu," gumamnya sambil menghapus air mata. Lalu Kinanti menjerit lagi saat rollercoaster yang dinaikinya melesat, meliuk, memutar, dan meluncur dengan kecepatan yang mengaduk-aduk adrenalinnya. Tapi kemudian tertawa lega.
Kinanti keluar dari area Dufan setelah puas bermain. Santai berjalan kaki menuju pantai sambil mengetik sesuatu di gawainya. Memesan kamar hotel lewat aplikasi untuknya menginap nanti malam sebab dia masih ingin sendirian dan tak ingin pulang ke rumah Tante Asri untuk sementara waktu. Sampai perasaannya betul-betul tenang. Kinanti sedang lelah pada ketidakadilan yang merundungnya.
Tiba-tiba dia teringat janjinya untuk membuka blokir nomor telepon Ikram.
"Ah, hampir saja lupa," gumamnya sambil membuka blokir nomor telepon Ikram.
"Ups!" pekiknya saat tak sengaja menyentuh tombol call hingga terhubung ke nomor Ikram. Kinanti buru-buru mematikannya dengan jantung berdegub cepat.
"Bodoh!" makinya pada diri sendiri. Lalu menyeberang jalan sambil melihat-lihat layar gawainya, melanjutkan pencarian hotel untuknya tadi, tanpa menyadari sebuah motor sedang melesat cepat ke arahnya.
Tiiiiin!
"Aaaaahh!"
###########
Ikram sedang memerhatikan sorotan layar proyektor yang menampilkan sebuah data. Sambil menyimak penjelasan seorang karyawan dari divisi marketing dalam sebuah rapat yang dipimpinnya.
"Product kita memang masih on developt, Pak Ikram. Tapi as soon as possible kita akan tetap launching new brand kita ini lewat social media on schedule. Hopefully, Pak Bima dan tim nanti bisa membantu untuk market intelligentnya. Dan ini adalah list kompetitor yang head to head dengan product kita."
Tiba-tiba smartphone Ikram bergetar, berdering dengan volume pelan. Dia menoleh dan memeriksanya.
'Kinan?!' batinnya amat terkejut. Ikram baru saja akan menekan tombol jawab, tapi telepon itu keburu mati.
__ADS_1
Ikram jadi sulit berkonsentrasi di tengah-tengah rapat. Penasaran kenapa Kinanti meneleponnya.
"Maaf. Bu Mei, tolong gantikan saya memimpin rapat," ujarnya pada seorang manajer sebelum bergegas meninggalkan ruangan.
Ikram menuju ruangan direktur, mengangguk pada setiap staf yang menyapanya dengan hormat saat berpapasan jalan dengannya.
Setiba di ruangannya, Ikram lekas menelepon Kinanti seraya menghempaskan pantatnya di kursi.
"Halo?"
Ikram mengerutkan kening mendengar suara dalam telepon itu, sepertinya itu bukan suara Kinanti yang sangat dikenalnya.
"Kinan, ini kamu?" tanyanya sangsi.
"Oh, Mas temannya si Mbak ini ya?" sahut seseorang di sana.
"Bisa ke sini nggak, Mas? Soalnya Mbak yang punya hape ini lagi pingsan. Sepertinya korban tabrak lari."
"Apa?!" Ikram tersentak.
"Masih pingsan, Mas. Kami sedang memanggil polisi yang lagi patroli."
Ikram berdiri dan berjalan mondar mandir di depan meja kerjanya.
"Mbak, tolong segera bawa dia ke rumah sakit terdekat agar lekas mendapat pertolongan. Soal biaya jangan dipikirkan, saya yang akan menanggung semuanya. Saya benar-benar minta tolong, tolong jaga baik-baik teman saya itu," ujarnya seraya menyugar rambut dan menghentikan gerakan tangannya di tengkuk.
"Iya, Mas. Kami akan bawa Mbak ini ke rumah sakit diantar Pak Polisi. Ini mereka sudah datang dan sedang menggotong si Mbak masuk mobil, saya akan ikut mereka"
"Mbak, maaf. Bisa tolong video call sebentar?" pinta Ikram untuk menghindari hal-hal semacam penipuan. Dan jantungnya disentak kaget kala si penelepon benar-benar menuruti ucapannya, Ikram kini bisa melihat Kinanti yang terkulai lemah sedang digotong ke dalam mobil polisi yang sedang berpatroli.
