
Daffin mengarahkan mobil ke McD Sarinah Thamrin yang buka dua puluh empat jam, tempat legendaris yang kerap menjadi tongkrongan anak-anak muda di masa itu. Begitu mobil selesai terparkir, Kinanti buru-buru mengajak Aleta dan Tita turun lebih dulu.
"Daffin, tolong kamu bantuin turun Amber, ya? Sementara kita mau cari tempat duduk dulu," katanya diikuti Aleta dan Tita yang mengikuti inisiatif Kinanti yang tampaknya berniat sekali mencomblangi Amber dengan Daffin.
"Tungguin aku, 'napa?" cegah Amber tak rela ditinggal berdua saja dengan Daffin yang senyum-senyum senang.
"Kaki kamu kan sakit, Amber, pelan-pelan aja turunnya biar dibantuin, Daffin" sahut Kinanti.
"Nggak ah, kalian aja sini yang bantuin aku," protes Amber.
"Sorry, aku kebelet pipis, Amber. Mau buru- buru ke toilet." Aleta menjawab sambil menyikut Tita.
"Sama, aku juga. Sementara kita berdua ke toilet, Kinanti biar take in tempat duduk dulu. Kamu sama Daffin aja deh yang nggak ngapa-ngapain," timpal Tita sambil melambaikan tangan kepada Amber.
Kemudian ketiga gadis itu pergi meninggalkan Amber berdua saja dengan Daffin. Membiarkan Amber mati kutu, terjebak berdua saja dengan Daffin yang selama ini selalu dia hindari.
"Santai aja, Amber. Aku nggak bakal menerkam kamu, kok. Kamu boleh kesal sama aku, benci sama aku, risih sama aku. Tapi please, aku nggak bisa ngeliat kamu susah dan terluka kayak gini, Amber. Kalau kamu butuh bantuan aku, jangan gengsi buat hubungi aku kapan pun."
Amber menoleh, menatap Daffin yang juga tengah memandanginya dengan sorot serius, dan senyum tulus yang tersungging di bibir cowok itu tak pernah berubah padanya sejak SMP.
"Gimana kaki kamu sekarang? Udah baikan? Atau masih nyeri? Kamu mau turun, atau mau aku bawain aja makanannya ke sini? Habis ini mau aku antar ke IGD buat ngecek kaki mu?" cecar Daffin membuat Amber berkedip-kedip bingung, bingung tentang perasaannya yang tiba-tiba berkecamuk antara gengsi sekaligus senang menerima perhatian seintens itu dari Daffin, cowok yang selalu ia tolak ungkapan cintanya. Dan untuk pertama kalinya, pintu hati Amber yang selama ini tertutup rapat untuk Daffin, mulai terbuka perlahan-lahan.
Dan Kinanti adalah orang yang pertama kali berseru ramai saat Amber memberitahu tentang hubungan asmaranya dengan Daffin kepada ketiga temannya. Dia menjadi teman yang pertama mengucapinya selamat seraya memeluknya erat-erat.
"Keputusan bagus, Amber. Percaya sama aku, Daffin itu seriusan suka dan sayang banget sama kamu," bisik Kinanti saat memeluknya.
Amber mengangguk senang. Kinanti memang benar, Daffin sangat baik dan menaruh perhatian besar padanya. Daffin juga senang memanjakannya dengan banyak hal. Ditambah lagi, Daffin sudah tidak pakai motor scoopy lagi saat menemani dirinya jalan ke mana-mana. Sekarang cowok itu selalu pakai mobil untuk menjemput dan mengantarnya pulang. Hingga suatu hari, Amber mengetahui kecurangan Daffin yang membuat kemarahannya terusik.
"Maaf, Amber. Aku nggak bisa jemput kamu dulu. Soalnya, Opa ku masuk rumah sakit. Aku sedang menemani beliau."
"Oh, it's oke. Aku bisa pesan taksi, kok." Amber menyahut tanpa berniat gantian bertanya tentang kondisi Opa Daffin yang sedang sakit. Apalagi berbasa-basi ingin menengoknya segala.
"Hati-hati ya, Amber. Kabari aku kalau sudah sampai rumah."
__ADS_1
Amber mengiyakan dan menutup sambungan telepon, kemudian memesan taksi online. Dan, alangkah terkejutnya dia kala melihat mobil yang biasa dipakai Daffin untuk mengantar jemputnya itu adalah mobil taksi online yang kini tengah menjemputnya.
"Maaf, Mas, boleh tanya?"
Si sopir taksi online bernama Marwan menatap kaca spion sambil mengangguk kepada Amber yang duduk di jok belakang.
"Iya, Mbak, silakan."
"Kayaknya saya pernah lihat, Mas? Pelatih basket ya?"
"Oh, iya, Mbak. Kok tahu?"
