
"Eh, Amber? Masuklah." Kinanti bisa merasakan suara Daffin yang berubah gugup saat melihat kehadiran Amber bersama Aleta dan Tita.
"Ikram mana, nggak ikut?" lanjut Daffin seraya mengambil alih bingkisan buah untuk Kinanti dari tangan mantan pacarnya itu.
"Jadwalnya padat banget hari ini. Mana bisa dia ninggalin urusan yang sangat penting buat hal lain?" sahut Amber dengan senyummya yang terlihat ramah, tetapi Kinanti bisa merasakan arti dalam kalimat itu bahwa Kinanti bukanlah sesuatu yang dianggap penting bagi Ikram dibanding urusannya yang lain.
"Ya ampun, Kinan. Gimana ceritanya kok bisa-bisanya kamu kecelakaan gini sih?" Aleta menghampiri Kinanti yang tergolek di ranjang perawatan, melewati Daffin dan Amber yang masih saling bertatapan.
"Yaa gitu deh," cengir Kinanti sembari bergantian membalas pelukan Aleta dan Tita.
"Thank's, ya," ucapnya saat Tita mengulurkan sebuket bunga untuknya.
"Get well soon, Kinan," ujar Tita dan Aleta nyaris berbarengan.
Kinanti mengangguk dan tersenyum. Tapi senyum itu tak benar-benar tulus mencapai matanya, sebab masih teringat bagaimana kedua temannya ini pernah membicarakan dirinya di belakang dengan kata-kata yang menyakiti perasaannya.
"Ikram bilang ada orang yang menelepon dia, ngabarin kalau kamu kecelakaan. Terus dia ke sini buat memastikan itu betulan kamu atau bukan. Kebetulan banget ya, yang ditelepon itu Ikram. Memangnya kamu nggak pasang nama Daffin sebagai kontak darurat di hape kamu, ya?"
Seketika ruangan terasa hening saat Amber menembakkan pertanyaan yang terasa menyudutkan Kinanti dan dibalut atmosfer kecemburuan. Semua orang menyadari jika hanya Amber yang belum menanyakan kabar Kinanti seperti sepatutnya sikap seorang teman.
"Mungkin karena di hape Kinan namanya Ikram ditulis 'sohib ku' sedangkan nama ku, pacarnya sendiri malah ditulis 'orang ganteng'. Ya wajar dong kalau orang yang nolongin Kinanti itu pilih menghubungi sohibnya Kinanti ketimbang menghubungi orang ganteng," sahut Daffin dengan gayanya yang santai.
Aleta mencebik.
"Dih! Orang ganteng...?"
"Duh. Kok mendadak eneg aku, ya?" Tita memutar bola mata.
Kemudian kedua wanita itu menyoraki Daffin dengan berbagai protes sembari tertawa, meskipun bibir mereka menyangkal tapi dalam hati mereka mengakui jika Daffin itu ganteng memanglah fakta. Dan tawa mereka seketika memecah kebekuan suasana menjadi kembali hangat ceria.
__ADS_1
Bibir Amber setengah melengkung, ikut tersenyum tapi kilatan dalam matanya masih menyorotkan curiga dan ketidakpuasan. Seakan tahu jika Kinanti dan suaminya sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar darinya membuat hatinya dilanda gundah. Ah. Kenapa perasaannya sungguh tidak enak? Beginikah rasanya punya suami hasil dari menikung teman dekat sendiri? Hingga kecurigaan terhadap Kinanti dan Ikram terus saja membuntutinya. Amber khawatir keduanya belum sanggup menghapus jejak sweet memories mereka di masa lampau lalu diam-diam bernostalgia di belakangnya.
Terngiang kembali ucapan yang pernah dilontarkan Ikram padanya dulu, semasa mereka masih berteman karena sama-sama berkuliah di kampus yang sama di Amerika.
"Jadi, Kinanti suka oleh-olehnya? kamu nggak bilang kalau itu sebenarnya dari aku kan, Amber?" cecar Ikram setiap kali Amber baru pulang dari Indonesia. Lalu Amber mengangguk, menceritakan betapa Kinanti sangat menyukai scarf dan bros yang khusus dibelikan Ikram untuknya sambil menunjukkan foto Kinanti yang teramat cantik memakai hadiah pemberiannya itu.
"She's so beautiful, right?" gumam Ikram dengan mata berbinar-binar.
"I miss you like crazy, Kinan...," desah pria itu seraya tersenyum penuh kekaguman selama memandangi foto Kinanti.
"Kenapa kamu nggak tembak dia aja sih, Ikram?" tegur Amber sambil geleng-geleng kepala.