"Terima kasih banyak, Mbak. Tolong tetap berkabar dengan saya ya, Mbak. Saya ke situ sekarang juga, tolong beritahu di mana lokasi rumah sakitnya atau sekalian tolong share lock. Maaf, dengan siapa saya bicara?"
__ADS_1
Setelah mendapat informasi yang dibutuhkan, Ikram menyambar helm dan berlari ke luar ruangannya secepat mungkin. Menabrak seorang karyawan yang membawa setumpuk kertas hingga berhamburan di lantai.
"Maaf!" katanya tanpa menyurutkan langkah. Meninggalkan tanda tanya bagi seluruh karyawan yang melihatnya pergi dengan seterburu-buru itu.
Ikram mengegas motornya. Meliuk-liuk lincah, menyalip kendaraan di depannya dengan gesit. Untunglah dia sedang membawa motornya ke kantor hari ini. Dengan demikian dia bisa semakin cepat menyusul dan menemui Kinanti yang sedang terbaring lemah di sebuah kamar rumah sakit.
############
"Ikram?" Kinanti tampak terkejut melihat Ikram menghampirinya dengan sorot cemas.
"Kinan, are you oke?" Ikram meraih tangan Kinanti yang terkulai lemah.
"Tentu saja, tidak" Kinanti tampak kikuk. Dan gadis itupun mematung kala Ikram mendaratkan kecupan hangat di keningnya, seraya membelai wajah cantiknya yang memucat.
Ikram tak peduli lagi soal etika, etiket, apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan pria yang sudah menikah. Sebab memang inilah perasaannya yang paling jujur, rasa yang telah bertahun-tahun dipendamnya. Rasa rindu dan kepeduliannya yang terasa khusus pada Kinanti Queensha.
"I love you, Kinan." Ikram berbisik nyaris menangis. Seharusnya dia mengucapkan ini sejak sepuluh tahun lalu. Bukan sekarang.
Ingatannya pun melayang ke masa SMA yang penuh kegembiraan bersama Kinanti. Dulu, Ikram sering membawa wanita ini ke rumahnya sepulang sekolah atau sepulangnya dari tempat bimbel. Lalu menghabiskan waktu berdua saja di kamarnya yang luas dan baru ke luar kamar untuk makan.
"Ini enak loh, Kinan" kata Ikram sambil menuangkan banyak lauk ke piring Kinanti. Lalu menyuapi Kinanti dengan ikan yang sudah dia singkirkan durinya. Dia tahu Kinanti enggan makan ikan karena takut termakan durinya.
Si pembantu geleng-geleng kepala. Sikap Ikram kepada Kinanti tak tampak seperti teman biasa pada umumnya. Terlalu mesra sebagai teman.
Kenyang makan, keduanya kembali ke kamar dan bermain PS. Ikram tertawa puas saat berhasil mengalahkan Kinanti dengan telak, lalu senyumnya surut melihat gadis itu cemberut. Kalau sudah begitu, Ikram membiarkan dirinya kalah dalam permainan selanjutnya. Kemudian tertawa senang saat Kinanti memekik menang.
"You lose!" Kinanti menjulurkan lidahnya dengan mimik lucu. Membuat Ikram gemas dan sekonyong-konyong menciumnya, ******* lidah Kinanti yang terjulur dan mengisapnya seperti permen yang sangat manis.
Saat ciuman itu terurai, keduanya saling tatap dan tersipu. Tapi Kinanti terdiam saat Ikram menciuminya lagi hingga tubuhnya terdorong dan rebah di atas ranjang.
Hawa tubuh Ikram pun memanas dengan cepat saat dia nekat menindih Kinanti. Tubuh bawahnya seketika menegang keras. Ini pengalaman pertamanya bersentuhan dengan lawan jenis dan lawan jenisnya ini begitu cantik. Membuat libidonya menjadi kian menggelitik. Ciumannya pun tak hanya berhenti di bibir Kinanti, tapi mulai menuruni lehernya yang jenjang dan kembali ke bibirnya lagi.
__ADS_1
"Ikram!" pekik Papanya sambil mendelik setelah mendobrak pintu kamarnya.
Ikram tak mengira Papanya pulang dari luar Negeri hari itu dan memergokinya dalam posisi yang membuat orang tua manapun bakal nyalang melihatnya.