Lalu Amber bilang jika pernah melihatnya saat menemani Daffin latihan di lapangan basket Senayan.
"Oh, ternyata Mbak temannya Daffin, ya?"
Amber menganguk.
Mas Marwan tertawa lirih.
"Iya, Mbak. Memangnya kenapa, Mbak?"
"Ohh...." Amber mendesah kecewa.
"Nggak apa-apa. Hanya saja, sepertinya saya familiar sama mobil ini karena sering dipakai sama Daffin."
"Ooh, iya, Mbak. Daffin memang langganan sewa mobil ini ke saya."
Amber *******-***** roknya di ujung lutut.
"Memangnya Daffin nggak punya mobil sendiri?"
"Bilangnya sih nggak punya, Mbak, makanya sewa sama saya kalau sedang butuh mobil."
__ADS_1
"Oooh." Amber memalingkan tatapannya ke luar jendela dengan perasaan marah dan merasa ditipu. Ternyata fasilitas yang dimiliki Daffin untuk menyenangkan hatinya selama ini cuma sewaan.
Esoknya, Amber mengajak Daffin mengobrol di kantin sekolah lalu minta ditraktir. Daffin langsung mengiyakan dan seperti biasa senang-senang saja, tak pernah menolak permintaan Amber. Namun, senyum senang di bibir itu seketika menyurut karena Amber mengajak beberapa teman lainnya untuk makan.
"Kamu semua makan aja bareng kita, Daffin yang bayarin, kok. Nggak apa-apa kan, Fin?" Amber menahan senyum sinis melihat Daffin menganguk-angguk menyanggupi.
Saat Amber dan teman-temannya asik menyantap makanan, Daffin berbisik pada Amber.
"Aku tinggal sebentar ya, ntar aku balik lagi. Aku ambil dompet ku dulu, ketinggalan di kelas."
Daffin kemudian melipir meninggalkan kantin, tak tahu diam-diam Amber membuntutinya. Ternyata Daffin bukan menuju kelasnya untuk mengambil dompet yang katanya ketinggalan. Cowok itu malah menuju kelas Kinanti.
"Kinan, sini bentar." Daffin menarik pergelangan tangan Kinanti yang sedang duduk membaca buku, menariknya ke sudut tempat yang sepi dan Amber membuntuti dan mengawasi mereka seperti penguntit.
"Aku pinjam duit dong, buat jajan" rengek Daffin dengan wajah memelas. Sejak Opa Kalandra dirawat di rumah sakit beberapa hari ini, pikirannya jadi tidak tenang dan jadi mudah lupa, termasuk lupa membawa uang jajannya sendiri. Sebenarnya bisa saja Daffin meminjam pada teman lelakinya yang lain, tapi teman-temannya itu banyak bacot, Daffin sedang malas saja meladeni bacotan nggak penting mereka.
Ternyata, tanpa banyak bicara, Kinanti merogoh saku dan mengulurkan uang yang diminta Daffin.
"Makasih ya, Kinan! Kamu emang teman terbaik," ujar Daffin sambil mengusak poni Kinanti dan mengantongi uangnya.
Amber semakin sinis melihatnya. Harga dirinya bagai dibanting dari langit. Bisa l-bisanya Daffin meminjam uang dari Kinanti, tak tahukah Daffin, kondisi keuangan keluarga Kinanti yang sekarang bangkrut? Orang tua Kinanti pasti sedih mengetahui uang jajan anaknya dipakai orang lain yang tak tahu diri seperti Daffin.
Amber ingin marah kepada Kinanti yang mencomblangi dirinya dengan cowok tak bermodal seperti Daffin. Cih. Bodoh sekali si Kinanti, membiarkan dirinya sendiri tak jajan di sekolah demi membantu cowok seperti Daffin.
Meski marah, Amber tak langsung memutuskan Daffin, dia ingin mengerjai dulu cowok itu sampai hatinya puas. Memperalatnya untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya dan minta diantar jemput sewaktu-waktu tanpa terima kompromi jika Daffin bilang sedang tidak bisa.
"Ya sudah kalau gitu, kita putus saja," begitu ancamnya.
"Jangan dong, Amber. Oke oke, tungguin aku." Daffin terpaksa meninggalkan sang Kakek yang terbaring sakit di sebuah ranjang perawatan pasien VVIP.
Dan Amber mengerutkan kening heran, merampok uang dari mana lagi Daffin untuk bisa menyewa mobil Mas Marwan demi mengantar-jemput dirinya seperti ini?
Amber tak tahu, jika Daffin akhirnya menyewa mobil Mas Marwan selama setahun. Daffin bisa saja beli mobil baru, tetapi Daffin pilih menyewa saja dari Mas Marwan, agar uang sewanya dapat jadi income tambahan bagi pelatih basketnya yang berharga.
__ADS_1