Fake Couple

Fake Couple
Kamu boleh pergi sekarang.


__ADS_3

Daffin baru saja menutup rapat virtualnya dengan tim lapangan yang sedang mengerjakan proyek pemugaran hotelnya. Pria berhidung mancung itu mengerutkan kening melihat nama penelepon yang terpampang di layar ponselnya.


"Ikram? Tumben?" gumamnya. Mereka memang sudah lama tak saling menelepon lagi, terutama sejak Ikram resmi bertunangan dengan Amber. Hubungan baik mereka seperti terputus begitu saja sejak saat itu.


"Halo, Ikram?" Daffin akhirnya mengangkat telepon.


"Daffin? kamu di mana?" tanya Ikram tanpa basa-basi.


"Ada apaan?" Daffin menyahut malas-malasan.


"Kamu di Jakarta 'kan?"


"Hmm, ngapain emang?" jawab Daffin sambil bersedekap dan menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Buruan sini sekarang, Kinan kecelakaan." Daffin tersentak.


"Kinan? Dia lagi sama kamu?"


"Kamu datang aja dulu sini. Aku share lock rumah sakitnya."


"Oke, aku ke situ sekarang. Tapi inget ya, Ikram. Kamu itu suami Amber. Kamu jangan macam-macam sama si Kinan, teman bini mu sendiri."


Tapi Ikram malah menutup teleponnya tanpa menjawab sepatah katapun. Membuat Daffin dongkol sampai ubun-ubun.


Meski Amber telah mencampakkannya dan pilih menikahi Ikram tetap saja Daffin tak tega kalau Amber sampai dikhianati Ikram demi wanita lain. Apalagi jika wanita lain itu adalah Kinanti, wanita yang belakangan ini sempat meresahkan hatinya.


###########


Ikram memandangi Kinanti dengan iba. Dia ingin membicarakan hanyak hal yang mengganjal perasaannya tentang Daffin, tapi khawatir membuat Kinanti tersinggung dan overthinking. Padahal Kinanti sedang butuh banyak istirahat saat ini.


Ikram mungkin tak bisa membahagiakan Kinanti dengan tangannya sendiri, tapi dia berharap wanita ini bakal dibahagiakan oleh pria yang tepat. Tapi, dia tak yakin jika pria itu adalah Daffin, pria yang dipilih Kinanti sebagai tambatan hatinya saat ini. Sejak tahu Amber bakal menikahi Ikram, Daffin sempat menggila dan menjadikan night club sebagai tongkrongan favoritnya dan menghibur diri dengan sering bergonta-ganti wanita. Ikram khawatir itu akan menjadi kebiasaan bagi Daffin dan melukai perasaan Kinanti nantinya.


Dibenahinya selimut Kinanti yang baru saja tidur. Ikram merasa ngilu melihat banyaknya luka lecet dan lebam kebiruan di beberapa area tubuh wanita yang dicintainya ini.


"Ikram? Kamu disini?" Kinanti bergumam dalam tidurnya. Ternyata dalam alam bawah sadarnya, Kinanti merasa nyaman dengan keberadaan Ikram di sisinya.

__ADS_1


"I still here, Kinan. Sleep well," bisik Ikram dengan hati terenyuh. Lalu digenggam dan dikecupnya tangan wanita itu.


"Mami ……., Papi ...," Kinanti meracau dalam tidurnya.


Ikram menepuk-nepuk lembut pipi Kinanti yang tampak gelisah, sedangkan matanya tetap terpejam rapat.


"Jangan tinggalkan aku. Tolong... kembalilah...." Kinanti merintih sedih, memimpikan orang tuanya yang telah meninggal.


Ikram memencet bel, memanggil perawat karena suhu tubuh Kinanti yang tinggi. Setelah perawat menyuntikkan obat melalui selang infus dan mengatakan Kinanti baik-baik saja, Ikram baru bisa tenang.


"Mana bisa aku ninggalin kamu dengan kondisi kayak gini, Kinan?" bisik Ikram seraya membelai-belai rambut Kinanti yang sudah lebih tenang dan tak meracau lagi.


Andai saja tak terbelenggu statusnya yang sudah menjadi suami orang. Ikram tak akan lagi meninggalkan wanita ini. Seperti yang pernah dilakukannya dulu saat meninggalkan Kinanti yang terkulai lemah di ranjang UKS setelah mendengar kabar Ayahnya meninggal tepat di hari kelulusan SMA.


"Mas Ikram, ayo kita pulang. Tuan sudah menunggu di mobil," bujuk Pak Herman yang menyusulnya ke UKS. Lalu sopir yang sudah seperti keluarganya sendiri itu berbisik.


