
Kinanti melipat tangannya di perut sambil menunggu kedatangan Daffin di sebuah kafe, tapi sudah tiga jam menunggu, pria itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Daffin mengiriminya pesan dua kali, yang pertama dua jam lalu, menyuruhnya menunggu. Dan yang kedua sejam yang lalu, katanya masih di jalan.
Kinanti melirik arloji di pergelangan tangannya, sudah jam sembilan malam. Mau tak mau Kinanti beranjak dari kursi menuju kasir dan membayar pesanannya. Lalu melangkah gontai. Tak menyangka ketidakhadiran Daffin bakal memberinya efek kecewa seperti ini.
'Lagipula, buat apa aku betulan menunggunya hanya karena dia menyuruhku menunggu? Aku bisa saja memutuskan pulang sejak tadi, tapi kenapa aku menunggu?' pikirnya sebal pada diri sendiri.
'Kenapa aku mengulangi kesalahan yang sama? Aku sudah lelah, setia menunggu Ikram bertahun-tahun mengatakan cinta, tapi justru berakhir dengan menerima kartu undangan pernikahannya dengan Amber, teman dekat ku sendiri. Dan sekarang mau-maunya aku dikerjai Daffin, mau saja disuruh menunggunya. Bodohnya aku. Bahkan kami bukan pacar sungguhan,' gerutunya dalam hati.
Kinanti memainkan ponsel sesampainya di dalam kereta yang akan membawanya pulang ke Depok. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat tak sengaja melihat instastory Amber yang menayangkan video pendek di sana terlihat Daffin sedang memperbaiki mobil Amber yang mogok di jalan, juga sebuah foto Daffin sedang berpose dengan Amber di depan mobilnya yang telah selesai diperbaiki dengan caption.
'Meski mantan, tapi tetap berteman. Thx ya @4R_Daffin udah jauh-jauh nyamperin ke sini.'
Seketika Kinanti tertawa sambil geleng-geleng kepala. Mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang memandanginya karena Kinanti tertawa tetapi pipinya dibasahi air mata.
Seharusnya Kinanti tak perlu kaget, bukankah Daffin memang bucinnya Amber sejak dahulu kala? Tentu tak semudah itu bagi Daffin untuk melepaskan perasaannya dari Amber yang dicintainya sejak remaja.
Kinanti menghapus air matanya. Bodoh. Buat apa dia menangis? Cepat atau lambat Kinanti bisa saja kehilangan Daffin, tapi dia tak boleh kehilangan mata pencaharian. Ada cicilan yang harus dia bayar setiap bulan dalam jumlah besar. Dan lagi, Kinanti tak bisa tinggal di rumah Tantenya sebagai pengangguran. Tapi apa yang sudah dilakukannya tadi? Dengan tololnya dia justru berseteru dengan Nadia gara-gara Daffin! Sama saja dia menantang untuk dipecat.
Kinanti meremas ponselnya dengan perasaan marah. Dan dalam kemarahannya itu, ponselnya berdering. Kinanti tersenyum sinis melihat nama Daffin terpampang di layar ponselnya.
"Halo," sahut Kinanti sedatar tembok.
"Kinanti? Sorry, aku telat banget. Kamu udah nggak ada begitu aku sampai di kafe. Kan aku bilangin tunggu aja, aku pasti datang. Niat ku hari ini mau anterin kamu pulang sampai rumah. Jadi kita tetap punya kesempatan ngobrol sambil jalan. Kamu di mana, Kinan? Kalau masih di sekitar sini, aku jemput. Aku mau anterin kamu pulang, jangan naik kereta."
"Aku udah hampir sampai rumah, Daffin. Sorry aku bohong, sebenarnya aku nggak sabar nungguin kamu lama-lama, jadi aku bablas pulang begitu kamu nggak nongol setelah aku tunggu sampai tiga puluh menit," dusta Kinanti menutupi rasa gengsinya.
__ADS_1
"Yah, kok gitu sih, Kinan?"
"Oh iya, Daffin. Sebenarnya tadi aku mau ngomongin sesuatu, tapi kamu nya malah nggak datang datang. Jadi aku mau omongin aja sekarang."