"Belum saatnya, Amber. But, I will. I wanna marry her. Itu cuma soal waktu," jawab Ikram di kala itu bagai sebuah janji.
'Cuma soal waktu'. Kini Amber terganggu dengan kata-kata itu.
Amber menghela napas dalam-dalam kala hatinya dirambati rasa nyeri setiap kali mengingatnya. Lalu dia melirik Daffin yang sedang berbagi senyum kepada Kinanti.
Daffin menoleh kepada Kinanti sebentar lalu mengangguk dan menyusul Amber ke luar kamar, dibuntuti tatapan Kinanti, Aleta, dan Tita yang menyimpan saja rasa penasaran dalam hati.
Amber melangkah menuju taman kecil dan duduk di sebuah kursi panjang. Daffin menyusul dan duduk di sebelahnya.
"Daffin, jujur aja. Aku nggak percaya sama mereka berdua, Kinanti dan Ikram. Perasaan ku nggak enak, Daffin. Biasanya feeling seorang istri itu nggak akan meleset jauh." Amber buka suara setelah Daffin duduk di sebelahnya.
"Maksud mu, Amber?"
"Jangan pura-pura bego deh, Daffin. Kamu juga pasti bisa ngerasain kalau diam-diam Kinanti masih mencintai Ikram, kan? Sebagai sesama wanita, aku tahu kalau melupakan pria yang dicintai itu nggak semudah membalik telapak tangan."
"Jadi, kamu mau bilang kalau nggak mudah juga buat kamu ngelupain aku?"
__ADS_1
Amber memutar bola mata dan melotot kepada Daffin yang justru terkekeh dan mencandainya seperti ini. Ciri khas Daffin!
"Aku serius, Daffin."
Daffin terbahak-bahak.
"Amber, bukankah udah pernah aku ingatkan sejak kapan tau? Sebelum kamu tunangan sama Ikram, aku udah bilang kan kalau Ikram itu cintanya sama Kinanti? Tapi kamu ngotot kalau Ikram lebih cinta sama kamu dan bilang kalau Kinanti aja yang baper menerima kebaikan Ikram. So, pegang kata-kata mu itu, nggak perlulah kamu cemburu sama Kinanti kayak gini."
Amber terdiam dan memandangi Daffin cukup lama. Dia sangat berharap Daffin bakal mendukungnya kali ini.
"Kamu nggak cemburu, Daffin? Atau ... kamu emang nggak mencintai Kinanti sebesar kamu mencintai aku? Apa Kinanti itu cuma pelarian mu aja, buat membalas sakit hati ke Ikram karena udah nikung kamu? Jadi, kamu menjalani hubungan dengan Kinan tanpa cinta? Gitu ya? Makanya bagi kamu nggak ada istilah cemburu-cemburuan kepada si Kinanti atau Ikram," cerocos Amber.
Lagi-lagi Daffin terpingkal.
"Mau tahu aja,... apa mau tahu banget?" ledeknya.
Amber berdecak dongkol.
"Seriously!" ketusnya, inilah yang dia tak sukai dari Daffin, sama sekali tidak tahu kapan harus serius atau bercanda jika diajak bicara.
"Daffin, lebih baik kamu buruan nikahin si Kinanti sebelum dia keburu disambar bandot tua yang kaya raya."
Sekonyong-konyong ucapan Amber kali ini menghentikan tawa Daffin.
"Apa maksud omongan mu barusan?"
Kali ini gantian Amber yang terkekeh menang.
"Kasihan banget sih, kamu sampai nggak tahu background pacar sendiri. Oke, I tell you the truth, Tantenya Kinanti itu renternir dan mata duitan. Dia bahkan tega menagih utang kepada Kinanti dengan bunga tinggi, sampai-sampai Kinanti kewalahan membayarnya. Makanya dia kerja keras banting tulang tapi tetap aja nggak punya duit sampai sekarang, gara-gara buat bayar utangnya itu. Dan belakangan ini Kinanti kerja sebagai personal asisten seorang duda tajir melintir. Bukan nggak mungkin pesona Kinanti bakal memikat hati bosnya itu 'kan? Nah. Kebetulan Kinanti sedang sangat butuh duit. Dan duit bisa buat membeli cinta. Ah, itu rahasia umum sebenarnya, soal Kinanti yang terjerat utang, Aneh, kok pacarnya sendiri malah nggak tahu?" sindir Amber sembari bersedekap dan mengangkat dagunya dengan angkuh.
__ADS_1
Tangan Daffin terkepal. Kata-kata Amber barusan sukses menamparnya. Ada ketidakrelaan yang terasa mencekik perasaan hanya karena mendengar kemungkinan Kinanti bisa menikahi orang lain.
Pikiran Daffin seketika berputar keras.