"Jangan sampai, Tuan marah, Mas. Tuan bilang akan membatalkan transaksi pembelian rumahnya Non Kinanti kalau Mas Ikram nggak mau nurut. Ayo, kita pulang sekarang"


Mau tak mau, Ikram melepaskan genggamannya dari tangan Kinanti yang masih pingsan. Meski sangatlah berat rasanya meninggalkan Kinanti. Namun demi kelancaran penjualan rumah Kinanti, Ikram terpaksa menuruti perintah Ayahnya untuk menjauhi gadis ini.


"Kinan..., ya ampun, Kinan..., yang sabar ya."


"Yang kuat dan tabah ya, Kinan."


"Sorry to hear that, Kinan."


Amber, Aleta, dan Tita berkicau ramai mengucapkan belasungkawa sembari bergantian memeluk Kinanti. Pak Herman memanfaatkan kesempatan itu dengan cepat-cepat menarik Ikram keluar ruangan.


Ikram menghela napas kala semua ingatan itu telah berlalu, kemudian mengambil kain washlap yang menempel di kening Kinanti dan mencelupkannya lagi ke dalam baskom yang tadi disediakan suster. Setelah memerasnya, Ikram meletakkan lagi di kening wanita itu. Kemudian dipandanginya Kinanti yang sudah tertidur pulas. Melihatnya tenang membuat hati Ikram turut diguyur ketenangan. Ikram pun mulai mengantuk dan merebahkan kepalanya yang berat.


#############


Daffin tertegun melihat Ikram tertidur di sisi ranjang seraya menggenggam tangan Kinanti. Ada rasa panas menyengat dalam hatinya. Apa-apaan mereka? Tak sadarkah Ikram jika dia pria beristri?


Daffin membuang napas dongkol. Degup jantungnya bertalu-talu. Lalu tertawa sinis. Buat apa dia ke sini? Padahal Kinanti sudah tak ada urusannya lagi dengan dirinya.

__ADS_1


Tapi kemudian Daffin teringat lagi pada sosok Amber yang masih dicintainya. Apa jadinya jika Amber melihat ini? Pria yang baru dinikahinya, telah mengkhianatinya dengan cepat. Sesuai tebakannya, Ikram memang masih sangat mencintai Kinanti Queensha. Amber begitu naif karena tak mempercayai ucapan Daffin. Sekarang, rasakan sendiri akibatnya.


Daffin berbalik badan, ingin meninggalkan ruangan. Tapi, tiba-tiba saja dia teringat ucapan yang pernah Amber lontarkan padanya.


'Bagi aku, cinta itu rela berkorban, Daffin. Yakin..., kamu cinta sama aku? Kita lihat, apa setelah kita putus ntar, kamu tetap mau berkorban buat aku? Kalau nggak, berarti cinta kamu ke aku palsu.'


Palsu? Tidak cintanya kepada Amber selama ini memang tulus, bahkan sampai detik ini dia masih menyayangi wanita itu.


Daffin mengepalkan tangan dan menghela napas dalam-dalam. Lalu membalik badan dan menatap ke arah ranjang.


"Kinan...!" serunya seraya berderap mendekat.


"Baby,... apa yang terjadi?" Suara Daffin yang memekik, menyentak Ikram dari tidurnya. Ikram buru-buru melepaskan genggamannya dari tangan Kinanti dan menoleh kepada Daffin.


"Kamu baru nyampe?" tegurnya.


Daffin tak mengacuhkan Ikram, dia merunduk dan membelai-belai wajah Kinanti yang masih tertidur.


"Kinan..., I love you," bisiknya, kemudian mengecup dalam-dalam bibir wanita itu tepat di depan mata Ikram. Melalui ekor matanya, Daffin bisa melihat Ikram lekas memalingkan wajah, terdengar pula desah napasnya yang berat. Dan kepuasan terasa menyembul dalam dada Daffin karena berhasil menyiksa perasaan pria itu.


"Berhubung kamu udah datang, aku balik." Ikram beranjak bangun dari duduknya.


"Gimana ceritanya kamu bisa sama Kinanti di sini? Apa yang kamu lakuin berdua sebelum ini? Kalian punya affair?" cecar Daffin menahan langkah Ikram.


"No," sahut Ikram dengan sangat tenang. Karena memang begitulah kenyataannya. Tak ada affair antara dirinya dengan Kinanti.


"Ada orang yang ngabarin aku tentang kecelakaan Kinan. Kalau nggak percaya, aku bisa mempertemukan kamu dengan orang itu besok dan tanyakan sendiri kesaksiannya."


Daffin tersenyum sinis dan menggeleng.


"Kamu boleh pergi sekarang," usirnya tanpa berterima kasih.


Ikram melirik Kinanti sesaat, ada rasa berat dalam tatapannya itu. Lalu pria itu berbalik pergi tanpa berpamitan lagi.


Sepeninggalan Ikram, Daffin menancapkan sorot kemarahannya pada Kinanti yang tergolek lemah di ranjang.

__ADS_1


__ADS_2