"Mau ngomong apaan, darling?" suara Daffin masih terdengar riang.
"Mulai sekarang kita putus, Daffin. Kita balik sebagai teman biasa aja kayak dulu. Makasih buat semua kebaikan kamu ke aku," ungkap Kinanti disela-sela degup jantungnya yang dicambuk perasaan tak menentu.
Seketika pria itu mendesahkan gundah.
"Oh, please. Come on, Kinan. Ada apa sebenarnya? Apa Nadia mengancam kamu di kantor?"
"Nggak ada hubungannya sama Nadia."
"Kinan, please...? Kemarin kita udah sama sama nyaman, kan? aku senang ternyata kamu betah di apartemen ku, kayak di rumah mu sendiri. Itu langkah bagus buat kita. Aku pengen kita sering-sering kayak gitu lagi, Kinan. We are happy together. Kita bisa saling curhat tentang apapun. And... I wanna kiss you again, you like that, right?" ucap Daffin begitu lirih di akhir kalimatnya, tetapi Kinanti masih bisa mendengarnya disela-sela deru kereta.
"Sorry, Daffin. Kita putus sampai di sini" tegas Kinanti.
###########
Nadia terkejut melihat kedatangan Daffin malam-malam begini di apartemennya.
"Daffin? Oh ayo masuk," ujarnya mempersilakan masuk. Tetapi pria itu bergeming di ambang pintu dengan sorot mata yang tak menyenangkan.
"Apa yang membawa kamu kemari?" tegur Nadia bingung, meski ini bukan pertama kalinya dia melihat Daffin menatapnya dengan sorot kemarahan sedemikian rupa.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan ke Kinan? kamu memecatnya?" ucap Daffin to the point.
Nadia tercengang. Jangankan memecatnya, baru memberi hukuman saja dia sudah dilawan oleh gadis kurang ajar itu.
Nadia bersedekap memandangi Daffin.
"Memangnya dia sudah mengadu apa saja ke kamu?"
"Dia mutusin aku!" bentak Daffin dengan tatapan marah berkilat-kilat.
Nadia tersentak. Terkejut menerima teriakan Daffin yang sangat keras, tetapi lebih terkejut lagi karena mendengar kata-katanya.
Kinanti? Memutuskan Daffin?
"Puas kamu sekarang, hah?" desis Daffin.
"Dengar ya, ini terakhir kalinya kamu mengusik urusan ku. Sekali lagi kamu kayak gini, bakal aku bikin mampus perusahaan yang udah capek-capek kamu bangun itu!" ancamnya dengan sorot kesungguhan yang sanggup menggoyahkan keangkuhan seorang Nadia.
Daffin berlalu pergi dengan langkah mengentak, meninggalkan Nadia yang terpaku di tempatnya dengan penuh kebingungan.
"Kinanti bodoh atau gimana sih?" gumam Nadia tak habis pikir. Batinnya dipenuhi pertanyaan.
'Bisa-bisanya dia melepaskan begitu saja seorang Daffin Kalandra yang sudah siap menikahinya? Tak tahukah dia siapa Daffin sebenarnya?'
Sejak putus dari Amber, Daffin memang pernah mencoba-coba banyak hubungan dengan wanita. Tapi tak pernah sekecil pun muncul kata 'pernikahan' dari bibir Daffin. Bahkan Daffin tak pernah memasukkan para wanita itu ke dalam apartemennya. Dia lebih suka menyelesaikan urusan pribadinya dengan wanita-wanita itu di luar. Kalau saja Nadia bukanlah anak dari pengasuh kesayangan Daffin, mungkin Nadia juga bakalan masuk ke dalam golongan wanita yang tak berhak memasuki apartemen Daffin.
__ADS_1
Nadia mendesah.
"Well. Mungkin dia tidak benar-benar mencintai kamu, Kinan. Setidaknya ..., kamu spesial untuk dia," gumamnya, diam-diam menyayangkan keputusan Kinanti yang memutuskan hubungan asmaranya dengan Daffin, pria yang sangat diinginkan Nadia.